Pagi berikutnya, Alistair bangun lebih awal dari biasanya.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengenakan sepatunya.
Fen masih tertidur di dekat pintu.
Alistair menatapnya sebentar.
“Bangun.”
Tidak bergerak.
“Fen.”
Telinganya bergerak sedikit.
“Kalau kau terus tidur, aku berangkat duluan.”
Fen membuka satu mata.
Alistair tersenyum.
“Bercanda.”
Fen kembali memejamkan mata.
“...Pemalas.”
Alistair mengambil pedang kayu dan keluar dari kamar.
Hari itu ia tidak langsung menuju Guild.
Ia pergi ke lapangan kosong di dekat penginapan.
Beberapa saat kemudian, Fen menyusul.
Latihan dimulai.
Tak!
Pedang kayu bertemu.
Alistair mundur satu langkah.
Aldren kembali menyerang.
Alistair menangkis.
Kali ini gerakannya lebih stabil.
Tidak sempurna.
Namun ia tidak lagi kehilangan keseimbangan setiap kali menerima serangan.
Aldren mengubah arah.
Alistair membaca gerakannya.
Ia menggeser tubuh.
Serangan lewat.
Alistair membalas.
Tak!
Kena.
Aldren mundur.
“Bagus.”
Alistair menarik napas.
“Sekarang aku mulai terbiasa.”
“Jangan.”
Alistair mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kalau kau mulai merasa sudah terbiasa, kau akan berhenti memperhatikan.”
Alistair diam.
Aldren mengangkat pedang.
“Sekali lagi.”
Latihan berlanjut.
Beberapa menit kemudian, Alistair sudah kelelahan.
Ia duduk sambil mengatur napas.
Aldren berdiri di depannya.
“Kemarin kau mengambil keputusan yang benar.”
Alistair mengangkat kepala.
“Yang soal orang asing?”
“Ya.”
“Karena aku tidak mengejarnya?”
Aldren mengangguk.
“Kau tahu apa yang menarik?”
Alistair menunggu.
“Dulu kau sering bertanya karena ingin tahu.”
“Sekarang?”
“Sekarang kau mulai belajar kapan tidak perlu mencari tahu.”
Alistair menatap tanah.
“Bukannya penasaran itu bagus?”
“Bagus.”
Aldren duduk di sampingnya.
“Tapi rasa penasaran tanpa kendali bisa membuat seseorang masuk ke tempat yang seharusnya tidak ia masuki.”
Alistair mengingat hutan.
Pria asing.
Jejak kaki.
Kain dengan simbol aneh.
Ia meraba sakunya.
Kain itu masih ada.
“Aldren.”
“Hm?”
“Kalau aku menemukan sesuatu yang mencurigakan lagi...”
“Laporkan.”
“Kalau aku ingin menyelidikinya?”
Aldren menatapnya.
“Tunggu sampai kau cukup kuat untuk menghadapi jawaban yang mungkin kau temukan.”
Alistair terdiam.
Ia tidak sepenuhnya memahami maksud kalimat itu.
Tapi ia mengingatnya.
Setelah latihan, Alistair pergi ke Guild.
Begitu masuk, ia melihat beberapa Hunter berkumpul di dekat papan pekerjaan.
Suasana sedikit berbeda.
Beberapa orang berbicara dengan suara pelan.
Alistair mendekat.
“Ada apa?”
Seorang Hunter menoleh.
“Jalur barat ditutup sementara.”
Alistair terkejut.
“Kenapa?”
“Laporan orang hilang.”
Alistair langsung teringat pria asing kemarin.
Namun ia tidak buru-buru menyimpulkan.
“Siapa yang hilang?”
“Dua pedagang.”
Alistair mengerutkan kening.
“Di mana?”
“Jalur antara Eldermere dan desa sebelah barat.”
Alistair terdiam.
Itu jalur yang baru saja ia lewati.
Ia melihat Aldren.
Pria itu juga sudah mendengar kabar tersebut.
Aldren berjalan mendekat.
“Jangan menyimpulkan sesuatu.”
Alistair mengangguk.
“Aku tahu.”
“Bagus.”
Aldren mengambil laporan dari petugas Guild.
“Dua pedagang terakhir terlihat kemarin pagi.”
Alistair menatap kertas itu.
“Berarti setelah kami lewat?”
“Ya.”
Alistair menghela napas lega.
Setidaknya mereka tidak mengalami sesuatu ketika perjalanan Alistair berlangsung.
Namun ada sesuatu yang membuatnya berpikir.
Jejak sepatu.
Orang asing.
Pedagang yang hilang.
Semuanya berada di wilayah yang sama.
Tapi apakah semuanya berhubungan?
Ia tidak tahu.
Dan kali ini ia memilih tidak menebak.
Hari itu, Alistair mengambil pekerjaan lain.
Sederhana.
Mengantar surat ke seorang pedagang di bagian selatan kota.
Ia mengerjakannya tanpa masalah.
Saat kembali, ia menerima pembayaran.
Kemudian memasukkan uang tersebut ke kantong.
Rutinitas.
Sederhana.
Normal.
Namun pikirannya masih tertuju pada laporan tadi.
Ketika malam tiba, Alistair kembali ke penginapan.
Ia duduk di dekat jendela.
Fen berbaring di lantai.
Alistair mengeluarkan kain gelap itu.
Ia membentangkannya di atas meja.
Simbolnya masih sama.
Tidak berubah.
Tidak memberikan jawaban.
Alistair menatapnya cukup lama.
Kemudian menyimpannya kembali.
“Belum.”
Ia berdiri.
Fen membuka mata.
“Aku belum cukup tahu.”
Fen kembali tidur.
Alistair tersenyum kecil.
“Besok juga masih ada.”
Ia mematikan lampu.
Di luar jendela, malam menyelimuti Eldermere.
Dan jauh dari sana, di sebuah jalan yang tidak lagi dilewati siapa pun—
sebuah kereta tua berdiri kosong.
Tidak ada pemiliknya.
Tidak ada barang di dalamnya.
Hanya bekas roda yang berhenti di tengah jalan.
Serta sebuah potongan kain gelap yang tersangkut pada ranting.
Simbol yang sama.
Kali ini—
lebih dekat dari sebelumnya.