Chapter 19 of 46

Bab 19 — Satu Langkah Lebih Maju

798 words

Pagi datang seperti biasanya. Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar penginapan. Alistair membuka mata. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit. Kemudian ia bangun. Hari baru. Rutinitas yang sama. Ia mengenakan pakaiannya, mengambil pedang kayu, lalu membuka pintu. Fen sudah menunggunya. “Kau bahkan nggak pernah terlambat.” Fen mengibaskan ekornya. Alistair menghela napas. “Baiklah. Ayo.” Lapangan latihan Guild masih cukup sepi ketika mereka tiba. Aldren sudah berada di sana. “Pagi.” “Pagi.” Alistair berdiri di posisi awal. Aldren melemparkan pedang kayu kepadanya. “Mulai.” Alistair menggenggam pedangnya. Ia mengambil posisi. Kaki kiri sedikit di depan. Tubuh tidak terlalu condong. Tangan menggenggam pedang dengan kuat, tetapi tidak kaku. Aldren memperhatikannya. “Lebih baik.” Alistair tersenyum kecil. “Benarkah?” “Jangan senang dulu.” Aldren maju. Pedang kayunya bergerak. Tak! Alistair menahan. Tubuhnya terdorong mundur. Ia hampir kehilangan keseimbangan. Namun kali ini ia berhasil mempertahankan posisi. Aldren menyerang lagi. Tak! Alistair menangkis. Serangan ketiga datang dari arah berbeda. Alistair mencoba menghindar. Terlambat. Tok! Pedang kayu mengenai bahunya. “Au.” Aldren mundur. “Kenapa kau menghindar?” “Karena aku pikir serangannya akan ke kiri.” “Jangan berpikir terlalu jauh sebelum kau membaca gerakannya.” Alistair mengusap bahunya. “Jadi?” “Perhatikan bahu dan kaki.” Alistair mengangguk. Mereka mulai lagi. Kali ini Alistair memperhatikan lebih serius. Aldren bergerak. Bahu kanan sedikit turun. Kaki kirinya maju. Alistair menunggu. Pedang datang. Ia menangkis. Tak! Aldren mengubah arah. Alistair mundur. Serangan berikutnya hampir mengenainya. Namun ia berhasil menggeser tubuh. Pedang Aldren lewat di sampingnya. Alistair langsung membalas. Tak! Pedang kayunya mengenai lengan Aldren. Hening. Alistair sendiri terlihat terkejut. Aldren melihat lengannya. Kemudian menatap Alistair. “Lumayan.” Alistair tersenyum lebar. “Aku berhasil.” “Sekali.” “Tetap berhasil.” Aldren tertawa kecil. “Benar.” Di sisi lapangan, Fen menggoyangkan ekornya. Alistair menatapnya. “Kau lihat?” Fen hanya duduk. “Seharusnya kau menggonggong sedikit.” Fen memalingkan wajah. “...” Alistair menggeleng. Latihan dilanjutkan. Alistair masih sering terkena serangan. Namun sekarang ada perbedaan. Ia tidak lagi hanya bereaksi setelah serangan datang. Ia mulai memperhatikan. Gerakan kaki. Arah bahu. Posisi tubuh. Jarak. Ia masih jauh dari kemampuan seorang Hunter sungguhan. Tapi setidaknya ia mulai memahami dasar pertarungan. Setelah latihan selesai, Alistair duduk di bawah pohon. Tangannya terasa pegal. Fen datang dan duduk di sebelahnya. Alistair memberikan sedikit air. Fen meminumnya. “Kau juga capek?” Fen menatapnya. Kemudian menjilat hidungnya sendiri. Alistair tertawa. “Ya, aku juga.” Aldren datang membawa dua potong roti. Ia menyerahkan satu kepada Alistair. “Ambil.” Alistair menerimanya. “Terima kasih.” Mereka makan dalam diam. Beberapa saat kemudian Alistair bertanya, “Aldren.” “Hm?” “Menurutmu, berapa lama sampai aku bisa benar-benar menjadi Hunter?” Aldren tidak langsung menjawab. “Kenapa bertanya?” “Karena aku ingin tahu kapan aku bisa mengambil pekerjaan sendiri.” “Kau sudah mengambil beberapa pekerjaan sendiri.” “Maksudku pekerjaan yang lebih sulit.” Aldren memandangnya. “Kau ingin cepat dewasa?” Alistair terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia berkata, “Aku cuma nggak ingin selalu bergantung pada orang lain.” Aldren menghela napas. “Kau masih sepuluh tahun.” Alistair menunduk. “Aku tahu.” “Jangan terburu-buru menjadi seseorang yang belum waktunya kau jadi.” Alistair mengangkat kepala. Aldren melanjutkan, “Belajar bertarung. Belajar membaca keadaan. Belajar mengatur uangmu. Belajar memahami orang lain.” Ia menunjuk Fen. “Dan belajar mempercayai temanmu.” Fen mengangkat telinga. Alistair tersenyum. “Banyak juga.” “Karena menjadi Hunter bukan cuma soal pedang.” Alistair memandangi pedang kayu di tangannya. Ia mulai memahami maksud Aldren. Selama ini ia mengira menjadi kuat berarti bisa mengalahkan sesuatu. Sekarang ia mulai melihatnya berbeda. Kekuatan bukan hanya tentang seberapa keras ia bisa menyerang. Tapi juga tentang seberapa baik ia memahami apa yang ada di hadapannya. Sore harinya, Alistair mendapat satu pekerjaan kecil. Mencari tiga tanaman obat di dekat sungai. Ia membawa tas kecil dan berangkat bersama Fen. Pekerjaan itu seharusnya mudah. Namun setelah sampai di sungai, Alistair berhenti. Ia melihat tanah. Ada jejak kaki. Bukan jejak manusia. Alistair berjongkok. Fen langsung mengendus. Alistair tidak bergerak. Ia mengingat pelajaran Aldren. Jangan langsung bertindak. Perhatikan. Jejak itu cukup kecil. Ada tiga atau empat jejak yang menuju sungai. Tidak ada bekas cakaran. Tidak ada tanda perkelahian. Alistair melihat ke seberang. Beberapa semak bergerak tertiup angin. Ia menunggu. Beberapa detik. Tidak ada apa-apa. Fen akhirnya berjalan ke arah sungai. Alistair mengikutinya. Di dekat batu besar, mereka menemukan tanaman yang dicari. “Satu.” Alistair mengambilnya. Beberapa meter kemudian— “Dua.” Kemudian yang terakhir. “Tiga.” Ia memasukkannya ke dalam tas. Selesai. Alistair berdiri. Ia melihat kembali ke jejak tadi. Ia tidak tahu makhluk apa yang membuatnya. Tapi ia tidak perlu mengetahuinya. Tidak ada ancaman. Tidak ada alasan untuk mengejar. Ia hanya perlu menyelesaikan pekerjaannya dan kembali. Alistair tersenyum. “Dulu mungkin aku sudah mengejarnya.” Fen menatapnya. “Sekarang kita pulang.” Mereka berjalan meninggalkan sungai. Langkah Alistair terasa ringan. Hari ini tidak ada pertarungan. Tidak ada kemenangan besar. Namun ada satu hal yang berubah. Ia mulai tahu kapan harus menghunus pedang— dan kapan tidak perlu menghunusnya sama sekali. Bagi Alistair, itu mungkin hanya satu langkah kecil. Tapi satu langkah kecil tetap berarti. Karena jalan panjang selalu dimulai dari sana.

End of Chapter 19