Sudah hampir dua minggu sejak Fen mulai mengikuti Alistair.
Awalnya Alistair mengira makhluk itu hanya akan bertahan beberapa hari.
Ternyata tidak.
Setiap pagi, Fen sudah menunggu di dekat penginapan.
Setiap Alistair pergi ke Hunter Guild, Fen ikut.
Ketika Alistair latihan, Fen duduk di pinggir halaman.
Ketika Alistair mendapat pekerjaan sederhana, Fen berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Bahkan ketika Alistair hanya pergi membeli makanan—
Fen tetap ikut.
“Kau benar-benar tidak punya kegiatan lain?”
Fen menatapnya.
Alistair menghela napas.
“Ya sudah.”
Hari itu, Alistair kembali mendapat pekerjaan dari Guild.
Sebuah permintaan sederhana.
Mengantar beberapa bahan makanan ke sebuah rumah yang berada di pinggiran Eldermere.
Aldren menyerahkan kantong barang kepadanya.
“Tidak jauh.”
Alistair mengangguk.
“Baik.”
Ia berangkat bersama Fen.
Perjalanan berjalan tenang.
Sampai Fen tiba-tiba berhenti.
Alistair ikut berhenti.
Fen mengangkat kepalanya.
Telinganya bergerak.
“Ada sesuatu?”
Fen menatap semak di sebelah kiri.
Alistair memperhatikan.
Tidak ada apa-apa.
Ia hampir melanjutkan perjalanan ketika terdengar suara.
Grrr...
Alistair langsung mengambil pedang kayunya.
Fen maju satu langkah.
“Jangan terlalu jauh.”
Fen menoleh.
Alistair menunjuk tanah di depannya.
“Tunggu.”
Makhluk itu tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian, seekor monster kecil keluar dari semak.
Bentuknya menyerupai reptil berkaki empat dengan tanduk pendek di kepalanya.
Alistair menelan ludah.
Ia pernah melihat gambar makhluk seperti itu di catatan Guild.
Tidak terlalu kuat.
Tapi cukup untuk melukai orang yang tidak berpengalaman.
Monster itu bergerak mendekat.
Alistair menggenggam pedang kayu.
“Fen... mundur.”
Fen justru merendahkan tubuhnya.
“Jangan.”
Monster itu tiba-tiba menerjang.
Alistair mengangkat pedangnya.
BAM!
Tubuhnya terdorong mundur.
Ia hampir jatuh.
Fen langsung bergerak.
GRAH!
Fen menerkam dari samping dan menggigit kaki belakang monster itu.
Monster tersebut berbalik.
Kesempatan itu digunakan Alistair.
Ia maju.
Mengayunkan pedang kayu ke arah tubuh monster.
Buk!
Tidak cukup kuat.
Monster itu hanya terdorong sedikit.
“Belum cukup...”
Monster kembali menyerang.
Alistair mencoba menghindar.
Terlambat.
Cakar monster hampir mengenainya—
Fen melompat.
Monster itu teralihkan sesaat.
Alistair memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mundur.
Ia menarik napas.
“Fen!”
Fen menoleh.
Alistair menunjuk ke arah kiri.
“Ke sana!”
Fen berlari.
Monster mengejarnya.
Alistair menyadari sesuatu.
Fen memang cepat.
Tapi monster itu lebih besar.
Kalau terus dibiarkan—
Fen bisa terluka.
Alistair menggenggam pedangnya lebih kuat.
Ia berlari mengejar.
“HEY!”
Monster menoleh.
Alistair menghantam tanah dengan pedang kayu tepat di depannya.
Debu beterbangan.
Monster berhenti sesaat.
Fen langsung berputar.
Menggigit bagian belakang monster.
Monster menggeram dan kehilangan keseimbangan.
Alistair maju.
Satu ayunan.
Buk!
Monster itu terjatuh.
Tidak mati.
Hanya kehilangan keseimbangan.
Fen berdiri di samping Alistair.
Keduanya menatap monster tersebut.
Beberapa detik kemudian, monster itu bangkit dan melarikan diri ke dalam hutan.
Alistair tidak mengejarnya.
Ia hanya berdiri sambil mengatur napas.
Fen juga terengah-engah.
Alistair menatapnya.
“Kau terluka?”
Fen menggelengkan tubuhnya.
Alistair berjongkok dan memeriksa kakinya.
Tidak ada luka serius.
“Syukurlah.”
Fen menjilat tangannya.
Alistair tersenyum kecil.
“Tadi... kita bekerja sama, ya?”
Fen memiringkan kepala.
Alistair terkekeh.
“Walaupun aku masih belum terlalu mengerti caramu.”
Ia berdiri.
Kemudian melanjutkan perjalanan.
Beberapa langkah kemudian, Alistair berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Fen masih mengikuti.
Kali ini, Alistair tidak menyuruhnya berjalan di belakang.
Ia justru berjalan sedikit lebih lambat.
Sampai posisi mereka sejajar.
Fen menoleh kepadanya.
Alistair hanya berkata,
“Jangan terlalu jauh.”
Fen mengibaskan ekornya.
Mereka kembali berjalan.
Untuk pertama kalinya, bukan lagi satu orang yang berjalan dan seekor makhluk yang mengikuti dari belakang.
Mereka berjalan dalam langkah yang sama.