Chapter 32 of 46

Bab 32 — Jejak di Jalur Selatan

884 words

Alistair tidak banyak bertanya. Ia hanya mengambil pedang kayunya, memasukkan sedikit makanan ke dalam tas, lalu memasang sepatu. Fen sudah berdiri di dekat pintu. Aldren menunggu di luar. “Siap?” Alistair mengangguk. “Siapa yang hilang?” “Dua orang.” “Hunter?” “Bukan.” Alistair berhenti sebentar. “Pedagang?” “Bukan juga.” Aldren mulai berjalan. “Seorang pemburu kayu dan anaknya.” Alistair mengerutkan kening. “Anaknya ikut ke hutan?” “Seharusnya tidak.” Mereka berjalan menuju Guild. Pagi itu suasana kota terasa lebih tegang daripada biasanya. Beberapa penjaga berdiri di persimpangan jalan. Orang-orang berbicara lebih pelan. Alistair bisa merasakan bahwa berita tentang orang hilang sudah mulai menyebar. Sesampainya di Guild, Aldren membawa Alistair ke ruangan belakang. Di atas meja terdapat peta. Ada tanda merah di bagian selatan. “Di sini.” Aldren menunjuk sebuah titik. “Terakhir kali mereka terlihat.” Alistair mendekat. “Seberapa jauh?” “Sekitar satu jam dari kota.” “Apakah ada monster?” “Belum ada laporan.” Alistair mengangguk. Aldren menunjuk titik lain. “Ini sungai.” Kemudian titik berikutnya. “Ini jalur lama.” Alistair memperhatikan. “Kenapa menggunakan jalur lama?” “Pemburu kayu biasanya menghindari jalan utama.” “Karena lebih dekat?” “Dan lebih banyak pohon.” Alistair melihat peta lagi. “Apa aku ikut?” Aldren menatapnya. “Ya.” Alistair sedikit terkejut. “Kenapa?” “Karena kali ini kau tidak perlu bertarung.” Aldren menggulung peta. “Kau ikut untuk mengamati.” Alistair mengangguk. “Baik.” Mereka berangkat bersama tiga Hunter lain. Dua laki-laki dan satu perempuan. Alistair tidak mengenal mereka. Salah satu dari mereka, pria bertubuh besar dengan rambut pendek, melihat Alistair. “Dia ikut?” Aldren mengangguk. “Dia masih belajar.” Pria itu menghela napas. “Jangan sampai kita malah harus menjaganya.” Alistair tidak menjawab. Aldren hanya berkata, “Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan langsung.” Pria itu terdiam. Alistair meliriknya sebentar. Kemudian kembali melihat jalan. Fen berjalan di sampingnya. Satu jam kemudian mereka tiba di jalur selatan. Pepohonan semakin rapat. Suara kota sudah tidak terdengar. Aldren mengangkat tangan. “Berhenti.” Semua berhenti. “Mulai sekarang jangan berjalan terlalu dekat.” Alistair mengangguk. Aldren menunjuk tanah. “Cari sesuatu.” Alistair berjongkok. Awalnya ia tidak melihat apa pun. Hanya tanah. Daun. Ranting. Namun setelah beberapa saat— ia menemukan jejak kaki. “Di sini.” Aldren mendekat. “Kenapa?” “Jejak manusia.” “Berapa orang?” Alistair melihat lebih teliti. “Satu.” Aldren mengangguk. “Bagaimana kau tahu?” “Ukuran jejaknya hampir sama.” Ia menunjuk jejak berikutnya. “Dan jaraknya juga mirip.” Aldren tersenyum tipis. “Bagus.” Hunter lain mulai mengikuti jejak. Namun Fen tiba-tiba bergerak ke arah berbeda. Alistair menoleh. “Fen?” Fen mengendus tanah. Kemudian berjalan ke semak. Alistair mengikuti. Di bawah semak terdapat sebuah kain kecil. Alistair mengambilnya. Warnanya cokelat. Bukan kain abu-abu keperakan yang pernah mereka temukan. Ia membaliknya. Ada bekas tanah. “Punya pemburu?” Aldren melihatnya. “Bisa jadi.” Alistair memasukkan kembali kain itu ke semak. “Kita lanjut?” Aldren mengangguk. Jejak kaki semakin dalam menuju hutan. Kemudian mereka menemukan sesuatu. Sebuah kapak. Tertancap di batang pohon. Alistair mendekat. “Ini milik mereka?” Aldren memeriksa gagangnya. “Tidak tahu.” Salah satu Hunter mengambil kapak itu. “Masih tajam.” Aldren langsung menatapnya. “Jangan.” Hunter itu berhenti. “Kenapa?” “Lihat tanahnya.” Semua melihat. Di bawah pohon terdapat jejak kaki. Namun anehnya— jejak itu tidak menuju pohon. Jejak tersebut berhenti beberapa langkah sebelumnya. Alistair memperhatikan. “Berarti orang yang membawa kapak tidak berjalan sampai sini.” Aldren mengangguk. “Lalu?” Alistair melihat sekeliling. “Mungkin kapaknya dilempar.” “Kenapa?” Alistair terdiam. Ia tidak tahu. Dan kali ini ia tidak memaksakan jawaban. “Belum tahu.” Aldren tersenyum. “Jawaban yang tepat.” Mereka terus berjalan. Beberapa menit kemudian Fen berhenti. Bulu di punggungnya sedikit berdiri. Alistair langsung waspada. “Semua berhenti.” Hunter lain menoleh. “Apa?” Alistair mengangkat tangan. “Fen mendengar sesuatu.” Mereka diam. Awalnya tidak ada suara. Kemudian— Tok. Suara kayu dipukul. Semua menoleh. Tok. Sekali lagi. Dari arah kanan. Salah satu Hunter langsung mencabut pedangnya. Aldren mengangkat tangan. “Jangan menyerang.” Mereka bergerak perlahan. Suara itu semakin jelas. Tok. Tok. Sampai akhirnya mereka menemukan sumbernya. Seekor burung sedang mematuk batang pohon. Hunter yang tadi mencabut pedang langsung memasukkannya kembali. Alistair menahan tawa. Aldren menatapnya. “Jangan.” Alistair mengangguk cepat. Fen duduk. Burung itu terbang. Ketegangan menghilang. Namun Aldren tidak terlihat lega. Ia justru menatap tanah. “Aneh.” Alistair ikut melihat. “Apa?” “Tidak ada suara lain.” Alistair mengerutkan kening. “Bukannya bagus?” “Untuk hutan?” Aldren menggeleng. “Tidak selalu.” Alistair mulai memperhatikan. Benar. Tidak ada serangga. Tidak ada suara hewan kecil. Tidak ada ranting bergerak. Hanya angin. Hutan terasa terlalu sunyi. Fen mengendus udara. Kemudian menatap ke depan. Aldren menghunus pedangnya. “Jangan panik.” Semua Hunter bersiap. Alistair menggenggam pedang kayunya lebih erat. Ia tahu dirinya belum cukup kuat untuk bertarung melawan sesuatu yang berbahaya. Jadi ia tidak maju. Ia berdiri di belakang Aldren. Seperti yang telah diajarkan. Tahu kapan maju. Tahu kapan mundur. Dan kali ini— menunggu adalah pilihan yang benar. Dari balik pepohonan di depan mereka— terdengar suara langkah. Satu. Dua. Tiga. Lalu berhenti. Aldren menatap ke depan. “Siapa di sana?” Tidak ada jawaban. Fen mulai menggeram. Alistair menahan napas. Kemudian sesuatu bergerak di balik semak. Bukan monster. Bukan manusia. Sebuah tangan kecil muncul dari balik rerumputan. Alistair membeku. “Aldren...” Aldren langsung bergerak maju. Dan ketika semak itu disibakkan— mereka menemukan seorang anak laki-laki. Kotor. Lelah. Dan masih hidup. Namun anak itu hanya mengangkat wajahnya sebentar sebelum berbisik, “Jangan... ke sana...” Alistair berjongkok. “Kenapa?” Anak itu menunjuk ke arah hutan yang lebih dalam. “...Ayah masih di sana.” Lalu tubuhnya lemas. Aldren segera menangkapnya. Semua orang terdiam. Alistair menatap ke arah yang ditunjuk anak itu. Hutan di depan mereka terlihat gelap. Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki jalur selatan— Fen tidak hanya menggeram. Ia mundur satu langkah.

End of Chapter 32