Chapter 29 of 46

Bab 29 — Pertemuan di Jalan Pulang

858 words

Perjalanan menuju Eldermere berlangsung lebih lama dari biasanya. Bukan karena jalannya sulit. Alistair hanya berjalan lebih lambat. Keranjang tanaman obat yang dibawanya cukup penuh, sementara Fen beberapa kali berhenti untuk mengendus sesuatu di sekitar jalan. Alistair akhirnya berhenti. “Kau mencium sesuatu?” Fen menatap semak di sebelah kiri. Alistair memperhatikan. Tidak ada suara. Ia menunggu beberapa detik. Kemudian terdengar— Krk. Ranting patah. Alistair langsung mengambil pedang kayunya. Fen merendahkan tubuh. Dari balik semak muncul seseorang. Alistair menahan napas. Namun kemudian ia mengenalinya. “Daren?” Pria yang tadi ia bantu mengeluarkan kereta dari lubang berjalan keluar sambil membawa tongkat. “Kau lagi?” Alistair menurunkan pedang kayu. “Kenapa kembali ke sini?” Daren menunjuk jalan di belakangnya. “Rodaku bermasalah lagi.” Alistair melihat ke arah kereta. Benar. Salah satu roda terlihat miring. Alistair menghela napas. “Bapak benar-benar tidak beruntung.” Daren tertawa. “Sepertinya begitu.” Alistair mendekat. Ia memeriksa roda tersebut. “Kalau dipaksa jalan, bisa rusak.” “Aku juga sudah sadar.” “Bisa diperbaiki?” “Tidak punya alat.” Alistair melihat sekitar. Kemudian mengambil beberapa ranting yang cukup kuat. “Kita bisa mengikat bagian ini sementara.” Daren mengangkat alis. “Kau tahu caranya?” “Sedikit.” “Dari mana?” Alistair mengangkat bahu. “Pernah melihat orang melakukannya.” Daren tertawa. “Baiklah. Coba saja.” Mereka bekerja bersama. Alistair mengikat bagian roda yang longgar. Daren menahan kereta. Fen duduk tidak jauh dari mereka. Setelah beberapa menit, roda kembali cukup kokoh untuk digunakan. Daren mencobanya. Kereta bergerak. Tidak miring lagi. “Lumayan.” Alistair membersihkan tangannya. “Jangan terlalu cepat.” Daren mengangguk. “Aku akan berhenti kalau terasa aneh.” Alistair hendak pergi. Namun Daren tiba-tiba bertanya. “Kau tinggal di Eldermere?” “Iya.” “Di mana?” “Penginapan dekat pasar.” Daren mengangguk. “Kalau begitu mungkin kita bertemu lagi.” “Mungkin.” Daren tersenyum. “Anak seperti kau cukup menarik.” Alistair langsung mengernyit. “Kenapa?” “Bukan hal buruk.” Daren tertawa. “Kau hanya berbeda.” Alistair tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia hanya berkata, “Semoga perjalananmu lancar.” “Begitu juga denganmu.” Alistair dan Fen melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, Alistair menoleh. Daren masih berdiri di samping keretanya. Namun ada sesuatu yang membuat Alistair berhenti. Daren sedang berbicara dengan seseorang. Seorang pria berdiri di belakang kereta. Jaraknya cukup jauh. Wajahnya tidak terlihat jelas. Alistair mempersempit pandangan. Fen juga berhenti. “Siapa itu?” Fen tidak menjawab. Alistair ingin kembali. Namun ia teringat Aldren. Jangan mengejar sesuatu hanya karena penasaran. Ia akhirnya melanjutkan perjalanan. Saat tiba di Eldermere, matahari mulai tenggelam. Alistair langsung membawa tanaman obat ke Guild. Petugas menerima keranjang tersebut. “Lengkap.” “Bagus.” Petugas memberikan pembayaran. Alistair menghitungnya. “Terima kasih.” Ia memasukkan uang ke kantong. Fen duduk di sampingnya. Saat hendak pergi, seorang Hunter masuk dari pintu utama. Wajahnya tampak lelah. Ia membawa pedang yang penuh lumpur. “Dari mana?” tanya seseorang. “Jalur selatan.” Beberapa orang langsung memperhatikannya. “Monster?” “Tidak.” Hunter itu menggeleng. “Cuma menemukan bekas perkemahan.” Alistair yang masih berdiri tidak jauh dari sana mendengar percakapan tersebut. “Bekas perkemahan?” Hunter itu mengangguk. “Sudah ditinggalkan.” “Siapa?” “Tidak tahu.” Ia kemudian meletakkan sesuatu di atas meja. Sebuah potongan kain. Alistair membeku. Warnanya gelap. Dan pada bagian ujungnya terdapat jahitan abu-abu keperakan. Fen langsung menggeram. Suasana Guild menjadi hening sesaat. Alistair menatap kain itu. Sama. Benar-benar sama. Aldren yang berada di ujung ruangan segera berdiri. “Jangan sentuh.” Alistair menghentikan tangannya. “Aku tidak akan.” Aldren berjalan mendekat. Ia mengambil kain tersebut. Memeriksanya. Kemudian menatap Hunter yang membawanya. “Di mana kau menemukannya?” “Sekitar dua jam dari kota.” “Sendiri?” “Iya.” “Ada jejak?” “Beberapa. Tapi terlalu banyak yang sudah tertutup.” Aldren mengangguk. “Baik.” Hunter itu pergi. Alistair masih memandang kain tersebut. Aldren kemudian menatapnya. “Kau mengenalnya.” Bukan pertanyaan. Alistair mengangguk. “Aku pernah menemukan bagian seperti itu.” “Di mana?” “Hutan selatan.” Aldren terdiam. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” “Aku baru melihatnya hari ini.” Aldren menatap Fen. Kemudian kembali kepada Alistair. “Dan kau tidak mengikutinya?” “Tidak.” “Bagus.” Alistair menunduk. “Apa ini berarti orang yang sama?” Aldren tidak langsung menjawab. “Belum tentu.” “Tapi—” “Alistair.” Nada suara Aldren membuatnya berhenti. “Kesamaan adalah petunjuk. Bukan jawaban.” Alistair terdiam. Aldren melanjutkan, “Kalau kau ingin menjadi Hunter yang baik, biasakan dirimu dengan satu hal.” “Apa?” “Jangan biarkan keinginanmu menemukan jawaban membuatmu melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.” Alistair menatap kain itu lagi. Kemudian mengangguk. “Iya.” Aldren menyimpan kain tersebut. “Sekarang pulang.” Alistair berbalik. Fen mengikutinya. Sebelum keluar, Alistair sempat menoleh sekali lagi. Aldren masih berdiri di sana. Memegang potongan kain itu. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya. Malam tiba. Alistair duduk di tepi tempat tidur. Fen berbaring di lantai. Alistair memainkan lonceng kecil di tangannya. Denting. Ia memandang jendela. Hari ini ia menemukan jejak yang sama. Dua kali. Namun kali ini, ia tidak merasa perlu mengejarnya. Ia hanya menyimpan semuanya di dalam pikirannya. Daren. Orang asing di belakang kereta. Kain. Hutan selatan. Jalur barat. Semuanya mungkin berhubungan. Atau mungkin tidak. Alistair menghela napas. “Kalau memang penting...” Ia menatap Fen. “Suatu hari kita pasti tahu.” Fen membuka mata sebentar. Kemudian tidur lagi. Alistair tersenyum kecil. Ia mematikan lampu. Di luar jendela, Eldermere mulai sunyi. Namun di salah satu sudut kota— Daren berdiri di depan keretanya. Pria yang sebelumnya berbicara dengannya muncul kembali dari bayangan. “Anak itu melihatmu.” Daren terdiam. “Dia tidak mengejar.” Pria itu mengangguk. “Bagus.” “Apakah dia masalah?” Pria itu menatap arah Eldermere. “Belum.” Ia kemudian berjalan pergi. Daren tetap berdiri di tempatnya. Sementara di kejauhan— sebuah lonceng kecil berbunyi dari kamar penginapan. Denting.

End of Chapter 29