Chapter 35 of 46
Bab 35 — Jejak yang Berbeda
987 words
Pagi berikutnya, Eldermere kembali terlihat seperti biasanya.
Orang-orang memenuhi jalan utama.
Pedagang membuka toko.
Suara roda kereta terdengar dari kejauhan.
Dan di depan Hunter Guild, beberapa pemburu sudah sibuk menerima tugas.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun bagi Alistair, kejadian di hutan kemarin masih terus terbayang.
Monster dengan tiga cakar.
Rovan.
Bayangan yang tidak jelas.
Dan jejak aneh yang bahkan Aldren tidak langsung bisa mengenalinya.
Alistair duduk di salah satu bangku di depan Guild sambil memberi makan Fen.
Fen mengunyah daging kecil yang diberikan kepadanya.
Alistair memandangnya.
“Menurutmu kemarin itu aneh?”
Fen berhenti mengunyah.
Menatap Alistair.
Kemudian kembali makan.
Alistair menghela napas.
“Ya... aku juga nggak tahu kenapa aku nanya.”
Fen mengibaskan ekornya.
“Setidaknya jawabannya konsisten.”
“Jangan terlalu lama melamun.”
Suara Aldren membuat Alistair menoleh.
Pria itu datang membawa beberapa lembar kertas.
“Pagi.”
“Pagi.”
Aldren duduk di sampingnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.”
“Fen?”
Alistair melihat ke bawah.
Fen masih sibuk makan.
“Baik juga.”
Aldren tersenyum tipis.
“Bagus.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Aldren meletakkan kertas di meja.
“Ini laporan dari tim kemarin.”
Alistair langsung melihatnya.
“Laporan?”
“Guild perlu mencatat kejadian sekecil apa pun.”
Alistair membaca beberapa baris.
Nama Rovan.
Nama anaknya.
Lokasi penemuan.
Kondisi mereka.
Kemudian ada satu bagian yang membuat Alistair berhenti.
Jejak tidak teridentifikasi.
Ia menatap Aldren.
“Bapak nggak tahu jejak itu milik apa?”
“Belum.”
“Bisa jadi monster?”
“Bisa.”
“Manusia?”
“Bisa juga.”
Alistair mengerutkan kening.
“Berarti kita nggak tahu apa-apa.”
Aldren menggeleng.
“Kita tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Kita tahu bahwa kita belum tahu.”
Alistair terdiam.
“...Itu terdengar menyebalkan.”
Aldren tertawa kecil.
“Memang.”
Aldren mengambil satu lembar laporan lainnya.
“Tapi ada sesuatu yang lebih penting.”
Alistair membaca.
Ada beberapa laporan lama.
Dua pedagang yang hilang.
Satu kereta yang tidak pernah sampai.
Dua orang yang ditemukan kembali dalam keadaan bingung.
Dan sekarang Rovan serta anaknya.
Semuanya terjadi di wilayah sekitar jalur selatan.
Alistair mulai memahami.
“Semua terjadi di daerah yang sama.”
“Kurang lebih.”
“Berarti ada hubungannya?”
“Belum tentu.”
Aldren menatapnya.
“Jangan melakukan kesalahan yang sama.”
Alistair mengingat semua pelajaran sebelumnya.
Kemiripan bukan bukti.
Ia mengangguk.
“Jadi kita belum boleh menyimpulkan.”
“Benar.”
Alistair melihat laporan itu lagi.
Kemudian bertanya,
“Kalau begitu kenapa Guild belum menutup jalur selatan?”
“Karena jalur itu terlalu penting.”
“Untuk perdagangan?”
“Perdagangan, perjalanan, dan beberapa desa bergantung pada jalur itu.”
Alistair mengangguk pelan.
“Kalau ditutup terlalu lama, orang-orang juga akan kesulitan.”
Aldren mengangguk.
“Karena itulah pekerjaan Hunter bukan cuma menemukan masalah.”
Ia mengambil kembali laporan tersebut.
“Kita juga harus memikirkan apa yang terjadi setelah keputusan dibuat.”
Hari itu Alistair tidak mendapatkan pekerjaan berbahaya.
Ia hanya membantu mengantarkan beberapa barang ke toko di bagian timur kota.
Pekerjaan sederhana.
Bayarannya juga tidak besar.
Namun Alistair tidak keberatan.
Setelah selesai, ia menerima beberapa keping tembaga.
Ia menghitungnya.
Kemudian memasukkannya ke kantong.
Fen berjalan di sampingnya.
“Kalau terus begini...”
Alistair melihat kantongnya.
“Aku bisa beli pedang sendiri.”
Fen menoleh.
“Jangan lihat begitu.”
Alistair tersenyum.
“Aku serius.”
Ia berhenti di depan toko senjata.
Pedang pendek yang beberapa hari lalu ia lihat masih berada di sana.
Bilahnya sederhana.
Tidak ada hiasan.
Tidak ada batu permata.
Namun harganya masih cukup tinggi baginya.
Alistair memandangnya beberapa saat.
Tangannya refleks menyentuh gagang pedang tua milik ayahnya.
Pedang itu masih ia bawa.
Namun ia tahu suatu hari nanti ia membutuhkan senjata yang benar-benar cocok untuk dirinya sendiri.
Bukan karena ingin meninggalkan ayahnya.
Justru sebaliknya.
Ia ingin memiliki sesuatu yang bisa ia bawa sebagai miliknya sendiri.
“Belum.”
Alistair berjalan pergi.
“Suatu hari nanti.”
Ketika mereka hampir kembali ke Guild, Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
“Apa?”
Fen menatap ke arah gang kecil.
Tidak menggeram.
Hanya memperhatikan.
Alistair menyipitkan mata.
Ia tidak langsung masuk.
Ia mengingat perkataan Aldren.
Jangan mengejar sesuatu hanya karena terlihat mencurigakan.
Alistair menunggu.
Beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian seorang pria keluar dari gang sambil membawa dua kantong.
Pria itu berjalan melewati mereka.
Fen mengikuti dengan matanya.
Alistair juga memperhatikannya.
Tidak ada yang aneh.
Pria itu hanya membawa barang.
Alistair akhirnya melanjutkan langkah.
Namun setelah beberapa meter—
Fen berhenti lagi.
Alistair menoleh.
“Apa lagi?”
Fen melihat ke belakang.
Alistair ikut menoleh.
Pria tadi sudah menghilang di antara keramaian.
“Fen.”
Fen menatapnya.
“Kalau memang ada sesuatu, kita belum punya bukti.”
Fen mengibaskan ekornya.
Alistair tersenyum kecil.
“Ya. Aku tahu.”
Mereka kembali berjalan.
Sore harinya, Alistair membantu membersihkan ruang belakang Guild.
Ketika sedang membawa kotak, ia melihat sesuatu di bawah rak.
Selembar kain.
Warnanya gelap.
Alistair langsung berhenti.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia berjongkok.
Tangannya hampir menyentuh kain itu.
Namun berhenti.
Ia memanggil salah satu petugas.
“Pak.”
Petugas itu menoleh.
“Ada apa?”
“Ini punya siapa?”
Petugas mendekat.
Melihat kain tersebut.
“Entahlah. Mungkin bekas kain pembungkus.”
Alistair tidak menyentuhnya.
“Bisa dibuang?”
“Bisa.”
Petugas mengambil kain itu.
Namun sebelum kain tersebut dibuang, Alistair melihat bagian jahitannya.
Bukan simbol yang sama.
Tidak ada pola abu-abu keperakan.
Hanya jahitan biasa.
Alistair menghela napas lega.
Ternyata ia terlalu waspada.
Ia berdiri.
“Kirain sesuatu.”
Petugas tertawa.
“Setelah kejadian di jalur selatan, semua orang memang jadi lebih waspada.”
Alistair mengangguk.
“Benar.”
Ia kembali bekerja.
Namun tanpa ia sadari—
di luar Guild, seseorang berdiri di seberang jalan.
Orang itu hanya diam.
Kemudian berbalik.
Dan pergi.
Malam tiba.
Alistair duduk di kamar penginapan.
Fen berbaring di dekat kakinya.
Ia menghitung uang yang tersisa.
Kemudian menulis pengeluaran hari itu.
Makanan.
Penginapan.
Makanan Fen.
Dan sedikit tabungan.
Ia melihat jumlahnya.
Belum cukup.
Masih jauh dari cukup.
Alistair tersenyum kecil.
“Berarti masih harus kerja.”
Fen mengangkat kepala.
“Besok kita cari pekerjaan lagi.”
Fen kembali berbaring.
Alistair tertawa kecil.
Kemudian ia memegang lonceng kecil di lehernya.
Dentingannya terdengar pelan.
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Ia menatap jendela.
Langit malam Eldermere terlihat tenang.
Namun di kejauhan—
di arah jalur selatan—
seseorang sedang berdiri di tengah hutan.
Di tangannya terdapat sepotong kain gelap dengan jahitan abu-abu keperakan.
Orang itu menatap sebuah jejak di tanah.
Jejak yang sama sekali berbeda dari jejak monster.
Ia lalu berkata pelan,
“Jadi... mereka sudah menemukan anak itu.”
Angin berembus.
Kain di tangannya bergerak.
“Dan anak itu melihat terlalu banyak.”
Sosok tersebut kemudian berbalik.
Menghilang ke dalam kegelapan hutan.