Chapter 4 of 9

Senyum Yang Di Pakasakan

487 words

Pagi kembali datang. Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah jendela rumah kecil itu. Alistair membuka matanya. Tangannya masih berada di tempat yang sama seperti semalam. Namun kali ini, tangan ibunya terasa lebih dingin. Alistair menatap Elara yang masih berbaring. “Ibu?” Tidak ada jawaban. Alistair mendekatkan wajahnya. “Ibu, bangun.” Elara perlahan membuka mata. “Sudah pagi?” “Iya.” Alistair tersenyum kecil. “Aku mau pergi kerja lagi.” Elara mencoba bangun, tetapi tubuhnya terlihat semakin lemah. “Tidak perlu terlalu memaksakan diri, Alistair.” Alistair menggeleng. “Kalau aku kerja, nanti kita bisa makan.” Elara hanya terdiam. Alistair mengambil wadah makanan yang sudah kosong, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. “Ibu tunggu di sini, ya.” Elara tersenyum. “Iya.” Pintu rumah tertutup. Alistair berjalan menyusuri jalan desa. Namun pagi itu terasa berbeda. Beberapa rumah di sepanjang jalan juga terlihat tertutup. Orang-orang yang biasanya bekerja di ladang tidak terlihat. Di depan sebuah rumah, seorang pria sedang berbicara dengan tetangganya. “Anaknya juga sakit?” “Iya.” Alistair memperlambat langkah. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Baginya, orang sakit adalah hal yang biasa sejak beberapa bulan terakhir. Namun semakin hari, semakin banyak orang yang tidak keluar rumah. Alistair melanjutkan perjalanan menuju ladang. Sesampainya di sana, petani yang biasa memberinya pekerjaan sudah menunggunya. “Kau datang juga.” Alistair mengangguk. “Ada pekerjaan?” Pria itu menyerahkan sebuah keranjang. “Bawa hasil panen ke gudang.” Alistair langsung menerimanya. Ia bekerja seperti biasa. Mengangkat. Membawa. Kembali lagi. Mengangkat. Membawa. Tangannya yang kecil mulai terasa sakit, tetapi ia tidak berhenti. Saat matahari mulai tinggi, petani itu memanggilnya. “Alistair.” Alistair menoleh. “Ya?” Pria itu memberikan beberapa keping uang. “Cukup sampai hari ini.” Alistair melihat uang itu. Lalu tersenyum. “Terima kasih.” Ia segera berlari menuju pasar. Ia membeli makanan yang paling murah. Tidak banyak. Namun cukup untuk dibawa pulang. Saat berjalan kembali, Alistair melewati sebuah rumah yang pintunya terbuka. Seorang anak seumurannya duduk di depan rumah. Wajahnya tampak murung. Alistair berhenti. “Kau kenapa?” Anak itu tidak menjawab. Alistair duduk di sampingnya. “Kau sakit?” Anak itu menggeleng. “Ibu sakit.” Alistair terdiam. Ia tahu perasaan itu. “Ibuku juga.” Anak itu akhirnya menoleh. “Kapan ibumu sembuh?” Alistair tersenyum. “Sebentar lagi.” Padahal ia sendiri tidak tahu. Anak itu ikut tersenyum. “Semoga.” Alistair berdiri. “Aku pulang dulu.” Ia melanjutkan perjalanan. Senyum di wajahnya masih ada. Namun langkahnya menjadi sedikit lebih cepat. Sesampainya di rumah, Alistair membuka pintu. “Ibu, aku pulang!” Tidak ada jawaban. Alistair meletakkan makanan di meja. “Ibu?” Ia berjalan menuju kamar. Elara masih berbaring. Alistair mendekat. “Aku sudah bawa makanan.” Elara membuka matanya perlahan. “Kau sudah pulang…” “Iya.” Alistair tersenyum lebar. “Lihat, hari ini aku dapat banyak.” Elara melihat makanan dan uang yang tersisa di tangan anaknya. Kemudian ia melihat wajah Alistair. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun tidak keluar. Alistair mengambil makanan dan mulai menyiapkannya. “Ibu makan sedikit, ya.” Elara mengangguk. Di luar rumah, suara batuk kembali terdengar dari kejauhan. Alistair tidak memperhatikannya. Ia hanya sibuk memastikan ibunya makan. Baginya, selama ibunya masih bisa tersenyum… semuanya akan baik-baik saja.

End of Chapter 4