Chapter 20 of 46

Bab 20 — Nama yang Mulai Dikenal

697 words

Pagi itu, suasana Hunter Guild lebih ramai dari biasanya. Alistair baru saja masuk ketika beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia berhenti. “...Kenapa?” Tidak ada yang menjawab. Seorang Hunter di dekat meja hanya tersenyum kecil. “Anak itu.” “Yang sering bersama Aldren?” “Iya.” Alistair berjalan melewati mereka sambil pura-pura tidak mendengar. Fen berjalan di sampingnya. Namun semakin jauh ia masuk, semakin banyak orang yang terlihat mengenalinya. Bukan karena ia kuat. Bukan karena ia terkenal. Hanya karena hampir setiap hari ia datang ke tempat yang sama. Mengambil pekerjaan. Mengerjakannya. Lalu kembali. Sederhana. Tapi ternyata cukup untuk membuat orang mengingat wajahnya. Alistair mendekati papan pekerjaan. Ia melihat beberapa kertas. Sebelum sempat memilih, seorang Hunter tua mendekat. “Hei.” Alistair menoleh. “Ya?” “Kau anak yang kemarin mengantar obat ke Riven?” Alistair mengangguk. “Kenapa?” “Orang yang kau bantu itu sudah sampai di sini tadi pagi.” Alistair sedikit terkejut. “Dia datang ke Eldermere?” “Ya.” Hunter itu tertawa kecil. “Katanya kau membantu memperbaiki gerobaknya.” Alistair menggaruk pipinya. “Cuma sedikit.” “Sedikit?” Hunter itu melirik Fen. “Katanya serigala kecilmu juga ikut membantu.” Fen langsung duduk. Alistair menatapnya. “Kau dengar?” Fen memalingkan wajah. Hunter itu tertawa. “Bagus juga.” Setelah pria itu pergi, Alistair menatap Fen. “Kau mulai terkenal.” Fen tidak bereaksi. Alistair terkekeh. “Jangan sombong.” Hari itu Alistair mengambil pekerjaan membersihkan gudang milik seorang pedagang. Pekerjaannya membosankan. Sangat membosankan. Tidak ada monster. Tidak ada perjalanan. Tidak ada sesuatu yang bisa disebut petualangan. Hanya memindahkan beberapa kotak. Mengatur barang. Membersihkan debu. Dan memastikan tidak ada barang yang rusak. Setelah hampir dua jam, Alistair keluar dari gudang sambil mengusap keringat di dahinya. Fen berjalan di belakangnya. Alistair melihat uang yang baru diterimanya. “Lumayan.” Ia menyimpan uang itu. Pedagang tadi bahkan memberinya sedikit makanan tambahan untuk Fen. Alistair menoleh. Fen sudah menghabiskan sebagian besar makanan itu. “Kau cepat sekali.” Fen menatapnya dengan wajah polos. “...” “Jangan lihat aku begitu.” Fen kembali makan. Alistair tertawa. Ketika mereka kembali ke Guild, Aldren sedang berbicara dengan seorang Hunter. Alistair berdiri agak jauh dan menunggu. Namun percakapan mereka terdengar. “Jalur utara masih aman?” “Sejauh ini.” “Tidak ada laporan monster?” “Ada beberapa jejak, tapi tidak ada serangan.” Aldren mengangguk. “Baik.” Hunter itu kemudian pergi. Alistair mendekat. “Ada masalah?” Aldren menoleh. “Tidak.” Alistair melihat ke arah pintu. “Tadi membicarakan monster?” “Laporan biasa.” “Monster apa?” Aldren menatapnya. “Kau penasaran?” Alistair mengangguk. “Sedikit.” Aldren mengambil sebuah laporan dari meja. “Makhluk mirip serigala.” Alistair langsung terdiam. Fen mengangkat kepala. Aldren menyadari reaksi mereka. “Kenapa?” Alistair berpikir sebentar. “Tidak apa-apa.” Ia teringat beberapa kejadian sebelumnya. Makhluk serigala. Jejak. Fen. Namun tidak semua hal harus langsung dihubungkan. Aldren memperhatikan wajahnya. “Kau memikirkan sesuatu?” “Cuma mengingat kejadian di hutan.” Aldren mengangguk. “Bagus kalau kau mengingat.” Ia mengembalikan laporan ke meja. “Pengalaman yang paling berguna biasanya datang dari hal-hal yang hampir membuatmu celaka.” Alistair mengangguk. Kemudian ia melihat papan pekerjaan lagi. Ada satu pekerjaan baru. Pengawalan pedagang menuju desa kecil di sebelah barat. Alistair membaca keterangannya. Jaraknya tidak terlalu jauh. Bayarannya cukup besar. Tapi ada catatan: Jalur melewati wilayah hutan. Alistair tidak langsung mengambilnya. Ia justru memanggil Aldren. “Aldren.” “Hm?” “Kalau aku ingin mengambil pekerjaan ini... menurutmu bagaimana?” Aldren membaca kertas tersebut. “Kenapa kau tertarik?” “Karena aku belum pernah melakukan pengawalan.” Aldren diam sebentar. “Benar.” Alistair menunggu. “Boleh.” Mata Alistair sedikit berbinar. “Tapi ada syarat.” “Lagi?” Aldren tersenyum. “Lagi.” Ia menunjuk bagian bawah laporan. “Kau tidak memimpin perjalanan.” Alistair mengangguk. “Kau hanya membantu.” “Baik.” “Dan kau mengikuti instruksi pedagang yang kau kawal selama instruksinya tidak membahayakanmu.” “Baik.” “Kalau ada monster?” Alistair berpikir. “Tidak langsung menyerang.” “Bagus.” Aldren mengembalikan kertas. “Besok pagi.” Alistair mengambilnya. “Besok.” Ia menatap kertas itu sekali lagi. Sebuah pekerjaan baru. Sebuah jalan baru. Dan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan. Alistair memasukkan kertas tersebut ke dalam tas. Kemudian berjalan keluar bersama Fen. Di depan pintu Guild, ia berhenti sebentar. Ia menatap langit. Dulu, ia hanya melihat langit sebagai sesuatu yang berada di atas kepalanya. Sekarang ia mulai melihatnya sebagai sesuatu yang akan terus ia lewati. Besok. Lusa. Dan mungkin bertahun-tahun setelahnya. Alistair tersenyum tipis. “Fen.” Fen menoleh. “Besok kita punya pekerjaan baru.” Fen mengibaskan ekornya. Alistair berjalan lagi. Tanpa menyadari bahwa pekerjaan sederhana itu akan menjadi pengalaman pertama baginya untuk memahami satu hal penting— tidak semua bahaya datang dalam bentuk monster.

End of Chapter 20