Chapter 18 of 46

Bab 18 — Harga Sebuah Keputusan

639 words

Alistair tiba kembali di Eldermere menjelang sore. Perjalanan pulang terasa lebih singkat dibandingkan perjalanan berangkat. Mungkin karena ia sudah mengetahui jalannya. Atau mungkin karena sekarang ia tidak lagi merasa asing dengan perjalanan seperti itu. Fen berjalan di sampingnya. Sesekali hidungnya bergerak, membaca berbagai bau yang terbawa angin. Alistair sendiri lebih banyak memperhatikan jalan. Setiap kali melihat bekas roda, ia mencoba menebak arah kendaraan. Setiap kali menemukan ranting patah, ia mencoba memperkirakan kapan ranting itu terinjak. Tidak selalu benar. Bahkan sering salah. Tapi ia terus mencoba. Begitu sampai di Guild, Alistair langsung menyerahkan laporan pekerjaannya. Petugas memeriksa dokumen. “Pengiriman berhasil?” “Berhasil.” “Tidak ada masalah?” Alistair terdiam sebentar. “Sedikit.” Petugas itu mengangkat kepala. “Apa?” “Ada orang yang mengalami kecelakaan di perjalanan.” Ia menceritakan kejadian di jalan. Petugas mendengarkan sampai selesai, kemudian mencatat sesuatu. “Baik. Akan kami masukkan dalam laporan perjalanan.” Alistair mengangguk. Ia kemudian menerima pembayaran. Sebelum pergi, ia bertanya, “Kalau kejadian seperti itu terjadi lagi... aku harus membantu?” Petugas itu menatapnya. “Kalau kau mampu membantu tanpa membahayakan dirimu sendiri, tentu.” Alistair mengangguk. “Kalau tidak mampu?” “Cari bantuan.” Jawaban itu sederhana. Tapi Alistair mengingatnya. Ia menemukan Aldren di ruang belakang. “Aku sudah kembali.” Aldren menoleh. “Bagaimana?” “Pekerjaan selesai.” “Dan?” Alistair menjelaskan semuanya. Tentang gerobak. Tentang pria yang terjepit. Tentang jalan. Tentang Fen. Aldren mendengarkan tanpa menyela. Setelah selesai, Aldren bertanya, “Kau mengambil keputusan sendiri?” “Ya.” “Kenapa?” “Karena aku pikir aku bisa membantu.” Aldren mengangguk. “Dan kalau ternyata kau tidak bisa?” “Aku akan mencari bantuan.” “Bagus.” Alistair sedikit heran. “Aku kira kau akan memarahiku.” “Untuk apa?” “Karena aku berhenti dari pekerjaan.” Aldren menggeleng. “Kau tidak meninggalkan pekerjaanmu. Kau menyelesaikannya sambil membantu orang lain.” Ia kemudian menatap Alistair lebih serius. “Tapi ingat satu hal.” “Apa?” “Jangan menganggap keberhasilan hari ini sebagai bukti bahwa keputusanmu selalu benar.” Alistair terdiam. “Besok bisa berbeda.” Aldren berdiri. “Hunter yang baik bukan orang yang selalu mengambil keputusan benar.” Ia berjalan melewati Alistair. “Hunter yang baik tahu bagaimana menghadapi akibat dari keputusan yang dia ambil.” Alistair menatap punggungnya. Kalimat itu kembali ia simpan dalam pikirannya. Malam tiba. Alistair duduk di kamarnya. Di depannya ada beberapa keping uang. Ia menghitung semuanya. Kemudian mengambil selembar kertas. Ia mulai menulis. Penginapan. Makanan. Makanan Fen. Peralatan. Tabungan. Ia berhenti. Memandangi tulisan terakhir. Tabungan. Alistair membuka kantong uangnya. Jumlahnya belum banyak. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan harga peralatan Hunter yang pernah ia lihat di Guild. Namun ia tetap memisahkan beberapa keping. Ia tidak akan menggunakannya. “Kalau terus seperti ini...” Ia menghitung lagi. “Mungkin beberapa bulan lagi aku bisa membeli pedang baru.” Tatapannya kemudian jatuh pada pedang milik ayahnya yang berada di samping tempat tidur. Pedang itu sudah tua. Ukuran dan beratnya juga belum cocok sepenuhnya dengan tubuhnya. Aldren bahkan sudah melarangnya menggunakan pedang tersebut untuk latihan. Alistair mendekatinya. Tangannya menyentuh gagang pedang. Ia tidak pernah berniat membuangnya. Tidak mungkin. Pedang itu adalah peninggalan ayahnya. Tapi ia mulai memahami sesuatu. Pedang ayahnya bukan berarti harus menjadi satu-satunya pedang yang akan ia gunakan sepanjang hidup. Mungkin suatu hari nanti ia membutuhkan pedangnya sendiri. Bukan untuk menggantikan pedang ayahnya. Melainkan untuk membuat jalannya sendiri. Alistair kembali duduk. Ia menyimpan uangnya. Kemudian berbaring. Fen melompat ke lantai dekat tempat tidurnya. Alistair memandanginya. “Kau tidur di situ lagi?” Fen memejamkan mata. Alistair tersenyum kecil. “Ya sudah.” Ruangan menjadi sunyi. Namun sebelum benar-benar tertidur, Alistair melihat lonceng kecil yang tergantung di gagang pedangnya. Lonceng itu bergerak sedikit. Tin... Suara kecil memenuhi ruangan. Alistair memejamkan mata. Untuk sesaat, ia kembali teringat rumah lamanya. Ibunya. Ayahnya. Masa lalu yang tidak bisa ia bawa kembali. Namun kali ini rasa sakit itu tidak membuatnya ingin berhenti. Ia hanya menarik napas panjang. Kemudian berbisik pelan, “Aku baik-baik saja, Bu.” Fen membuka satu mata. Alistair tersenyum tipis. “Besok aku latihan lagi.” Ia menutup matanya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Alistair tidur tanpa merasa bahwa hari esok adalah sesuatu yang harus ia takuti.

End of Chapter 18