Chapter 21 of 46
Bab 21 — Orang yang Harus Dijaga
773 words
Pagi itu, Alistair sudah berada di depan gerbang Eldermere sebelum matahari naik sepenuhnya.
Ia membawa tas kecil di punggungnya.
Pedang kayu tergantung di pinggang.
Sementara pedang milik ayahnya tetap ia bawa, tetapi tidak digunakan untuk latihan.
Fen duduk di sampingnya.
“Kita terlalu pagi.”
Fen menatap gerbang.
“Masih belum buka sepenuhnya.”
Beberapa saat kemudian, terdengar suara roda kereta.
Sebuah kereta dagang muncul dari arah dalam kota.
Ditarik oleh dua ekor kuda.
Seorang pria bertubuh sedang duduk di depan sebagai kusir.
Ia menghentikan kereta tepat di depan Alistair.
“Alistair?”
Alistair mengangguk.
“Ya.”
Pria itu turun.
“Namaku Harven. Aku yang harus kau kawal.”
Alistair sedikit terkejut.
“Aku kira akan ada Hunter lain.”
Harven tertawa kecil.
“Kau masih kecil.”
Alistair diam.
Harven langsung mengangkat kedua tangannya.
“Bukan maksudku meremehkan.”
Alistair mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Harven kemudian melihat Fen.
“Dan dia?”
“Fen.”
“Serigala?”
Alistair menggeleng.
“Bukan serigala biasa.”
Harven menatap Fen beberapa detik.
Fen menatap balik.
Akhirnya Harven mengangkat bahu.
“Selama dia tidak memakan barang daganganku, terserah.”
Fen menguap.
Alistair tersenyum kecil.
“Dia tidak akan.”
Mereka berangkat.
Jalur menuju desa berada di sebelah barat.
Pada awal perjalanan, semuanya berjalan lancar.
Harven mengendalikan kereta.
Alistair berjalan di sampingnya.
Fen berada sedikit di depan.
Alistair sesekali melihat ke belakang.
Ia masih mengingat pesan Aldren.
Jangan hanya melihat jalan di depan.
Maka ia memperhatikan semuanya.
Jejak roda.
Semak.
Pohon.
Bukit kecil.
Bahkan suara burung.
Harven meliriknya.
“Kau selalu seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Melihat sekeliling.”
Alistair mengangguk.
“Sedang belajar.”
“Dari Aldren?”
“Ya.”
Harven tertawa kecil.
“Pantas.”
Alistair menoleh.
“Kenapa?”
“Aldren memang suka mengajari orang melihat hal yang tidak dilihat orang lain.”
Alistair diam.
Ia mulai menyadari bahwa Aldren bukan sekadar Hunter biasa.
Tapi ia belum tahu seberapa jauh kemampuan pria itu.
Menjelang siang, mereka berhenti di dekat sungai.
Harven memberi makan kuda.
Alistair duduk di bawah pohon.
Fen minum.
Semuanya tampak normal.
Sampai Fen tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Telinganya berdiri.
Alistair langsung memperhatikannya.
“Apa?”
Fen menatap ke arah hutan.
Tidak menggeram.
Hanya diam.
Alistair berdiri.
Ia tidak langsung mengambil pedang.
Ia mengingat pelajaran Aldren.
Jangan menghunus pedang hanya karena takut.
Ia menunggu.
Beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian terdengar suara langkah.
Harven berhenti memberi makan kuda.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Alistair menatap semak-semak.
Fen maju satu langkah.
Kemudian—
Seorang pria muncul.
Pakaiannya kotor.
Ia membawa tas kecil.
“Maaf.”
Harven langsung waspada.
“Kau siapa?”
“Musafir.”
Pria itu menunjuk jalan.
“Aku tersesat.”
Harven tidak langsung menjawab.
Alistair memperhatikan pria itu.
Tidak ada senjata yang terlihat.
Tapi bukan berarti tidak ada.
Pria itu berjalan mendekat.
“Aku hanya ingin bertanya arah.”
Alistair memandang kakinya.
Ada tanah basah.
Sepatunya penuh lumpur.
Ia kemudian melihat jalan yang baru mereka lewati.
Tidak ada lumpur sebanyak itu.
Alistair mengerutkan kening.
“Dari mana kau datang?”
Pria itu menoleh kepadanya.
“Dari timur.”
Alistair melihat sepatunya lagi.
Kemudian ke arah timur.
Tidak ada sungai atau tanah basah di sana.
Ada sesuatu yang tidak cocok.
Alistair tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya melangkah sedikit mendekati Harven.
Fen berdiri di sisi lain.
Pria itu tersenyum.
“Kenapa?”
Alistair menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Harven kemudian berkata,
“Kami tidak tahu jalan selain jalur ini.”
Pria itu mengangguk.
“Baik.”
Ia mundur.
“Terima kasih.”
Kemudian pergi ke arah yang berlawanan.
Alistair memperhatikannya sampai menghilang.
Harven menunggu beberapa detik.
“Menurutmu?”
Alistair menjawab pelan.
“Dia bohong.”
Harven terkejut.
“Kenapa?”
“Sepatunya.”
Alistair menjelaskan.
“Dia bilang datang dari timur, tapi lumpur di sepatunya tidak cocok dengan tanah di jalur timur.”
Harven menatap Alistair.
Kemudian tertawa kecil.
“Menarik.”
Alistair menggeleng.
“Aku belum tahu apakah dia berbahaya.”
“Benar.”
Harven memandang ke arah pria itu menghilang.
“Dan itu masalahnya.”
Alistair terdiam.
Monster biasanya menunjukkan dirinya dengan jelas.
Gigi.
Cakar.
Suara.
Gerakan.
Tapi manusia?
Mereka bisa tersenyum.
Bisa berbicara dengan sopan.
Bisa berbohong tanpa menunjukkan taring.
Alistair mulai memahami sesuatu.
Bahaya tidak selalu datang dengan suara geraman.
Kadang-kadang—
bahaya datang dan meminta arah.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Namun kali ini Alistair lebih waspada.
Fen juga tidak lagi berjalan terlalu jauh di depan.
Ia tetap dekat.
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya melihat bangunan desa dari kejauhan.
Harven menghela napas lega.
“Sudah dekat.”
Alistair mengangguk.
Namun sebelum mereka masuk ke desa, ia menoleh ke belakang.
Jalan yang mereka lewati tampak kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi entah kenapa—
Alistair merasa seperti seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.
Fen juga berhenti.
Telinganya bergerak.
Alistair menatapnya.
“Kau juga merasakannya?”
Fen menatap hutan.
Kemudian kembali berjalan.
Alistair mengikuti.
Mungkin itu hanya perasaan.
Mungkin juga bukan.
Untuk saat ini, ia tidak tahu.
Dan seperti yang Aldren ajarkan—
kalau belum tahu, jangan membuat kesimpulan terlalu cepat.
Mereka memasuki desa.
Tanpa mengetahui bahwa perjalanan sederhana itu baru saja mengajarkan Alistair satu pelajaran baru:
kadang-kadang, orang yang paling sulit dibaca bukanlah monster.