Beberapa hari berlalu.
Alistair menjalani hari-harinya seperti biasa.
Bangun pagi.
Mencari pekerjaan.
Membeli makanan.
Pulang ketika matahari mulai tenggelam.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Setiap kali melewati jalan keluar desa, pandangannya selalu tertuju ke arah yang sama.
Jalan panjang yang menghilang di balik pepohonan.
Jalan menuju dunia yang belum pernah ia lihat.
Awalnya ia hanya melihatnya.
Kemudian mulai memikirkannya.
Dan semakin sering memikirkannya, semakin sulit baginya untuk mengabaikannya.
Suatu sore, setelah selesai membantu seorang pedagang, Alistair berdiri di persimpangan jalan.
Di belakangnya adalah desa.
Di depannya adalah jalan yang belum pernah ia lewati.
Ia memegang lonceng kecil yang tergantung di pakaiannya.
Ting.
Alistair menunduk.
"Ibu bilang dunia itu luas."
Ia melihat ke depan.
"Mungkin... memang harus kulihat sendiri."
Namun kakinya tidak bergerak.
Alistair terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mengetahui sesuatu adalah hal yang berbeda dengan berani melakukannya.
Ia ingin pergi.
Tetapi ia takut.
Bukan takut terhadap monster.
Bukan juga terhadap orang asing.
Ia hanya takut meninggalkan satu-satunya tempat yang masih menyimpan kenangan tentang ibunya.
Rumah itu mungkin sudah tidak terasa seperti dulu.
Tetapi di sanalah Elara pernah tinggal.
Di sanalah ia pernah tertawa.
Di sanalah ia pernah menggenggam tangan ibunya.
Kalau ia pergi...
Apakah ia berarti meninggalkan ibunya juga?
Alistair menutup mata.
Kemudian menggeleng.
"Tidak."
Ia membuka matanya kembali.
"Ibu justru bilang aku harus pergi."
Tangannya menggenggam lonceng itu.
"Jadi aku nggak akan lupa."
Ia melangkah.
Satu langkah.
Kemudian berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Desa itu terlihat kecil dari tempatnya berdiri.
Alistair tersenyum tipis.
"Selamat tinggal."
Bukan karena ia tahu kapan akan kembali.
Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan kembali.
Tetapi untuk pertama kalinya...
Ia benar-benar meninggalkan desa itu.
---
Jalan yang ia pilih ternyata lebih panjang daripada yang ia bayangkan.
Alistair berjalan selama beberapa jam.
Ia melewati hutan kecil.
Menyusuri jalan berbatu.
Beberapa kali ia berhenti untuk minum.
Kakinya mulai terasa sakit.
Namun ia tetap berjalan.
Sore perlahan berubah menjadi malam.
Alistair akhirnya berhenti di bawah sebuah pohon besar.
Ia duduk.
Mengeluarkan makanan yang dibelinya pagi tadi.
Hanya sedikit.
Ia memakannya perlahan.
Setelah selesai, ia menatap langit.
Bintang-bintang terlihat jauh lebih jelas dibandingkan dari desa.
Alistair tersenyum.
"Jadi ini dunia yang Ibu maksud..."
Ia mengangkat tangannya.
Seolah ingin menyentuh bintang.
Namun sebuah suara terdengar dari kejauhan.
Geraman.
Alistair langsung menurunkan tangannya.
Ia menoleh.
Hutan di belakangnya gelap.
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Alistair berdiri.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ia mundur satu langkah.
Kemudian dua langkah.
Dari balik pepohonan, terdengar suara ranting patah.
Krek.
Alistair menahan napas.
Sesuatu bergerak di dalam kegelapan.
Ia tidak tahu apa itu.
Ia tidak membawa senjata.
Yang ia miliki hanya beberapa keping uang, makanan, dan lonceng kecil pemberian ibunya.
Alistair perlahan mengambil sebuah ranting dari tanah.
Tangannya gemetar.
Namun ia tetap menggenggamnya.
"Jangan mendekat..."
Suara geraman kembali terdengar.
Alistair mundur.
Kakinya menyentuh batu.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia hampir jatuh.
Kemudian suara langkah terdengar dari arah lain.
Bukan satu.
Beberapa.
Alistair menoleh.
Dari kejauhan terlihat cahaya api.
Ada seseorang.
Atau beberapa orang.
Alistair tidak tahu siapa mereka.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia tidak sendirian di jalan ini.
Namun ia juga belum tahu...
Apakah orang-orang itu akan menjadi penyelamatnya—
atau justru masalah baru yang harus ia hadapi.
Alistair menggenggam ranting itu lebih erat.
Lonceng kecil di pakaiannya kembali berbunyi.
Ting.
Dan malam pertamanya di luar desa pun dimulai.