Chapter 28 of 46

Bab 28 — Tugas yang Sederhana

766 words

Pagi berikutnya, Alistair datang ke Guild seperti biasa. Namun suasana hari itu lebih ramai. Beberapa Hunter berdiri di dekat papan pengumuman. Sebagian berbicara dengan suara rendah, sementara yang lain sibuk membaca daftar pekerjaan. Alistair berjalan mendekat. Fen mengikutinya. “Kenapa ramai?” Tidak ada yang menjawab. Alistair melihat papan. Beberapa pekerjaan baru ditempel. Pengawalan barang. Pengumpulan tanaman obat. Pembersihan gudang. Pengantaran surat. Tidak ada pekerjaan menuju jalur barat. Alistair mengangguk kecil. Bagus. Ia mengambil satu lembar. Pengumpulan tanaman obat di hutan selatan. Hadiah tidak besar. Namun jaraknya tidak terlalu jauh. Alistair membawa lembar itu kepada petugas. “Aku mau yang ini.” Petugas melihat kertas itu, lalu melihat Alistair. “Sendiri?” Alistair menunjuk Fen. “Berdua.” Petugas tertawa kecil. “Baiklah. Tapi hati-hati. Hutan selatan lebih ramai daripada biasanya.” “Karena monster?” “Bukan cuma monster.” Alistair mengingat pesan Aldren. Ia tidak bertanya lebih jauh. “Baik.” Hutan selatan tidak terlalu jauh dari Eldermere. Jalannya cukup jelas. Alistair berjalan sambil membawa keranjang kecil. Fen berada beberapa langkah di depannya. Sesekali Fen berhenti untuk mengendus tanah. Alistair mulai terbiasa dengan kebiasaannya. “Tidak ada apa-apa?” Fen kembali berjalan. “Bagus.” Mereka mencari tanaman obat yang tercantum di daftar. Daunnya kecil. Batangnya pendek. Dan memiliki bunga putih dengan bagian tengah berwarna kuning. Alistair menemukan beberapa di dekat sungai. Ia berjongkok. “Yang ini?” Fen mendekat. Mengendus. Tidak bereaksi. Alistair memetiknya. “Berarti benar.” Mereka melanjutkan. Tidak lama kemudian keranjang mereka mulai terisi. Pekerjaan berjalan lancar. Terlalu lancar. Alistair justru merasa sedikit aneh. Ia berhenti. Fen ikut berhenti. “Ada sesuatu?” Fen mengangkat kepala. Hening. Hanya suara air sungai. Burung. Angin. Alistair memandang sekitar. Tidak ada yang terlihat. Ia teringat latihan bersama Aldren. Jejak yang ditinggalkan benda bisa bicara. Alistair memperhatikan tanah. Ada bekas langkah. Bukan miliknya. Bukan Fen. Alistair berjongkok. Jejak itu terlihat baru. Seseorang baru saja melewati tempat ini. Alistair melihat arahnya. Menuju bagian dalam hutan. Ia berdiri. Fen menggeram pelan. Alistair menatapnya. “Kita tidak mengejar.” Fen masih menatap ke arah jejak. “Kita cuma ambil tanaman.” Fen akhirnya berbalik. Mereka kembali bekerja. Beberapa menit kemudian terdengar suara. Brak! Alistair langsung berdiri. Fen berlari ke depan. Alistair mengikuti. Mereka menemukan sebuah kereta kecil terbalik di dekat pohon. Seorang pria duduk di tanah sambil memegang kakinya. “Aduh...” Alistair mendekat. “Pak, tidak apa-apa?” Pria itu mengangkat kepala. “Siapa kau?” “Aku Hunter.” Pria itu melihat pakaian Alistair. “Kau?” Alistair mengangguk. “Masih pemula.” Pria itu tertawa kecil meskipun kesakitan. “Setidaknya jujur.” Alistair melihat kereta. “Bagaimana bisa terbalik?” “Rodanya masuk lubang.” Alistair memeriksa kaki pria itu. Tidak terlihat luka serius. “Mungkin keseleo.” “Sepertinya.” Alistair melihat kereta. Barang-barang berserakan. Ia mulai mengumpulkannya. Pria itu memperhatikan. “Kau tidak perlu membantu.” “Aku sudah di sini.” Fen ikut mengambil posisi di dekat barang-barang. Pria itu melihat Fen. “Anjingmu?” “Bukan.” “Lalu?” “Temanku.” Pria itu terdiam. “Teman, ya?” Alistair mengangguk. Fen duduk dengan bangga. Setelah barang dikumpulkan, Alistair mencoba mengangkat kereta. Tidak bergerak. Ia mencoba lagi. Tetap tidak bergerak. “Berat.” Pria itu tertawa. “Memang.” Alistair berpikir. Ia melihat posisi roda. Kemudian melihat beberapa batu di sekitar. “Kalau kita ganjal bagian sini...” Ia mengambil batu. Meletakkannya di bawah sisi kereta. “Lalu dorong dari sana.” Pria itu mengangguk. Mereka mencoba. Alistair mendorong. Pria itu membantu dari sisi lain. Fen berdiri di belakang. Kereta bergeser. Sedikit. Kemudian— Brak! Kereta kembali tegak. Alistair jatuh terduduk. “Berhasil.” Pria itu tertawa. “Lumayan juga.” Alistair berdiri sambil membersihkan celananya. “Bapak bisa jalan?” “Bisa.” “Kalau begitu sebaiknya kembali ke kota.” Pria itu mengangguk. “Terima kasih.” Alistair mengambil keranjang tanamannya. Ia hendak pergi. Namun pria itu memanggil. “Hei.” Alistair menoleh. “Namamu?” “Alistair.” “Namaku Daren.” Alistair mengangguk. “Semoga sampai dengan selamat, Daren.” Daren tersenyum. “Kau juga.” Dalam perjalanan pulang, Fen berjalan di samping Alistair. Alistair menatap keranjang. Tanaman obat masih utuh. Pekerjaannya selesai. Namun ia juga mendapatkan sesuatu yang tidak tertulis di daftar pekerjaan. Ia membantu seseorang. Bukan karena perintah. Bukan karena bayaran. Hanya karena kebetulan berada di sana. Alistair menatap Fen. “Menurutmu itu termasuk pekerjaan Hunter?” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tertawa kecil. “Kayaknya iya.” Mereka berjalan melewati jalan hutan. Namun beberapa langkah kemudian, Fen berhenti. Alistair ikut berhenti. “Apa lagi?” Fen menatap ke belakang. Alistair melihat jalur yang baru saja mereka lewati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pepohonan. Ia menunggu beberapa detik. Kemudian menggeleng. “Ayo.” Mereka kembali berjalan. Di balik pepohonan, seseorang berdiri diam. Orang itu memperhatikan mereka sampai menghilang dari pandangan. Kemudian ia menunduk. Di tangannya terdapat sebuah potongan kain gelap. Pada kain itu terdapat jahitan abu-abu keperakan yang sama. Orang tersebut memasukkan kain itu ke dalam sakunya. Lalu pergi ke arah yang berlawanan. Sementara Alistair dan Fen terus berjalan menuju Eldermere— tanpa mengetahui bahwa untuk pertama kalinya, jejak yang mereka temui tidak berasal dari jalur barat. Jejak itu mulai bergerak mendekati mereka.

End of Chapter 28