Chapter 30 of 46

Bab 30 — Pilihan yang Berbeda

1.0k words

Pagi itu, Alistair datang ke Guild dengan langkah yang lebih tenang. Fen berjalan di sampingnya seperti biasa. Sejak kejadian kemarin, Alistair sebenarnya masih memikirkan kain dengan jahitan abu-abu keperakan itu. Namun ia tidak membicarakannya. Aldren juga tidak. Dan untuk sementara, Alistair merasa itu lebih baik. Ia berdiri di depan papan pekerjaan. Beberapa lembar baru sudah ditempel. Matanya bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Mengantar dokumen ke toko senjata. Membantu membersihkan gudang. Mengumpulkan tanaman obat. Membantu penjaga gerbang selama tiga jam. Alistair mengambil lembar terakhir. Ia membawanya ke meja petugas. “Aku mau yang ini.” Petugas membaca lembar tersebut. “Penjaga gerbang?” “Iya.” “Kenapa?” Alistair berpikir sebentar. “Belum pernah.” Petugas tertawa. “Alasan yang bagus.” Tiga jam. Itulah waktu yang harus ia habiskan di gerbang selatan Eldermere. Pekerjaannya sederhana. Membantu mencatat kereta yang masuk. Mengantar informasi kepada penjaga. Mengambil barang yang dititipkan. Tidak ada pertarungan. Tidak ada monster. Hanya berdiri dan memperhatikan. Alistair awalnya mengira pekerjaan itu akan membosankan. Ternyata tidak. Ada banyak orang yang keluar-masuk kota. Pedagang. Petani. Pelancong. Hunter. Bahkan beberapa keluarga yang baru tiba. Setiap orang membawa sesuatu. Setiap orang punya tujuan. Alistair mulai memperhatikan kebiasaan mereka. Ada pedagang yang selalu berbicara terlalu keras. Ada orang yang terus melihat ke belakang. Ada yang berjalan terburu-buru. Ada pula yang tampak sangat tenang. Fen duduk di sampingnya. “Capek?” Fen menguap. Alistair tersenyum. “Aku juga.” Menjelang siang, sebuah kereta datang. Penjaga mengangkat tangan. “Berhenti.” Kereta berhenti. Seorang pria turun. “Barang dagangan.” Penjaga memeriksa dokumennya. Semuanya terlihat normal. Namun Fen tiba-tiba berdiri. Alistair menoleh. Fen menatap bagian belakang kereta. Alistair tidak langsung bergerak. Ia memperhatikan. Tidak ada yang aneh. Kereta biasa. Dua kuda. Empat peti. Satu pengemudi. Namun Fen tetap berdiri. Alistair mendekat sedikit. “Ada apa?” Fen mengendus udara. Kemudian berjalan mengitari kereta. Pria itu mulai terlihat tidak nyaman. “Ada masalah?” Alistair menggeleng. “Bukan aku.” Ia melihat Fen. Fen berhenti di dekat salah satu peti. Alistair memandang peti itu. “Boleh dibuka?” Pria tersebut langsung menjawab. “Tidak perlu. Itu hanya kain.” Penjaga gerbang menatapnya. “Kalau hanya kain, kenapa tidak dibuka?” Pria itu terdiam. Alistair memperhatikan wajahnya. Ia tidak terlihat takut. Tapi terlalu cepat menjawab. Alistair teringat sesuatu yang pernah dikatakan Aldren. Jangan hanya melihat apa yang dilakukan seseorang. Perhatikan bagaimana dia melakukannya. Alistair menunjuk peti. “Buka saja.” Pria itu menghela napas. Akhirnya membuka kunci. Peti dibuka. Isinya memang kain. Tidak ada senjata. Tidak ada barang terlarang. Penjaga memeriksa sebentar. “Boleh lewat.” Pria itu menutup peti. Alistair memperhatikan Fen. Fen sudah tidak tegang. Alistair menghela napas lega. “Berarti bukan apa-apa.” Penjaga menatap Alistair. “Insting hewan kadang aneh.” Alistair mengangguk. “Kadang.” Kereta kemudian pergi. Beberapa menit kemudian, Alistair masih memikirkan kejadian tadi. Ia tidak tahu apa yang dicium Fen. Mungkin hanya bau asing. Mungkin sesuatu yang tidak ia pahami. Dan itu tidak masalah. Tidak semua kecurigaan harus menghasilkan sesuatu. Alistair mulai memahami hal tersebut. Kalau setiap firasat langsung dianggap sebagai bukti, ia akan mudah salah. Saat pekerjaannya hampir selesai, seorang wanita datang berlari dari arah kota. “Tolong!” Para penjaga langsung menoleh. “Ada apa?” “Anakku!” Wanita itu terengah-engah. “Dia hilang!” Alistair langsung berdiri. “Di mana terakhir kali melihatnya?” Wanita itu menunjuk ke arah pasar. “Dekat pasar timur!” Salah satu penjaga hendak pergi. Namun Alistair menahan diri. Ia melihat Fen. Kemudian melihat arah yang ditunjuk wanita itu. “Berapa lama?” “Sekitar sepuluh menit!” Alistair mengangguk. “Kalau begitu kita cari jejaknya.” Wanita itu menatapnya. “Kau bisa membantu?” “Aku akan mencoba.” Alistair dan Fen berlari menuju pasar. Pasar timur ramai. Terlalu ramai. Banyak orang. Banyak bau. Banyak suara. Fen berhenti. Alistair berjongkok. “Ada sesuatu?” Fen mengendus tanah. Berjalan beberapa langkah. Berhenti. Kemudian berbelok. Alistair mengikutinya. Mereka melewati pedagang buah. Kemudian toko kain. Lalu sebuah gang kecil. Fen berhenti di depan sebuah gerobak. Alistair melihat ke bawah. Ada kain kecil tersangkut di roda. Ia mengambilnya. “Ini?” Wanita tadi menyusul. Begitu melihat kain itu, wajahnya berubah. “Itu milik anakku.” Alistair menatap jalan di depan. “Berarti dia lewat sini.” Fen langsung bergerak. Alistair mengikutinya. Beberapa menit kemudian mereka menemukan seorang anak kecil duduk di belakang sebuah toko. Ia sedang menangis. Alistair mendekat perlahan. “Namamu?” Anak itu menatapnya. “Rin...” “Rin, ibumu mencarimu.” Anak itu langsung berdiri. “Ibu?” “Iya.” Alistair mengulurkan tangan. “Ayo.” Anak itu menggenggam tangannya. Fen berjalan di sisi lain. Mereka kembali ke pasar. Begitu melihat anaknya, wanita itu langsung memeluknya. “Rin!” Alistair berdiri sedikit jauh. Fen duduk di sampingnya. Wanita itu menghampiri. “Terima kasih.” Alistair menggeleng. “Fen yang menemukan.” Wanita itu menatap Fen. “Terima kasih juga.” Fen hanya mengibaskan ekornya. Sore hari, Alistair kembali ke Guild. Aldren sudah menunggu. “Dengar-dengar kau membantu mencari anak hilang.” Alistair mengangguk. “Dia cuma tersesat.” “Dan kau menemukannya.” “Fen yang menemukan.” Aldren melihat Fen. “Bagus.” Alistair duduk. “Tadi aku hampir mengira semua kecurigaan Fen ada hubungannya dengan sesuatu.” Aldren mengangguk. “Lalu?” “Tidak.” “Bagus.” Alistair mengerutkan kening. “Bapak tidak kecewa?” “Kenapa harus kecewa?” “Karena ternyata tidak ada apa-apa.” Aldren tertawa kecil. “Justru itu pelajarannya.” Ia duduk di depan Alistair. “Seorang Hunter harus mampu memperhatikan sesuatu.” “Dan?” “Juga harus mampu menerima ketika ternyata dugaannya salah.” Alistair diam. Aldren melanjutkan. “Kalau kau selalu memaksa dugaanmu menjadi kenyataan, suatu hari kau akan membawa orang lain ke dalam masalah.” Alistair mengangguk perlahan. “Aku mengerti.” Aldren tersenyum. “Bagus.” Malamnya, Alistair kembali ke penginapan. Ia duduk di dekat jendela. Fen berbaring di lantai. Alistair memegang lonceng kecil milik ibunya. Denting. Hari itu tidak ada pertarungan. Tidak ada monster. Tidak ada jawaban tentang kain misterius. Namun ia merasa belajar sesuatu. Tidak semua hal yang terlihat aneh berarti berbahaya. Tidak semua firasat adalah petunjuk. Dan tidak semua masalah harus memiliki jawaban hari itu juga. Alistair menatap Fen. “Besok kita latihan lagi.” Fen mengangkat kepala. “Dan kali ini jangan jatuhin aku.” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tertawa kecil. “Ya, ya. Aku juga salah.” Di luar jendela, malam Eldermere kembali tenang. Namun jauh di luar gerbang selatan— kereta yang tadi diperiksa Alistair berhenti di sebuah jalan sepi. Pria pengemudinya turun. Ia membuka salah satu peti. Kain-kain di dalamnya bergeser. Di bawah lapisan kain biasa— terdapat sebuah kantong kecil berwarna hitam. Pria itu mengambilnya. Ia melihat ke arah Eldermere. Kemudian berbisik, “Anak itu mulai memperhatikan.” Ia menutup peti. Dan kereta kembali bergerak ke dalam kegelapan.

End of Chapter 30

Chapter 30: Bab 30 — Pilihan yang Berbeda - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio