Suasana di dalam hutan seketika berubah.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Monster berkaki tiga cakar itu masih berdiri beberapa meter di depan mereka.
Tubuhnya rendah.
Kepalanya sedikit menunduk.
Matanya terus mengawasi para Hunter.
Namun pemburu kayu yang baru muncul justru melangkah ke depan.
“Jangan menyerangnya.”
Aldren mengangkat satu tangan.
Semua Hunter berhenti.
“Namamu?”
Pemburu itu menatap Aldren.
“Rovan.”
“Kau yang hilang?”
Rovan mengangguk.
“Anakku?”
“Dia sudah kami temukan.”
Mata Rovan langsung membesar.
“Di mana?”
“Di dekat jalur masuk.”
Rovan menghela napas lega.
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Salah satu Hunter segera menopangnya.
“Tenang.”
“Aku... baik-baik saja.”
Alistair memperhatikan luka di bahunya.
Tidak terlalu dalam.
Namun darah masih keluar.
“Kau harus duduk.”
Rovan menurut.
Alistair kemudian kembali melihat monster tadi.
Makhluk itu masih diam.
Tidak menyerang.
Bahkan tidak menunjukkan keinginan untuk mendekat.
Fen juga tidak menggeram lagi.
Alistair memperhatikan.
“Dia takut.”
Rovan menoleh.
“Siapa?”
“Monster itu.”
Rovan mengangguk perlahan.
“Benar.”
Alistair terkejut.
“Kenapa?”
Rovan menarik napas.
“Karena kami bukan yang pertama kali bertemu dengannya.”
Rovan menceritakan apa yang terjadi.
Ia dan anaknya masuk ke hutan untuk mencari kayu.
Awalnya tidak ada masalah.
Namun ketika mereka semakin dalam, mereka menemukan monster tersebut.
Rovan mengira makhluk itu akan menyerang.
Ia mengangkat kapak.
Namun monster itu justru mundur.
“Dia tidak menyerang kami?”
Rovan menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau terluka?”
Rovan diam.
Kemudian menjawab,
“Karena sesuatu yang lain datang.”
Alistair memperhatikan wajahnya.
“Apa?”
Rovan menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Aldren menyilangkan tangan.
“Ceritakan dari awal.”
Rovan menarik napas.
“Setelah kami menemukan monster itu, terdengar suara dari arah utara.”
“Suara apa?”
“Seperti banyak orang berjalan.”
Alistair mengerutkan kening.
“Banyak orang?”
“Ya.”
Rovan menatap hutan.
“Tapi tidak ada siapa-siapa.”
Ia melanjutkan.
“Lalu monster ini tiba-tiba berlari.”
“Menyerang?”
“Tidak.”
Rovan menunjuk makhluk itu.
“Dia justru berlari ke arah kami.”
Alistair menatap monster tersebut.
“Kenapa?”
“Karena dia mencoba menghindari sesuatu.”
Hening.
Aldren bertanya,
“Lalu?”
“Suara itu semakin dekat.”
Rovan menelan ludah.
“Aku membawa anakku dan berlari.”
“Ke mana?”
“Ke gubuk.”
Rovan menunduk.
“Namun sesuatu mengikuti kami.”
“Apa yang kau lihat?”
Rovan memejamkan mata.
“Aku tidak tahu.”
Alistair mengerutkan kening.
“Tidak tahu?”
“Aku hanya melihat bayangan.”
“Manusia?”
“Tidak yakin.”
“Monster?”
“Juga tidak yakin.”
Aldren menatapnya.
“Lalu bagaimana kau bisa tahu sesuatu mengikuti kalian?”
Rovan menjawab pelan.
“Karena jejaknya.”
Alistair langsung teringat latihan Aldren.
Jejak yang ditinggalkan benda bisa bicara.
“Apa jejaknya?”
Rovan menggeleng.
“Tidak seperti manusia.”
“Lalu?”
“Tidak seperti monster yang pernah kulihat.”
Alistair terdiam.
Ia menatap tanah di sekitar mereka.
Jejak.
Kain.
Gubuk.
Darah.
Semuanya mulai terasa seperti potongan-potongan sesuatu yang belum membentuk gambaran utuh.
Namun ada satu hal yang jelas.
Monster di depan mereka bukan pelakunya.
Alistair menatap Fen.
Fen mengendus udara.
Kemudian menatap monster tersebut.
Monster itu juga menatap Fen.
Tidak ada geraman.
Tidak ada serangan.
Hanya saling memperhatikan.
Alistair perlahan menurunkan pedang kayunya.
Aldren melihatnya.
“Kenapa?”
“Dia tidak mau menyerang.”
“Bisa berubah pikiran.”
“Aku tahu.”
Alistair menatap monster itu.
“Tapi kalau kita menyerang duluan, kita tidak akan tahu.”
Aldren diam beberapa saat.
Kemudian memasukkan pedangnya kembali.
“Bagus.”
Salah satu Hunter terlihat tidak yakin.
“Kita benar-benar membiarkannya?”
Aldren menjawab,
“Selama dia tidak menyerang.”
Monster itu perlahan mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berbalik.
Ia menghilang di antara pepohonan.
Rovan melihat ke arah monster itu pergi.
“Dia sering muncul di sini.”
Alistair menoleh.
“Sering?”
Rovan mengangguk.
“Kadang aku melihat jejaknya.”
“Pernah menyerang?”
“Tidak.”
Alistair berpikir.
“Jadi mungkin dia tinggal di sini.”
“Bisa jadi.”
Aldren melihat Rovan.
“Dan suara yang kau dengar?”
Rovan menggeleng.
“Itu yang membuatku takut.”
Aldren menatap hutan.
“Kalau begitu kita tidak akan mengejarnya hari ini.”
Salah satu Hunter terkejut.
“Bagaimana dengan orang yang membawa mereka?”
Aldren menjawab,
“Kita sudah menemukan Rovan dan anaknya. Kita juga sudah mendapat informasi baru.”
Ia melihat luka Rovan.
“Prioritas kita sekarang membawa mereka kembali.”
Alistair mengangguk.
Keputusan itu masuk akal.
Namun sebelum mereka pergi, Alistair melihat sesuatu di tanah.
Sebuah bekas jejak.
Ia berjongkok.
Bentuknya aneh.
Tidak seperti jejak manusia.
Tidak seperti jejak monster tadi.
Jejak itu hanya terlihat sebentar sebelum menghilang di antara daun.
Alistair menyentuh tanah.
Masih lembap.
“Bapak.”
Aldren menoleh.
“Apa?”
“Ini.”
Aldren mendekat.
Ia melihat jejak tersebut.
Wajahnya berubah sedikit.
“Kau yakin?”
“Tidak.”
Alistair menggeleng.
“Makanya aku bilang.”
Aldren berjongkok.
Ia tidak menyentuhnya.
Hanya mengamati.
“Jangan beri tahu yang lain dulu.”
Alistair mengangguk.
Mereka berdiri.
Kemudian berjalan kembali.
Di perjalanan pulang, Rovan berjalan bersama Alistair.
“Anakmu bagaimana?”
“Masih lemah.”
“Semoga cepat pulih.”
Rovan tersenyum tipis.
“Kau masih muda.”
Alistair mengangguk.
“Sepuluh.”
“Sepuluh?”
“Iya.”
Rovan tertawa kecil.
“Dan sudah menjadi Hunter?”
“Belum sepenuhnya.”
Alistair menunjuk Aldren.
“Aku masih belajar.”
Rovan mengangguk.
“Belajar dari orang yang tepat.”
Alistair menatap Aldren.
Kemudian tersenyum kecil.
“Iya.”
Mereka akhirnya kembali ke tempat anak Rovan berada.
Anak itu langsung membuka mata ketika mendengar suara ayahnya.
“Ayah!”
Rovan berlutut dan memeluknya.
“Ayah di sini.”
Alistair berdiri agak jauh.
Ia tidak ikut mendekat.
Fen duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, Alistair hanya melihat mereka.
Seorang anak yang hampir kehilangan ayahnya.
Seorang ayah yang akhirnya menemukan anaknya.
Alistair teringat Elara.
Tangannya menyentuh lonceng kecil di dekat lehernya.
Denting.
Ia tersenyum tipis.
“Ayo pulang, Fen.”
Fen berdiri.
Mereka berjalan bersama.
Namun sebelum meninggalkan hutan, Alistair menoleh sekali lagi.
Di antara pepohonan yang jauh—
tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan.
Namun entah kenapa, Alistair merasa seperti sedang diperhatikan.
Ia tidak berhenti.
Tidak mengejar.
Tidak bertanya.
Ia hanya mengingatnya.
Karena sekarang ia tahu satu hal:
Ada sesuatu di hutan selatan yang belum mereka pahami.
Dan kali ini, bahkan Aldren pun terlihat tidak memiliki jawabannya.