Chapter 1 of 46

Bab 1 — Kota yang Tidak Dikenal

497 words

Setelah beberapa hari berjalan, Alistair akhirnya melihat sebuah kota besar di hadapannya. Tembok batu yang tinggi membentang jauh di sepanjang jalan. Di balik gerbangnya, suara orang-orang terdengar ramai. Alistair memperlambat langkah. Ia belum pernah melihat kota sebesar ini. “...Wah.” Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju gerbang. Belum sempat masuk, seorang penjaga mengangkat tangannya. “Hei, Nak. Tunggu sebentar.” Alistair berhenti. “Kau datang sendiri?” “Iya.” “Dari mana?” “Dari desa di selatan.” Penjaga itu mengangguk. “Terus mau ke Eldermere untuk apa?” “Cari kerja.” Penjaga itu memandangnya beberapa saat. “Kau tidak punya keluarga yang ikut?” Alistair terdiam sebentar. “Tidak.” Penjaga itu tampak sedikit ragu. “Begini, kau boleh masuk. Tapi kau masih kecil dan datang sendirian. Aku harus memastikan ada orang dewasa yang bisa bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu.” Alistair tidak tahu harus menjawab apa. Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang. “Aku bisa menjaminnya.” Alistair menoleh. Seorang pria berjalan mendekat. Pakaiannya sederhana dan sebuah tas tergantung di bahunya. Penjaga itu mengenalinya. “Kau?” Pria itu tersenyum kecil. “Kenapa wajahmu seperti tidak senang melihatku?” “Bukan begitu.” Penjaga itu menunjuk Alistair. “Anak ini datang sendirian.” Pria itu melirik Alistair. “Begitu?” “Bisa kau pastikan dia aman?” “Bisa.” Penjaga itu menghela napas. “Baiklah. Silakan masuk.” Pria itu mengangguk, lalu berjalan melewati gerbang. Alistair mengikutinya. --- Begitu memasuki kota, Alistair langsung terdiam. Ia melihat toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan, pedagang yang menawarkan barang, gerobak yang berlalu-lalang, dan orang-orang dari berbagai tempat. Matanya bergerak ke sana kemari. Pria itu meliriknya. “Pertama kali ke kota sebesar ini?” Alistair mengangguk. Pria itu tersenyum kecil. “Kelihatan.” Alistair menatapnya. “Kelihatan?” “Kau dari tadi melihat ke mana-mana.” Alistair kembali melihat jalan di depannya. “Banyak yang belum pernah kulihat.” Pria itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan terus berjalan. Beberapa saat kemudian, Alistair bertanya, “Paman.” “Hm?” “Di sini ada penginapan?” “Ada.” “Yang dekat?” “Aku tahu satu.” Alistair mengangguk. “Boleh ke sana?” “Tentu.” --- Mereka akhirnya sampai di sebuah penginapan. Begitu masuk, seorang wanita di balik meja menyambut mereka. “Selamat sore. Mau menyewa kamar?” “Iya,” jawab Alistair. “Berapa malam?” Alistair menoleh kepada pria di sampingnya. “Satu malam dulu,” jawab pria itu. Wanita itu menyebutkan harga kamar. Alistair memasukkan tangannya ke kantong. Ia mengeluarkan beberapa keping Bronze dan satu keping Silver. Alistair menghitungnya perlahan. Satu... Dua... Ia berhenti. Ia menatap uang di tangannya, lalu menatap wanita di depannya. “...Kurang?” Wanita itu tersenyum. “Sedikit.” Alistair terlihat bingung. Pria di sampingnya kemudian membantu menghitung uang tersebut. “Yang ini cukup.” Ia menyerahkan beberapa keping kepada pemilik penginapan. “Terima kasih,” kata wanita itu sambil memberikan sebuah kunci. Alistair menerima kunci tersebut. Ia menatapnya sebentar. “Kamar nomor berapa?” “Nomor enam. Lantai dua.” “Oh.” Alistair mengangguk. Ia kemudian menoleh kepada pria tadi. “Terima kasih, Paman.” Pria itu tersenyum. “Sama-sama.” Alistair menaiki tangga. Sesampainya di kamar, ia meletakkan pedang tua milik ayahnya di samping tempat tidur dan menaruh jubahnya di kursi. Tubuhnya terasa sangat lelah. Ia bahkan belum sempat memikirkan apa yang akan dilakukan besok ketika tubuhnya sudah lebih dulu menyerah. Alistair berbaring. Matanya perlahan terpejam. Malam pertamanya di Eldermere pun berakhir dengan tenang.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter