Chapter 8 of 9

Langkah Pertama

754 words

Pagi itu, Alistair bangun lebih awal dari biasanya. Tidak ada suara ibunya. Tidak ada aroma makanan dari dapur. Tidak ada percakapan kecil yang biasanya mengisi rumah. Hanya suara angin yang masuk melalui celah jendela. Alistair duduk di tempat tidur. Matanya masih berat, tetapi ia tidak kembali berbaring. Ia teringat apa yang dikatakannya semalam. Aku yang akan lihat. Alistair berdiri. Ia merapikan tempat tidurnya sebisanya, lalu mengambil kotak kecil pemberian ibunya. Dua lonceng itu masih berada di sana. Ia mengambil satu dan mengikatnya pada pakaiannya. Lonceng itu berbunyi kecil ketika ia bergerak. Ting. Alistair menatapnya. "Ibu pasti marah kalau aku ceroboh." Ia tersenyum kecil. Kemudian ia keluar rumah. --- Tujuannya sederhana. Mencari pekerjaan. Bukan karena ada seseorang yang menunggu makanan di rumah. Bukan karena ada obat yang harus dibeli. Kali ini, ia melakukannya untuk dirinya sendiri. Namun ketika Alistair berjalan melewati jalan desa, ia baru menyadari bahwa mencari pekerjaan tidak semudah yang ia bayangkan. Beberapa ladang sudah tidak digunakan. Beberapa rumah sudah kosong. Orang-orang yang masih tinggal di desa juga memiliki masalah mereka sendiri. Alistair mendatangi seorang pedagang yang sedang membereskan barang. "Pak." Pedagang itu menoleh. "Apa?" "Aku boleh membantu?" Pedagang tersebut melihat tubuh Alistair dari atas sampai bawah. "Kamu?" Alistair mengangguk. "Aku bisa membawa barang." Pedagang itu tertawa kecil. "Bawa apa?" Alistair menunjuk beberapa karung kecil. "Itu." Pedagang tersebut memandang karung itu. Kemudian kembali melihat Alistair. "Berat." "Aku pernah bawa yang lebih berat." Pedagang itu terdiam sebentar. Kemudian menghela napas. "Baiklah. Bantu bawa dua." Alistair mengangguk. Ia mengangkat karung pertama. Berat. Tangannya sedikit gemetar. Namun ia tetap berjalan. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Ia membawa karung itu ke tempat yang ditunjukkan pedagang. Setelah selesai, ia kembali mengambil karung kedua. Kali ini langkahnya lebih lambat. Tetapi ia berhasil. Pedagang itu memberikan beberapa keping uang. "Ini." Alistair menerimanya. "Terima kasih." Ia memasukkan uang itu ke sakunya. Untuk sesaat ia hanya memandangi beberapa keping tersebut. Tidak banyak. Namun itu adalah uang pertama yang ia dapatkan setelah ibunya tidak ada. Alistair menggenggamnya. Kemudian melanjutkan perjalanan. --- Hari-hari berikutnya berjalan seperti itu. Alistair mencari pekerjaan kecil. Membawa barang. Membersihkan halaman. Membantu pedagang. Terkadang ia mendapatkan beberapa keping uang. Terkadang tidak mendapatkan apa-apa. Ia mulai belajar bahwa dunia tidak selalu memberikan sesuatu hanya karena seseorang sudah berusaha. Ada hari ketika ia pulang dengan tangan kosong. Ada hari ketika ia hanya mendapatkan cukup uang untuk membeli makanan. Namun ia tidak menyerah. Bukan karena ia yakin semuanya akan menjadi lebih baik. Ia hanya tidak ingin berhenti. Setiap kali merasa lelah, tangannya akan menyentuh lonceng kecil di pakaiannya. Ting. Suara itu mengingatkannya pada rumah. Pada ibunya. Pada sebuah janji yang sekarang hanya bisa ia bawa seorang diri. --- Suatu sore, Alistair duduk di dekat sebuah sungai kecil. Ia baru saja selesai membantu seorang warga. Tangannya kotor. Bajunya penuh debu. Ia membuka kantong kecilnya. Tidak banyak uang di dalamnya. Alistair menghitungnya. Satu. Dua. Tiga. Ia berhenti. Kemudian memasukkan kembali uang itu. "Masih cukup." Ia mengambil batu kecil dan melemparkannya ke sungai. Pluk. Alistair memperhatikan riak air. Dulu, ia akan segera pulang setelah selesai bekerja. Sekarang ia tidak tahu harus pulang untuk apa. Rumah itu masih ada. Tetapi rumah tidak lagi terasa seperti rumah. Alistair menundukkan kepala. "Ibu..." Angin melewati rambutnya. Ia tidak menangis. Namun dadanya terasa berat. Ia mengambil lonceng kecilnya. Ting. "Kalau aku terus tinggal di sini..." Alistair memandang aliran sungai. "...aku bakal tetap sendirian." Ia terdiam. Kemudian teringat perkataan ibunya. Dunia itu luas. Alistair menatap ke arah jalan yang mengarah keluar desa. Jalan yang selama ini tidak pernah ia pedulikan. Jalan menuju tempat yang tidak ia kenal. Ia belum tahu apa yang ada di sana. Ia belum tahu apakah dunia di luar desa akan menerimanya. Ia juga belum tahu apakah ia akan menemukan sesuatu yang ia cari. Tetapi satu hal mulai ia pahami. Kalau ia ingin mengetahui dunia yang selama ini diceritakan ibunya... Ia harus berani meninggalkan tempat yang sudah ia kenal. Alistair berdiri. Ia menepuk debu di pakaiannya. Kemudian berjalan pulang. Bukan untuk menetap selamanya. Setidaknya, bukan dalam pikirannya. Malam itu, Alistair membuka kotak kecil pemberian ibunya. Ia melihat dua lonceng di dalamnya. Satu berada di tangannya. Satu lagi masih tersimpan di kotak. Alistair mengambil yang kedua. Ia menatapnya cukup lama. Kemudian memasukkannya kembali. "Biar yang ini tetap di rumah." Ia menutup kotak. Untuk sekarang. Besok ia akan kembali bekerja. Lusa mungkin juga. Tetapi suatu hari nanti... Alistair akan berjalan melewati jalan itu. Dan kali ini, ia tidak akan kembali hanya karena ia tidak tahu harus pergi ke mana. Ia akan pergi karena sudah memilih untuk melihat dunia dengan matanya sendiri.

End of Chapter 8