Udara di Bianjing terasa kotor, menusuk indra penciuman Lin Fan dengan jejak asap arang dan bau kotoran kuda yang menyengat. A.R.I.A. memproyeksikan panel data transparan di retinanya, menunjukkan matriks panas dan kepadatan populasi di sekitarnya. Sudut terpencil distrik selatan, tempat bengkel pandai besi tua itu tersembunyi, memiliki probabilitas deteksi manusia yang sangat rendah, menjadikannya lokasi operasional yang optimal untuk fase awal ini.
Langkah Lin Fan terasa asing, seolah tubuhnya mengikuti sebuah algoritma yang lebih tua dan lebih kaku dari ingatannya sendiri. Ia menemukan sebuah pintu kayu lapuk yang hampir runtuh, tertimbun di balik tumpukan besi tua berkarat dan jerami busuk. Suara palu beradu besi terdengar dari dalam, menciptakan ritme monoton yang bergetar hingga ke tanah di bawah sepatunya.
"Permisi," kata Lin Fan, suaranya terdengar datar, nyaris tanpa intonasi emosional. Ia tidak terbiasa berbasa-basi, dan A.R.I.A. tidak memberikan protokol sosial apa pun untuk interaksi semacam ini. Efisiensi adalah prioritas mutlak.
Seorang pria tua bertubuh kekar, dengan janggut putih acak-acakan dan otot lengan yang menonjol tegang dari balik rompi kulitnya, menoleh perlahan. Matanya yang keruh menyipit tajam, menaksir Lin Fan dari ujung kaki hingga kepala dengan curiga. Asap kelabu dari tungku di belakangnya mengepul tebal, menyelimuti ruangan dengan aroma besi panas dan bara menyengat.
"Ada perlu apa, Nak?" Suaranya parau, seperti gesekan batu kali. Ia menggenggam palu besar di tangan kanannya, seolah siap mengusir pengganggu yang berani mendekat ke wilayah kerjanya.
Lin Fan melangkah masuk tanpa diundang, mengabaikan tatapan intimidasi sang pandai besi. "Saya butuh beberapa bahan mentah. Belerang murni. Arang batok kelapa, digiling sangat halus. Dan sendawa." Ia menyebutkan bahan-bahan itu dengan presisi seorang ilmuwan, seolah sedang membacakan resep dari sebuah jurnal ilmiah masa depan.
Kerutan di dahi pria tua itu semakin dalam, membentuk lipatan-lipatan kulit yang kasar. "Sendawa? Untuk apa bocah sepertimu mencari bahan itu? Itu bahan peledak untuk kembang api, bukan mainan anak-anak." Palunya diletakkan di atas landasan besi dengan bunyi klang yang berat, memantulkan gema tajam di ruang sempit tersebut.
"Bukan mainan," Lin Fan mengoreksi, tatapannya tetap kosong dan lurus ke depan. "Sendawa murni. Kalium nitrat. Bukan sekadar garam dapur." A.R.I.A. menampilkan data komposisi kimiawi di sudut pandangannya, memverifikasi setiap istilah yang ia ucapkan agar sesuai dengan pemahaman era ini tanpa menimbulkan kecurigaan berlebih.
Pandai besi itu mendengus kasar. "Kau bicara omong kosong apa ini? Kalium nitrat? Aku hanya tahu itu sendawa biasa. Dan arang? Untuk apa arang batok kelapa? Arang kayu biasa sudah lebih dari cukup untuk menjaga suhu tungku peleburanku." Ia menunjuk ke arah tumpukan arang di sudut ruangan yang terlihat kasar dan berdebu.
"Saya membutuhkan tingkat kemurnian dan kerapatan partikel yang spesifik," Lin Fan menjelaskan tanpa perubahan nada sedikit pun. "Untuk komposisi kimia yang berbeda. Saya akan membayar Anda dengan harga yang pantas." Ia mengulurkan beberapa koin tembaga yang didapat dari penjualan resep awal pada pedagang rempah di pasar—jumlah yang lebih dari cukup untuk menghidupi sebuah keluarga kecil selama beberapa hari.
Pria tua itu mengambil koin-koin tersebut, menimbangnya di telapak tangannya yang kasar. Matanya memancarkan secercah keserakahan, namun keraguan masih terlihat jelas di wajahnya. "Begini, Nak. Aku bisa mengusahakan belerang murni. Arang batok kelapa juga mungkin bisa kucari. Tapi sendawa itu... kalau terlalu murni, zat itu berbahaya. Kau sebenarnya mau membuat apa?" Suara pria tua itu merendah, sarat akan ketakutan dan rasa curiga yang mendalam.
"Itu bukan urusan Anda," jawab Lin Fan dingin, tanpa sedikit pun emosi manusiawi. Sebuah peringatan sistem Probabilitas Deteksi: Meningkat muncul di HUD retinanya. A.R.I.A. menyarankan untuk segera menyelesaikan transaksi verbal ini. "Apakah Anda bisa menyediakannya, atau saya harus mencari ke tempat lain?"
Pria tua itu terdiam sejenak, menatap Lin Fan dengan cermat. Ada sesuatu yang sangat ganjil dari pemuda di hadapannya ini; bukan hanya cara bicaranya yang kaku, melainkan tatapan matanya yang terlalu tenang, bagaikan air danau yang membeku di musim dingin. Namun, koin tembaga di tangannya terasa nyata, berat, dan menjanjikan keuntungan besar. "Baiklah. Aku akan mencobanya. Tapi kalau sampai ada masalah besar, kau sendiri yang harus menanggung akibatnya," gumamnya, lalu berbalik menuju bagian belakang bengkel. Lin Fan berdiri menunggu, mengamati arus data lingkungan yang terus mengalir tanpa henti di retinanya.
Pria tua itu kembali beberapa saat kemudian, membawa sebuah kantung kain kecil berisi butiran belerang berwarna kuning pucat dan seonggok arang batok kelapa yang digiling lebih halus dari biasanya. Ia juga meletakkan sebuah wadah tanah liat berisi sendawa yang tampak jauh lebih bersih dari perkiraan awal Lin Fan. "Ini yang paling bersih yang bisa kudapatkan. Sendawa itu didapat dari seorang penambang tua di luar kota Bianjing. Katanya, kualitasnya sangat kuat." Ia menatap Lin Fan, menunggu reaksi persetujuan.
Lin Fan mengambil bahan-bahan tersebut, memeriksa teksturnya dengan ujung jarinya yang kurus. A.R.I.A. segera memproyeksikan analisis mikroskopis secara real-time, memverifikasi tingkat kemurnian serta ukuran partikelnya. Kemurnian Belerang: 92%. Arang: Fraksi ukuran 0.1-0.5mm. Sendawa: 88% kalium nitrat. Cukup memadai untuk tujuan awalnya.
"Saya juga butuh mortir dan alu dari batu yang kuat, serta saringan kain mesh halus," kata Lin Fan, menunjuk ke arah peralatan tua di sudut bengkel. "Dan sedikit alkohol, jika Anda memilikinya, untuk proses granulasi."
Pandai besi itu mengernyitkan dahi. "Alkohol? Untuk apa bahan itu? Mortir dan alu boleh kau pakai, tapi alkohol... aku hanya punya arak beras simpanan." Ia mengambil sebuah kendi kecil berisi arak dari rak yang kotor di dekat tungku.
Lin Fan mengangguk kecil. "Itu sudah cukup." Ia mulai bergerak, gerakannya sangat cekatan, mekanis, dan nyaris tanpa jeda ragu. Pertama, ia memisahkan sendawa, menghaluskannya lebih lanjut menggunakan alu batu, mengikuti instruksi presisi dari A.R.I.A. untuk mencapai ukuran partikel yang seragam. Bunyi gesekan krek... krek... yang halus terdengar saat kristal-kristal garam tersebut hancur menjadi serbuk lembut.
Kemudian, ia menambahkan belerang dan arang dengan perbandingan yang dikalkulasi secara ketat. A.R.I.A. menampilkan rasio ideal di retinanya: 75% sendawa, 15% arang, dan 10% belerang—sebuah rasio revolusioner yang jauh berbeda dari bubuk mesiu primitif yang umum dikenal di Dinasti Song. Setiap sentuhan tangannya, setiap putaran alu, adalah kalkulasi matematis yang sempurna. Tangannya yang kurus bergerak dengan presisi seorang insinyur kimia modern.
Pandai besi tua itu berdiri di ambang pintu ruangan, melipat kedua lengannya di dada, mengawasi dengan ekspresi antara penasaran dan tidak percaya. Ia belum pernah melihat seseorang mencampur bahan peledak dengan tingkat ketelitian setinggi itu; biasanya, orang-orang membuat mesiu secara asal-asalan tanpa memperhitungkan takaran dan ukuran partikel.
Lin Fan meneteskan sedikit arak beras ke dalam campuran tersebut, cukup untuk melembapkan dan menyatukannya tanpa melarutkannya. Ia kemudian mulai mendorong pasta hitam pekat itu melalui saringan mesh halus, menghasilkan butiran-butiran kecil yang sangat seragam ukurannya. Granulasi Selesai. Efisiensi Pembakaran: +40%. A.R.I.A. memberikan konfirmasi internal di sistem sarafnya.
Butiran-butiran kecil itu ia letakkan di atas selembar kain bersih untuk dikeringkan. Aroma arak beras yang samar bercampur dengan bau belerang yang tajam memenuhi udara ruangan. Serbuk hitam yang dihasilkan tampak sangat berbeda dari mesiu biasa—lebih gelap, lebih padat, dan memancarkan kilau halus di bawah cahaya temaram. Ini bukan sekadar bubuk mesiu biasa; ini adalah material energetik dari masa depan yang jauh. Lin Fan menatapnya, merasakan kepuasan dingin menjalari sistem sarafnya. Ia tahu, di telapak tangannya saat itu, tersimpan potensi besar untuk mengubah jalannya sejarah militer.
Setelah beberapa jam berlalu dalam keheningan yang tegang, butiran bubuk mesiu modern itu mengering sempurna di bawah sinar matahari sore yang menyelinap masuk melalui celah-celah atap bengkel. Lin Fan mengambil sekitar satu sendok teh bubuk tersebut, membentuk gundukan kecil di atas lempengan batu datar yang keras. Pandai besi tua itu berdiri tepat di sampingnya, napasnya tertahan, dan matanya terpaku tajam pada gundukan hitam kecil itu.
"Kau benar-benar yakin ini aman, Nak?" tanya pria tua itu dengan suara yang sedikit bergetar karena cemas. Ia sudah sering melihat bubuk mesiu konvensional dan tahu betapa berbahayanya zat tersebut, tetapi ia belum pernah melihat proses pembuatan yang begitu asing dan menakutkan. Tingkat presisi Lin Fan justru membuatnya merasa sangat gelisah.
Lin Fan mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya. A.R.I.A. telah mengidentifikasi titik ignisi termal yang paling optimal. Ia mengambil sebatang dupa yang menyala dari bara tungku pandai besi, tangannya sangat stabil tanpa gemetar sedikit pun. Titik api kecil pada ujung dupa itu perlahan mendekat, dan cahaya jingganya memantul di permukaan butiran serbuk hitam.
Kontak dalam 3… 2… 1… A.R.I.A. menghitung mundur di retinanya. Dupa menyentuh permukaan bubuk.
Bukan ledakan lambat atau kepulan asap tebal yang biasa disaksikan sang pandai besi, melainkan kilatan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata dan desisan tajam yang memekakkan telinga. Fshhh! Api menyapu gundukan itu dalam sepersekian detik, meninggalkan jejak asap putih tipis dan noda hitam legam di atas lempengan batu. Tidak ada suara ledakan besar yang mengguncang ruangan, tetapi kecepatan pembakarannya melampaui apa pun yang pernah disaksikan oleh pria tua itu seumur hidupnya—sebuah energi termal terkonsentrasi yang luar biasa mengerikan.
Pandai besi itu terkesiap keras, refleks melompat mundur selangkah hingga hampir menabrak dinding kayu. Matanya terbelalak lebar, dan rahangnya terbuka karena terkejut. Ia menatap lekat-lekat pada Lin Fan, lalu beralih ke noda hitam di batu, dan kembali menatap sang pemuda. "Astaga Tuhan... apa barusan itu? Itu bukan mesiu biasa yang dijual di pasar gelap!" Suaranya kini dipenuhi oleh kekaguman yang tulus, namun tercampur dengan ketakutan mendalam yang tak dapat ia sembunyikan. Ia mengira eksperimen itu akan menghancurkan seisi bengkelnya, bukan menghasilkan kilatan cahaya secepat kilat tanpa suara ledakan destruktif.
Lin Fan merasakan gelombang data mengalir deras ke dalam pusat kesadarannya. Probabilitas Keberhasilan Eksperimen: 99.8%. Efisiensi Energi Terkonsentrasi: Tingkat Tinggi. Namun, ia merasakan sesuatu yang jauh melampaui sekadar angka-angka statistik. Ada getaran halus di inti kesadarannya—sebuah pengakuan tak terucapkan atas kekuatan mutlak yang baru saja ia lepaskan ke dunia primitif ini. Ini bukan lagi sekadar instrumen untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan, melainkan sebuah instrumen kekuasaan untuk membentuk kembali tatanan dunia.
Ia mengangkat segenggam sisa bubuk mesiu yang ada di atas kain, butirannya terasa dingin di telapak tangannya. Kekuatan itu nyata, terukur, dan dapat diandalkan. Kekuatan untuk mengubah keseimbangan kekuasaan kekaisaran, untuk menulis ulang takdir yang telah diprogram oleh algoritma peradaban. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di gang sempit itu, Lin Fan merasa bahwa ia bukan lagi objek dari sejarah, melainkan subjek yang memegang kendali penuh atas jalannya masa depan.
Sensasi kekuatan itu masih melekat di ujung jari Lin Fan, sebuah resonansi aneh yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh logika mekanis A.R.I.A. Pandai besi tua di sampingnya masih menggumamkan kalimat-kalimat takjub, menatap bubuk hitam itu seolah-olah ia sedang melihat sebuah artefak magis dari kahyangan. Namun, fokus mental Lin Fan sudah bergeser sepenuhnya. Antarmuka A.R.I.A. tiba-tiba berkedip keras, memproyeksikan panel data baru yang belum pernah muncul sebelumnya di retinanya.
Analisis Probabilitas Global: Mengubah. Estimasi Lintasan Temporal: Memburuk secara signifikan.
Lin Fan mengernyitkan alisnya. Apa maksud dari analisis itu? Bukankah ia baru saja berhasil menciptakan formula bubuk mesiu yang jauh lebih stabil dan kuat, sebuah lompatan teknologi masif untuk menjamin kelangsungan hidupnya di era yang kejam ini? Berdasarkan parameter logis, A.R.I.A. seharusnya mencatat pencapaian ini sebagai sebuah optimasi positif yang drastis terhadap peluang bertahan hidupnya.
Namun, matriks data holografik di hadapannya mulai bergejolak hebat. Garis-garis algoritma kompleks berkedip-kedip dengan warna merah terang dan kuning menyala, menciptakan pola fraktal yang tidak stabil. Angka-angka probabilitas melesat naik-turun dengan kecepatan yang membingungkan, seolah-olah ada sebuah variabel baru yang berukuran masif dan sangat tidak terprediksi baru saja masuk ke dalam persamaan kalkulasi global tersebut.
Variabel Tidak Terhitung Terdeteksi. A.R.I.A. mengeluarkan peringatan darurat, suaranya tetap datar seperti biasa, namun frekuensi resonansinya terasa sedikit berbeda di dalam tengkoraknya—nyaris menyiratkan sebuah ketidakpastian matematis yang belum pernah dialami sistem sebelumnya. Peringatan algoritmik itu langsung disusul oleh munculnya sebuah proyeksi visual beresolusi tinggi di tengah-tengah matriks data yang sedang kacau. Wajah Mei Lan.
Bibir tipis wanita itu yang terkatup rapi, mata gelapnya yang tajam, penuh perhitungan, dan selalu waspada, serta guratan samar sinisme elegan di sudut bibirnya terpampang jelas. Wajah itu, yang sebelumnya hanya memicu anomali biologis berupa lonjakan detak jantung dan dopamin sesaat di pasar, kini muncul di hadapan Lin Fan sebagai sebuah anomali matematika murni dalam kalkulasi A.R.I.A. Sebuah entitas manusia yang awalnya dianggap sebagai gangguan interaksi minor di pinggir jalan, kini telah berubah menjadi faktor penentu utama yang membelokkan seluruh lintasan temporal masa depan.
Sebuah baris teks berwarna merah menyala terang muncul tepat di bawah gambar wajah Mei Lan, di tengah pusaran data yang bergejolak hebat, menyampaikan sebuah vonis dingin yang tidak dapat dibantah oleh logika apa pun:
Variabel tidak terhitung: Pengaruh Mei Lan pada lintasan temporal global.
Lin Fan menatap tajam pada proyeksi data tersebut, sementara suara palu pandai besi di latar belakang perlahan-lahan memudar menjadi dengungan samar. Untuk pertama kalinya sejak integrasi sistem, ia menyadari bahwa ancaman terbesar bagi misinya bukanlah pasukan kavaleri Dinasti Jin di perbatasan utara, melainkan wanita cerdas berdarah dingin yang kini memegang kepingan teka-teki dari dunianya.