Chapter 22 of 46
Bab 22 — Jangan Terburu-buru
719 words
Desa itu terlihat jauh lebih tenang daripada yang Alistair bayangkan.
Beberapa rumah kayu berdiri di sepanjang jalan utama.
Ada ladang kecil di sisi desa, kandang hewan di belakang rumah, dan sebuah bangunan besar yang tampaknya menjadi tempat penyimpanan hasil panen.
Harven mengarahkan keretanya menuju sebuah gudang.
“Di sini.”
Alistair membantu menurunkan barang-barang.
Beberapa peti berisi kain dan bahan makanan.
Tidak terlalu berat.
Namun jumlahnya cukup banyak.
Setelah semuanya selesai, Harven memberikan tanda terima kepada kepala desa.
Pekerjaan mereka sebenarnya sudah selesai.
Namun Alistair tidak langsung merasa tenang.
Ia masih mengingat pria yang mereka temui di perjalanan.
Alistair menoleh ke arah jalan masuk desa.
Kosong.
“Kenapa kau terus melihat ke sana?”
Harven berdiri di sampingnya.
“Orang tadi.”
“Yang tersesat?”
Alistair mengangguk.
“Aku nggak yakin dia benar-benar tersesat.”
Harven terdiam.
“Menurutmu dia mengikuti kita?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu jangan terlalu dipikirkan.”
Alistair menatapnya.
Harven tersenyum.
“Kau sendiri yang bilang belum tahu.”
Alistair terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Benar.”
Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum kembali.
Sore mulai turun ketika mereka bersiap meninggalkan desa.
Namun sebelum keluar, seorang anak laki-laki berlari menghampiri Harven.
“Paman!”
Harven menoleh.
“Ada apa?”
“Anjingku hilang.”
Harven menghela napas.
“Lagi?”
Anak itu mengangguk.
“Dia masuk ke hutan tadi siang.”
Alistair mendengarkan.
Anak itu kemudian melihat Fen.
Matanya langsung berbinar.
“Wah!”
Ia mendekati Fen.
Fen mundur sedikit.
“Dia juga anjing?”
Alistair menggeleng.
“Bukan.”
“Namanya?”
“Fen.”
Anak itu tersenyum.
“Bisa bantu cari anjingku?”
Alistair menoleh kepada Harven.
Harven mengangkat bahu.
“Kalau tidak lama.”
Alistair berjongkok.
“Ada jejak terakhirnya?”
Anak itu menunjuk ke arah belakang desa.
“Di sana.”
Mereka mengikuti anak itu.
Fen berjalan paling depan.
Tidak lama kemudian, Alistair menemukan beberapa jejak kecil.
Ia berjongkok.
“Ini.”
Anak itu mendekat.
“Benar?”
Alistair mengangguk.
“Sepertinya.”
Jejak itu menuju ke arah hutan.
Alistair mengikuti bersama Fen.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara gonggongan.
“Boni!”
Anak itu berlari.
Seekor anjing kecil muncul dari balik semak.
Ia tampaknya tidak terluka.
Anak itu langsung memeluknya.
“Ketemu!”
Alistair tersenyum.
Fen mengendus anjing itu.
Anjing kecil tersebut mundur.
Fen tidak mengejarnya.
Alistair menepuk kepala Fen.
“Bagus.”
Anak itu tersenyum kepada Alistair.
“Terima kasih, Kak.”
Alistair hanya mengangguk.
“Jangan masuk hutan sendirian lagi.”
“Iya.”
Mereka kembali ke desa.
Saat sampai di jalan utama, Alistair kembali melihat ke arah hutan.
Ada sesuatu.
Bukan suara.
Bukan gerakan.
Hanya perasaan.
Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
Di tanah, sedikit jauh dari jalan, terdapat bekas sepatu.
Alistair berjongkok.
Ia mengenalinya.
Bentuk solnya.
Lumpur yang menempel.
“Orang tadi...”
Harven mendekat.
“Kau yakin?”
Alistair mengangguk.
“Sepertinya.”
Harven melihat jejak tersebut.
Kemudian ke arah hutan.
“Dia masih di sekitar sini.”
Alistair berdiri.
“Haruskah kita mencarinya?”
Harven menggeleng.
“Tidak.”
Alistair sedikit terkejut.
“Tapi kalau dia—”
“Kita tidak tahu siapa dia.”
Harven menatapnya.
“Dan kita tidak tahu apa yang dia lakukan.”
Alistair terdiam.
Harven melanjutkan,
“Kalau kau mengejarnya tanpa informasi, kau justru masuk ke situasi yang tidak kau pahami.”
Alistair mengingat perkataan Aldren.
Kalau tidak mampu, cari bantuan.
Ia kemudian mengangguk.
“Kita laporkan ke Guild.”
“Benar.”
Mereka tidak mengejar.
Mereka meninggalkan desa sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Sesampainya di Eldermere, Alistair langsung memberikan laporan.
Ia menjelaskan semuanya.
Tentang pria asing.
Tentang kebohongannya.
Tentang jejak yang ditemukan di dekat desa.
Petugas Guild mencatatnya.
“Baik. Kami akan memeriksa.”
Alistair mengangguk.
Aldren yang mendengar laporan itu hanya memandangnya.
“Kau tidak mengejarnya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu dia siapa.”
Aldren tersenyum.
“Bagus.”
Alistair sedikit bingung.
“Kenapa?”
“Karena beberapa hari lalu kau mungkin akan mengejarnya.”
Alistair terdiam.
Aldren benar.
Dulu, rasa penasaran mungkin akan membuatnya bergerak lebih dulu.
Sekarang ia mulai belajar berhenti.
Bukan karena takut.
Tapi karena memahami batas.
Aldren menepuk bahunya.
“Itu perkembangan.”
Alistair tersenyum kecil.
Malam itu, ia duduk di kamarnya bersama Fen.
Ia membuka kantong uang.
Menghitung hasil pekerjaan.
Kemudian menyimpannya.
Hari ini ia mendapatkan bayaran.
Membantu seorang anak menemukan anjingnya.
Dan belajar sesuatu yang mungkin lebih berharga daripada uang.
Tidak semua misteri harus ia pecahkan sendiri.
Tidak semua bahaya harus ia hadapi.
Dan tidak semua rasa penasaran harus diikuti.
Alistair melihat Fen yang sudah tertidur.
“Besok kita latihan lagi.”
Fen tidak bergerak.
Alistair tersenyum.
Ia kemudian berbaring.
Di luar jendela, Eldermere mulai sunyi.
Namun jauh di luar kota—
seseorang berdiri di antara pepohonan.
Ia memegang potongan kain gelap dengan simbol yang sama seperti yang ditemukan Alistair beberapa hari lalu.
Tatapannya mengarah ke kejauhan.
Ke arah Eldermere.
Kemudian ia berbalik dan menghilang ke dalam hutan.
Tanpa suara.
Tanpa jejak yang jelas.