Chapter 16 of 46

Bab 16 — Hal Kecil yang Berubah

771 words

Beberapa hari berlalu sejak latihan membaca jejak bersama Aldren. Rutinitas Alistair mulai terbentuk. Bangun pagi. Latihan. Mengerjakan pekerjaan sederhana dari Guild. Makan. Kembali ke penginapan. Lalu mengulang semuanya keesokan harinya. Tidak ada yang istimewa. Namun justru karena itulah Alistair mulai menyadari sesuatu. Hidupnya di Eldermere tidak lagi terasa seperti tempat persinggahan. Ia mulai merasa seperti benar-benar tinggal di sana. Pagi itu, Alistair keluar dari penginapan sambil membawa pedang kayunya. Fen sudah menunggunya di depan pintu. Alistair berhenti. “Kau selalu bangun lebih dulu?” Fen mengibaskan ekornya. Alistair menghela napas. “Ya sudah.” Mereka berjalan menuju Guild. Sesampainya di sana, Alistair langsung menuju papan pekerjaan. Beberapa kertas sudah diambil. Ia membaca satu per satu. Pengiriman barang. Mencari tanaman obat. Membersihkan gudang. Pengawalan perjalanan pendek. Alistair mengambil sebuah kertas. Pekerjaan sederhana. Mengantar beberapa bahan makanan ke sebuah penginapan kecil di sisi utara kota. Tidak ada monster. Tidak ada perjalanan jauh. Bayarannya juga tidak besar. Tapi Alistair tetap mengambilnya. Ia membawa kertas itu ke meja administrasi. “Ini.” Petugas Guild memeriksanya. “Sendirian?” Alistair mengangguk. Petugas itu melihat Fen. “Dengan dia?” Alistair kembali mengangguk. “Baik. Jangan sampai barangnya rusak.” Alistair menerima barang yang harus dikirim. “Terima kasih.” Ia pergi. Pekerjaan itu selesai kurang dari satu jam. Tidak ada masalah. Pemilik penginapan menerima barang, memeriksa jumlahnya, lalu membayar sesuai kesepakatan. Alistair memasukkan uang itu ke kantongnya. Ia kemudian menghitungnya. Beberapa keping Tembaga. Tidak banyak. Namun Alistair tersenyum kecil. Bukan karena jumlahnya. Melainkan karena uang itu ia dapatkan sendiri. Bukan pemberian. Bukan sisa uang lama. Hasil dari pekerjaannya. Fen duduk di samping kakinya. Alistair menatapnya. “Kita makan sesuatu?” Telinga Fen langsung berdiri. Alistair tertawa kecil. “Dasar.” Mereka berjalan menuju pasar. Alistair membeli makanan sederhana untuk dirinya. Kemudian ia membeli sedikit daging untuk Fen. Saat mereka duduk di pinggir jalan, Alistair membuka kantong uangnya. Ia mulai menghitung. “Yang ini untuk makan.” Ia memisahkan beberapa keping. “Yang ini untuk penginapan.” Beberapa keping lainnya dipisahkan. “Dan sisanya...” Ia melihat uang tersebut. “Disimpan.” Fen sedang sibuk menghabiskan makanannya. Alistair tersenyum. “Kalau terus begini, mungkin kita bisa punya tabungan.” Fen tidak peduli. Ia terus makan. Alistair menggeleng. “Kau cuma peduli makanan.” Fen berhenti sebentar. Kemudian menatap Alistair. “...” “Kenapa?” Fen kembali makan. “Ya, sudah.” Sore harinya, Alistair kembali ke Guild. Aldren sedang berbicara dengan seorang Hunter ketika Alistair datang. Aldren meliriknya. “Selesai?” “Sudah.” “Ada masalah?” “Tidak.” “Barangnya lengkap?” “Lengkap.” Aldren mengangguk. “Bagus.” Alistair berdiri sebentar. Kemudian ia berkata, “Aldren.” “Hm?” “Kalau aku terus mengambil pekerjaan seperti ini... kapan aku bisa mulai mengambil pekerjaan yang lebih sulit?” Aldren menatapnya. “Kau ingin cepat kuat?” Alistair mengangguk. “Bukan.” Jawaban itu membuat Aldren sedikit terdiam. Alistair melanjutkan, “Aku cuma ingin bisa menjaga diriku sendiri.” Aldren memandangnya beberapa detik. “Alistair.” “Ya?” “Menjadi kuat bukan berarti kau tidak membutuhkan orang lain.” Alistair diam. Aldren kemudian berdiri. “Dan bisa mengurus dirimu sendiri bukan berarti kau harus melakukan semuanya sendirian.” Alistair menatapnya. Kalimat itu terasa sederhana. Namun entah kenapa, ia mengingat sesuatu. Suara ibunya. Sebuah tangan yang pernah mengusap kepalanya. Sebuah lonceng kecil. Alistair menggenggam bagian gagang pedangnya. Kemudian ia tersenyum tipis. “Aku tahu.” Aldren mengangguk. “Bagus.” Ia mengambil pedang kayu dari rak. “Sekarang latihan.” Alistair menghela napas. “Sekarang?” “Justru sekarang.” Fen langsung mundur beberapa langkah. Alistair menatapnya. “Jangan kabur.” Fen duduk. Seolah mengatakan bahwa urusan manusia bukan urusannya. Alistair tertawa kecil. “Pengkhianat.” Latihan sore itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Alistair harus mengulang gerakan dasar. Langkah. Putaran tubuh. Ayunan. Menahan serangan. Kembali ke posisi awal. Lagi. Dan lagi. Tangannya mulai terasa sakit. Kakinya berat. Napasnya semakin tidak teratur. Namun kali ini Alistair tidak berhenti. Satu ayunan. Dua. Tiga. Kemudian— Tak! Pedang kayunya mengenai pedang Aldren dengan lebih tepat dibandingkan latihan sebelumnya. Aldren mengangkat alis. “Lumayan.” Alistair terengah. “Cuma lumayan?” “Kalau kau mau pujian, kalahkan aku dulu.” Alistair menatapnya. “Kalau begitu, aku akan kalahkan.” Aldren tersenyum. “Nah.” Pedang mereka kembali bertemu. Tak! Alistair mundur. Kemudian maju. Ayunannya masih kasar. Gerakannya masih mudah dibaca. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak lagi asal menyerang. Ia mulai berpikir. Kapan harus maju. Kapan harus mundur. Kapan harus menunggu. Dan untuk pertama kalinya— Alistair berhasil membuat Aldren mundur satu langkah. Hanya satu langkah. Tapi cukup. Aldren melihatnya. “Bagus.” Alistair tersenyum. Kali ini ia tidak membutuhkan pujian lebih banyak. Karena ia sendiri tahu. Ia memang sedikit lebih baik daripada kemarin. Di samping arena latihan, Fen memperhatikan mereka. Ekor kecilnya bergerak pelan. Dan tanpa Alistair sadari, kehidupan barunya di Eldermere terus tumbuh. Sedikit demi sedikit. Bukan melalui kemenangan besar. Bukan melalui pertarungan melawan monster kuat. Melainkan melalui pekerjaan kecil, latihan sederhana, beberapa keping uang, dan seekor makhluk yang selalu menunggunya pulang. Untuk seorang anak yang sebelumnya hanya tahu bagaimana caranya bertahan hidup— hal-hal kecil itu mulai terasa seperti kehidupan.

End of Chapter 16