Chapter 2 of 9

Dunia Yang Berbeda

969 words

Kabut masih menyelimuti Kota Minas. Dari kejauhan, kota itu sudah tidak terlihat seperti tempat yang pernah menjadi rumah bagi ribuan orang. Yang tersisa hanyalah bayangan bangunan di balik kabut tebal dan suara-suara asing yang perlahan menghilang ditelan malam. Di tengah perjalanan menjauh dari kota itu, Elara terus menggandeng tangan Alistair. Langkahnya cepat. Namun sesekali ia menoleh ke belakang. Alistair juga terus melihat ke arah yang sama. “Ayah belum datang…” Suara kecil itu terdengar pelan. Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan anaknya sedikit lebih erat. “Alistair…” “Kenapa Ayah belum datang?” Kali ini Elara berhenti. Ia berjongkok di hadapan Alistair dan merapikan rambut anaknya yang berantakan. “Ayahmu…” Elara terdiam sejenak. “…sedang membantu orang-orang di kota.” Alistair mengangguk kecil. “Berarti nanti Ayah nyusul?” Elara tersenyum tipis. “Iya.” Sebuah jawaban sederhana. Jawaban yang diberikan seorang ibu kepada anaknya agar anak itu tidak perlu mengetahui kenyataan yang terlalu berat untuk usianya. Mereka terus berjalan sampai akhirnya meninggalkan wilayah Minas. Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah desa kecil yang jauh dari perbatasan. Tidak ada tembok besar. Tidak ada pasukan. Tidak ada suara pertempuran. Hanya rumah-rumah sederhana, ladang, dan orang-orang yang menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Bagi Alistair, tempat itu terasa asing. Terlalu tenang. Ia berjalan di samping ibunya sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Ada anak-anak yang bermain. Ada pedagang yang berteriak menawarkan dagangan. Ada keluarga yang duduk bersama di depan rumah. Alistair berhenti. Matanya mengikuti seorang ayah yang sedang menggendong anak kecilnya. “Bu…” “Hmm?” “Kenapa mereka masih bisa tertawa?” Elara terdiam. Ia melihat ke arah keluarga itu. Kemudian kembali melihat Alistair. “Karena hidup mereka masih berjalan.” Alistair menunduk. “Tapi… hidup kita juga masih berjalan, kan?” Elara tersenyum. “Benar.” Alistair kemudian ikut tersenyum. Untuk sesaat, ia kembali menjadi anak kecil seperti sebelumnya. Mereka menyewa sebuah rumah kecil di pinggir desa. Tidak besar. Tidak mewah. Namun cukup untuk mereka berdua. Hari-hari pertama berjalan dengan sederhana. Elara mencoba mencari pekerjaan. Alistair membantu sebisanya. Ia mengambil air, mengumpulkan kayu, dan melakukan pekerjaan kecil yang mampu dilakukan anak seusianya. Kadang ia masih bertanya tentang ayahnya. “Menurut Ibu, Ayah sudah sampai belum?” “Belum tahu.” “Kalau Ayah datang, kita makan bersama, ya.” “Tentu.” “Terus aku mau cerita tentang desa ini.” Elara hanya tersenyum. Namun semakin hari, pertanyaan itu semakin jarang terdengar. Bukan karena Alistair sudah melupakan ayahnya. Melainkan karena perlahan ia mulai memahami bahwa mungkin… ada sesuatu yang tidak dikatakan ibunya. Beberapa bulan berlalu. Kemudian sesuatu yang jauh lebih buruk datang. Awalnya hanya beberapa orang desa yang jatuh sakit. Demam. Tubuh melemah. Mereka tidak tahu penyebabnya. Lalu jumlahnya bertambah. Satu rumah. Dua rumah. Lima rumah. Penyakit itu akhirnya dikenal dengan satu nama. Thanatosemia. Penyakit yang perlahan mengubah darah menjadi hitam dan membuat tubuh kehilangan kekuatannya. Dan kali ini… Elara juga terjangkit. Alistair yang baru berusia lima tahun tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu ibunya semakin sering terbaring. Semakin jarang tersenyum. Dan semakin sulit untuk bangun. Suatu pagi, Alistair duduk di samping tempat tidur. “Ibu…” Tidak ada jawaban. Alistair menggenggam tangan ibunya. Dingin. Ia menatap wajah Elara beberapa saat. Kemudian tersenyum kecil. “Ibu tidur aja…” “Aku bisa cari makanan sendiri.” Hari itu menjadi awal dari kehidupan yang seharusnya tidak pernah dijalani seorang anak berusia lima tahun. Ia mulai berjalan ke desa. Meminta makanan. Kadang membantu pekerjaan orang lain sebagai imbalan. Kadang pulang tanpa membawa apa-apa. Dan ketika tidak ada yang mau memberinya makanan… ia mulai mengambilnya. Bukan karena ia ingin menjadi pencuri. Ia hanya tidak ingin ibunya kelaparan. Hari demi hari berlalu. Tubuh kecilnya mulai terbiasa dengan rasa lelah. Tangannya mulai kasar. Kakinya sering terasa sakit. Namun setiap kali pulang dan melihat ibunya masih berada di sana… Alistair kembali tersenyum. “Lihat, Bu.” Ia mengangkat makanan yang berhasil didapatkannya. “Aku dapat.” Elara menatapnya. Senyumnya lemah. “Kau tidak perlu melakukan semua ini, Alistair…” “Tapi aku anak Ibu.” Alistair tersenyum. “Jadi aku harus jagain Ibu.” Elara tidak menjawab. Ia hanya memeluk anaknya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Alistair tidak bertanya kapan ayahnya akan pulang. Karena sekarang ia hanya memiliki satu hal yang ingin ia lindungi. Ibunya. Hari demi hari berlalu. Alistair mulai terbiasa dengan rasa lapar. Terbiasa dengan tangan yang kotor. Terbiasa berjalan jauh hanya untuk mendapatkan sedikit makanan. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Setiap kali pulang, ia selalu tersenyum kepada ibunya. “Lihat, Bu.” Alistair mengangkat makanan yang berhasil ia dapatkan hari itu. “Aku dapat banyak.” Elara yang terbaring lemah hanya mampu tersenyum. “Kau sudah berusaha terlalu keras, Alistair…” “Tidak apa-apa.” Ia duduk di samping tempat tidur. “Aku kan anak Ibu.” Alistair kemudian menyodorkan makanan itu. “Ini buat Ibu.” Elara terdiam. Ia tahu anak kecil di hadapannya seharusnya tidak perlu melakukan semua itu. Seharusnya Alistair bermain. Berlari. Bertengkar kecil dengan anak-anak lain. Pulang dengan lutut kotor dan wajah penuh senyum. Bukan berjalan dari rumah ke rumah hanya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Elara menarik Alistair ke dalam pelukannya. Dan untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Alistair memejamkan mata. Ia merasa aman. Seperti dulu. Seperti ketika ayahnya masih ada. Namun ketika malam tiba, Alistair terbangun. Ia melihat ibunya masih tertidur. Perlahan ia duduk. Menatap wajah Elara dalam cahaya lampu yang redup. Lalu ia berbisik, “Ibu…” Tidak ada jawaban. Alistair menunduk. “Aku bakal jadi anak baik.” Ia menggenggam ujung selimut. “Aku bakal kerja lebih keras.” Senyumnya muncul kembali, meski kali ini sangat kecil. “Jadi… Ibu jangan pergi juga, ya?” Hening. Tidak ada yang menjawab. Alistair akhirnya kembali berbaring di samping ibunya. Ia masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan. Terlalu muda untuk mengerti mengapa dunia terus mengambil sesuatu darinya. Yang ia tahu hanyalah satu hal— ia tidak ingin kehilangan keluarganya lagi. Dan malam itu, tanpa disadari Alistair… seorang anak berusia lima tahun mulai belajar bahwa dunia tidak selalu membalas kebaikan dengan kebahagiaan. Alistair tidak bertanya kapan ayahnya akan pulang. Karena sekarang ia hanya memiliki satu hal yang ingin ia lindungi. Ibunya.

End of Chapter 2