Chapter 26 of 46

Bab 26 — Kabar dari Jalan Barat

843 words

Pagi itu, suasana Guild terasa sedikit berbeda. Biasanya sejak pagi para Hunter sudah memenuhi ruangan utama. Ada yang mengambil pekerjaan. Ada yang mengembalikan laporan. Ada yang sekadar duduk sambil makan dan berbicara keras. Namun hari itu, sebagian meja terlihat kosong. Alistair yang baru masuk bersama Fen langsung menyadarinya. Ia berhenti sebentar. “Sepi.” Fen mengendus udara. Alistair berjalan menuju papan pengumuman. Tulisan JALUR BARAT DITUTUP masih terpampang di sana. Tetapi sekarang ada beberapa lembar baru yang ditempel di bawahnya. Alistair membaca satu per satu. Pengiriman ditunda. Pedagang diminta menggunakan jalur timur. Hunter dilarang melewati batas tanpa izin Guild. Alistair mengerutkan kening. “Masalahnya belum selesai.” “Belum.” Suara Aldren terdengar dari belakang. Alistair menoleh. “Pak Aldren.” Aldren berdiri sambil membawa beberapa lembar laporan. “Jangan terlalu lama berdiri di depan papan.” “Kenapa?” “Karena semakin lama kau melihatnya, semakin besar kemungkinan kau ingin ikut campur.” Alistair terdiam. Aldren tersenyum tipis. “Ternyata kau mulai mengenalku.” “Sedikit.” Fen mendengus kecil. Aldren melihat Fen. “Dan dia?” Fen menatap Aldren. “Dia juga mulai mengenalmu.” Alistair mengusap kepala Fen. “Kayaknya.” Aldren kemudian meletakkan laporan di meja. “Bagaimana latihan kemarin?” “Masih sering gagal.” “Itu normal.” “Tapi kami berhasil beberapa kali.” “Bagus.” Aldren membuka salah satu laporan. “Kalau begitu hari ini coba pekerjaan yang sedikit berbeda.” Alistair mendekat. “Pekerjaan apa?” “Menjaga gudang.” Alistair berkedip. “Gudang?” “Benar.” “Kenapa Hunter menjaga gudang?” “Karena pemiliknya membayar.” Alistair langsung mengangguk. “Masuk akal.” Aldren tertawa kecil. “Kau semakin mudah menerima kenyataan.” Gudang yang dimaksud berada tidak jauh dari pasar. Bangunannya besar, dengan dua pintu kayu dan beberapa jendela kecil. Pemiliknya seorang pria tua bernama Bram. Ia sedang sibuk memindahkan beberapa peti ketika Alistair datang. “Ini anaknya?” Aldren mengangguk. “Namanya Alistair. Dia akan membantu sampai sore.” Bram melihat Fen. “Dan itu?” “Temannya.” Bram menatap Fen beberapa detik. “Selama dia tidak memakan barangku, aku tidak keberatan.” Fen mengendus sebuah karung. Alistair langsung menariknya. “Jangan.” Fen menatapnya. “Bukan makanan.” Fen mundur. Bram tertawa. “Pintar juga.” Alistair tidak menjawab. Ia mulai bekerja. Memindahkan peti. Mengecek jumlah barang. Menyapu lantai. Mengikat kembali karung yang terbuka. Tidak ada monster. Tidak ada pertarungan. Tidak ada sesuatu yang menarik. Hanya pekerjaan biasa. Namun setelah beberapa jam, Alistair menyadari sesuatu. Pekerjaan sederhana seperti ini ternyata tetap membutuhkan perhatian. Satu peti salah tempat bisa membuat orang kesulitan mencari barang. Satu karung yang tidak diikat bisa membuat isinya rusak. Satu kesalahan kecil bisa membuat pemilik gudang kehilangan uang. Alistair mulai memahami perkataan Aldren. Pekerjaan tetap pekerjaan. Menjelang siang, seseorang datang. Seorang pria membawa dua kotak kayu. “Barang dari utara.” Bram langsung menghampirinya. “Taruh di belakang.” Pria itu mengangguk. Alistair membantu. Saat kotak terakhir diangkat, Fen tiba-tiba berdiri. Telinganya tegak. Alistair berhenti. “Ada apa?” Fen menatap pintu. Pria yang membawa barang tadi sudah keluar. Alistair memperhatikan Fen. “Kau mencium sesuatu?” Fen tidak bergerak. Hanya menatap pintu. Alistair berjalan mendekat. Ia membuka sedikit pintu gudang. Jalan di luar terlihat biasa. Orang-orang berjalan. Pedagang mendorong gerobak. Anak-anak berlari. Tidak ada yang aneh. Alistair menutup pintu. “Tidak ada apa-apa.” Fen masih diam. Bram melihat mereka. “Masalah?” Alistair menggeleng. “Tidak tahu.” Ia tidak langsung mengabaikannya. Namun ia juga tidak mengejar siapa pun. Ia hanya mengingatnya. Sore hari, Alistair kembali ke Guild. Aldren sedang berbicara dengan beberapa Hunter. Alistair duduk di salah satu bangku. Fen berbaring di bawahnya. Tidak lama kemudian, salah seorang Hunter yang tadi berbicara dengan Aldren menghampiri. “Kau Alistair?” Alistair mengangguk. “Ya.” “Dengar-dengar kau membantu di gudang Bram.” “Iya.” “Bagaimana?” “Capek.” Hunter itu tertawa. “Jawaban yang jujur.” Ia kemudian duduk. “Jalur barat masih ditutup.” Alistair diam. Hunter itu melanjutkan. “Beberapa orang mencoba lewat jalur kecil di utara.” “Kenapa?” “Karena mereka ingin menghindari pemeriksaan.” Alistair mengerutkan kening. “Berbahaya?” “Belum tahu.” Jawaban itu membuat Alistair terdiam. Belum tahu. Dua kata itu terasa semakin sering muncul belakangan ini. Hunter tersebut berdiri. “Kalau kau bertanya padaku, jangan ikut campur.” Alistair menatapnya. “Aku tidak bertanya.” Hunter itu tertawa. “Bagus.” Ia pergi. Alistair kemudian melihat Aldren. Aldren juga sedang melihatnya. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Alistair akhirnya mengalihkan pandangan. Ia mengambil uang hasil pekerjaannya hari itu. Menghitung. Satu per satu. Kemudian memasukkannya ke dalam kantong. Fen mendekat. Alistair mengusap kepalanya. “Pulang.” Fen berdiri. Mereka berjalan keluar dari Guild. Langit mulai berubah jingga. Alistair berjalan melewati pasar bersama Fen. Hari itu tidak ada monster. Tidak ada pertarungan. Tidak ada bahaya besar. Hanya pekerjaan. Latihan. Sedikit uang. Dan beberapa hal yang belum ia pahami. Namun ketika melewati sebuah gang kecil, Fen tiba-tiba berhenti. Alistair ikut berhenti. Fen menatap tanah. Di antara batu-batu jalan terdapat sesuatu yang kecil. Sehelai benang. Berwarna abu-abu keperakan. Alistair berjongkok. Ia tidak menyentuhnya. Hanya memperhatikan. Fen mendekat dan mengendus. Kemudian mundur. Alistair menatap benang itu beberapa detik. Ia teringat kain yang pernah mereka temukan. Simbol yang belum mereka kenal. Pedagang yang hilang. Jalur yang ditutup. Tetapi kali ini ia tidak mengambil benang tersebut. Ia berdiri. “Belum.” Fen menatapnya. “Aku nggak tahu apa ini.” Alistair melangkah pergi. “Kalau kita belum tahu... jangan buat kesimpulan.” Fen mengikuti. Mereka terus berjalan. Tanpa menyadari bahwa dari lantai dua sebuah bangunan di seberang gang, sepasang mata memperhatikan mereka. Seseorang berdiri di balik tirai. Diam. Kemudian tirai itu ditutup. Dan orang tersebut pergi tanpa suara.

End of Chapter 26