Chapter 11 of 46

Bab 11 — Yang Mengikuti dari Belakang

627 words

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alistair kembali menuju Eldermere. Langkahnya terasa lebih ringan. Bukan karena jalan pulang lebih pendek. Tapi karena sejak tadi ada suara langkah kecil yang terus mengikutinya. Tap... tap... tap... Alistair menoleh. Makhluk berbulu abu-abu itu masih berada beberapa meter di belakangnya. “Kau masih ikut?” Makhluk itu berhenti. Alistair ikut berhenti. Mereka saling memandang. “...Aku nggak punya makanan lagi.” Makhluk itu hanya memiringkan kepalanya. Alistair menghela napas. “Ya sudah.” Ia kembali berjalan. Makhluk itu kembali mengikutinya. Alistair mulai terbiasa dengan suara langkah tersebut. Namun, ketika mereka mendekati gerbang Eldermere, Alistair berhenti. Ia menoleh ke belakang. “Kau nggak bisa ikut masuk.” Makhluk itu menatapnya. “Kalau penjaga melihatmu, mungkin mereka akan mengusirmu.” Makhluk itu duduk. Alistair menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia menunjuk sebuah pohon besar di dekat jalan. “Tunggu di sana.” Makhluk itu tetap diam. “Aku akan kembali.” Alistair menunjuk dirinya sendiri. “Besok.” Makhluk itu menggerakkan telinganya. Alistair tidak yakin apakah ia mengerti atau tidak. Tapi ia tetap masuk ke kota. Malamnya, Alistair kembali ke tempat yang sama. Tidak ada makhluk itu. Alistair melihat ke sekitar. Kosong. “...Pergi, ya.” Entah kenapa, ia merasa sedikit kecewa. Ia berbalik. Lalu terdengar suara dari belakang. Krk. Alistair menoleh cepat. Makhluk itu keluar dari balik semak. Alistair terdiam. “Kau di sini?” Makhluk itu berjalan mendekat. Alistair berjongkok. “Kau menungguku?” Makhluk itu duduk di depannya. Alistair tersenyum kecil. “Dasar aneh.” Ia mengeluarkan sedikit makanan yang disisakannya dari penginapan. Makhluk itu langsung mendekat. “Pelan.” Makhluk itu berhenti. Alistair memberikan makanan tersebut. Kali ini ia tidak pergi setelahnya. Ia duduk di bawah pohon. Makhluk itu makan di sampingnya. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan. Hanya suara malam. Alistair melihat ke langit. “Namamu siapa?” Tentu saja tidak ada jawaban. Alistair terkekeh kecil. “Ya... aku juga nggak tahu.” Ia berpikir sebentar. Matanya kembali melihat bulu abu-abu gelap makhluk itu. “Fen.” Makhluk itu mengangkat kepala. Alistair menunjuknya. “Fen.” Telinganya bergerak. Alistair tersenyum. “Kayaknya cocok.” Fen kembali makan. Alistair bersandar pada pohon. “Mulai sekarang... kalau kau mau ikut, jangan bikin masalah.” Fen mengangkat kepalanya. Lalu kembali makan. “...Aku anggap itu jawaban.” Keesokan paginya, Alistair kembali berlatih bersama Aldren. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Seekor makhluk kecil duduk di luar halaman Guild. Aldren memperhatikannya. Lalu menatap Alistair. “Teman baru?” Alistair mengangguk. “Namanya Fen.” Aldren memandang Fen beberapa detik. “Makhluk liar?” “Kurasa.” “Kurasa?” Alistair mengangkat bahu. “Dia yang mengikutiku.” Aldren tertawa kecil. “Begitu rupanya.” Fen mengeluarkan suara rendah ketika Aldren mendekat. Aldren berhenti. “Dia tidak terlalu percaya pada orang.” Alistair menatap Fen. “Memang.” “Dan kau?” “Aku?” Aldren mengangguk. “Percaya padanya?” Alistair terdiam. Ia memandang Fen. Kemudian menggeleng. “Belum.” Aldren tersenyum. “Jawaban yang bagus.” Alistair mengerutkan kening. “Kenapa?” “Karena kepercayaan tidak perlu diberikan hanya karena seseorang terlihat baik.” Aldren mengambil pedang kayu. “Sekarang latihan.” Alistair berdiri. Fen memperhatikan mereka dari sisi halaman. Latihan dimulai. Langkah Alistair masih berantakan. Ayunan pedangnya masih terlalu lebar. Beberapa kali ia kehilangan keseimbangan. “Ulangi.” Alistair mencoba lagi. Jatuh. Bangun. Coba lagi. Fen memperhatikan tanpa bergerak. Namun ketika Alistair terjatuh cukup keras, Fen langsung berdiri dan berlari mendekat. Aldren mengangkat alis. “Menarik.” Fen berdiri di samping Alistair sambil menatap Aldren. Alistair bangkit. “Aku nggak apa-apa.” Fen menatapnya seolah tidak percaya. Alistair mengusap kepalanya. “Serius.” Fen akhirnya mundur. Aldren tersenyum tipis. “Sepertinya dia lebih peduli padamu daripada yang kau sadari.” Alistair melihat Fen. Untuk sesaat, ia teringat seseorang. Seseorang yang dulu selalu memperhatikannya ketika ia terluka. Namun kenangan itu segera ia simpan kembali. Alistair menggenggam pedang kayunya. “Ayo.” Ia kembali mengambil posisi. Kali ini— Fen duduk di sampingnya. Menunggu. Dan tanpa Alistair sadari, hari-hari berikutnya tidak lagi hanya berisi latihan seorang diri. Ada seseorang yang selalu menunggunya selesai. Ada langkah kecil yang selalu terdengar di belakangnya. Dan suatu hari nanti, langkah itu akan bergerak bersamanya. Bukan sebagai hewan peliharaan. Tapi sebagai seorang rekan.

End of Chapter 11

Chapter 11: Bab 11 — Yang Mengikuti dari Belakang - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio