Chapter 36 of 46
Bab 36 — Suara di Balik Pintu
860 words
Pagi datang seperti biasa.
Alistair bangun sebelum matahari benar-benar naik.
Ia melipat selimut, mengenakan pakaiannya, lalu mengambil pedang tua milik ayahnya.
Fen sudah menunggu di dekat pintu.
“Kau bahkan belum makan.”
Fen menatapnya.
Alistair menghela napas.
“Ya, ya. Makan dulu.”
Mereka sarapan sederhana sebelum berangkat menuju Hunter Guild.
Namun ketika sampai di depan Guild, Alistair langsung menyadari sesuatu.
Suasananya berbeda.
Lebih ramai dari biasanya.
Beberapa Hunter berdiri bergerombol sambil berbicara pelan.
Ada yang membawa perlengkapan lengkap.
Ada juga yang terlihat baru kembali dari perjalanan.
Alistair mempercepat langkah.
“Bapak?”
Aldren berdiri di depan papan tugas.
“Alistair.”
“Ada apa?”
Aldren tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk papan.
Sebuah lembar pengumuman baru ditempel di sana.
JALUR SELATAN DITUTUP SEMENTARA.
Alistair membaca bagian bawahnya.
Penutupan dilakukan karena ditemukan beberapa jejak yang tidak dapat diidentifikasi serta laporan tambahan dari para pedagang.
“Jadi akhirnya ditutup.”
“Untuk sementara.”
Alistair melihat orang-orang di sekitarnya.
“Karena kejadian kemarin?”
“Bukan hanya itu.”
Aldren memberikan sebuah laporan.
“Semalam ada kereta yang ditemukan kosong.”
Alistair membaca cepat.
“Barangnya masih ada?”
“Sebagian.”
“Orangnya?”
Aldren menggeleng.
“Tidak ada.”
Alistair terdiam.
Fen mendekati kertas tersebut dan mengendusnya.
Tidak lama kemudian Fen mundur.
Alistair memperhatikannya.
“Ada bau?”
Fen hanya menggerakkan telinganya.
Aldren melihat mereka.
“Jangan memaksanya.”
“Aku tahu.”
Alistair menurunkan laporan.
“Berarti sekarang nggak ada yang boleh lewat?”
“Hunter yang ditugaskan masih boleh. Penduduk biasa tidak.”
“Bapak mau pergi?”
“Belum.”
Aldren menatap papan.
“Guild akan mengirim tim khusus.”
Alistair mengangguk.
Ia sebenarnya ingin ikut.
Namun ia tahu dirinya belum cukup kuat.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak perlu bertanya.
Hari itu Alistair mendapat pekerjaan di dalam kota.
Membantu seorang pemilik toko memindahkan beberapa peti.
Pekerjaannya sederhana.
Namun pikirannya terus kembali ke jalur selatan.
Sampai akhirnya pemilik toko menegurnya.
“Kalau pikiranmu masih di tempat lain, petinya bisa jatuh.”
Alistair langsung memperbaiki posisi tangannya.
“Maaf.”
Pemilik toko tertawa.
“Kau masih kecil, jangan terlalu memikirkan hal besar.”
Alistair terdiam.
Masih kecil.
Ia tidak marah.
Ia tahu itu benar.
Ia memang masih sepuluh tahun.
Ia tidak bisa menyelesaikan semua masalah hanya karena sudah menjadi Hunter.
Setelah pekerjaan selesai, ia menerima upah.
“Terima kasih.”
Alistair memasukkan uangnya.
Kemudian ia melihat Fen.
“Ayo.”
Menjelang sore, mereka berjalan melewati jalan belakang kota.
Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
Kali ini Fen tidak melihat ke gang.
Ia melihat sebuah rumah tua.
Rumah itu berada di antara dua bangunan toko.
Pintunya tertutup.
Jendelanya juga tertutup.
Tidak ada yang terlihat aneh.
Alistair menunggu.
Fen mengendus udara.
Kemudian berjalan mendekati pintu.
“Fen.”
Fen berhenti.
Alistair melihat sekeliling.
Tidak ada orang.
Ia mendekati pintu, tetapi tidak menyentuhnya.
Dari balik pintu terdengar suara.
Tok.
Alistair membeku.
Kemudian—
Tok. Tok.
Seperti seseorang mengetuk dari dalam.
Alistair menatap pintu.
“Siapa di dalam?”
Tidak ada jawaban.
Fen mulai menggeram pelan.
Alistair mundur setengah langkah.
Ia tidak membuka pintu.
Ia teringat pesan Aldren.
Kalau tidak tahu apa yang ada di baliknya, jangan masuk hanya karena penasaran.
Alistair menarik napas.
“Kita pergi.”
Fen masih melihat pintu.
“Fen.”
Akhirnya Fen mengikuti.
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara dari dalam terdengar lagi.
Kali ini bukan ketukan.
Suara seseorang.
Sangat pelan.
“...tolong...”
Alistair berhenti.
Tangannya mengepal.
Ia menoleh.
Fen juga berhenti.
Alistair berdiri diam beberapa detik.
Kemudian berbalik.
Ia berjalan kembali ke pintu.
“Bapak bilang jangan bertindak gegabah.”
Ia melihat Fen.
“Tapi kalau memang ada orang di dalam...”
Fen menatapnya.
Alistair mengetuk pintu.
“Apakah ada orang?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kau terluka, ketuk sekali.”
Hening.
Kemudian—
Tok.
Sekali.
Alistair langsung berbalik.
“Kita panggil Hunter.”
Beberapa menit kemudian, Alistair kembali bersama dua Hunter dari Guild.
Aldren juga datang setelah mendapat laporan.
Ia berdiri di depan rumah tua tersebut.
“Bagus.”
Alistair mengangguk.
“Aku nggak masuk.”
Aldren tersenyum tipis.
“Itu keputusan yang benar.”
Salah satu Hunter memeriksa pintu.
Terkunci.
Ia memberi isyarat kepada rekannya.
Mereka bersiap membuka paksa.
Namun sebelum pintu terbuka—
Fen tiba-tiba menyalak.
Semua orang menoleh.
Fen melihat ke arah belakang rumah.
Aldren langsung memahami.
“Periksa bagian belakang.”
Dua Hunter bergerak.
Beberapa saat kemudian—
“Di sini!”
Semua orang berlari.
Di belakang rumah terdapat pintu kecil.
Pintu itu terbuka sedikit.
Salah satu Hunter masuk.
Kemudian terdengar suara.
“Tidak ada siapa-siapa.”
Alistair terkejut.
“Tidak ada?”
Hunter itu keluar membawa sesuatu.
Sebuah kain gelap.
Dengan jahitan abu-abu keperakan.
Alistair langsung mengenalinya.
Dadanya terasa berat.
Aldren mengambil kain itu.
Kali ini ia tidak berkata bahwa itu hanya kebetulan.
Ia menatap jahitan tersebut cukup lama.
Kemudian bertanya,
“Di mana kau menemukannya?”
“Di lantai.”
Aldren melihat ke dalam rumah.
“Dan suara tadi?”
Tidak ada yang menjawab.
Alistair melihat pintu belakang.
Lalu lantai.
Kemudian Fen.
Fen mengendus udara.
Ia berjalan ke sudut rumah.
Berhenti.
Menggaruk lantai sekali.
Tak.
Alistair mendekat.
Ada bekas goresan kecil.
Seperti sesuatu diseret.
Namun tidak ada darah.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada orang.
Hanya jejak.
Aldren berdiri di sampingnya.
“Pulanglah setelah ini.”
Alistair menoleh.
“Tapi—”
“Pulang.”
Nada suara Aldren kali ini tegas.
Alistair terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Ia berjalan pergi bersama Fen.
Namun sebelum keluar dari gang, Alistair menoleh sekali lagi.
Aldren masih berdiri di depan rumah.
Di tangannya ada kain dengan jahitan abu-abu keperakan.
Untuk pertama kalinya sejak misteri itu muncul—
Alistair melihat sesuatu di wajah Aldren.
Bukan ketakutan.
Bukan kemarahan.
Melainkan kekhawatiran.
Dan itu membuat Alistair sadar.
Mungkin masalah ini jauh lebih besar daripada yang selama ini ia pikirkan.