Udara di dalam perpustakaan kekaisaran terasa tebal, berdebu, dan membawa aroma kertas yang menua. Lin Fan menyusuri lorong-lorong sempit, jari-jarinya menyentuh punggung gulungan-gulungan perkamen yang tersimpan rapi dalam rak kayu ek tua. Lapisan debu halus menempel di ujung kuku, namun fokusnya tetap pada panel data transparan yang melayang di retinanya. A.R.I.A. memproyeksikan daftar mineral langka, diagram struktur geologi, dan lokasi penambangan kuno. Dia membutuhkan bahan mentah, esensi untuk mengubah teori menjadi kenyataan, dan perpustakaan ini adalah portal menuju data historis.
Cahaya redup dari jendela tinggi menembus bilah-bilah kayu, membentuk pola kotak-kotak di lantai batu. Setiap gulungan yang ditariknya mengeluarkan desis lirih, seolah mengeluhkan gangguan pada tidurnya yang panjang. Aroma tinta kering bercampur bau lumut yang samar-samar. Dia berhenti di bagian metalurgi kuno, matanya memindai karakter-karakter yang rumit, mencari referensi tentang bijih antimoni, nikel, atau bahkan tungsten yang mungkin pernah diidentifikasi di era ini.
Lingkungan hening, hanya ada suara napasnya sendiri dan desiran halus saat A.R.I.A. memproses data. Status biomitriknya stabil, suhu tubuh optimal, detak jantung berada pada 72 bpm. Tidak ada ancaman terdeteksi. Namun, di balik kalkulasi logis itu, ada sebuah keheningan yang dalam, sensasi eksistensial yang aneh. Gulungan di tangannya menceritakan tentang upaya manusia purba untuk memahami bumi, untuk mengekstrak kekayaan dari perutnya, sama seperti A.R.I.A. kini mencoba mengekstrak data dari arsip peradaban yang terlupakan. Ini adalah siklus tak berujung, dari penemuan ke penemuan, dari kepunahan ke kebangkitan.
Lin Fan meraih gulungan lain, lebih tebal dari yang sebelumnya. Judulnya, Catatan Bijih Gunung Tai. Sebuah potensi. A.R.I.A. segera memindai isinya, menyorotkan koordinat geografis yang samar dan deskripsi formasi batuan. Analisis awal menunjukkan probabilitas 37% untuk deposit tembaga dengan kemurnian tinggi, 12% untuk seng, dan 5% untuk logam campuran yang tidak dikenal. Tidak persis yang ia cari, tetapi ini awal yang baik.
Dia merasa cengkeraman gulungan itu di tangannya, tekstur kasarnya, dan beratnya yang nyata. Kontras antara informasi digital yang melayang di matanya dan realitas fisik benda mati yang dipegangnya menciptakan disonansi yang tajam. Ia adalah jembatan antara dua dunia, dan setiap gulungan ini adalah batu bata yang membentuk jembatan itu.
Dia membalik halaman, mencari daftar bahan yang lebih spesifik, ketika sebuah bayangan tipis jatuh di atas perkamen. Sebuah aroma melati dan musk, lembut namun menusuk, menguar di udara. Itu bukan bau perpustakaan ini. Bukan pula bau tubuhnya sendiri. Sebuah anomali. A.R.I.A. segera memperbarui status: DETEKSI KEHADIRAN. IDENTIFIKASI NON-STANDAR.
Lin Fan mengangkat pandangan, gulungan di tangannya masih terbuka. Siluet langsing muncul dari balik rak buku yang tinggi, bergerak nyaris tanpa suara. Mei Lan. Senyum tipis melengkung di bibirnya, nyaris tidak terlihat, namun matanya menyorotkan rasa ingin tahu yang tajam, seperti pisau baja yang baru diasah. Pakaian sutranya berwarna biru gelap, menyatu sempurna dengan bayangan yang menari di antara rak-rak buku. Ia seperti hantu dari masa lalu yang tiba-tiba berwujud di hadapannya. Sebuah gulungan perkamen yang digulung rapi berada di tangan kirinya, jemarinya yang ramping mengenggamnya dengan elegan.
“Kupikir aku sendirian di sini,” suara Mei Lan mengalun, rendah dan merdu, namun ada nada yang tidak dapat Lin Fan identifikasi dalam kalkulasi A.R.I.A. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang menuntut jawaban.
Lin Fan merasakan ketegangan di antara bahunya, respons fisiologis yang cepat terhadap ancaman yang tidak terukur. A.R.I.A. menampilkan data: DETAK JANTUNG: 78 BPM. RESPON HORMONAL: ADRENALIN SEDIKIT MENINGKAT. KEMUNGKINAN INTERAKSI: TINGGI. POTENSI RISIKO: SEDANG.
“Perpustakaan ini cukup besar untuk menampung banyak pencari ilmu, Nona,” Lin Fan menjawab, suaranya datar, tanpa emosi yang berarti. Dia tetap memegang gulungan Catatan Bijih Gunung Tai di tangannya, tidak berusaha menyembunyikannya. Untuk apa? Transparansi adalah strategi terbaik saat berhadapan dengan lawan yang licik.
Mei Lan mendekat, langkahnya anggun, ringan, dan nyaris tak terdengar. Pergerakannya begitu efisien, seperti predator yang mengintai mangsanya.
Mei Lan berhenti dua langkah di depannya, cukup dekat untuk aromanya menguar lebih kuat, namun tetap menjaga jarak sopan. Matanya tidak lepas dari gulungan di tangan Lin Fan. Dia mengerling sekilas pada panel data transparan yang masih melayang di retinanya, meskipun Lin Fan yakin panel itu tidak terlihat oleh mata telanjang.
“Mencari cara untuk menambang kekayaan bumi, Tuan Lin?” tanyanya, suaranya kini sedikit lebih ringan, seperti riak air di sungai dangkal. “Atau mungkin sesuatu yang lebih… revolusioner?”
Alis Lin Fan sedikit terangkat. Tidak ada data yang menunjukkan Mei Lan memiliki kemampuan memindai visual atau sensorik yang canggih. Bagaimana dia bisa menebak tujuannya? A.R.I.A. tidak mendeteksi anomali pada sensornya. DATA TIDAK CUKUP UNTUK ANALISIS AKURAT.
Dia menarik napas perlahan, oksigen mengisi paru-parunya. “Hanya ingin memahami sejarah metalurgi di masa lalu.” Dia tidak akan mengonfirmasi atau menyangkal. Pertanyaan itu terlalu tajam, terlalu personal.
Mei Lan tersenyum tipis lagi, sebuah ekspresi yang sulit dibaca. Jemarinya yang ramping menyentuh punggung gulungan yang dibawanya. “Aku menemukan sesuatu yang menarik di bagian alkimia. Sebuah formula kuno. Mereka menyebutnya ‘bubuk api’ atau huoyao. Campuran arang, belerang, dan sendawa. Konon, dengan perbandingan yang tepat, bisa menciptakan ledakan yang mampu menghancurkan dinding benteng.” Kata-kata itu diucapkannya dengan santai, seolah membahas resep teh, namun nadanya memiliki berat yang tidak wajar.
Seketika, sistem internal Lin Fan bergejolak. HUOYAO. PERSAMAAN FORMULA DENGAN BLACK POWDER: 98.7%. POTENSI PENGEMBANGAN: EKSTRIM. POTENSI RISIKO: EKSTRIM.
Detak jantungnya melonjak menjadi 85 bpm, lalu 92. Aliran adrenalin membanjiri sistemnya. Dia merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat di gulungan perkamen yang kasar. Namun, secara eksternal, dia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Tidak ada kedutan di sudut mata, tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan. Ini adalah informasi yang sangat dicari-carinya, meskipun belum dalam bentuk mentahnya.
Dia berhasil menjaga suaranya tetap datar. “Bubuk api? Kedengarannya seperti penemuan yang… mengganggu. Untuk apa para alkemis kuno membuat formula seperti itu?” Dia berusaha mengalihkan fokus dari potensi militernya ke konteks historis yang lebih aman.
Mei Lan mencondongkan kepalanya sedikit, matanya menyipit, mengamati reaksinya dengan intensitas yang mengerikan. Dia tidak menjawab pertanyaan Lin Fan secara langsung. Sebaliknya, dia melangkah lebih dekat, mengikis jarak yang telah ia jaga sebelumnya. Aroma melati dan musk semakin pekat, memenuhi ruang di antara mereka. Lin Fan bisa melihat serat halus pada sutra birunya, kilau samar di ujung bulu matanya. Pergelangan tangannya yang ramping dihiasi gelang perak tipis yang berdesir lembut. Dia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh wanita itu.
Mei Lan mendekat hingga jarak mereka kurang dari satu lengan penuh. Tangannya terangkat perlahan, seolah hendak menyentuh gulungan di tangan Lin Fan, namun berhenti di udara, hanya beberapa sentimeter dari perkamen. Lin Fan menahan napas. Gerakannya begitu halus, begitu disengaja, namun tidak ada agresi yang deteksi. Hanya rasa ingin tahu yang dalam, atau mungkin sesuatu yang lain.
“Beberapa hal,” suara Mei Lan berbisik, nadanya kini sangat lembut, nyaris tidak terdengar di antara rak-rak buku. “Ada yang tidak dirancang untuk dipahami, Tuan Lin. Hanya untuk dirasakan.”
Jemarinya yang panjang dan lentik bergerak, bukan menyentuh gulungan, melainkan melayang perlahan di atas punggung tangan Lin Fan yang memegang gulungan itu. Tidak ada sentuhan fisik, namun sensasi kedekatan itu terasa nyata, seperti gelombang panas yang tidak terlihat.
Pada saat itu, sesuatu yang aneh terjadi di dalam sistem Lin Fan. Panel data di retinanya berkedip merah terang, sebuah peringatan darurat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. A.R.I.A. memekik dalam aliran data: ANOMALI BIOMETRIK TERDETEKSI. LONJAKAN MENDADAK DALAM DATA KARDIOVASKULAR, NEURAL, DAN KONDISI KULIT. PENYEBAB TIDAK DIKETAHUI. KORELASI DENGAN KEHADIRAN SUBJEK LAIN: TINGGI. ULANGI: ANOMALI BIOMETRIK TERDETEKSI!
Detak jantung Lin Fan, yang tadi sudah meningkat, kini melonjak gila-gilaan, bukan karena ketakutan, melainkan sebuah respons yang tidak dapat ia klasifikasikan. Itu seperti sebuah sirkuit yang korslet, namun sensasinya tidak menyakitkan, justru… membingungkan. Sensasi aneh merambat dari ujung jemarinya, naik ke lengan, menyebar ke seluruh tubuhnya. Ada desiran listrik yang halus, panas yang tiba-tiba, dan fokus mentalnya runtuh, tidak mampu memproses informasi yang masuk. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi oleh kehadiran Mei Lan dan sensasi asing yang menyertainya.
Matanya, yang biasanya memproses data dengan kecepatan kilat, kini hanya melihat pada wajah Mei Lan yang begitu dekat. Detail kecil di wajahnya menjadi sangat jelas: bintik kecil di bawah mata kirinya, kilau minyak alami di bibirnya. A.R.I.A. terus membanjiri retinanya dengan peringatan yang tidak dapat ia pahami, grafis data yang berantakan, angka-angka yang melompat-lompat tanpa pola logis. Suhu tubuhnya naik satu derajat Celsius dalam hitungan detik.
Dia merasakan napasnya tertahan, paru-parunya seperti dililit sesuatu yang tak kasat mata. Ini bukan ancaman, bukan kerusakan sistem, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih mengganggu. Mei Lan menarik tangannya kembali, senyum misterius kembali merekah di bibirnya, matanya menatap Lin Fan, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam kekacauan data yang melanda dirinya. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menikmati momen itu, sementara Lin Fan berjuang untuk memahami data yang A.R.I.A. klasifikasikan sebagai 'anomali'.