Chapter 2 of 46

Bab 2 — Sesuatu Yang Berkilau

683 words

Cahaya pagi perlahan menyinari Eldermere. Alistair membuka matanya ketika suara kehidupan mulai terdengar dari luar penginapan. Suara roda kereta yang melewati jalan batu, teriakan para pedagang, dan langkah kaki orang-orang yang mulai memenuhi jalanan. Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit. Tempat ini masih terasa asing. Ia kemudian bangkit dan merapikan barang-barangnya sebelum keluar dari kamar. Di lantai bawah, Aldren sudah menunggunya. “Tidurmu nyenyak?” Alistair mengangguk. “Lumayan.” Aldren berdiri dan mengambil jubahnya. “Kalau begitu, ayo.” “Ke mana?” “Keliling kota.” Alistair sedikit terkejut. “Memangnya kenapa?” “Karena kalau kau akan tinggal di Eldermere, setidaknya kau harus tahu seperti apa kota ini.” Alistair berpikir sejenak, lalu mengikuti Aldren keluar dari penginapan. --- Eldermere jauh lebih ramai pada siang hari. Bangunan-bangunan berdiri rapat di sepanjang jalan utama. Pedagang memenuhi sisi jalan dengan berbagai macam barang. Ada yang menjual buah, roti, daging, pakaian, hingga perlengkapan perjalanan. Alistair berjalan di samping Aldren sambil sesekali menoleh ke berbagai arah. Matanya berhenti pada sebuah kios makanan. Seorang pedagang sedang menyerahkan sebungkus roti kepada seorang pembeli. Pembeli itu kemudian memberikan beberapa keping logam. Alistair memperhatikan transaksi itu. “Berapa harga rotinya?” Aldren menoleh. “Yang itu? Lima tembaga.” “Lima?” Alistair mengangguk kecil. “Di desaku juga biasanya sekitar begitu.” Aldren sedikit mengangkat alis. “Jadi kau tahu harga makanan?” “Tentu.” Alistair terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan itu. “Ibu sering memberiku uang dan daftar belanja. Aku yang pergi ke pasar.” “Oh?” “Biasanya Ibu sudah menghitung uang yang kubutuhkan. Aku tinggal membeli barang sesuai daftar dan membawa kembaliannya.” Aldren mengangguk. “Berarti kau sudah terbiasa bertransaksi.” “Iya.” Alistair kemudian memasukkan tangannya ke dalam kantong kecil yang diberikan ibunya sebelum berangkat. Ia mengeluarkan beberapa keping uang. “Sekarang aku punya lima puluh tembaga dan satu perak.” Aldren memperhatikan uang di tangan anak itu. “Kau tahu berapa nilai satu perak?” Alistair terdiam. “...Tidak.” “Padahal kau sering menggunakannya?” “Ibu biasanya yang menyiapkan jumlahnya.” Aldren tersenyum tipis. “Baiklah. Berarti kau tahu cara menggunakan uang, tapi belum memahami sistem nilainya.” Alistair memandangnya. “Memangnya ada sistemnya?” Aldren mengambil satu keping tembaga dari tangan Alistair. “Ada.” Ia mengangkat keping itu. “Seratus tembaga sama dengan satu perak.” Alistair langsung melihat keping perak yang berada di telapak tangannya. “Seratus?” “Seratus.” Alistair mulai menghitung dalam pikirannya. “Berarti uangku sekarang...” “Lima puluh tembaga dan satu perak.” “Jadi satu perak itu sama dengan seratus tembaga?” “Benar.” Alistair menatap uangnya beberapa saat. “Berarti aku sebenarnya punya seratus lima puluh tembaga?” Aldren mengangguk. “Kalau dihitung berdasarkan nilai, ya.” Alistair terlihat sedikit puas karena berhasil memahaminya. Aldren kemudian mengeluarkan sebuah koin emas dari sakunya. “Kalau yang ini?” Alistair menatap koin tersebut. “Emas.” “Kau pernah melihatnya?” “Belum pernah.” “Seratus perak sama dengan satu emas.” Mata Alistair sedikit melebar. “Seratus perak...” “Dan setelah emas?” Alistair menggeleng. Aldren menjawab dengan tenang. “Platinum.” “Platinum?” “Seratus emas sama dengan satu platinum.” Alistair masih memperhatikannya. “Lalu setelah platinum?” “Heloik.” Alistair terdiam. “Heloik itu apa?” “Uang dengan nilai yang sangat tinggi. Kau hampir tidak akan menemukannya dalam transaksi biasa.” Alistair mengangguk pelan. “Di desaku cuma ada tembaga dan perak.” “Itu memang yang paling umum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.” Aldren memasukkan kembali koin emasnya. “Jadi untuk sekarang, cukup ingat ini. Seratus tembaga sama dengan satu perak.” Alistair mengangguk. “Seratus tembaga... satu perak.” Ia mengulanginya pelan agar tidak lupa. Aldren kemudian melirik uang yang masih berada di tangan Alistair. “Kalau begitu, kau punya cukup uang untuk membeli beberapa kebutuhan kecil.” Alistair melihat kembali lima puluh tembaga dan satu peraknya. “Berarti roti itu lima tembaga?” “Benar.” “Kalau aku membeli satu, sisanya empat puluh lima tembaga dan satu perak.” Aldren tersenyum kecil. “Setidaknya kau tidak perlu diajari menghitung.” Alistair memasukkan kembali uangnya. Ia kemudian kembali berjalan di samping Aldren. Namun kali ini, pandangannya terhadap kota sedikit berubah. Sebelumnya ia hanya melihat Eldermere sebagai kota yang besar dan ramai. Sekarang ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan—harga barang, orang-orang yang bertransaksi, dan bagaimana setiap orang harus memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya. Ia memang sudah tahu cara membeli sesuatu. Tapi baru hari itu Alistair mulai memahami bahwa uang bukan sekadar kepingan logam yang diberikan ibunya untuk dibawa ke pasar. Ada nilai di balik setiap kepingnya. Dan mulai sekarang, ia harus belajar memahaminya sendiri.

End of Chapter 2