Chapter 3 of 9

Tangan Kecil

616 words

Pagi itu, Alistair kembali keluar rumah. Di tangannya ada sebuah keranjang kecil. Tujuannya sederhana: mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang. Ia mendatangi seorang petani yang sedang memindahkan hasil panen. “Pak, aku boleh bantu?” Petani itu menatapnya sejenak. “Kau yakin?” Alistair mengangguk. “Bisa.” Pekerjaan yang diberikan sebenarnya sederhana. Membawa barang-barang kecil, membersihkan halaman, dan membantu mengumpulkan hasil panen. Namun bagi tubuh Alistair, semuanya terasa berat. Beberapa kali ia berhenti untuk mengatur napas. Ketika pekerjaannya selesai, petani itu memberinya beberapa keping uang. “Ini untukmu.” Alistair menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih, Pak!” Ia langsung pergi ke pasar. Dengan uang yang dimilikinya, Alistair membeli bahan makanan secukupnya lalu pulang. Sesampainya di rumah, ia mencoba memasak. Hasilnya jauh dari sempurna. Bentuknya berantakan dan rasanya mungkin tidak terlalu enak. Tapi Alistair terlihat puas. “Ibu.” Elara membuka mata. “Aku masak.” Ia meletakkan makanan di samping tempat tidur. Elara tersenyum melihatnya. “Kau membuatnya sendiri?” “Iya.” Alistair duduk di sampingnya. “Walaupun agak aneh.” Elara tertawa kecil. “Kalau begitu, kita coba bersama.” Mereka makan perlahan. Di tengah makan, Alistair melirik kursi kosong di depan mereka. “Ibu…” “Ya?” “Kalau Ayah pulang, aku mau masakin Ayah juga.” Tangan Elara berhenti sesaat. Kemudian ia tersenyum. “Tentu.” Alistair kembali makan tanpa curiga. Hari-hari setelahnya berjalan dengan pola yang sama. Alistair mencari pekerjaan ketika pagi, lalu pulang membawa apa pun yang berhasil ia dapatkan. Suatu sore, ia masuk ke rumah dengan membawa sebungkus makanan. “Ibu, aku pulang.” Tidak ada jawaban. Alistair langsung menuju kamar. Ia menemukan Elara duduk di dekat jendela. “Ibu?” Elara menoleh. “Kau sudah pulang.” Alistair meletakkan makanan di meja. “Aku dapat ini.” Elara melihat tangan anaknya. Ada beberapa goresan kecil dan kotoran yang belum dibersihkan. “Alistair.” “Hmm?” “Kau tidak perlu terus bekerja.” Alistair terdiam. “Kenapa?” “Karena kau masih kecil.” Alistair menatap ibunya beberapa saat. Lalu ia menjawab dengan polos, “Kalau aku nggak kerja, nanti Ibu makan apa?” Elara tidak bisa menjawab. Alistair kemudian duduk di sampingnya. “Aku nggak apa-apa.” Ia tersenyum. “Besok aku kerja lagi.” Elara menariknya ke dalam pelukan. Alistair tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam di sana. Malam tiba. Alistair tertidur di samping tempat tidur ibunya. Sementara Elara masih terjaga. Ia memperhatikan wajah anaknya yang tertidur. Rambutnya berantakan. Tangannya masih kotor. Dan di samping tubuh kecil itu terdapat keranjang yang dibawanya sejak pagi. Elara mengusap rambutnya. “Maaf…” Suaranya nyaris tak terdengar. Alistair bergerak sedikit dalam tidurnya. Tangannya mencari sesuatu di sampingnya. Elara memberikan tangannya. Alistair langsung menggenggamnya. Seolah memastikan ibunya masih ada. Elara menatap tangan kecil itu cukup lama. Di luar, angin malam melewati jendela. Di dalam rumah sederhana itu, Alistair tidur dengan tenang. Ia belum mengerti apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu satu hal: selama ibunya masih berada di sisinya, ia akan terus berusaha. Dan tanpa ia sadari… Malam semakin larut. Alistair tertidur di samping tempat tidur ibunya. Tangannya masih menggenggam tangan Elara. Sesekali ia bergerak dalam tidurnya, seolah memastikan ibunya masih berada di sana. Elara menatap wajah anaknya dalam diam. Tidak ada lagi senyum ceria seperti dulu. Yang tersisa hanya wajah lelah setelah seharian bekerja. Ia mengusap rambut Alistair perlahan. “Maaf…” Suaranya bergetar. “Aku seharusnya yang menjagamu.” Elara menunduk, lalu mencium kening anaknya. Alistair tidak terbangun. Ia justru menggenggam tangan ibunya semakin erat. Di luar, angin malam berembus melewati jendela. Desa perlahan terlelap. Namun di rumah kecil itu, seorang ibu masih terjaga, memandangi anaknya yang tertidur. Alistair tidak tahu bahwa sejak hari itu, hidupnya tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya. Ia juga tidak tahu berapa banyak hal yang masih akan direnggut darinya. Yang ia tahu hanyalah… besok pagi, ia harus bangun lagi. Mencari makanan. Pulang ke rumah. Dan memastikan ibunya masih tersenyum. Karena bagi Alistair yang baru berusia lima tahun… selama ibunya masih menggenggam tangannya, ia masih memiliki alasan untuk terus berjalan.

End of Chapter 3