Chapter 37 of 46
Bab 37 — Batas yang Harus Diketahui
743 words
Malam itu, Alistair tidak langsung tidur.
Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap pedang tua milik ayahnya.
Fen berbaring di lantai.
Suasana kamar begitu tenang.
Namun pikiran Alistair masih berada di rumah tua tadi.
Kain gelap.
Jahitan abu-abu keperakan.
Bekas sesuatu yang diseret.
Dan suara seseorang yang meminta pertolongan.
Alistair menghela napas.
“Menurutmu orangnya masih ada di sana?”
Fen mengangkat kepala.
Alistair menggeleng.
“Ya... aku juga nggak tahu.”
Ia menyentuh lonceng kecil di dekat lehernya.
Dentingannya terdengar pelan.
“Kalau aku lebih kuat...”
Alistair berhenti.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Karena ia sendiri tidak yakin apa yang ingin ia katakan.
Fen bangkit dan mendekat.
Ia menaruh kepalanya di atas kaki Alistair.
Alistair tersenyum kecil.
“Besok aku tanya Bapak.”
Fen kembali berbaring.
Alistair akhirnya mematikan lampu.
---
Pagi berikutnya, Alistair langsung menuju Guild.
Namun sebelum masuk, ia melihat sesuatu yang berbeda.
Di depan pintu berdiri beberapa Hunter.
Wajah mereka serius.
Alistair berjalan masuk.
“Bapak?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencari ke ruang belakang.
Aldren ada di sana.
Sedang berbicara dengan beberapa Hunter senior.
Ketika melihat Alistair, Aldren langsung menghentikan pembicaraan.
“Kau datang.”
“Iya.”
Alistair berdiri di depan pintu.
“Orang dari rumah kemarin sudah ditemukan?”
Aldren diam sebentar.
“Tidak.”
Alistair menunduk.
“Jadi benar-benar hilang?”
“Kami tidak menemukan siapa pun.”
“Terus suara yang kami dengar?”
“Tidak tahu.”
Alistair mengepalkan tangan.
“Kalau begitu kita harus—”
“Tidak.”
Alistair berhenti.
Aldren menatapnya.
“Kau tidak ikut penyelidikan.”
“Tapi—”
“Alistair.”
Nada suaranya tegas.
“Tidak.”
Alistair terdiam.
Aldren mendekat.
“Kenapa?”
Alistair menatapnya.
“Karena aku ingin tahu.”
“Itu bukan alasan yang cukup.”
Alistair tidak menjawab.
Aldren melanjutkan.
“Rasa ingin tahu bisa membuat seseorang belajar.”
Ia menunjuk pintu.
“Tapi rasa ingin tahu juga bisa membuat seseorang berjalan masuk ke tempat yang seharusnya tidak ia masuki.”
Alistair menunduk.
Ia tahu Aldren benar.
Namun tetap saja ada sesuatu yang mengganggunya.
“Kalau orang itu masih hidup?”
“Karena itu kami akan mencarinya.”
“Kalau sudah terlambat?”
Aldren diam.
Pertanyaan itu membuat ruangan seketika sunyi.
Kemudian Aldren menjawab,
“Itulah alasan kami tidak boleh ceroboh.”
---
Hari itu Aldren memberikan Alistair tugas sederhana.
Mengantar beberapa obat ke seorang tabib di bagian timur kota.
Alistair sempat kecewa.
Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih besar.
Namun ia tetap menerima.
“Baik.”
Dalam perjalanan, ia berjalan bersama Fen.
Beberapa menit kemudian, Fen berhenti.
Alistair ikut berhenti.
“Apa?”
Fen mengendus jalan.
Kemudian berjalan ke sebuah sudut.
Alistair mengikutinya.
Di tanah terdapat bekas lumpur.
Sebuah jejak sepatu.
Alistair langsung teringat rumah tua.
Ia berjongkok.
Memperhatikan bentuknya.
Ukuran.
Kedalaman.
Arah.
Ia tidak menyentuhnya.
“Bisa jadi orang yang sama.”
Fen menatapnya.
Alistair berdiri.
Kemudian menggeleng.
“Belum tahu.”
Ia melanjutkan perjalanan.
---
Setelah mengantar obat, Alistair kembali ke Guild.
Aldren sedang menunggu.
“Bagaimana?”
“Selesai.”
“Bagus.”
Alistair kemudian menceritakan jejak yang ia lihat.
Aldren mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia berkata,
“Kau melakukan hal yang benar.”
“Karena tidak mengejarnya?”
“Karena kau melaporkannya.”
Alistair mengangguk.
Aldren kemudian mengambil dua batu kecil.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Lihat.”
Alistair memperhatikan.
“Yang ini ditemukan di jalur selatan.”
Aldren menunjuk batu pertama.
“Yang ini ditemukan dekat rumah kemarin.”
Batu kedua.
“Menurutmu sama?”
Alistair melihat keduanya.
“Kelihatannya.”
“Kelihatannya.”
Aldren tersenyum.
“Sekarang lihat lebih dekat.”
Alistair memperhatikan.
Satu batu lebih kasar.
Satu lagi lebih halus.
Warna keduanya hampir sama.
Namun ternyata berbeda.
“Beda.”
“Benar.”
Aldren memasukkan kembali kedua batu tersebut.
“Begitu juga jejak.”
Alistair memahami maksudnya.
“Jadi walaupun kelihatannya sama... belum tentu.”
“Bagus.”
Aldren berdiri.
“Itulah kenapa kau belum boleh menyimpulkan siapa pun sebagai pelaku.”
Alistair mengangguk.
Kemudian bertanya,
“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?”
Aldren menjawab sederhana.
“Amati.”
“Cuma itu?”
“Untuk sekarang.”
---
Sore harinya, Alistair dan Fen berjalan menuju penginapan.
Jalanan cukup ramai.
Pedagang mulai menutup toko.
Anak-anak berlarian.
Beberapa Hunter baru pulang.
Semuanya terlihat normal.
Namun ketika melewati sebuah persimpangan—
Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
“Apa lagi?”
Fen menatap ke arah kerumunan.
Seseorang berjalan melewati mereka.
Seorang pria dengan mantel cokelat.
Tidak ada yang aneh.
Alistair tidak mengejarnya.
Ia hanya memperhatikan.
Pria itu berjalan semakin jauh.
Fen tetap menatap.
Kemudian pria itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sebentar.
Pria itu kemudian berbalik dan pergi.
Alistair tidak bergerak.
“Fen.”
Fen menatapnya.
“Kita pulang.”
Mereka berjalan.
Alistair tidak tahu siapa pria itu.
Tidak tahu apakah dia berhubungan dengan kain.
Tidak tahu apakah dia pernah berada di rumah tua.
Dan kali ini Alistair tidak mencoba mencari jawabannya.
Karena ia mulai memahami sesuatu yang Aldren coba ajarkan sejak awal.
Mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah bukan berarti kau sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan terkadang—
langkah terbaik bukanlah mengejar jejak.
Melainkan menunggu sampai jejak itu cukup jelas untuk diikuti.