Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar penginapan, jatuh di lantai kayu yang masih dingin. Alistair membuka mata dan menatap langit-langit beberapa saat.
Untuk beberapa detik, semuanya terasa asing.
Kemudian terdengar suara kecil dari bawah jendela.
Whuff.
Alistair menoleh.
Fen berdiri di sana, ekornya bergerak pelan. Sepertinya ia sudah menunggu sejak beberapa waktu lalu.
Alistair duduk di tepi tempat tidur.
“Pagi.”
Fen memiringkan kepala.
Alistair tersenyum tipis.
“Ya. Aku juga lapar.”
Fen langsung mengibaskan ekornya lebih cepat.
“Jangan terlalu senang. Aku belum bilang mau kasih makan.”
Fen mendengus kecil.
Alistair mengambil pakaiannya lalu bersiap turun.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di luar penginapan.
Udara pagi Eldermere cukup dingin. Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa pedagang baru membuka toko, sementara para pekerja mulai membawa barang menuju pasar.
Alistair berjalan sambil membawa sebungkus makanan sederhana.
Fen berjalan di sampingnya.
Tidak lagi beberapa langkah di belakang.
Alistair menyadarinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Mereka berjalan menuju Hunter Guild.
Sesampainya di sana, suasana sudah jauh lebih ramai daripada pagi sebelumnya. Para Hunter keluar-masuk membawa perlengkapan masing-masing. Beberapa sedang berdiri di depan papan pekerjaan.
Alistair berhenti sebentar.
“Banyak juga.”
Fen ikut berhenti.
Alistair melihat papan pekerjaan.
Ada beberapa permintaan sederhana.
Mengawal pedagang.
Mengantar barang.
Mencari tanaman obat.
Membersihkan sarang monster kecil.
Ia sudah terbiasa melihat pekerjaan seperti itu.
Namun kali ini matanya tertuju pada satu lembar kertas.
Permintaan: Pengantaran barang ke desa bagian timur.
Hadiah: 30 Tembaga.
Alistair menghitung cepat dalam pikirannya.
Tiga puluh Tembaga.
Tidak terlalu besar.
Tapi cukup untuk beberapa kebutuhan sehari-hari.
Tangannya baru hendak mengambil kertas itu ketika sebuah tangan lebih dulu menariknya.
“Jangan.”
Alistair menoleh.
Aldren berdiri di belakangnya.
“Kenapa?”
“Karena kau belum membaca seluruh keterangannya.”
Alistair kembali melihat kertas.
Aldren menunjuk bagian bawah.
“Barangnya ringan. Jalannya juga mudah. Tapi rutenya melewati daerah yang beberapa hari terakhir dilaporkan ada aktivitas monster.”
Alistair mengerutkan kening.
“Monster seperti apa?”
“Belum diketahui.”
“Kalau belum diketahui, kenapa pekerjaannya masih dipasang?”
“Karena pedagang tetap membutuhkan barang itu dikirim.”
Aldren mengambil kertas tersebut.
“Dan karena itu, pekerjaan ini bukan untukmu.”
Alistair diam.
Bukan karena kesal.
Ia hanya memikirkan perkataan Aldren.
Beberapa minggu lalu, mungkin ia akan langsung mengatakan bahwa ia bisa melakukannya.
Sekarang ia tahu satu hal.
Tidak mengetahui bahaya bukan berarti tidak ada bahaya.
“Baik.”
Aldren sedikit mengangkat alis.
“Tidak protes?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Alistair menatap papan pekerjaan.
“Karena aku belum tahu apa yang ada di sana.”
Aldren tersenyum kecil.
“Bagus.”
Fen tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Telinganya bergerak.
Alistair menyadarinya.
“Ada apa?”
Fen menatap ke arah pintu.
Beberapa orang baru saja masuk.
Seorang pria membawa tas besar di punggungnya. Pakaiannya sederhana, seperti pedagang perjalanan. Ia berjalan melewati mereka tanpa banyak memperhatikan.
Fen terus memandanginya.
Alistair ikut melihat.
Pria itu berhenti di depan papan pekerjaan.
Ia membaca beberapa kertas, lalu mengambil satu.
Tidak ada yang aneh.
Alistair menatap Fen.
“Kenapa?”
Fen tidak menjawab.
Tentu saja.
Ia hanya mengeluarkan suara rendah.
Aldren memperhatikan mereka berdua.
“Instingnya?”
Alistair mengangguk pelan.
“Sepertinya.”
Aldren tidak langsung berkata apa-apa.
Ia hanya memperhatikan pria itu.
Beberapa detik kemudian, pria tersebut meninggalkan Guild.
Fen masih melihat ke arah pintu.
Alistair mengusap kepalanya.
“Kalau kau curiga, jangan langsung mengejar.”
Fen menoleh.
“Kita lihat dulu.”
Alistair dan Fen keluar beberapa saat kemudian.
Jalanan Eldermere sudah mulai ramai.
Alistair tidak mengejar pria tadi.
Ia hanya berjalan menuju pasar untuk mengambil beberapa kebutuhan.
Namun setelah beberapa menit, Fen kembali berhenti.
Alistair ikut berhenti.
Di seberang jalan, pria yang tadi mereka lihat sedang berbicara dengan seorang pedagang.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Mereka hanya berbicara.
Beberapa saat kemudian, pria itu berjalan pergi.
Alistair menatapnya sebentar.
Lalu menghela napas.
“Mungkin memang tidak ada apa-apa.”
Fen masih diam.
“Kalau begitu, kita pulang.”
Mereka berbalik.
Baru beberapa langkah, terdengar suara benda jatuh.
Brak!
Seorang anak kecil menjatuhkan keranjang buah di depan mereka.
Beberapa buah menggelinding ke jalan.
Alistair langsung membantu mengumpulkannya.
“Tidak apa-apa?”
Anak itu mengangguk cepat.
“Terima kasih, Kak.”
Alistair menyerahkan buah terakhir.
“Sama-sama.”
Fen duduk di sampingnya.
Anak itu menatap Fen dengan mata berbinar.
“Serigala?”
“Bukan.”
Alistair menatap Fen.
“Setidaknya aku rasa bukan.”
Fen menatap Alistair seolah tidak setuju.
Anak itu tertawa kecil.
“Dia lucu.”
Fen mengibaskan ekornya.
Alistair berdiri.
“Namanya Fen.”
Anak itu tersenyum.
“Namanya bagus.”
Setelah anak tersebut pergi, Alistair kembali berjalan.
Fen mengikuti.
Beberapa langkah kemudian, Alistair berkata,
“Kau tahu?”
Fen menoleh.
“Dulu aku selalu berpikir kalau aku harus bisa melakukan semuanya sendiri.”
Fen terus berjalan.
“Aku pikir kalau aku tidak bisa melakukannya sendiri, berarti aku lemah.”
Langkah Alistair melambat.
Ia melihat tangan kanannya.
Tangan yang dulu sering menggenggam pedang ayahnya dengan terlalu kuat.
“Aldren bilang itu bukan begitu.”
Fen menatapnya.
Alistair tersenyum kecil.
“Sekarang aku mulai mengerti.”
Ia berhenti.
Fen ikut berhenti.
Alistair menatap mata biru-abu milik makhluk kecil itu.
“Kalau kita memang berjalan bersama…”
Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Fen.
“…berarti aku juga harus belajar mempercayaimu.”
Fen menutup mata sejenak.
Ekornya bergerak pelan.
Tidak ada jawaban.
Tapi Alistair tidak membutuhkannya.
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Sore harinya, Alistair kembali ke Hunter Guild.
Aldren sedang duduk di meja kerjanya.
“Kau kembali.”
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Biasa.”
Aldren menatap Fen.
“Dan?”
Alistair terdiam sebentar.
“Dia semakin sering memperhatikan sesuatu sebelum aku menyadarinya.”
“Bagus.”
“Tapi aku masih belum tahu apakah aku bisa mempercayainya sepenuhnya.”
Aldren tersenyum.
“Tidak perlu terburu-buru.”
Alistair mengangguk.
Aldren lalu meletakkan sebuah benda kecil di atas meja.
Sebuah kantong kulit.
“Ini untukmu.”
Alistair membukanya.
Beberapa keping Tembaga terlihat di dalamnya.
“Upah?”
“Bukan.”
Alistair menatap Aldren.
“Lalu?”
“Bayaran untuk pekerjaan kecil yang kau lakukan beberapa hari terakhir. Mengantar barang, membantu di Guild, dan beberapa pekerjaan lain.”
Alistair menghitungnya.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Ia memasukkan kembali uang tersebut.
“Terima kasih.”
Aldren bersandar di kursinya.
“Mulai sekarang, aku ingin kau mulai mencatat pengeluaranmu.”
“Kenapa?”
“Karena suatu hari nanti kau akan hidup tanpa bantuan siapa pun.”
Alistair terdiam.
Aldren melanjutkan.
“Dan uang yang sedikit bisa terasa banyak kalau kau tahu cara menggunakannya. Sebaliknya, uang yang banyak bisa habis kalau kau tidak tahu.”
Alistair mengangguk.
Ia mengambil selembar kertas kosong.
Kemudian menulis.
Makan. Penginapan. Perlengkapan. Tabungan.
Tangannya berhenti.
Ia menambahkan satu kata lagi.
Fen.
Aldren melihat tulisan itu.
“Kau memasukkan dia juga?”
Alistair memandang Fen.
Fen sedang tidur di bawah meja.
“Dia juga makan.”
Aldren tertawa kecil.
“Benar juga.”
Alistair kembali menulis.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Eldermere, ia tidak hanya memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup sampai besok.
Ia mulai memikirkan hari setelahnya.
Dan hari setelah itu.
Sebuah kehidupan kecil mulai terbentuk.
Tidak besar.
Tidak istimewa.
Tetapi miliknya sendiri.
Alistair menutup buku kecilnya.
“Besok aku mau ambil pekerjaan lagi.”
Aldren mengangguk.
“Pilih yang sesuai kemampuanmu.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan lupa.”
“Apa?”
Aldren melirik Fen.
“Kalau kau berjalan bersama seseorang, jangan cuma meminta dia mengikutimu.”
Alistair terdiam.
Lalu tersenyum tipis.
“Berarti aku juga harus mengikuti langkahnya.”
Aldren tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Di bawah meja, telinga Fen bergerak.
Malam mulai turun di luar jendela.
Dan untuk pertama kalinya, langkah Alistair tidak lagi terdengar seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian.