Chapter 14 of 46

Chapter 14 — Tanda di Tengah Jalan

987 words

Pagi berikutnya datang lebih cepat dari yang Alistair kira. Ia baru saja membuka pintu penginapan ketika Fen sudah berdiri di depannya. “Pagi lagi.” Fen mengibaskan ekornya. “Kau benar-benar tidak pernah tidur, ya?” Fen hanya menatapnya. Alistair menghela napas kecil lalu berjalan menuju Hunter Guild. Hari itu ia tidak memiliki pekerjaan khusus. Aldren mengatakan bahwa ia boleh memilih pekerjaan sederhana dari papan selama tidak mengambil sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Alistair berdiri cukup lama di depan papan. Matanya berpindah dari satu kertas ke kertas lainnya. Mengantar surat. Mengumpulkan tanaman. Membantu membawa barang. Mencari seseorang yang tersesat. Kemudian ia menemukan satu permintaan yang cukup sederhana. Mencari tanaman obat di pinggiran hutan. Hadiah: 25 Tembaga. Alistair mengambil kertas itu. “Yang ini.” Aldren yang sedang memeriksa beberapa dokumen menoleh. “Tanaman obat?” “Iya.” “Kenapa?” “Tidak perlu melawan monster.” Aldren tertawa kecil. “Setidaknya kau mulai berpikir.” Alistair memasukkan kertas itu ke dalam tas kecilnya. “Aku pergi sekarang.” “Jangan terlalu jauh.” “Aku tahu.” “Dan kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan?” Alistair menatap Fen. “Jangan langsung mendekat.” Aldren mengangguk. “Bagus.” Pinggiran hutan Eldermere tidak terlalu jauh. Alistair berjalan melewati jalan tanah yang dikelilingi pepohonan rendah. Udara di sana jauh lebih segar dibandingkan kota. Fen berjalan di sampingnya. Sesekali hidungnya bergerak. Alistair mulai memperhatikan kebiasaan itu. Setiap kali Fen berhenti dan mengendus udara, biasanya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. “Bau apa?” Fen tidak menjawab. Alistair tersenyum kecil. “Lupa. Kau memang tidak bisa bicara.” Fen menoleh seolah tersinggung. “Jangan marah.” Mereka terus berjalan. Tidak lama kemudian, Fen tiba-tiba berhenti. Alistair ikut berhenti. Telinga Fen berdiri. Kali ini bukan sekadar mencium sesuatu. Ia mendengar sesuatu. Alistair menurunkan tubuhnya sedikit. “Ada apa?” Fen menatap ke arah semak. Alistair ikut melihat. Tidak ada apa-apa. Ia menunggu. Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara. Krakk. Ranting patah. Alistair refleks menyentuh gagang pedangnya. Fen bergerak sedikit ke depan. Alistair segera menahan dirinya. Ia teringat pelajaran Aldren. Jangan menghunus pedang sebelum memahami apa yang dihadapi. “Pelan.” Fen berhenti. Alistair memperhatikan semak itu. Suara berikutnya terdengar. Krek. Kemudian sesuatu keluar. Seekor rusa kecil. Alistair terdiam. Rusa itu menatap mereka beberapa detik sebelum berlari menjauh. Alistair menghela napas. “Cuma rusa.” Fen masih menatap arah kepergian rusa tersebut. “Kenapa kau masih melihat ke sana?” Fen tidak bergerak. Alistair mulai merasa ada yang aneh. Bukan pada rusa. Pada sesuatu di baliknya. Ia berjongkok dan melihat tanah. Ada beberapa jejak kaki. Jejak rusa. Tapi ada jejak lain di sampingnya. Lebih besar. Lebih dalam. Alistair menyentuh salah satunya. “Ini bukan rusa.” Fen mendekat. Alistair melihat sekeliling. “Monster?” Fen mengeluarkan suara rendah. Kali ini Alistair tidak mengambil pedang. Ia justru mundur satu langkah. “Kita tidak tahu.” Fen menatapnya. Alistair menunjuk jalan yang mereka lalui. “Kita ambil tanaman di tempat lain.” Fen mengikutinya. Namun baru beberapa meter, suara geraman terdengar dari belakang. Alistair berhenti. Fen berbalik. Geraman itu semakin jelas. Alistair menggenggam pedangnya. Kali ini ia tidak panik. Ia hanya menunggu. Dari balik pepohonan muncul seekor monster kecil berbentuk seperti kadal dengan tanduk pendek di kepalanya. Monster yang sama seperti yang mereka hadapi sebelumnya. Alistair menarik napas. “Yang kemarin.” Fen merendahkan tubuhnya. Monster itu menggeram. Alistair mengangkat pedang. “Jangan terburu-buru.” Monster tersebut menyerang. Alistair menghindar ke samping. Serangannya meleset. Fen bergerak. Namun kali ini Alistair tidak langsung menyerang. Ia memperhatikan. Monster itu berbalik. Kakinya bergerak tidak seimbang. Ada luka lama di bagian samping tubuhnya. Alistair menyadarinya. “Dia terluka.” Fen bersiap menyerang lagi. “Jangan.” Fen berhenti. Monster itu menggeram. Alistair perlahan menurunkan pedangnya. “Aku tidak tahu kenapa dia menyerang kita.” Monster itu kembali maju. Alistair mundur. Ia tidak menyerang. Monster itu berhenti beberapa meter di depannya. Kemudian menoleh ke belakang. Alistair memperhatikan. Di balik semak terdapat sebuah lubang kecil. Dan di dalamnya... Ada dua anak monster yang bersembunyi. Alistair terdiam. “Jadi kau melindungi mereka.” Monster itu kembali menggeram. Alistair perlahan memasukkan pedangnya. Fen menatapnya. “Tidak apa-apa.” Ia mundur. “Kita pergi.” Monster itu tidak mengejar. Alistair dan Fen meninggalkan tempat tersebut. Setelah cukup jauh, Alistair berhenti. Ia menatap tangannya sendiri. “Kalau aku menyerang tadi…” Ia tidak melanjutkan. Fen duduk di sampingnya. Alistair mengusap kepalanya. “Bagus kau juga tidak menyerang.” Fen mengibaskan ekornya. “Berarti kita mulai mengerti satu sama lain.” Mereka akhirnya menemukan tanaman obat yang dicari tidak jauh dari sungai kecil. Alistair mengambilnya dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Ia memasukkannya ke dalam kantong. “Sudah.” Fen minum dari sungai. Alistair duduk di batu. Untuk beberapa saat, ia hanya memperhatikan air yang mengalir. Dulu, perjalanan seperti ini mungkin hanya berarti satu hal baginya. Mencari makanan. Mencari tempat aman. Bertahan sampai hari berikutnya. Sekarang berbeda. Ia memiliki pekerjaan. Ia memiliki tempat untuk kembali. Dan ada seekor makhluk yang memilih berjalan di sampingnya. Alistair menatap Fen. “Fen.” Fen mengangkat kepala. “Menurutmu… aku bisa jadi Hunter yang hebat?” Fen hanya menatapnya. Alistair tertawa kecil. “Ya, aku tahu. Kau tidak bisa menjawab.” Ia berdiri. “Tapi mungkin aku tidak perlu menjadi hebat sekarang.” Alistair memasang kembali tasnya. “Yang penting aku terus belajar.” Fen berdiri. Mereka kembali berjalan menuju Eldermere. Namun sebelum mereka keluar dari kawasan hutan, Fen berhenti sekali lagi. Alistair ikut berhenti. “Apa lagi?” Fen menatap ke arah pepohonan. Kali ini Alistair tidak langsung menganggap ada bahaya. Ia memperhatikan. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Namun di tanah, beberapa meter dari mereka, terdapat sebuah benda kecil. Alistair mendekat. Sebuah potongan kain. Warnanya gelap. Ia mengambilnya. Ada lambang kecil yang dijahit di permukaannya. Alistair tidak mengenal lambang itu. Fen mengendus kain tersebut. Tiba-tiba bulunya sedikit berdiri. Alistair memperhatikan reaksinya. “Bau seseorang?” Fen menatap ke dalam hutan. Alistair menggenggam kain itu. Untuk pertama kalinya hari itu, perasaannya berubah. Bukan takut. Bukan juga panik. Hanya sebuah firasat bahwa ada sesuatu yang belum mereka pahami. Ia memasukkan kain itu ke dalam tas. “Kita bawa ini ke Aldren.” Fen mengangguk dengan caranya sendiri. Mereka melanjutkan perjalanan. Dan jauh di antara pepohonan, sesuatu bergerak perlahan. Tidak mengejar. Tidak menyerang. Hanya mengawasi. Alistair belum mengetahuinya. Tetapi perjalanan kecil hari itu baru saja meninggalkan sebuah jejak yang suatu saat akan membawanya menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

End of Chapter 14