Chapter 31 of 46
Bab 31 — Hari yang Tenang
778 words
Pagi itu, Alistair bangun tanpa suara keributan.
Tidak ada teriakan dari jalan.
Tidak ada suara orang berlari.
Tidak ada kabar baru dari jalur barat.
Hanya suara burung dari luar jendela.
Alistair duduk di tepi tempat tidur dan mengusap matanya.
Fen masih tidur di lantai.
“Bangun.”
Tidak bergerak.
Alistair berdiri.
“Fen.”
Telinganya bergerak sedikit.
“Kalau kau tidak bangun, aku pergi sendiri.”
Fen langsung membuka mata.
Alistair tertawa kecil.
“Cepat juga.”
Fen berdiri dan menggoyangkan tubuhnya.
Mereka keluar dari penginapan.
Hari itu Alistair tidak mengambil pekerjaan.
Ia ingin berlatih lebih lama.
Lapangan latihan masih sepi.
Aldren belum datang.
Alistair mengambil pedang kayu dan mulai melakukan gerakan dasar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mengulangnya berkali-kali.
Setelah beberapa menit, keringat mulai membasahi dahinya.
Fen hanya duduk memperhatikan.
Alistair berhenti.
“Kenapa lihat-lihat?”
Fen memiringkan kepala.
“Kalau kau mau bantu, latihan.”
Fen berdiri.
Alistair mengambil posisi.
“Coba kejar aku.”
Fen langsung berlari.
Alistair tertawa dan mundur.
Mereka bergerak mengelilingi lapangan.
Alistair mencoba menjaga jarak.
Fen mencoba mendekat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Pada percobaan keempat, Fen melompat.
Alistair menghindar.
Namun Fen memutar tubuh di udara dan mendarat tepat di belakangnya.
Alistair membeku.
“...Kau belajar juga.”
Fen mengibaskan ekornya.
Alistair tertawa.
“Baik. Sekarang giliranku.”
Ia bergerak.
Fen berlari.
Keduanya saling mengejar.
Tidak ada latihan serius.
Tidak ada target.
Hanya permainan.
Namun tanpa mereka sadari, gerakan mereka mulai semakin selaras.
Alistair tahu kapan Fen akan berbelok.
Fen tahu kapan Alistair akan berhenti.
Tidak perlu kata-kata.
Aldren datang ketika mereka sedang beristirahat.
Ia berdiri beberapa langkah dari lapangan.
“Kelihatannya kalian bersenang-senang.”
Alistair mengangguk.
“Sedikit.”
“Bagus.”
Aldren duduk di bawah pohon.
“Kadang-kadang latihan tidak harus selalu serius.”
Alistair menatapnya.
“Bukannya Bapak selalu bilang Hunter harus serius?”
“Serius saat perlu.”
Aldren mengambil botol air.
“Kalau setiap saat serius, kau akan cepat lelah.”
Alistair duduk di sampingnya.
“Jadi hari ini libur?”
“Bukan.”
Alistair menghela napas.
“Kirain.”
“Kita tetap latihan.”
“...Aku tahu.”
Aldren tertawa.
Setelah beristirahat, Aldren mengambil dua batu kecil.
Ia meletakkannya di tanah.
“Sekarang latihan terakhir.”
Alistair berdiri.
“Apa?”
“Lihat batu.”
Alistair melihat.
“Yang mana?”
“Yang kiri.”
Alistair melihat batu kiri.
“Kenapa?”
“Sekarang tutup mata.”
Alistair mengernyit.
“Tutup mata?”
“Iya.”
Alistair menutup mata.
Aldren mengambil salah satu batu.
Kemudian melemparkannya ke tempat lain.
“Buka.”
Alistair membuka mata.
Ia melihat tanah.
Satu batu masih berada di tempat.
Satu lagi sudah berpindah.
“Yang tadi di kiri pindah.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena yang kanan masih ada.”
Aldren mengangguk.
“Sekarang jangan lihat batu.”
Alistair terdiam.
“Dengar.”
Ia menutup mata lagi.
Angin.
Daun.
Suara langkah.
Burung.
Fen bergerak.
Alistair mencoba memisahkan suara-suara tersebut.
Kemudian terdengar bunyi kecil.
Tik.
Alistair membuka mata.
“Batu.”
Aldren tersenyum.
“Benar.”
Alistair melihat Fen.
“Dia menyentuhnya?”
Fen berdiri di dekat batu.
Aldren tertawa.
“Benar.”
Alistair menggeleng.
“Curang.”
Fen mengibas-ngibaskan ekornya.
Setelah latihan selesai, Alistair dan Fen pergi ke pasar.
Hari itu Alistair memiliki sedikit uang lebih.
Ia membeli makanan.
Bukan hanya untuk dirinya.
Ia juga membeli daging untuk Fen.
Penjual menyerahkan bungkusan.
“Ini.”
Alistair membayar.
Ia menghitung sisa uangnya.
Masih cukup.
Ia memasukkannya ke kantong.
Fen menatap bungkusan.
“Belum.”
Fen menatapnya.
“Kita sampai penginapan dulu.”
Fen tetap menatap.
“Jangan lihat aku begitu.”
Fen memalingkan wajah.
Alistair tertawa.
“Bagus.”
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati toko senjata.
Alistair berhenti.
Di balik kaca terdapat beberapa pedang.
Pedang pendek.
Pedang panjang.
Pisau.
Dan satu pedang yang pernah ia lihat sebelumnya.
Pedang pendek dengan gagang sederhana.
Harganya masih terlalu tinggi untuk uang yang ia punya.
Alistair hanya melihatnya.
Suatu hari.
Ia ingin memiliki pedangnya sendiri.
Bukan pedang ayahnya.
Bukan pedang kayu latihan.
Pedang miliknya.
Namun ia belum membutuhkannya sekarang.
Ia melangkah pergi.
Fen mengikutinya.
Malam tiba.
Alistair makan bersama Fen di kamar.
Ia membagi daging menjadi dua.
Fen mendapat bagian lebih banyak.
“Jangan bilang siapa-siapa.”
Fen makan dengan cepat.
Alistair tersenyum.
Setelah selesai, ia duduk dekat jendela.
Tangannya memegang lonceng kecil.
Denting.
Ia memejamkan mata sebentar.
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Hening.
Kemudian ia membuka mata.
Untuk beberapa saat, ia tidak memikirkan jalur barat.
Tidak memikirkan kain.
Tidak memikirkan orang asing.
Tidak memikirkan apa yang mungkin terjadi besok.
Ia hanya menikmati malam.
Fen tidur di dekat kakinya.
Dan untuk seorang anak yang sudah terlalu lama hidup dengan kehilangan—
hari yang tenang ternyata sudah cukup menjadi sesuatu yang berharga.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung selamanya.
Pagi berikutnya, sebelum Alistair sempat keluar dari penginapan—
terdengar ketukan keras di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Alistair langsung bangun.
Fen berdiri.
Ketukan terdengar lagi.
“Alistair!”
Suara Aldren.
Alistair membuka pintu.
Aldren berdiri di luar.
Wajahnya serius.
“Pakai sepatumu.”
Alistair terdiam.
“Kenapa?”
“Guild mendapat laporan baru.”
“Laporan apa?”
Aldren menatap Fen.
Kemudian kembali melihat Alistair.
“Jalur selatan.”
Alistair langsung terdiam.
“...Ada apa?”
Aldren menjawab pendek.
“Beberapa orang hilang.”
Dan kali ini—
Alistair tahu bahwa pekerjaan sederhana tidak akan cukup untuk menjauhkan dirinya dari masalah.