Chapter 33 of 46
Bab 33 — Hutan yang Terlalu Sunyi
944 words
Anak itu tidak sadarkan diri.
Aldren membaringkannya di atas kain yang dibawa salah satu Hunter.
“Dia masih bernapas.”
Hunter perempuan segera memeriksa kondisinya.
“Tidak ada luka serius. Sepertinya hanya kelelahan.”
Alistair masih menatap ke arah hutan.
Ke arah yang tadi ditunjuk anak itu.
“Ayahnya masih di sana.”
Aldren mengangguk.
“Aku tahu.”
“Berarti kita harus mencarinya.”
“Ya.”
Aldren berdiri.
Namun sebelum bergerak, ia menatap semua Hunter.
“Mulai sekarang kita lebih hati-hati.”
Tatapannya berhenti pada Alistair.
“Kau tetap bersamaku.”
Alistair mengangguk.
Fen berdiri di sampingnya.
Mereka mulai berjalan.
Semakin jauh mereka masuk, semakin sunyi hutan itu.
Alistair mulai memahami maksud Aldren.
Hutan yang biasanya penuh suara terasa seperti tempat yang ditinggalkan.
Tidak ada burung.
Tidak ada suara serangga.
Bahkan angin terasa lebih lemah.
Alistair memperhatikan tanah.
Jejak kaki anak itu masih terlihat.
Kecil.
Tidak teratur.
Kadang berlari.
Kadang berhenti.
Kemudian jejak tersebut bercampur dengan jejak yang lebih besar.
Alistair berjongkok.
“Ini jejak ayahnya.”
Aldren melihat.
“Kenapa?”
“Ukuran kakinya lebih besar.”
Alistair menunjuk beberapa jejak.
“Dan langkahnya lebih panjang.”
Aldren mengangguk.
“Bagus.”
Mereka mengikuti jejak itu.
Tidak ada yang berbicara.
Sampai Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
Fen menatap pohon di sebelah kanan.
Ada sesuatu yang menggantung di sana.
Alistair mendekat.
Sebuah tas.
Tas kulit kecil.
Ia mengambilnya.
Aldren memeriksa bagian dalam.
Tidak ada banyak barang.
Hanya beberapa potong makanan kering.
Pisau kecil.
Dan sebuah kapak batu.
“Punya pemburu kayu,” kata salah satu Hunter.
Alistair melihat tali tas.
Putus.
Bukan terlepas.
Putus.
Ia menyentuh bagian ujungnya.
“Dipaksa?”
Aldren melihat.
“Mungkin.”
Alistair mengamati pohon.
Ada goresan di batangnya.
Tiga garis panjang.
“Bapak.”
Aldren mendekat.
“Apa?”
“Ini baru.”
Aldren menyentuh goresan itu.
“Benar.”
“Bisa jadi tanda?”
“Mungkin.”
Alistair mengangguk.
Tidak lebih.
Ia mulai belajar.
Mungkin bukan berarti pasti.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian mereka menemukan jejak lain.
Darah.
Sedikit.
Hanya beberapa tetes di atas daun.
Salah satu Hunter langsung mempercepat langkah.
Aldren menahannya.
“Jangan.”
“Kalau dia terluka—”
“Justru karena itu.”
Aldren menunjuk tanah.
“Jangan terburu-buru masuk.”
Semua berhenti.
Alistair memperhatikan sekitar.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Namun sesuatu terasa salah.
Fen tiba-tiba berdiri sangat dekat dengan kaki Alistair.
Bulu tengkuknya berdiri.
Alistair berbisik,
“Fen?”
Fen tidak bergerak.
Aldren menatap mereka.
“Dia merasakan sesuatu?”
Alistair mengangguk.
“Mungkin.”
Aldren memberi isyarat.
Dua Hunter bergerak ke sisi kiri.
Satu ke kanan.
Alistair tetap di belakang Aldren.
Mereka menunggu.
Lima detik.
Sepuluh.
Lima belas.
Tidak ada apa-apa.
Salah satu Hunter mulai menurunkan senjatanya.
Kemudian—
Krak!
Sebuah ranting patah dari belakang.
Semua berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Hunter perempuan menunjuk tanah.
“Jejak.”
Alistair mendekat.
Jejak itu bukan milik manusia.
Bentuknya seperti telapak dengan tiga cakar.
Alistair menelan ludah.
“Monster?”
Aldren mengangguk.
“Mungkin.”
Alistair melihat jejak tersebut.
Jejaknya cukup besar.
Namun tidak dalam.
“Ringan.”
Aldren menoleh.
“Apa?”
“Jejaknya besar, tapi tidak terlalu dalam.”
Alistair menunjuk tanah.
“Berarti tubuhnya mungkin tidak seberat kelihatannya.”
Aldren tersenyum tipis.
“Bagus.”
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Tapi jangan menganggap ringan berarti tidak berbahaya.”
Alistair mengangguk.
Mereka mengikuti jejak monster itu.
Jejaknya tidak lurus.
Berputar.
Kadang menghilang.
Kemudian muncul kembali.
Aldren beberapa kali menghentikan mereka.
Setiap kali jejak hilang, Alistair mencoba mencari.
Daun yang terinjak.
Ranting patah.
Tanah yang bergeser.
Bekas cakar.
Perlahan ia mulai melihat pola.
Monster itu tidak berjalan sembarangan.
Ia mengitari sesuatu.
Alistair berhenti.
“Bapak.”
Aldren menoleh.
“Monster itu seperti berputar.”
“Di sekitar apa?”
Alistair melihat ke depan.
Sebuah pohon besar berdiri di tengah area terbuka.
“Di sana.”
Mereka mendekat.
Dan menemukan sebuah gubuk kecil.
Pintunya terbuka.
Alistair langsung mengenalinya.
“Tempat pemburu kayu.”
Aldren menghunus pedang.
Mereka masuk perlahan.
Gubuk itu kosong.
Namun di lantai terdapat kapak.
Pecahan mangkuk.
Dan beberapa bekas goresan.
Alistair melihat dinding.
Ada darah.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk membuatnya diam.
“Dia pernah di sini.”
Aldren mengangguk.
“Dan kemungkinan dibawa keluar.”
“Monster itu?”
“Belum tahu.”
Alistair menatap pintu belakang.
Ada jejak tanah menuju keluar.
Namun jejak tersebut berbeda dari jejak monster.
Jejak manusia.
Seseorang keluar dari gubuk.
Alistair mengikuti pandangannya.
“Bapak...”
Aldren sudah melihatnya.
Jejak manusia itu mengarah ke belakang gubuk.
Mereka keluar.
Beberapa langkah kemudian—
jejak itu berhenti.
Alistair mengerutkan kening.
“Kenapa berhenti?”
Aldren tidak menjawab.
Ia menunjuk pohon.
Ada sesuatu di sana.
Sebuah kain kecil tersangkut di dahan.
Alistair mengambilnya.
Kain cokelat.
Sama seperti yang mereka temukan sebelumnya.
Namun kali ini ada sesuatu di bagian ujungnya.
Jahitan abu-abu keperakan.
Alistair membeku.
Fen langsung menggeram.
Aldren mengambil kain itu dari tangannya.
Ia menatapnya cukup lama.
Tidak berkata apa-apa.
Alistair akhirnya bertanya,
“Ini berarti orang yang sama?”
Aldren masih melihat kain itu.
“Belum tentu.”
“Tapi—”
“Alistair.”
Ia menatap Alistair.
“Kita punya lebih banyak petunjuk sekarang.”
Aldren memasukkan kain itu ke dalam sakunya.
“Bukan lebih banyak jawaban.”
Alistair diam.
Kemudian terdengar suara dari dalam hutan.
Geraman.
Semua langsung menoleh.
Kali ini bukan suara burung.
Bukan suara angin.
Dan bukan suara manusia.
Fen berdiri di depan Alistair.
Bulu di tubuhnya berdiri.
Dari balik pepohonan—
dua mata muncul dalam kegelapan.
Aldren mengangkat pedangnya.
“Semua bersiap.”
Makhluk itu melangkah keluar.
Tubuhnya rendah.
Kaki belakangnya panjang.
Tiga cakar terlihat jelas.
Bentuknya seperti perpaduan antara serigala dan reptil, dengan kulit gelap yang hampir menyatu dengan bayangan hutan.
Alistair menggenggam pedang kayunya.
Jantungnya berdetak cepat.
Makhluk itu menggeram.
Fen maju setengah langkah.
Alistair menahan bahunya.
“Jangan.”
Fen menoleh.
“Kita tunggu.”
Aldren melirik Alistair.
Kemudian tersenyum tipis.
“Bagus.”
Makhluk itu tiba-tiba merendahkan tubuh.
Alistair bersiap.
Namun sebelum monster tersebut menerjang—
terdengar suara lain dari balik hutan.
Suara manusia.
“Jangan bunuh dia!”
Semua membeku.
Dari balik pepohonan muncul seorang pria dengan pakaian pemburu.
Wajahnya penuh kelelahan.
Salah satu tangannya memegang luka di bahu.
Alistair langsung mengenalinya dari deskripsi.
Pemburu kayu yang hilang.
Ia masih hidup.
Namun ia tidak melihat Aldren.
Tidak melihat para Hunter.
Tatapannya justru tertuju pada monster di depan mereka.
Dan dengan suara lemah, ia berkata—
“Dia... bukan yang membawa kami.”