Chapter 25 of 46

Bab 25 — Dua Langkah yang Berbeda

674 words

Sudah tiga hari sejak jalur barat ditutup. Selama tiga hari itu, Alistair tidak mengambil pekerjaan yang mengarah ke wilayah tersebut. Ia juga tidak bertanya lagi mengenai dua pedagang yang hilang. Bukan karena ia tidak penasaran. Justru sebaliknya. Setiap kali melihat papan pengumuman Guild, matanya selalu berhenti sebentar pada tulisan JALUR BARAT DITUTUP. Namun ia mengingat pesan Aldren. Tidak semua masalah harus kau ambil menjadi milikmu. Jadi Alistair memilih melakukan hal yang bisa ia lakukan. Berlatih. Pagi itu, Alistair berdiri di lapangan latihan. Pedang kayu berada di tangannya. Aldren berdiri beberapa langkah di depannya. “Serang.” Alistair maju. Tak! Aldren menangkis. Alistair mundur. Ia maju lagi. Tak! Kali ini serangannya datang sedikit lebih cepat. Aldren menahannya. “Lagi.” Alistair menyerang. Satu. Dua. Tiga. Aldren terus menahan. Namun pada serangan keempat, Alistair mengubah arah. Ia tidak menyerang tubuh. Ia mengarah ke kaki. Aldren langsung mundur. Serangan itu gagal. Tetapi Aldren tersenyum. “Bagus.” Alistair terengah. “Apa yang bagus?” “Kau mulai berhenti melakukan hal yang sama berulang kali.” Alistair melihat pedang kayunya. “Aku cuma mencoba.” “Memang begitu cara belajar.” Aldren mengangkat pedangnya. “Sekarang kau.” Alistair bersiap. Aldren maju. Kali ini Alistair tidak menunggu sampai serangan datang. Ia bergerak lebih dulu. Pedangnya bertemu dengan pedang Aldren. Tak! Tubuh Alistair terdorong. Namun ia tidak jatuh. Ia memutar kaki. Menjaga keseimbangan. Kemudian kembali berdiri. Aldren mengangguk. “Lebih baik.” Alistair tersenyum. Setelah latihan selesai, Alistair duduk di bawah pohon. Fen datang dan duduk di sampingnya. Alistair mengambil sedikit makanan dari tas. Fen langsung mendekat. “Ini bukan semuanya.” Fen tetap mendekat. “Fen.” Telinganya turun. Alistair tertawa kecil. “Baiklah.” Ia memberikan sebagian makanan. Fen langsung makan. Alistair memperhatikannya. “Kau tahu?” Fen tidak menjawab. “Aku dulu selalu melakukan semuanya sendiri.” Fen berhenti makan sebentar. Alistair menatap lapangan. “Sekarang aku punya kau.” Fen kembali makan. Alistair tersenyum. “Tapi kita masih belum benar-benar bisa bekerja sama.” Fen mengangkat kepala. Alistair berdiri. “Ayo coba.” Mereka pergi ke bagian belakang lapangan. Aldren masih berada di sana. Alistair mengambil beberapa batu kecil dan meletakkannya di tanah. Ia kemudian menunjuk satu batu. “Kalau aku ke sana...” Fen melihat. “Aku akan bergerak ke kanan.” Fen memiringkan kepala. Alistair menghela napas. “Ya, aku juga nggak tahu kenapa aku menjelaskan ini.” Aldren yang melihat dari jauh tertawa kecil. Alistair mengambil pedang kayu. Ia berdiri beberapa langkah dari Fen. “Coba.” Alistair berlari. Fen ikut bergerak. Awalnya berantakan. Alistair bergerak terlalu cepat. Fen terlambat. Mereka hampir bertabrakan. Alistair jatuh. Bruk! Fen berhenti. Alistair duduk sambil memegang lengannya. “...Sakit.” Fen mendekat. Alistair menatapnya. “Kau baik-baik saja?” Fen mengendusnya. Alistair tersenyum. “Aku nggak apa-apa.” Mereka mencoba lagi. Kali ini Alistair tidak berlari terlalu cepat. Ia menunggu. Fen bergerak lebih dulu. Alistair mengikuti. Kemudian mereka bertukar posisi. Masih tidak sempurna. Namun lebih baik. Sekali lagi. Dan sekali lagi. Sampai akhirnya— Alistair berhasil bergerak ke arah yang berbeda tepat ketika Fen menyerang sasaran latihan. Buk! Sasaran kayu bergoyang. Alistair membeku. Fen juga berhenti. Mereka saling memandang. “Kita berhasil?” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tertawa. “Benar-benar berhasil.” Aldren mendekat. “Jangan terlalu senang.” Alistair menoleh. “Kenapa?” “Karena kalian baru berhasil sekali.” Alistair mengangguk. “Kalau begitu kami coba lagi.” Aldren tersenyum. “Nah.” Latihan itu berlangsung sampai siang. Hasilnya tidak selalu berhasil. Sebagian besar percobaan malah berakhir kacau. Kadang Fen bergerak terlalu cepat. Kadang Alistair salah membaca arah. Kadang mereka hanya saling menatap tanpa tahu harus melakukan apa. Namun perlahan— mereka mulai memahami ritme satu sama lain. Tidak melalui kata-kata. Tidak melalui perintah. Hanya dari gerakan. Dari kebiasaan. Dari kesalahan yang terus diulang sampai akhirnya mereka tahu bagaimana menghindarinya. Menjelang sore, Alistair duduk kembali di bawah pohon. Fen berbaring di sampingnya. Alistair menatap tangannya. “Kayaknya kita masih jauh.” Fen menggerakkan telinganya. “Tapi nggak apa-apa.” Alistair tersenyum. “Besok coba lagi.” Fen menutup mata. Alistair ikut bersandar pada pohon. Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa menjadi kuat bukan sesuatu yang terjadi dalam satu hari. Bukan satu latihan. Bukan satu kemenangan. Melainkan ribuan langkah kecil yang dilakukan berulang kali. Dan sekarang— ia tidak berjalan sendirian. Di satu sisi ada dirinya. Di sisi lain ada Fen. Dua makhluk dengan cara bergerak yang berbeda. Namun perlahan belajar menemukan langkah yang sama.

End of Chapter 25

Chapter 25: Bab 25 — Dua Langkah yang Berbeda - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio