Chapter 17 of 46

Bab 17 — Jalan yang Lebih Jauh

903 words

Pagi itu, Alistair berdiri cukup lama di depan papan pekerjaan. Matanya berpindah dari satu kertas ke kertas lainnya. Biasanya ia mengambil pekerjaan yang berada di sekitar Eldermere. Mengantar barang. Mencari tanaman. Membantu pedagang. Pekerjaan-pekerjaan sederhana yang tidak membutuhkan kemampuan bertarung. Namun hari ini ada satu pekerjaan yang menarik perhatiannya. Pengiriman obat ke Desa Riven. Desa itu berada di luar jalur utama, beberapa jam perjalanan dari Eldermere. Bayarannya lebih besar daripada pekerjaan yang biasa ia ambil. Alistair membaca keterangannya sekali lagi. Tidak ada laporan monster. Tidak ada permintaan pengawalan. Hanya pengiriman. Ia mengambil kertas tersebut. “Yang ini.” Petugas Guild menerima kertas itu. Tatapannya berpindah dari kertas ke Alistair. “Desa Riven?” Alistair mengangguk. “Kau pernah ke sana?” “Belum.” Petugas itu terdiam sebentar. “Kalau begitu, tanyakan dulu pada Aldren.” Alistair menoleh. Aldren sedang duduk di meja bagian belakang. Ia langsung berjalan ke sana. “Aldren.” “Hm?” “Aku ingin mengambil pekerjaan ini.” Alistair menyerahkan kertas tersebut. Aldren membacanya. Kemudian ia melihat Alistair. “Kenapa?” “Bayarannya lebih besar.” Aldren mengangkat alis. “Jujur.” Alistair mengangguk. “Tapi bukan cuma itu.” “Lalu?” “Perjalanannya lebih jauh.” Alistair menunjuk peta kecil pada kertas. “Aku ingin mencoba perjalanan yang lebih jauh.” Aldren tidak langsung menjawab. Ia menatap Alistair beberapa saat. Kemudian melipat kertas tersebut. “Baik.” Alistair sedikit terkejut. “Boleh?” “Boleh.” Aldren menunjuk Fen. “Tapi ada beberapa syarat.” Alistair menunggu. “Pertama, kau tidak mengambil jalan pintas.” “Baik.” “Kedua, kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan, kau kembali.” “Baik.” “Ketiga, kalau ada monster yang jelas-jelas berada di luar kemampuanmu, jangan melawannya.” Alistair mengangguk. “Dan keempat?” Aldren menatap Fen. “Jangan sok berani hanya karena ada teman di sampingmu.” Fen mengangkat kepala. Alistair tersenyum kecil. “Dia memang bukan alasan untuk mencari masalah.” Aldren mengangguk puas. “Bagus.” Perjalanan dimulai setelah matahari naik cukup tinggi. Alistair membawa tas berisi obat. Fen berjalan di sampingnya. Jalan menuju Desa Riven cukup tenang. Awalnya. Setelah melewati jalan utama, pepohonan mulai semakin banyak. Alistair sesekali melihat peta. Ia memastikan arah sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa kali ia berhenti. Bukan karena lelah. Melainkan karena ia mulai terbiasa memperhatikan sekeliling. Suara burung. Jejak kaki. Ranting yang patah. Tanah yang basah. Hal-hal yang dulu tidak pernah ia pikirkan. Fen tiba-tiba berhenti. Alistair ikut berhenti. “Ada apa?” Fen menundukkan kepala. Hidungnya bergerak. Kemudian ia berjalan ke sisi jalan. Alistair mengikutinya. Di tanah terdapat beberapa bekas roda kereta. Alistair memperhatikan. “Kereta?” Fen mengendus bekas roda tersebut. Alistair melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa. Ia kemudian memperhatikan arah jejak itu. “Menuju desa.” Fen kembali berjalan. Alistair mengikuti. Beberapa menit kemudian mereka menemukan sesuatu di pinggir jalan. Sebuah gerobak kecil. Gerobak itu terparkir miring. Tidak ada orang di sekitarnya. Alistair mendekat dengan hati-hati. “Permisi?” Tidak ada jawaban. Ia melihat bagian belakang gerobak. Beberapa peti kosong berserakan. Fen menggeram pelan. Alistair langsung berhenti. Tangannya mendekati pedang. Ia tidak menariknya. Ia hanya bersiap. “Tenang.” Fen menatap semak-semak di sebelah jalan. Alistair mengikuti arah pandangannya. Tidak ada gerakan. Beberapa detik berlalu. Kemudian terdengar suara. “...Tolong.” Alistair langsung menoleh. Suara itu berasal dari belakang gerobak. Ia berjalan memutari sisi kendaraan. Seorang pria terbaring di tanah. Pakaiannya kotor. Tangannya memegang kaki. Alistair segera berjongkok. “Bapak tidak apa-apa?” Pria itu menggeleng. “Kakiku... terjepit.” Alistair melihat sebuah bagian gerobak yang rusak menekan kakinya. Ia mencoba mengangkatnya. Tidak bergerak. “Berat.” Fen mendekat. Alistair berpikir cepat. Ia tidak cukup kuat untuk mengangkat bagian gerobak itu sendirian. Kemudian ia melihat sebuah batang kayu panjang di dekatnya. Ia mengambilnya. “Coba kita gunakan ini.” Alistair menyelipkan batang kayu di bawah bagian gerobak. Ia menekan dengan seluruh berat tubuhnya. Kayu itu bergerak sedikit. “Sekarang!” Pria itu menarik kakinya. Fen ikut menggigit tali yang menjuntai dan menariknya. Gerobak bergeser. Pria itu berhasil keluar. Ia langsung duduk sambil menarik napas lega. “Terima kasih...” Alistair duduk di tanah. Napasnya berat. Fen menjulurkan lidah. “Untung tidak terlambat.” Pria itu melihat tas yang dibawa Alistair. “Obat?” Alistair mengangguk. “Aku mengantar ke Desa Riven.” Pria itu tersenyum. “Aku juga dari sana.” Alistair menatapnya. “Jalannya aman?” Pria itu mengangguk. “Sejauh ini aman. Gerobakku saja yang bermasalah.” Alistair menghela napas lega. Ia sempat mengira sesuatu yang lebih buruk terjadi. Setelah memastikan pria itu bisa berjalan, Alistair membantu memperbaiki posisi gerobak sebisanya. Tidak sempurna. Tapi cukup agar bisa ditarik kembali. Mereka kemudian berjalan bersama menuju desa. Desa Riven tidak terlalu besar. Rumah-rumah kayu berdiri di sepanjang jalan. Beberapa anak bermain di dekat sumur. Orang-orang sedang membawa hasil panen. Begitu Alistair menyerahkan obat kepada orang yang bertanggung jawab, pekerjaannya selesai. Ia menerima pembayaran. Beberapa keping Tembaga. Tidak sebesar yang ia bayangkan. Namun ia tidak kecewa. Karena perjalanan itu memberinya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pengalaman. Saat hendak kembali, pria yang tadi ia bantu datang menghampirinya. “Anak muda.” Alistair menoleh. “Ya?” “Terima kasih sekali lagi.” Alistair tersenyum kecil. “Sama-sama.” Pria itu melihat Fen. “Temanmu pintar.” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tertawa kecil. “Dia memang cukup pintar.” Fen menatap Alistair. Seolah tidak terima hanya disebut cukup. Alistair mengangkat tangan. “Ya, ya. Pintar.” Mereka kemudian meninggalkan Desa Riven. Dalam perjalanan pulang, Alistair berjalan lebih santai. Ia menatap jalan panjang di depannya. Dulu, perjalanan jauh hanya berarti meninggalkan sesuatu. Sekarang— perjalanan jauh bisa berarti menemukan sesuatu. Orang baru. Tempat baru. Pengalaman baru. Dan mungkin... alasan baru untuk terus berjalan. Alistair menatap Fen yang berjalan di sampingnya. “Fen.” Fen menoleh. “Menurutmu kita bakal pergi sejauh apa?” Fen hanya mengibaskan ekornya. Alistair tersenyum. “Ya. Aku juga nggak tahu.” Mereka terus berjalan menuju Eldermere. Dua bayangan kecil bergerak di bawah cahaya sore. Dan untuk pertama kalinya, Alistair tidak merasa takut pada jalan yang panjang di hadapannya.

End of Chapter 17