Pagi di Eldermere terasa lebih dingin dari biasanya.
Alistair duduk di meja kecil dalam kamarnya sambil memandangi sepotong kain gelap yang ia temukan kemarin.
Kain itu tidak besar.
Hanya sebesar telapak tangannya.
Warnanya hitam kusam, dengan sebuah simbol yang dijahit menggunakan benang berwarna abu-abu keperakan.
Alistair sudah memandanginya cukup lama.
Namun, semakin lama ia melihatnya, semakin sedikit hal yang bisa ia pahami.
“Bukan lambang Guild...”
Jarinya menyentuh permukaan kain.
“Dan bukan lambang pedagang.”
Fen duduk di lantai dekat pintu.
Telinganya bergerak ketika Alistair berbicara.
Alistair meliriknya.
“Kau juga nggak tahu?”
Fen hanya memiringkan kepala.
Alistair menghela napas kecil.
Ia memasukkan kain itu ke dalam kantong kecil yang biasa ia gunakan untuk menyimpan barang-barang sederhana.
“Kalau begitu, kita tanyakan pada Aldren.”
Fen berdiri.
Mereka meninggalkan penginapan.
Hunter Guild sudah cukup ramai ketika Alistair tiba.
Beberapa Hunter sedang mengambil pekerjaan dari papan tugas. Sebagian lainnya duduk sambil makan sarapan, sementara beberapa orang membawa peralatan yang tampak baru saja digunakan.
Alistair langsung melihat Aldren di dekat meja administrasi.
“Aldren.”
Pria itu menoleh.
“Oh, kau.”
Tatapannya kemudian turun kepada Fen.
“Dan temanmu.”
Fen menggeram kecil.
Aldren terkekeh.
“Masih belum terbiasa dipanggil begitu?”
Alistair mengabaikannya.
Ia mengambil kain dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku menemukan ini kemarin.”
Senyum Aldren perlahan menghilang.
Ia mengambil kain tersebut.
Tidak langsung berbicara.
Jarinya membalik kain itu beberapa kali.
“Di mana kau menemukannya?”
“Di hutan sebelah timur.”
“Bagian mana?”
“Dekat sungai kecil.”
Aldren mengangkat pandangan.
“Kau menyentuhnya?”
“Ya.”
“Selain kau dan Fen, ada orang lain di sana?”
Alistair berpikir sejenak.
“Tidak tahu.”
Aldren kembali melihat kain.
Fen tiba-tiba mendekat.
Hidungnya bergerak pelan.
Ia mencium kain itu.
Kemudian telinganya berdiri.
Alistair memperhatikannya.
“Kenapa?”
Fen tidak menjawab.
Tentu saja.
Ia hanya mundur sedikit dan menatap kain itu dengan tatapan waspada.
Aldren melihat reaksi tersebut.
“Dia mengenali baunya?”
Alistair mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Aldren diam beberapa saat.
Kemudian ia menyerahkan kain itu kembali.
“Aku tidak mengenal lambang ini.”
Alistair sedikit terkejut.
“Benarkah?”
“Kalau kau berharap aku mengetahui semua lambang di dunia, kau terlalu banyak berharap.”
Alistair menyimpan kembali kain tersebut.
“Jadi ini nggak penting?”
“Aku tidak bilang begitu.”
Aldren bersandar pada kursinya.
“Tidak mengenalinya bukan berarti lambang itu tidak penting. Bisa saja itu hanya tanda kelompok kecil. Bisa juga lambang pribadi seseorang.”
“Terus?”
“Terus jangan cari masalah hanya karena penasaran.”
Alistair terdiam.
Aldren menatapnya.
“Kau masih belajar.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Kalau menemukan sesuatu yang tidak kau pahami, jangan langsung menyentuh, mengejar, atau mencoba mencari tahu sendirian.”
Alistair menunduk.
“Baik.”
“Bagus.”
Aldren kemudian mengambil sebuah kertas dari meja.
“Tapi ada sesuatu yang bisa kau lakukan.”
“Apa?”
“Belajar membaca jejak.”
Alistair mengangkat kepala.
Aldren menunjukkan kertas tersebut.
“Hunter bukan cuma soal bertarung. Kalau kau ingin suatu hari pergi sendirian, kemampuan membaca lingkungan jauh lebih berguna daripada sekadar mengayunkan pedang.”
Alistair memperhatikan tulisan di kertas itu.
“Jejak kaki?”
“Jejak kaki. Bekas rumput. Tanah yang berubah. Ranting patah. Bau. Bahkan suara.”
Aldren menunjuk Fen.
“Dia sudah lebih bagus darimu dalam beberapa hal.”
Fen mengangkat kepala.
Alistair menatapnya.
“Jangan bangga dulu.”
Fen mengibaskan ekornya.
Aldren tertawa kecil.
“Besok kita keluar lagi.”
“Untuk berburu?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Belajar.”
Keesokan paginya, Alistair dan Aldren meninggalkan Eldermere.
Fen ikut bersama mereka.
Kali ini mereka tidak membawa senjata sungguhan.
Alistair hanya membawa pedang kayunya.
Mereka berjalan menuju wilayah hutan yang lebih dangkal.
Aldren berhenti di depan sebuah jalan tanah.
“Sekarang lihat.”
Alistair memperhatikan tanah.
Tidak ada apa-apa.
“Tidak ada.”
Aldren menunjuk ke tanah.
“Coba lagi.”
Alistair berjongkok.
Ia melihat beberapa daun kering.
Tanah.
Rumput.
Sebuah ranting kecil.
Tidak ada yang aneh.
Ia menggeleng.
“Aku nggak tahu.”
“Bagus.”
Alistair menoleh.
“Bagus?”
“Karena kau mengaku tidak tahu.”
Aldren menunjuk tanah.
“Lihat bekas ini.”
Alistair mendekat.
Ada bagian tanah yang sedikit lebih dalam.
“Jejak kaki?”
“Benar.”
“Manusia?”
“Bukan.”
Alistair memperhatikan bentuknya.
Empat bagian kecil terlihat samar di tanah.
“Serigala?”
“Hampir.”
Aldren berdiri.
“Anjing liar.”
Alistair mengangguk.
“Bedanya?”
“Ukuran dan pola langkah.”
Aldren berjalan beberapa langkah.
“Kalau kau cuma melihat satu jejak, kau akan mudah salah.”
Ia menunjuk beberapa meter di depan.
“Lihat semuanya.”
Alistair mengikuti.
Ada beberapa jejak yang terlihat jelas setelah diperhatikan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Beberapa jejak mengarah ke sungai.
Namun ada pula yang berbelok ke arah lain.
“Yang ini berbeda.”
Aldren tersenyum tipis.
“Bagus.”
Alistair berjongkok lagi.
“Yang satu menuju sungai. Yang lain ke arah bukit.”
“Kenapa?”
Alistair diam.
Ia melihat sekeliling.
Kemudian melihat Fen.
Fen sedang mengendus tanah.
“Karena ada dua?”
Aldren mengangguk.
“Benar.”
Alistair mulai memperhatikan lebih serius.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Hutan yang selama ini terlihat seperti kumpulan pohon ternyata memiliki banyak informasi.
Hanya saja ia tidak tahu cara membacanya.
“Selama ini aku cuma melihat jalannya.”
Aldren mengangguk.
“Dan sekarang?”
Alistair melihat kembali ke hutan.
“Sekarang aku mencoba melihat apa yang terjadi di jalan itu.”
Aldren tersenyum.
“Itu baru cara berpikir seorang Hunter.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak ada monster.
Tidak ada pertarungan.
Tidak ada bahaya besar.
Hanya latihan sederhana.
Namun bagi Alistair, perjalanan itu terasa berbeda.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Daun yang terinjak.
Ranting yang patah.
Bekas cakaran.
Arah angin.
Bahkan perubahan suara burung.
Fen beberapa kali berhenti sebelum Alistair menyadari sesuatu.
Sesekali Alistair mengikuti arah Fen.
Sesekali justru Alistair yang menemukan sesuatu lebih dulu.
Hubungan mereka perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Tidak ada perintah.
Tidak ada aba-aba.
Mereka hanya mulai memahami gerakan satu sama lain.
Saat matahari mulai condong ke barat, Aldren memutuskan untuk kembali.
Alistair berjalan di samping Fen.
Ia menatap hutan untuk terakhir kalinya.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Krek.
Alistair berhenti.
Fen juga berhenti.
Mereka berdua menoleh ke arah yang sama.
Semak-semak bergerak.
Alistair perlahan menggenggam pedang kayunya.
Aldren tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian—
Seekor kelinci keluar dari balik semak.
Alistair menghela napas.
Fen menatap kelinci itu.
Kelinci menatap Fen.
Lalu melompat pergi.
Alistair memasukkan kembali pedang kayunya.
“Kirain apa.”
Aldren tertawa.
“Itu juga bagian dari latihan.”
“Menakuti diri sendiri?”
“Belajar membedakan ancaman dan bukan ancaman.”
Alistair terdiam.
Kalimat itu mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu.
Serigala.
Growl.
Pedang kayu.
Ketakutan.
Ia menatap Fen.
Fen berjalan kembali di sampingnya.
Alistair tersenyum tipis.
“Mungkin aku masih harus banyak belajar.”
Aldren berjalan beberapa langkah di depan.
“Semua orang juga begitu.”
Alistair menatap punggung Aldren.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumahnya, ia tidak merasa terburu-buru untuk menjadi kuat.
Ia hanya ingin menjadi sedikit lebih baik daripada dirinya yang kemarin.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Dan untuk saat ini—
Itu sudah cukup.