Chapter 27 of 46
Bab 27 — Hal yang Tidak Terlihat
792 words
Pagi datang seperti biasanya.
Alistair bangun sebelum matahari benar-benar muncul.
Ia merapikan selimut, mengambil pedang kayu, lalu keluar dari penginapan.
Fen sudah menunggu di depan pintu.
“Kau bangun duluan?”
Fen hanya mengibaskan ekornya.
Alistair menguap.
“Baiklah. Ayo.”
Mereka menuju tempat latihan.
Hari itu Aldren sudah menunggu.
“Datang lebih cepat.”
“Fen yang membangunkanku.”
Aldren melirik Fen.
“Berarti dia lebih disiplin darimu.”
Alistair terdiam.
“...Jangan mulai.”
Aldren tertawa.
Latihan dimulai.
Kali ini Aldren tidak langsung menyerang.
Ia justru meletakkan tiga benda di tanah.
Sebuah batu.
Potongan kayu.
Dan kain kecil.
Alistair memperhatikan.
“Apa ini?”
“Ujian.”
“Harus mencari sesuatu?”
“Tidak.”
Aldren menunjuk ketiga benda itu.
“Perhatikan.”
Alistair melihatnya.
Batu.
Kayu.
Kain.
Tidak ada yang aneh.
“Sudah.”
“Apa yang kau lihat?”
“Batu, kayu, dan kain.”
Aldren mengangguk.
“Sekarang lihat lagi.”
Alistair mengamati lebih lama.
Ia berjongkok.
Batu memiliki goresan kecil.
Kayu basah di salah satu sisinya.
Kain memiliki noda tanah.
“Kainnya baru saja menyentuh tanah.”
“Benar.”
Alistair menunjuk kayu.
“Kayunya basah.”
“Benar.”
“Batunya...”
Ia terdiam.
Kemudian melihat tanah di sekitarnya.
“Batu ini dipindahkan.”
Aldren tersenyum.
“Kenapa?”
“Tanah di bawahnya lebih kering daripada tanah di sekitarnya.”
Aldren mengangguk.
“Bagus.”
Alistair berdiri.
“Jadi semuanya punya cerita.”
“Benda tidak bicara.”
Aldren berjalan melewatinya.
“Tapi jejak yang ditinggalkan benda bisa bicara.”
Alistair memandang ketiga benda tadi.
Ia mulai mengerti.
Siang harinya, Aldren memberinya pekerjaan lain.
Bukan pekerjaan berbahaya.
Hanya mengantarkan sebuah paket kecil ke toko di sisi timur kota.
Alistair menerima paket itu.
“Jangan sampai rusak.”
“Baik.”
“Dan jangan terburu-buru.”
Alistair mengangguk.
Fen berjalan di sampingnya.
Mereka melewati pasar.
Saat hendak menyeberang jalan, sebuah kereta kuda lewat cukup cepat.
Alistair berhenti.
Fen juga berhenti.
Kereta itu melintas tepat di depan mereka.
Alistair menghela napas.
“Hampir.”
Fen menatap kereta itu.
Alistair memperhatikannya.
“Ada apa?”
Fen tidak menjawab.
Ia menatap roda belakang kereta.
Alistair ikut melihat.
Salah satu roda tampak sedikit miring.
Ia mengingat pesan Aldren.
Jejak yang ditinggalkan benda bisa bicara.
Alistair mendekat sedikit.
“Rodanya bermasalah.”
Fen mengendus.
Alistair langsung berteriak.
“Pak!”
Kereta berhenti.
Pengemudinya menoleh.
“Ada apa?”
“Roda belakangnya.”
Pria itu turun dan memeriksa.
Awalnya ia terlihat kesal.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“...Benar.”
Salah satu bagian pengikat roda hampir terlepas.
Kalau terus digunakan, roda itu bisa copot.
Pria tersebut menatap Alistair.
“Kau melihatnya?”
Alistair mengangguk.
“Sedikit.”
Pria itu menghela napas lega.
“Terima kasih.”
Alistair hanya mengangguk.
Ia lalu kembali berjalan.
Fen mengikutinya.
Setelah beberapa langkah, Alistair tersenyum.
“Bagus juga.”
Fen menatapnya.
“Kalau kau tidak melihat roda itu, mungkin kita juga tidak akan melihat.”
Fen mengibaskan ekornya.
Mereka sampai di toko tujuan tanpa masalah.
Paket diserahkan.
Alistair menerima pembayaran.
Ia memasukkannya ke kantong.
Sederhana.
Sama seperti pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
Namun saat berjalan pulang, Alistair terus memikirkan latihan pagi tadi.
Ia mulai memahami kenapa Aldren selalu menyuruhnya memperhatikan hal-hal kecil.
Selama ini ia mengira menjadi Hunter berarti menjadi cukup kuat untuk melawan sesuatu.
Sekarang ia mulai menyadari—
kadang pekerjaan Hunter justru dimulai sebelum pedang dihunus.
Sore hari, Alistair kembali ke Guild.
Aldren sedang menghitung beberapa laporan.
Alistair meletakkan uang di atas meja.
“Sudah selesai.”
Aldren mengangguk.
“Bagaimana perjalanan?”
“Biasa.”
“Tidak ada masalah?”
Alistair berpikir sebentar.
“Ada kereta yang hampir kehilangan rodanya.”
Aldren berhenti menghitung.
“Kau memperhatikannya?”
“Iya.”
Aldren tersenyum.
“Bagus.”
Alistair duduk.
“Aku mulai mengerti.”
“Mengerti apa?”
“Kenapa Bapak selalu menyuruhku memperhatikan.”
Aldren kembali melihat laporan.
“Kalau begitu teruskan.”
Alistair mengangguk.
Fen berbaring di bawah meja.
Suasana kembali tenang.
Namun beberapa menit kemudian, seorang Hunter masuk ke Guild dengan wajah serius.
“Aldren.”
Aldren mengangkat kepala.
“Apa?”
“Dapat kabar dari utara.”
Ruangan yang tadinya ramai perlahan menjadi lebih sunyi.
Hunter itu meletakkan sebuah surat di meja.
“Ada kereta pengangkut barang yang tidak pernah sampai.”
Aldren membuka surat tersebut.
Alistair tidak bermaksud mendengarkan.
Namun ia mendengar satu kalimat.
“Terakhir terlihat menuju jalur barat.”
Alistair menunduk.
Tangannya mengepal sedikit.
Fen yang berada di bawah meja mengangkat kepala.
Aldren segera menatap Alistair.
“Jangan.”
Alistair mengangkat wajah.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Aku tahu wajahmu.”
Alistair diam.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas.
“...Iya.”
Ia tidak bertanya.
Tidak menawarkan diri.
Tidak ikut campur.
Namun malam itu, saat kembali ke penginapan, pikirannya tidak bisa sepenuhnya tenang.
Di luar jendela, angin malam bergerak pelan.
Alistair memegang lonceng kecil peninggalan ibunya.
Denting.
Ia menatap Fen yang sedang tidur.
“Fen.”
Telinga Fen bergerak sedikit.
“Aku penasaran.”
Fen membuka satu mata.
“Tapi penasaran bukan berarti harus pergi ke sana, kan?”
Fen menutup matanya lagi.
Alistair tersenyum kecil.
“Benar.”
Ia memandang ke luar jendela.
Jalur barat masih tertutup.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sederhana.
Menahan diri juga merupakan sebuah keputusan.
Malam terus berjalan.
Sementara jauh di luar Eldermere, di jalan yang telah ditutup—
sebuah roda kereta yang patah tergeletak sendirian di tengah jalan.
Tidak ada kereta.
Tidak ada pemiliknya.
Hanya beberapa jejak kaki yang berhenti mendadak di tanah basah.
Dan di salah satu jejak itu—
terselip sehelai benang abu-abu keperakan.