Chapter 6 of 9
Hadiah Terakhir
1.2k words
Lima tahun telah berlalu sejak Alistair dan Elara meninggalkan Minas.
Kini Alistair telah berusia sepuluh tahun. Desa kecil yang dahulu menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru perlahan berubah akibat Thanatosemia. Banyak rumah mulai kosong dan ladang yang dulu ramai semakin jarang dikerjakan. Meski begitu, Alistair tetap menjalani rutinitasnya: bekerja, mencari makanan, lalu kembali menemani ibunya.
Hari itu terasa sedikit berbeda.
Alistair membuka pintu rumah dengan wajah ceria.
“Ibu!”
Elara yang sedang duduk di dekat jendela menoleh dan tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Alistair. Sepuluh tahun, ya?”
Alistair mengangguk bangga.
“Aku sudah besar sekarang.”
“Benarkah? Rasanya baru kemarin kamu masih sekecil ini.”
Elara mengangkat tangannya, menunjukkan ukuran tubuh Alistair ketika masih kecil.
Alistair tertawa.
“Sekarang aku sudah bisa bekerja.”
“Itu justru yang membuat ibu khawatir.”
Elara kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari dekat tempat tidurnya dan menyerahkannya kepada Alistair.
“Ini untukmu.”
Mata Alistair langsung berbinar.
“Boleh dibuka?”
“Tentu.”
Ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat dua pasang lonceng kecil dan sebuah surat yang dilipat rapi.
Alistair mengambil salah satu pasang lonceng.
“Kenapa ada dua?”
“Yang satu untukmu, yang satu lagi untuk ibu.”
Alistair menggoyangkan lonceng itu.
kring...
Suara kecilnya terdengar lembut di dalam rumah.
“Kenapa harus dua?”
Elara tersenyum.
“Karena ibu ingin kita memiliki sesuatu yang sama.”
Alistair memasangkan lonceng itu pada tangannya.
“Kalau begitu aku akan selalu membawanya.”
“Jangan sampai hilang.”
“Pasti.”
Perhatiannya kemudian beralih kepada surat.
“Kalau ini?”
“Itu juga untukmu.”
“Boleh dibaca sekarang?”
Elara menggeleng pelan.
“Nanti saja.”
“Kenapa?”
“Pokoknya nanti.”
Alistair memasukkan surat tersebut ke dalam sakunya meskipun masih terlihat penasaran.
Elara memperhatikannya beberapa saat sebelum berkata,
“Alistair, kalau suatu hari nanti kamu pergi jauh dari sini, jangan takut melihat dunia yang belum pernah kamu kenal.”
Alistair segera menjawab,
“Aku nggak akan pergi.”
Elara tertawa kecil.
“Kamu bahkan belum tahu apa yang ada di luar sana.”
“Kalau begitu nanti kita pergi bersama.”
Senyum Elara perlahan berubah menjadi tatapan lembut.
“Iya. Kita pergi bersama.”
Alistair mengangkat tangannya yang mengenakan lonceng.
“Janji?”
“Janji.”
---
Malam itu, Alistair tidur di samping tempat tidur ibunya seperti biasanya. Lonceng pemberian Elara berada di dekat tangannya, sementara ibunya masih terjaga memandang wajah anaknya.
Elara mengusap rambut Alistair perlahan.
“Maaf…”
Alistair bergerak dalam tidurnya, lalu tanpa sadar mencari tangan ibunya. Elara membiarkannya menggenggam tangan tersebut sampai anak itu kembali tenang.
Angin malam masuk melalui jendela dan membuat lonceng kecil di dekat Alistair berbunyi pelan.
kring...
Elara memejamkan mata.
---
Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela.
Alistair terbangun dan langsung menoleh kepada ibunya.
“Ibu?”
Elara tidak menjawab.
Ia mendekat dan menggenggam tangannya. Tubuh Elara terasa dingin.
“Ibu, bangun.”
Tidak ada reaksi.
Alistair masih menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa sesuatu telah berubah.
Ia menatap wajah ibunya dengan kebingungan. Selama ini, apa pun yang terjadi, Elara selalu menjawab ketika ia memanggil.
Namun kali ini tidak.
Alistair menundukkan kepala. Tangannya masih menggenggam tangan ibunya ketika matanya tertuju pada kotak kecil di dekat tempat tidur.
Ia mengambilnya dan melihat dua pasang lonceng yang masih berada di dalam.
Surat itu juga masih ada.
Alistair memegangnya sebentar, tetapi tidak membukanya.
“Bukan sekarang.”
---
Pemakaman Elara dilakukan pada hari yang sama.
Tidak banyak orang yang hadir. Wabah telah membuat desa itu kehilangan terlalu banyak penduduk, sementara mereka yang masih bertahan sibuk menjaga keluarganya masing-masing.
Alistair berdiri di depan makam ibunya dengan pakaian sederhana. Lonceng kecil pemberian Elara masih terpasang di tangannya.
Seorang warga berdiri tidak jauh darinya.
“Ibumu pasti ingin melihatmu bahagia.”
Alistair tidak menjawab.
Ia hanya menatap makam di hadapannya sambil mengingat percakapan mereka sehari sebelumnya.
Kita pergi bersama.
Janji itu masih terdengar jelas dalam pikirannya.
Namun sekarang, hanya dirinya yang berdiri di sana.
Setelah pemakaman selesai, satu per satu warga meninggalkan tempat tersebut. Alistair masih bertahan beberapa saat sebelum akhirnya berjalan pulang ketika matahari mulai turun.
Sesampainya di rumah, ia duduk di tempat yang biasanya digunakan untuk makan bersama ibunya.
Kursi di hadapannya kosong.
Barulah ia mengambil kotak kecil yang tadi dibawanya dari kamar.
Ia membuka lipatan surat yang selama ini disimpan Elara.
Tulisan tangan ibunya memenuhi halaman tersebut.
«Untuk Alistair, anakku.
Kalau kamu membaca surat ini, mungkin ibu sudah tidak berada di sampingmu.
Ibu tidak tahu kapan kamu akan membacanya. Mungkin ketika kamu masih kecil, mungkin ketika kamu sudah dewasa.
Ada satu hal yang ingin ibu katakan terlebih dahulu.
Terima kasih.
Terima kasih sudah menjadi anak ibu.
Ibu tahu hidupmu tidak mudah. Sejak kecil, kamu sudah melihat banyak hal yang seharusnya belum perlu kamu lihat. Ibu juga tahu kamu sering berusaha terlihat kuat di depan ibu.
Tapi kamu tidak harus selalu kuat.
Kalau kamu sedih, menangislah. Kalau kamu takut, akui bahwa kamu takut. Kalau kamu lelah, beristirahatlah.
Menjadi kuat bukan berarti harus menghadapi semuanya sendirian.
Alistair...
Dunia mungkin tidak selalu baik kepadamu. Akan ada hari ketika kamu merasa dunia tidak adil. Akan ada orang yang menyakitimu dan hal-hal yang tidak bisa kamu ubah meskipun sudah berusaha sekuat tenaga.
Namun ibu ingin kamu tetap menjadi dirimu sendiri.
Jangan biarkan dunia menentukan seperti apa hatimu.
Jika suatu hari kamu menemukan seseorang yang membutuhkan bantuanmu, bantulah jika kamu mampu. Jika kamu menemukan seseorang yang sedang sendirian, jangan takut untuk menemaninya.
Dan kalau suatu hari kamu menemukan alasan untuk tersenyum, tersenyumlah.
Bukan karena dunia selalu indah, tetapi karena kamu masih memiliki kesempatan untuk melihat sesuatu yang indah di dalamnya.
Ibu ingin kamu melihat dunia yang belum pernah ibu lihat. Pergilah ke tempat-tempat yang jauh, temui orang-orang baru, dan buatlah kenanganmu sendiri.
Jangan merasa bersalah karena memilih untuk bahagia.
Tentang lonceng itu...
Yang satu untukmu dan yang satu lagi untuk ibu.
Kalau suatu hari kamu mendengar suara loncengmu, ingatlah bahwa pernah ada seseorang yang selalu menunggumu pulang.
Ibu akan selalu menjadi rumah untukmu, Alistair.
Jadi...
hiduplah.
Bukan hanya untuk bertahan. Hiduplah untuk melihat dunia dan menemukan kebahagiaanmu sendiri.
Kalau suatu hari kamu merasa kehilangan arah, lihatlah ke depan.
Ibu ingin melihatmu terus berjalan.
Selamat ulang tahun, Alistair.
Ibu menyayangimu.
— Elara»
Surat itu perlahan turun dari tangan Alistair.
Air matanya jatuh ke halaman yang baru saja dibacanya. Ia mencoba mengusapnya, tetapi akhirnya berhenti menahan tangis.
“Ibu...”
Ia memeluk surat tersebut erat-erat.
Di pergelangan tangannya, lonceng kecil itu kembali berbunyi.
kring...
Malam semakin gelap, sementara Alistair masih duduk sendirian di rumah yang dahulu mereka tinggali bersama.
---
Thanatosemia bukanlah penyakit yang muncul secara tiba-tiba. Penyakit tersebut menyerang tubuh secara perlahan, menyebabkan darah penderita berubah menjadi gelap, tubuh kehilangan tenaga, dan kulit mengalami perubahan seiring penyakit berkembang.
Elara telah hidup dengan penyakit itu selama bertahun-tahun.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah dapat dijelaskan oleh penduduk desa.
Alistair tidak pernah tertular.
Selama lima tahun, ia berada sangat dekat dengan ibunya. Ia merawat Elara, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, bahkan tidur di samping tempat tidurnya ketika kondisi sang ibu semakin buruk.
Secara logika, seharusnya kemungkinan tertular tetap ada.
Tetapi tubuh Alistair seolah menolak penyakit tersebut.
Penduduk desa menganggapnya hanya keberuntungan atau ketahanan tubuh yang jarang dimiliki seseorang. Tidak ada yang memiliki jawaban pasti, dan Alistair sendiri tidak pernah memikirkan hal itu.
Baginya, yang penting hanyalah ibunya.
Namun jauh di dalam tubuh anak itu, terdapat sesuatu yang belum dipahami siapa pun.
Sesuatu yang telah ada sejak ia masih kecil.
Sesuatu yang bahkan belum memiliki nama.
Dan untuk waktu yang cukup lama, sesuatu itu akan tetap menjadi misteri.