Chapter 7 of 9
Setelah Rumah Menjadi Sunyi
1.0k words
Pagi datang seperti biasanya.
Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah jendela rumah kecil itu. Suara burung terdengar dari kejauhan, disusul suara angin yang menyentuh dedaunan di luar.
Semuanya masih sama.
Meja makan masih berada di tempatnya.
Kursi yang biasa digunakan Elara masih ada di sana.
Peralatan memasak masih tersusun di dapur.
Bahkan kain yang biasa digunakan Elara untuk mengeringkan tangannya masih tergantung di tempat yang sama.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Tidak ada suara yang menyambut pagi itu.
Alistair membuka matanya.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit rumah.
Biasanya, setelah bangun, ia akan mendengar suara ibunya dari dapur.
Namun pagi itu tidak ada apa-apa.
Alistair perlahan duduk.
Tangannya secara tidak sadar menyentuh sisi tempat tidur.
Kosong.
Ia menatap tempat yang biasa ditempati ibunya.
Diam.
Kemudian matanya bergerak menuju meja di samping tempat tidur.
Di sana terdapat sebuah kotak kecil.
Kotak yang diberikan Elara pada ulang tahunnya.
Alistair mengambilnya.
Dua buah lonceng kecil masih berada di dalamnya, sementara surat yang diberikan ibunya sudah berada di tangannya.
Ia menatap surat tersebut cukup lama.
Kemarin ia membacanya.
Kemarin ia menangis.
Namun pagi ini...
Tidak ada air mata.
Hanya rasa kosong.
Alistair bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur.
Ia mengambil sebuah wadah kecil.
Kemudian membuka lemari.
Tidak banyak makanan yang tersisa.
Tangannya berhenti.
Dulu, setiap kali melihat makanan yang hampir habis, ia akan langsung berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang.
Bekerja.
Mencari makanan.
Memastikan ibunya bisa makan.
Tetapi sekarang...
Tidak ada lagi seseorang yang harus ia bawakan makanan.
Alistair menutup lemari.
Ia berdiri cukup lama di dapur.
"Bu..."
Tidak ada jawaban.
Ia menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alistair tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah bangun tidur.
Tidak ada pekerjaan yang harus segera dicari.
Tidak ada makanan yang harus dibawa pulang.
Tidak ada tangan yang harus ia genggam.
Tidak ada senyum yang harus ia pastikan tetap ada.
Ia hanya berdiri.
Sendirian.
---
Hari itu Alistair keluar rumah.
Bukan untuk bekerja.
Ia hanya berjalan.
Kakinya membawanya melewati jalan desa yang sudah sangat dikenalnya.
Beberapa rumah masih kosong.
Sebagian lainnya telah ditinggalkan.
Penyakit yang menyebar selama bertahun-tahun membuat desa itu perlahan kehilangan penghuninya.
Alistair berjalan melewati ladang.
Tempat yang dulu sering ia gunakan untuk bekerja.
Ia berhenti di depan sebuah ladang.
Petani yang dulu sering mempekerjakannya sudah tidak ada.
Alistair memandang tanah yang mulai ditumbuhi rumput liar.
Ia teringat bagaimana dulu ia datang ke tempat itu setiap pagi.
Membawa tubuh kecilnya yang masih lelah.
Mengangkat sesuatu yang sebenarnya terlalu berat untuknya.
Lalu pulang membawa beberapa keping uang.
Semua itu terasa seperti kehidupan orang lain.
Padahal belum lama berlalu.
Alistair melanjutkan perjalanan.
Ia melewati pasar.
Lebih sepi dari biasanya.
Beberapa pedagang masih membuka lapaknya, tetapi jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu.
Tidak ada lagi suara ramai seperti dahulu.
Tidak ada anak-anak yang berlarian.
Tidak ada orang yang sibuk memilih makanan.
Hanya suara angin dan beberapa percakapan pelan.
Alistair berdiri di tengah jalan.
Ia baru menyadari sesuatu.
Selama ini ia terlalu sibuk menjaga rumahnya sampai tidak pernah benar-benar memperhatikan bagaimana dunia di luar rumah itu berubah.
Sekarang ketika rumahnya tidak lagi memiliki siapa-siapa...
Dunia itu terasa jauh lebih besar.
Dan jauh lebih sunyi.
---
Alistair kembali ke rumah ketika matahari mulai turun.
Ia membuka pintu.
Tidak ada yang menyambutnya.
Ia menutup pintu perlahan.
Kemudian duduk di kursi tempat ia dan Elara biasa makan.
Satu kursi di depannya kosong.
Alistair menatapnya.
Biasanya ia akan menceritakan apa saja yang terjadi hari itu.
Tentang pekerjaan.
Tentang makanan.
Tentang orang yang ditemuinya.
Tentang hal kecil yang bahkan sebenarnya tidak penting.
Sekarang ia membuka mulut.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Ia menutupnya kembali.
Alistair menundukkan kepala.
Tangannya masuk ke dalam saku pakaian.
Jari-jarinya menyentuh sebuah lonceng kecil.
Ia mengeluarkannya.
Lonceng itu diberikan oleh ibunya.
Alistair menggenggamnya.
Kemudian ia menggoyangkannya sedikit.
Ting.
Suara kecil memenuhi ruangan.
Alistair terdiam.
Suara itu mengingatkannya pada malam terakhir.
Saat ibunya masih berada di sampingnya.
Saat ia masih bisa menggenggam tangan ibunya.
Saat rumah ini belum terasa sebesar sekarang.
Alistair menutup matanya.
Untuk beberapa saat ia berharap ketika membuka mata nanti, semuanya akan kembali seperti dulu.
Namun ketika matanya terbuka...
Kursi itu tetap kosong.
Alistair menggenggam lonceng itu lebih erat.
"Ibu bilang aku harus hidup..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Ia menatap surat yang sekarang berada di atas meja.
"Ibu juga bilang aku harus terus berjalan."
Alistair diam.
Kemudian ia mengingat kalimat terakhir surat itu.
Ibunya ingin ia hidup.
Bukan sekadar bertahan.
Hidup.
Alistair menatap pintu rumah.
Di balik pintu itu ada dunia yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Dunia yang selama bertahun-tahun membuatnya takut kehilangan.
Dunia yang juga mengambil ayahnya.
Kemudian ibunya.
Ia tidak menyukainya.
Tetapi untuk pertama kalinya...
Ia mulai berpikir untuk melihatnya sendiri.
---
Malam tiba.
Alistair mempersiapkan tempat tidurnya seorang diri.
Ia meletakkan kotak kecil pemberian ibunya di dekat kepala.
Satu lonceng ia ambil.
Satu lagi tetap berada di dalam kotak.
Ia tidak tahu kenapa.
Mungkin karena ibunya pernah mengatakan bahwa lonceng itu adalah pengingat bahwa mereka akan selalu terhubung.
Alistair berbaring.
Tangannya menggenggam lonceng kecil tersebut.
Matanya menatap langit-langit.
"Kalau aku pergi..."
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan sesuatu yang selama ini selalu ia tolak.
"...apa aku benar-benar boleh?"
Tidak ada jawaban.
Alistair menarik napas panjang.
Ia teringat percakapan mereka pada ulang tahunnya.
Saat ia mengatakan tidak ingin pergi.
Saat ibunya mengatakan dunia itu luas.
Saat ia menjawab bahwa mereka akan pergi bersama.
Alistair tersenyum tipis.
Senyum yang berbeda dari biasanya.
Bukan senyum untuk meyakinkan seseorang bahwa semuanya baik-baik saja.
Hanya sebuah senyum kecil karena ia mengingat seseorang.
"Ibu pasti mau lihat dunia juga..."
Tangannya menyentuh lonceng.
"Tapi Ibu nggak bisa."
Ia menatap langit-langit sekali lagi.
"Jadi..."
Alistair memejamkan mata.
"...aku yang akan lihat."
Ting.
Lonceng itu berbunyi pelan ketika tangannya bergerak.
Malam kembali sunyi.
Tetapi kali ini, kesunyian itu terasa sedikit berbeda.
Bukan karena rumahnya berubah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya...
Alistair mulai memikirkan dunia di luar rumahnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ia akan meninggalkan tempat itu.
Bukan karena ia sudah tidak memiliki rumah.
Melainkan karena ia ingin mencari tahu...
seberapa luas dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ibunya.