Chapter 1 of 9

Awal Takdir Yang Telah Di Tentukan

777 words

Di ujung sebuah pegunungan berdiri sebuah kota bernama Minas. Kota itu berada di wilayah perbatasan antara Kekaisaran Empayer dan Void. Karena letaknya yang strategis, Minas dijaga oleh para kesatria yang bertugas melindungi kota dan penduduknya. Di antara keluarga-keluarga kesatria yang tinggal di sana, terdapat satu keluarga bernama Ashwood. Keluarga itu tidak memiliki kehidupan yang mewah. Namun bagi seorang anak laki-laki berusia lima tahun, rumah kecil mereka terasa seperti seluruh dunia. Namanya Alistair Ashwood. Pagi itu, Alistair berlari mengelilingi rumah dengan wajah penuh kegembiraan. “Lima tahun!” Ia mengangkat kedua tangannya. “Hari ini aku sudah lima tahun!” Di dekat meja makan, Elara Ashwood hanya bisa tersenyum melihat tingkah putranya. “Kalau terus berlari seperti itu, umurmu mungkin baru lima tahun, tapi kepalamu sudah benjol duluan.” Alistair berhenti. Ia menatap ibunya dengan wajah serius. “Benjol itu apa?” Elara tertawa kecil. “Sudahlah. Sini.” Alistair menghampiri ibunya. Elara merapikan rambut putranya yang berantakan. “Selamat ulang tahun, Alistair.” Alistair tersenyum lebar. “Terima kasih, Ibu!” Dari sisi ruangan, seorang pria sedang mengenakan perlengkapan kesatrianya. Leo Ashwood. Ayah Alistair. Ia memperhatikan keduanya sambil memasang pedangnya. Alistair langsung berlari menghampirinya. “Ayah!” Leo menoleh. “Hm?” “Hari ini kita main bersama, kan?” Leo terdiam sebentar. Kemudian ia tersenyum tipis. “Kalau tugas Ayah selesai.” Alistair langsung mengangkat tangannya. “Janji?” Leo mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji.” Alistair mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik ayahnya. “Janji!” Elara memperhatikan mereka sambil tersenyum. Untuk keluarga Ashwood, pagi itu hanyalah pagi sederhana. Tidak ada pesta besar. Tidak ada hadiah mahal. Hanya sebuah keluarga kecil yang menikmati waktu bersama. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. DONG! Suara lonceng terdengar dari kejauhan. Alistair menoleh. DONG! DONG! Suara lonceng semakin keras. Ekspresi Leo berubah. Elara yang menyadarinya langsung berdiri. “Ada apa?” Leo berjalan menuju jendela. Dari kejauhan, terlihat asap mulai naik di balik bangunan kota. Warga berlarian di jalan. Para kesatria mulai berkumpul menuju gerbang. Leo terdiam beberapa saat. “Minas diserang.” Alistair yang belum memahami keadaan hanya memiringkan kepalanya. “Diserang siapa?” Leo menoleh kepadanya. Kemudian ia berlutut. “Alistair.” Anak itu menghampiri ayahnya. “Ya?” “Dengarkan Ayah baik-baik.” Leo meletakkan kedua tangannya di bahu putranya. “Jangan keluar rumah. Tetap bersama Ibu.” Alistair mengangguk. “Tapi Ayah mau ke mana?” Leo menatap mata biru putranya. “Ayah harus pergi.” “Kenapa?” “Karena ada orang yang harus dilindungi.” Alistair terdiam. Ia belum mengerti apa arti seorang kesatria. Baginya, ayahnya hanya seseorang yang selalu pulang ke rumah. Seseorang yang selalu menepati janji. “Ayah bakal balik?” Leo terdiam sesaat. Kemudian tersenyum. “Ayah akan berusaha.” Leo berdiri. Elara menghampirinya. “Leo.” Leo menatap istrinya. “Jaga Alistair.” Elara menggenggam tangan putranya. “Kau juga harus pulang.” Leo mengangguk. “Aku akan pulang.” Ia kemudian berjalan keluar rumah. Alistair berdiri di ambang pintu. “Ayah!” Leo berhenti dan menoleh. “Nanti kita main!” Leo tersenyum. “Tentu.” Kemudian ia pergi. Alistair masih berdiri di sana sampai sosok ayahnya menghilang di antara kerumunan. Ia tidak tahu... bahwa janji sederhana itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling lama ia simpan. --- Di gerbang Minas, para kesatria telah berkumpul. Leo menggenggam pedangnya. Di hadapan mereka, pasukan musuh terus mendekat. Pada awalnya para kesatria Minas mampu menahan serangan. Namun keadaan berubah ketika seorang pria berjubah hitam muncul di medan perang. Namanya Framis Front Thier. Seorang bangsawan yang telah jatuh dan menggunakan kekuatan gelap. Framis mengangkat tangannya. Kabut hitam menyebar di antara medan pertempuran. Para kesatria yang telah gugur mulai bangkit kembali. Pertahanan Minas perlahan runtuh. Para kesatria mulai terdesak. Pesan untuk meminta bantuan kepada kerajaan telah dikirim. Namun bantuan itu tidak pernah datang. Leo melihat ke arah kota. Di sana masih banyak warga yang belum berhasil keluar. Ia menggenggam pedangnya lebih erat. “Belum selesai.” Para kesatria di belakangnya mulai mundur. Leo tetap berdiri. “Bawa mereka pergi.” “Tapi, Kapten—” “Pergi!” Leo kembali menghadapkan pedangnya kepada musuh. Ia tahu bahwa mungkin tidak ada jalan untuk kembali. Namun sebagai seorang kesatria Ashwood... ia tetap berdiri. --- Sementara itu, Elara membawa Alistair bersama warga yang sedang meninggalkan Minas. Alistair berkali-kali menoleh ke belakang. “Ibu.” “Hm?” “Ayah di mana?” Elara terdiam. “Ayah sedang menjalankan tugas.” “Dia ikut kita nanti?” Elara menggenggam tangan kecil putranya lebih erat. “Iya.” Alistair tersenyum. Ia percaya kepada ibunya. Ia percaya kepada ayahnya. Dan ia percaya bahwa ketika semuanya selesai... Leo akan kembali. Di kejauhan, kabut mulai menyelimuti Kota Minas. Alistair masih bisa melihat samar-samar bangunan kota yang selama ini menjadi rumahnya. Rumah tempat ia dilahirkan. Tempat ia bermain. Tempat ia merayakan ulang tahunnya. Ia tidak tahu bahwa hari itu bukan sekadar hari ulang tahunnya yang kelima. Hari itu adalah hari terakhir dari kehidupan sederhana yang selama ini ia kenal. Dan jauh di belakangnya... Leo Ashwood masih berdiri sendirian di medan perang. Menjaga sebuah kota. Menjaga keluarganya. Menjaga sebuah janji. Sementara dunia perlahan mulai mengambil masa kecil seorang anak bernama Alistair Ashwood.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter