Chapter 6 of 28
Jejak Ular di Pasar
1.5k words
Udara di ruang teh rahasia itu lembap, membawa aroma teh melati basi dan kertas perkamen tua. Mei Lan menyilangkan kaki di atas tikar anyaman, tatapannya terfokus pada Bao, informan kurusnya yang selalu gelisah. Cahaya temaram dari lentera kertas menari di sudut ruangan, membuat bayangan Bao menari-nari di dinding. Jari-jari Mei Lan bergerak pelan di tepi cangkir porselennya, dingin dan halus.
“Jadi,” Mei Lan memulai, suaranya rendah, nyaris berbisik. “Si yatim piatu itu kembali ke bengkel pandai besi?”
Bao mengangguk cepat, kepalanya nyaris membentur lantai. Matanya bergerak-gerak liar, mencerminkan ketakutan yang belum terucap. Pria itu selalu seperti ini, hidup dalam bayangan, selalu dihantui oleh ketakutan akan sesuatu yang tidak terlihat. Mei Lan sering bertanya-tanya mengapa ia masih bertahan hidup di Bianjing yang kejam ini.
“Ya, Nona Mei,” jawab Bao, suaranya serak. “Dia... dia menghabiskan sepanjang hari di sana. Mengunci diri dengan pandai besi tua itu. Dan, anehnya, Nona, pandai besi itu… tampak ketakutan.”
Alis Mei Lan sedikit terangkat. Ketakutan. Itu bukan reaksi umum terhadap seorang pemuda yang hanya bicara omong kosong tentang material dan perhitungan. Kecuali, tentu saja, omong kosong itu bukan omong kosong sama sekali. Rasa penasaran, dingin dan tajam, mulai mengalir dalam dirinya.
“Ketakutan?” Mei Lan mengulang, memberikan penekanan pada kata itu. “Apa yang membuatnya begitu takut?”
Bao menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun. “Saya tidak tahu pasti, Nona. Tapi, ada kilatan cahaya. Dan… bau aneh. Seperti belerang, tapi lebih pekat. Lalu, suara desisan pendek.” Ia berhenti, seolah mencari kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang didengarnya.
Kilatan cahaya. Belerang. Desisan. Kombinasi itu, di tengah bengkel pandai besi, memunculkan satu kemungkinan yang membuat napas Mei Lan tertahan di dada. Bubuk mesiu. Tapi bubuk mesiu yang mereka tahu adalah bubuk yang lambat terbakar, lebih cocok untuk kembang api daripada senjata. Ini terdengar berbeda.
“Kau sudah memeriksanya lebih dekat?” tanya Mei Lan, suaranya kini lebih tajam, tidak lagi berbisik.
Bao menggelengkan kepala, ketakutan memenuhi matanya. “Tidak berani, Nona. Ada penjaga di sekitar. Orang-orang aneh, bukan dari pasar. Mereka… hanya berdiri di sana. Mengawasi. Tidak bicara, hanya menatap.”
Penjaga. Lin Fan, seorang yatim piatu kelaparan, kini punya penjaga? Mei Lan merasakan denyutan halus di pelipisnya. Ini bukan lagi sekadar pemuda eksentrik dengan ide-ide gila. Ini adalah sebuah operasi. Sebuah jaringan yang mulai terbentang, dan dia baru saja melihat benang pertamanya. Siapa yang mendukungnya? Siapa yang tertarik dengan pengetahuannya?
“Terus awasi,” perintah Mei Lan. Ia mengeluarkan kantung koin perak kecil dari balik lengan bajunya, melemparkannya ke atas tikar. Kantung itu mendarat dengan bunyi cling pelan. “Laporkan setiap gerakan. Setiap bisikan. Setiap bayangan.”
Bao segera meraih kantung itu, mengangguk berkali-kali. “Baik, Nona. Tentu saja, Nona.”
Mei Lan mengabaikan rasa lega yang memancar dari Bao. Pikirannya sudah melayang, menyusun strategi. Lin Fan, si pemuda dingin itu, adalah teka-teki yang lebih rumit dari yang ia duga. Sebuah ancaman yang harus ia pahami, atau ia hancurkan. Dan untuk itu, ia perlu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Angin malam berdesir dingin di atas atap genteng, membawa aroma asap dari cerobong asap dan kotoran kuda dari jalanan di bawah. Mei Lan bersembunyi di balik cerobong asap yang usang, jubah hitamnya melebur sempurna dengan kegelapan. Matanya menyapu bengkel pandai besi di bawahnya, sebuah bangunan kayu tua yang tampak ringkih, namun kini memancarkan aura misteri. Ia bisa melihat cahaya lentera kuning menembus celah-celah papan dinding yang longgar.
Di dalam, dua sosok bergerak. Lin Fan, dengan gerakannya yang presisi dan hampir tanpa emosi, dan pandai besi tua itu, yang tampak gelisah, seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak terlihat. Mei Lan mempersempit pandangannya, membiarkan instingnya mengambil alih. Ia adalah bayangan, hanya pengamat, tapi setiap saraf di tubuhnya tegang, siap bereaksi.
Lin Fan meletakkan sebuah wadah kecil berisi bubuk hitam di atas meja kerja yang kotor. Bentuk butirannya tidak rata, namun memancarkan kilau halus di bawah cahaya. Mei Lan bisa melihat Lin Fan memberi isyarat kepada pandai besi tua itu untuk mundur. Wajah pandai besi itu, bahkan dari kejauhan, terlihat pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. Dia tersandung mundur, punggungnya menabrak dinding kayu.
Lin Fan, di sisi lain, tampak tenang. Terlalu tenang. Tangannya memegang sebatang besi tipis yang dipanaskan. Ia mendekatkan ujung besi itu perlahan ke tumpukan bubuk. Napas Mei Lan tertahan di dada. Sejauh ini, bubuk mesiu Dinasti Song selalu bereaksi dengan lambat, berasap banyak, dan kurang bertenaga. Tapi dari cerita Bao, ini berbeda.
Desissss! Sebuah kilatan cahaya putih terang meledak dari wadah itu, singkat tapi memekakkan mata. Udara di sekitar bengkel terasa bergetar sesaat, diikuti oleh suara wushhh pendek yang tajam. Bukan ledakan yang menghancurkan, tapi sebuah letupan yang begitu cepat, begitu bertenaga, sehingga Mei Lan bisa merasakan panasnya bahkan dari atap. Asap hitam tipis, berbau belerang pekat, mengepul ke udara dan segera menghilang, seolah tak pernah ada.
Pandai besi tua itu jatuh terduduk, tangannya gemetar. Wajahnya semakin pucat, seolah baru saja melihat hantu. Lin Fan hanya berdiri di sana, mengamati, rahangnya mengatup rapat. Tidak ada kepuasan, tidak ada kekhawatiran. Hanya analisis. Seperti seorang ilmuwan yang mengamati hasil eksperimennya, tanpa terpengaruh oleh potensi bahayanya.
Mei Lan merasakan dingin merayapi tulang punggungnya. Ini bukan bubuk mesiu yang ia kenal. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih efisien, jauh lebih mematikan. Sebuah senjata yang bisa mengubah arah perang. Dan pemuda di bawah sana, yang sebelumnya ia anggap hanya seorang pedagang rempah cerdas, kini memegang kunci kehancuran atau kejayaan Dinasti Song.
Mei Lan menarik napas panjang, udara dingin mengisi paru-parunya. Dadanya masih berdebar-debar pelan, sisa dari ketegangan yang ia rasakan. Kilatan cahaya itu masih terbayang jelas di retinanya. Pemuda itu, Lin Fan, adalah ancaman yang jauh lebih besar dari sekadar kecurigaan awalnya. Dia bukan hanya memiliki pengetahuan yang berbahaya, tetapi juga keberanian untuk menggunakannya, dan, yang paling mengkhawatirkan, kemampuan untuk memanipulasi orang lain agar membantunya. Pandai besi tua itu adalah buktinya.
Bagaimana seorang yatim piatu tak punya nama bisa mendapatkan formula seperti itu? Bagaimana ia bisa membuat seorang pandai besi yang berpengalaman begitu ketakutan namun tetap patuh? Lin Fan bergerak dengan presisi, seolah setiap langkahnya telah dihitung. Tidak ada keraguan, tidak ada emosi yang sia-sia. Itu yang paling menakutkan bagi Mei Lan. Manusia adalah makhluk yang mudah ditebak karena emosi mereka. Tapi Lin Fan… dia seperti mesin.
“Informasi ini, Nona, memiliki harga.” Suara Lin Fan terngiang di telinganya, kata-kata yang diucapkannya di pasar, saat mereka pertama kali bertemu. Mei Lan menyadari sekarang bahwa harga yang dimaksud Lin Fan mungkin bukan hanya sekadar koin perak. Itu bisa jadi nyawa, kekuasaan, atau bahkan takdir sebuah dinasti. Ia teringat bagaimana Lin Fan berbicara tentang takdir sebagai ‘algoritma yang belum terpecahkan’. Kata-kata itu, yang sebelumnya ia anggap sebagai bualan filosofis, kini terasa seperti sebuah deklarasi.
Apakah dia mencoba memecahkan algoritma Dinasti Song? Apakah dia mencoba menulis ulang takdir? Mei Lan mengepalkan tangannya. Kekaisaran ini sudah rapuh, diambang kehancuran oleh ancaman dari utara dan korupsi internal. Kedatangan Lin Fan, dengan pengetahuannya yang aneh dan berbahaya, bisa menjadi katalis yang mempercepat kehancuran itu, atau, entah bagaimana, menyelamatkannya.
Ia harus tahu lebih banyak. Setiap detail, setiap motif. Lin Fan adalah pisau bermata dua yang tajam, dan Mei Lan harus memutuskan apakah akan memegangnya atau menghancurkannya sebelum melukai terlalu banyak orang. Atau, lebih buruk lagi, sebelum melukai dirinya sendiri. Tekanan di pundaknya semakin berat, namun tekadnya semakin kuat. Ia tidak bisa membiarkan misteri ini berlarut-larut. Ia harus bertindak.
Lin Fan dan pandai besi tua itu akhirnya meninggalkan bengkel, langkah mereka memudar di jalanan yang gelap. Mei Lan menunggu beberapa saat lagi, memastikan tidak ada mata yang mengawasi, sebelum ia meluncur turun dari atap. Gerakannya cekatan, senyap, nyaris tanpa suara. Ia mendarat di gang sempit di samping bengkel, kakinya tidak membuat bunyi thud sedikit pun.
Udara di dalam bengkel pengap, berbau arang, besi dingin, dan sisa belerang dari percobaan tadi. Debu tebal menyelimuti setiap permukaan, butiran-butiran halus menari di udara yang bergerak. Mei Lan menyalakan lentera kecil yang selalu ia bawa, cahayanya memotong kegelapan, menampakkan kekacauan alat-alat pandai besi yang berserakan di mana-mana. Ia menyusuri ruangan, matanya tajam, mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya, sesuatu yang bisa memberikan petunjuk.
Meja kerja pandai besi adalah pusat kekacauan itu. Palu, tang, bilah besi yang belum selesai. Di atasnya, sisa-sisa bubuk hitam masih menempel di wadah kecil. Mei Lan menyentuh wadah itu, masih ada sedikit kehangatan yang tersisa. Dia menggeser tumpukan kain lap kotor, mencari di bawah tumpukan perkakas. Tidak ada apa-apa. Jari-jarinya menyusuri permukaan meja yang kasar, penuh goresan dan bekas pukulan. Ini pekerjaan yang sulit, mencari di tempat yang tidak terlihat.
Matanya melirik ke bawah meja, ke sela-sela antara papan kayu yang menjadi alas meja dan lantai tanah. Sebuah celah kecil, nyaris tak terlihat, menarik perhatiannya. Instingnya berteriak. Mei Lan berlutut, mengabaikan debu yang menempel di lutut jubahnya. Dia menyelipkan tangannya ke dalam celah itu, jari-jarinya meraba-raba di kegelapan. Sesuatu yang tipis dan kaku tersentuh.
Ia menariknya keluar perlahan. Sebuah perkamen tua, digulung rapi dan diikat dengan benang sutra tipis. Mei Lan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan perkamen biasa. Di permukaannya yang menguning, terukir sebuah lambang: seekor burung elang dengan sayap terentang lebar, memegang gulungan perkamen di cakarnya. Di bawah lambang itu, tertera tulisan tangan yang rumit, dengan karakter yang tidak ia kenali, namun memiliki keanggunan yang aneh. Itu bukan aksara Song. Ini bukan dokumen biasa. Sebuah koneksi, lebih dalam dari yang ia duga, kini terbentang di tangannya.