Chapter 24 of 46

Bab 24 — Jalan yang Ditutup

760 words

Pagi itu, suasana di Hunter Guild terasa berbeda. Tidak seramai biasanya. Beberapa Hunter berdiri di depan papan informasi sambil membaca pengumuman baru yang ditempel di sana. Alistair berjalan mendekat bersama Fen. Ia membaca tulisan di bagian atas. JALUR BARAT DITUTUP SEMENTARA. Alistair mengerutkan kening. Di bawahnya terdapat keterangan singkat mengenai dua pedagang yang belum kembali dari perjalanan. Tidak ada informasi mengenai penyebabnya. Tidak ada laporan monster tertentu. Hanya peringatan agar Hunter tidak melewati jalur tersebut sampai pemeriksaan selesai. Alistair mundur sedikit. Fen mengendus udara. “Fen?” Fen tidak menjawab. Tatapannya mengarah ke pintu Guild. Beberapa detik kemudian, seorang Hunter masuk dengan pakaian penuh debu. Ia membawa sebuah tas. Semua orang langsung menoleh. Hunter itu berjalan menuju meja laporan. “Aku menemukan ini.” Petugas Guild menerima tas tersebut. “Apa ini?” “Punya salah satu pedagang yang hilang.” Ruangan langsung menjadi lebih sunyi. Alistair memperhatikan dari kejauhan. Tas itu sederhana. Namun di bagian sampingnya terdapat sobekan kecil. Dan pada sobekan tersebut— ada benang berwarna abu-abu keperakan. Alistair membeku. Simbol yang sama. Bukan seluruh simbol. Hanya sebagian pola. Tapi ia mengenal warna benangnya. Tangannya refleks menyentuh sakunya. Kain yang ia temukan masih ada di sana. Fen tiba-tiba menggeram pelan. Alistair langsung menunduk. “Tenang.” Aldren muncul dari ruangan belakang. Ia melihat tas tersebut. Kemudian melihat Alistair. Tatapan mereka bertemu. Aldren seperti memahami sesuatu. “Alistair.” “Ya?” “Ke belakang.” Alistair mengikuti. Ruang belakang Guild lebih sepi. Aldren menutup pintu. “Sekarang keluarkan benda yang kau temukan.” Alistair mengambil kain gelap itu. Aldren membentangkannya di meja. Ia kemudian mengambil potongan benang dari tas tadi. Keduanya diletakkan berdampingan. Tidak sama persis. Namun jelas menggunakan jenis benang yang sama. Alistair menatapnya. “Berarti memang berhubungan.” Aldren tidak langsung menjawab. “Belum tentu.” Alistair menoleh. “Tapi—” “Kesamaan bukan bukti.” Aldren menunjuk kain. “Kita belum tahu apakah ini lambang kelompok yang sama, pakaian yang sama, atau kebetulan.” Alistair terdiam. “Jadi kita harus mencari tahu.” Aldren menggeleng. “Bukan kau.” Alistair mengangkat kepala. “Apa?” “Kau tidak ikut dalam pemeriksaan.” “Kenapa?” “Karena ini sudah masuk urusan Guild.” Alistair mengepalkan tangan. “Tapi aku yang menemukan—” “Dan karena itu kau sudah melakukan bagianmu.” Nada Aldren tegas. “Kau menemukan benda mencurigakan. Kau melaporkannya. Sekarang biarkan orang yang memang bertugas menyelidikinya melakukan pekerjaan mereka.” Alistair terdiam. Ia tidak menyukai jawaban itu. Tapi ia tahu Aldren benar. “Baik.” Aldren memperhatikan wajahnya. “Kau kecewa?” “Sedikit.” “Bagus.” Alistair mengerutkan kening. “Kenapa bagus?” “Karena artinya kau peduli.” Aldren menyandarkan tubuh ke meja. “Tapi peduli bukan alasan untuk mengambil semua masalah menjadi milikmu.” Alistair terdiam. Kalimat itu terasa familiar. Ia pernah mendengar sesuatu yang mirip. Dari ibunya. Bukan kata-kata yang sama. Tapi perasaan yang sama. Bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Alistair akhirnya mengangguk. “Aku mengerti.” Siang harinya, Alistair memilih pekerjaan sederhana. Membersihkan kandang kuda milik Guild. Tidak menarik. Tidak berbahaya. Dan sama sekali tidak berhubungan dengan jalur barat. Ia mengerjakannya dengan Fen di dekatnya. Beberapa Hunter yang lewat sempat tertawa ketika melihatnya. “Anak Hunter sekarang kerja jadi penjaga kandang?” Alistair hanya menjawab, “Pekerjaan tetap pekerjaan.” Hunter itu tertawa. “Benar juga.” Alistair melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak malu. Ia mulai memahami bahwa menjadi Hunter bukan tentang terlihat hebat. Kadang pekerjaan paling sederhana justru yang membuat seseorang tetap bertahan. Setelah selesai, ia mendapatkan beberapa keping Tembaga. Alistair menghitungnya. Kemudian menyimpannya. Fen mendekat. Alistair memberikan sedikit makanan. “Kita masih punya tabungan.” Fen makan. “Jangan dihabiskan.” Fen tetap makan. Alistair menghela napas. “Ya, aku tahu.” Sore menjelang malam. Alistair berjalan pulang melewati jalan utama. Ia berhenti di sebuah toko kecil. Matanya tertuju pada sebuah pedang pendek yang dipajang di balik kaca. Bukan pedang bagus. Bilahnya sederhana. Gagangnya juga biasa. Tapi ukurannya lebih cocok untuk tubuhnya dibandingkan pedang milik ayahnya. Harga tertera di bawahnya. Alistair menghitung uangnya. Belum cukup. Ia menghela napas. “Masih lama.” Fen duduk di sampingnya. Alistair menatap pedang itu sekali lagi. “Aku akan beli suatu hari nanti.” Kemudian ia pergi. Ia tidak tahu bahwa suatu hari nanti, senjata yang akan ia gunakan tidak akan sesederhana pedang itu. Ia belum tahu tentang Reven. Belum tahu tentang Crane. Belum tahu seperti apa jalan panjang yang akan membentuk dirinya. Untuk sekarang— ia hanya seorang anak sepuluh tahun yang sedang belajar hidup sendiri. Dan itu sudah cukup. Malam itu, sebelum tidur, Alistair kembali mendengar suara lonceng kecil di gagang pedang ayahnya. Tin... Ia menatapnya. Kemudian tersenyum kecil. “Besok masih latihan.” Fen sudah tertidur. Alistair mematikan lampu. Di luar sana, jalur barat masih ditutup. Dan di sebuah tempat yang jauh dari Eldermere— seseorang sedang membakar potongan kain dengan simbol yang sama. Api melahap kain itu perlahan. Namun satu bagian simbolnya tidak ikut terbakar. Sebuah benang abu-abu keperakan jatuh ke tanah. Lalu diinjak. Menghilang dari pandangan.

End of Chapter 24