Chapter 5 of 9

Hari yang Semakin Sunyi

513 words

Beberapa hari telah berlalu. Alistair masih melakukan hal yang sama setiap pagi. Bangun. Bekerja. Membeli makanan. Lalu pulang. Namun desa itu perlahan berubah. Semakin banyak rumah yang tertutup. Jalanan yang biasanya ramai kini terasa sepi. Bahkan ladang tempat Alistair bekerja mulai kekurangan orang. Pagi itu, Alistair datang seperti biasa. Namun petani yang biasanya memberinya pekerjaan hanya berdiri di depan gudang. “Alistair.” “Ya?” “Mulai hari ini kau tidak perlu datang.” Alistair terdiam. “Kenapa?” Petani itu menghela napas. “Orang-orang yang bekerja di sini semakin sedikit. Aku juga sedang tidak sehat.” Alistair menunduk. “Kalau begitu... aku bisa bekerja lebih banyak.” “Tidak.” Pria itu menggeleng. “Kau masih terlalu kecil.” Alistair mengepalkan tangannya. “Tapi aku harus bekerja.” Pria itu terdiam. Kemudian ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menyerahkannya. “Ambil.” Alistair menatap uang itu. “Ini untuk apa?” “Anggap saja pembayaran untuk pekerjaanmu beberapa hari terakhir.” Alistair menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih.” Ia kemudian pergi. Untuk pertama kalinya, Alistair tidak tahu harus mencari pekerjaan ke mana. Ia berjalan melewati pasar. Beberapa pedagang tidak membuka toko. Beberapa lainnya hanya duduk diam. Di salah satu sudut jalan, ia melihat seorang wanita membawa makanan menuju rumahnya. Alistair mengenalnya. “Itu ibu dari anak yang kemarin.” Wanita itu berjalan tergesa-gesa. Alistair tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di rumah, Alistair membuka pintu. “Ibu, aku pulang.” Elara menoleh dari tempat tidurnya. “Kau sudah pulang?” “Iya.” Alistair meletakkan makanan di meja. Hari itu jumlahnya lebih sedikit. Elara memperhatikannya. “Kau tidak bekerja?” Alistair tersenyum. “Libur.” Elara tahu itu bukan jawaban sebenarnya. “Kau tidak perlu berbohong kepada ibu.” Alistair terdiam. Beberapa saat kemudian ia duduk di samping tempat tidur. “Tempatku bekerja sedang sepi.” Elara mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Alistair. “Maaf.” Alistair menggeleng. “Tidak apa-apa.” Ia tersenyum. “Aku bisa cari pekerjaan lain.” Elara memandang wajah anaknya. Anak yang seharusnya bermain. Bukan memikirkan bagaimana mendapatkan makanan untuk hari berikutnya. Namun Alistair justru berdiri lagi. “Aku mau masak.” “Alistair.” “Hmm?” “Duduklah sebentar.” Alistair berhenti. Elara tersenyum kecil. “Kau sudah bekerja keras.” Alistair akhirnya duduk. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam. Tidak ada percakapan. Tidak ada suara langkah kaki. Hanya angin yang melewati celah jendela. Kemudian terdengar suara batuk dari rumah tetangga. Alistair menoleh. Ia sudah terlalu sering mendengarnya. Namun kali ini, suara itu diikuti suara tangisan seorang anak. Alistair kembali menatap ibunya. “Ibu.” “Ya?” “Kalau ibu sembuh nanti...” Elara tersenyum. “Apa?” “Kita pergi ke tempat lain.” Elara terdiam. “Tempat yang banyak orangnya.” Alistair mulai membayangkan sesuatu. “Terus kita punya rumah yang lebih besar.” Ia tersenyum. “Ayah juga pasti sudah pulang waktu itu.” Elara menatapnya. Ada kesedihan di matanya. Namun ia tidak ingin menghilangkan senyum anaknya. “Ya.” Alistair tersenyum lebih lebar. “Kita pasti bisa.” Elara menggenggam tangannya. “Iya.” Malam tiba. Alistair kembali tidur di samping ibunya. Namun kali ini ia tidak langsung tertidur. Ia menatap langit-langit rumah. Pikirannya dipenuhi banyak hal. Pekerjaan yang semakin sulit ditemukan. Makanan yang semakin sedikit. Orang-orang yang semakin banyak jatuh sakit. Dan ibunya yang belum juga sembuh. Alistair memejamkan mata. Besok ia harus mencari pekerjaan lagi. Bagaimanapun caranya. Karena ia masih percaya... selama ia terus berusaha, semuanya akan menjadi lebih baik.

End of Chapter 5