Chapter 23 of 28

Chapter 23: Sentuhan di Garis Depan

1.7k words

Udara siang itu mengoyak gendang telinga. Riuh rendah jeritan dan desingan anak panah merobek ketenangan Bianjing, mengubahnya menjadi neraka. Asap mesiu yang pekat, hitam kelam dan berbau belerang menyengat, menggantung rendah di atas medan tempur, membatasi pandangan. Di tengah hiruk pikuk itu, Lin Fan bergerak cepat, matanya menyapu medan perang dengan ketenangan yang menakutkan, meski jantungnya bergemuruh tak karuan. Antarmuka Neural HUD-nya membanjiri retina dengan data. _Target: Pasukan Jin, Konsentrasi: Tinggi. Risiko Kehilangan Nyawa: 78%. Optimalisasi Pertahanan: Terganggu._ Peringatan-peringatan itu berkedip-kedip dalam warna merah darah, kontras dengan kilatan baja dan semburan api di sekelilingnya. Lin Fan merasakan denyut nadinya mengencang, bukan karena takut, melainkan karena lonjakan adrenalin murni yang dipompa A.R.I.A. ke seluruh sistemnya. Matanya mencari. Mencari satu siluet yang entah mengapa, kini terasa lebih penting dari semua kalkulasi probabilitas di kepalanya. Di balik gundukan mayat dan serpihan panah, ia menemukannya. Mei Lan. Rambut hitamnya terurai sebagian, seragam gelapnya ternoda debu dan darah, namun pedangnya masih menari lincah, memancarkan kilatan mematikan. Ia sedang bertarung sengit dengan seorang pria berseragam Jin. Pria itu bukan prajurit biasa. Gerakannya luwes, cepat, dan senjatanya, sebuah belati pendek melengkung, memantulkan cahaya redup. Mei Lan mengayunkan pedangnya dalam busur lebar, desingan bilah baja memecah udara. Mata-mata Jin itu mengelak dengan mudah, seringai tipis terukir di bibirnya yang kering. Sebuah ayunan pedang Mei Lan yang terlalu lebar, memberinya celah. Mata-mata Jin itu menusukkan belatinya ke depan, bukan untuk membunuh, melainkan untuk melukai. _Sreett!_ Suara kain robek terdengar jelas di tengah kekacauan, diikuti rintihan tertahan dari Mei Lan. Lin Fan melihat bahu kirinya. Darah merah gelap mulai merembes dari balik kain seragamnya yang robek, membasahi bahunya dengan cepat. A.R.I.A. segera memproyeksikan data di sudut pandang Lin Fan. _Target: Mei Lan. Status Biometrik: Terluka Ringan. Lokasi Luka: Bahu Kiri, Robekan Minor. Risiko Infeksi: Sedang. Optimalisasi Pertahanan: Menurun._ Namun, Lin Fan tidak lagi fokus pada angka. Sesuatu yang lebih primitif, lebih mendesak, mencengkeram dadanya. Sensasi yang tidak bisa dijelaskan oleh algoritma apa pun. Tangannya terasa dingin, namun ada keinginan membara yang mendorongnya. Mei Lan tersentak mundur, pedangnya bergetar, namun ia segera mengencangkan cengkeraman. Mata-mata Jin itu maju lagi, senyum kemenangan membayangi wajahnya. Lin Fan melihat tatapan Mei Lan. Ada determinasi di sana, ya, tapi juga sedikit kilasan rasa sakit yang tertahan, kerentanan yang jarang sekali ia tunjukkan. Suara desingan anak panah melesat di dekat telinganya, namun ia tak bergeming. Fokusnya terpaku pada Mei Lan, pada tetesan darah yang kini semakin melebar di bahunya. A.R.I.A. mulai membanjiri kesadarannya dengan peringatan lain. _Anomali Terdeteksi. Detak Jantung Lin Fan: 180 BPM. Dopamin: Melonjak 400%. Kortisol: Kritis. Rekomendasi: Mundur dari Zona Bahaya. Prioritas Kelangsungan Hidup Pribadi._ Lin Fan mengabaikannya. Algoritma A.R.I.A. tidak mengerti. Ada hal-hal yang melampaui logika bertahan hidup. --- _Pelanggaran Protokol: Risiko Eksekusi Tinggi._ A.R.I.A. memproyeksikan peringatan itu langsung ke pusat retinanya, seolah mencoba menahan setiap langkah Lin Fan. Namun, kakinya bergerak sendiri, dorongan yang lebih kuat dari perintah rasional mana pun memimpinnya menembus medan perang yang mendidih. Dia melesat di antara prajurit Song yang panik dan tentara Jin yang agresif, mengabaikan seruan dan benturan di sekelilingnya. Sebuah tombak Jin melesat melewati bahu kanannya, begitu dekat hingga Lin Fan bisa merasakan desiran anginnya yang dingin. Beberapa langkah kemudian, seorang prajurit Song terhuyung mundur, matanya membelalak, bilah pedang Jin menancap di dadanya. Darah menyembur. Lin Fan bahkan tidak melirik. Matanya terpaku pada Mei Lan, yang kini terpojok, belati mata-mata Jin itu siap menerkam lagi. _Optimalisasi Sumber Daya: Abaikan variabel non-esensial. Fokus pada ancaman langsung._ Suara datar A.R.I.A. terdengar di benaknya, namun Lin Fan mengabaikannya. Variabel non-esensial? Bagaimana A.R.I.A. bisa menyebut Mei Lan sebagai variabel non-esensial? Sesuatu dalam dirinya, yang bukan algoritma atau data, memberontak keras terhadap klasifikasi itu. Ia berputar, menghindari ayunan pedang berat seorang prajurit Jin, lalu melesat maju lagi. Debu dan tanah basah berhamburan dari sepatu botnya. Suara dentingan pedang Mei Lan beradu dengan belati Jin memenuhi udara. Mei Lan menangkis dengan susah payah, wajahnya mengerut menahan sakit dari luka di bahu. Sinar matahari senja yang samar memantulkan kilau pedangnya, namun terlihat jelas ada kelelahan dalam gerakannya. Lin Fan melihatnya. Setiap otot yang menegang di lengannya, setiap tarikan napasnya yang pendek, setiap tetes keringat yang membasahi pelipisnya. Ini bukan lagi tentang kelangsungan hidup umum Dinasti Song. Ini adalah tentang kelangsungan hidup Mei Lan. Dan secara aneh, ini terasa lebih mendesak, lebih nyata, daripada simulasi kehancuran peradaban mana pun yang pernah A.R.I.A. tunjukkan padanya. _Deteksi Bahaya: Tinggi. Probabilitas Keberhasilan Intervensi: 12%._ Peringatan A.R.I.A. semakin intens, seolah mesin itu berteriak protes. Lin Fan bahkan tidak memiliki senjata. Ia hanya memiliki akal dan tubuhnya yang kini bergerak atas dorongan naluri buta. Naluri yang tidak pernah ada dalam program A.R.I.A. sebelum ini. Mei Lan menoleh sekilas, matanya melebar saat melihat Lin Fan menerjang ke arahnya, melewati lautan kematian. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, mungkin juga kemarahan karena Lin Fan telah menempatkan dirinya dalam bahaya. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum dia kembali fokus pada musuhnya, mendorong belati itu menjauh. Lin Fan mencapai mereka. Ia tidak peduli jika bahu-membahu dengan Mei Lan, ia hanya ingin memastikan pria Jin itu tidak akan bisa melukai Mei Lan lagi. Tanpa berpikir, tanpa rencana, sebuah sentuhan murni, yang melampaui setiap kalkulasi di kepala A.R.I.A. Itu adalah sentuhan yang akan mengubah segalanya. --- Mata-mata Jin itu, yang lengah karena kedatangan Lin Fan yang tiba-tiba, sempat terkejut. Mei Lan memanfaatkan celah itu, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan terakhir. _Sringg!_ Bilah pedang mengiris udara, memotong lengan mata-mata Jin itu sebelum dia sempat bereaksi sepenuhnya. Pria itu menjerit kesakitan, terhuyung mundur, memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Lin Fan sudah berada di samping Mei Lan. Asap tipis masih mengepul dari luka di bahunya, darah merembes lebih deras dari yang ia kira. Tanpa sepatah kata pun, Lin Fan mengangkat tangannya, jemarinya bergerak seolah bukan miliknya, dan menyentuh luka di bahu Mei Lan. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan hati-hati, seolah takut akan melukai sesuatu yang rapuh. Kulit Mei Lan terasa hangat di bawah ujung jari Lin Fan, panas dari pertempuran dan mungkin juga demam awal dari luka. Ada getaran aneh, halus, namun tak terbantahkan, yang menjalar dari kulitnya ke jari-jari Lin Fan, lalu merambat naik ke lengannya, dan langsung menuju pusat dadanya. Ini bukan listrik statis, bukan gesekan kain, ini adalah sesuatu yang hidup, berdenyut, dan asing. Mei Lan tersentak. Bukan karena rasa sakit dari sentuhan Lin Fan, melainkan karena kejutan. Matanya yang tajam menatap Lin Fan, penuh dengan ekspresi kompleks yang tidak bisa dibaca. Ada sedikit kebingungan, sedikit rasa sakit, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang Lin Fan belum pernah lihat sebelumnya di wajahnya. Sebagian dari dirinya ingin menarik diri, namun bagian lain membeku di tempat. _ANOMALI KRITIS!_ A.R.I.A. membanjiri pikiran Lin Fan dengan peringatan. Kali ini, bukan hanya teks merah, melainkan seluruh antarmuka Neural HUD-nya berkedip-kedip, seolah sistemnya mulai gagal. _Detak Jantung Lin Fan: 220 BPM. Dopamin: Melonjak 600%. Kortisol: Berada di ambang batas bahaya. Aktivitas Saraf Prefrontal: Chaos. Amygdala: Hiperaktif. ERROR TIDAK TERKLASIFIKASI. REKOMENDASI: PAKSA REBOOT SISTEM! SEGERA PUTUSKAN KONTAK FISIK!_ Suara A.R.I.A. di benaknya tidak lagi datar. Ada semacam urgensi, kepanikan algoritmis, yang belum pernah Lin Fan dengar sebelumnya. Getaran dari sentuhan itu semakin kuat, seolah ada energi tak terlihat yang mengalir di antara mereka, mengabaikan semua batas fisik dan logis. Luka Mei Lan berdenyut di bawah jemarinya, namun yang Lin Fan rasakan bukanlah sakitnya, melainkan kehangatan yang mendalam, kehangatan yang entah bagaimana terasa familiar. Dia bisa merasakan aroma Mei Lan, perpaduan keringat, tanah, dan sedikit wangi herbal yang selalu melekat padanya. Aroma yang kini, di tengah kekacauan, terasa begitu nyata dan menenangkan. Jemarinya secara insting mengencangkan sedikit sentuhannya pada kulit di sekitar luka. Dia ingin memeriksa, ingin memahami seberapa dalam luka itu, seberapa parah. Lebih dari itu, dia ingin memegangnya, entah mengapa. Mei Lan menelan ludah, matanya masih terpaku pada mata Lin Fan. Napasnya sedikit tersengal. Getaran aneh itu bukan hanya di Lin Fan. Mei Lan merasakannya juga, sebuah respons primal yang tidak ia duga. Di tengah semua kekacauan, di antara desingan anak panah dan jeritan kematian, momen ini terasa seperti gelembung waktu yang terpisah, hanya mereka berdua, terhubung oleh sentuhan yang melampaui semua nalar. --- Mei Lan akhirnya menarik bahunya sedikit, gerakan kecil yang mengandung penolakan halus, namun Lin Fan tidak segera melepaskan sentuhannya. Matanya masih menatap Lin Fan, mencari jawaban dalam tatapan dinginnya yang kini tampak sedikit berbeda, sedikit... terganggu. Ekspresinya yang selalu terkontrol kini sedikit retak, menunjukkan campuran antara rasa sakit, keterkejutan, dan sesuatu yang hampir seperti... kepanikan. _Sistem: Gagal memproses data emosional. Ancaman terhadap stabilitas sistem._ A.R.I.A. terus membanjiri Lin Fan dengan peringatan, seolah mencoba menariknya kembali ke realitas yang logis. Namun, realitas Lin Fan saat ini adalah kehangatan kulit Mei Lan di bawah jemarinya, getaran yang masih berdenyut di antara mereka, dan tatapan mata itu. Mei Lan mengalihkan pandangannya dari Lin Fan, seolah ingin menghindari intensitas momen itu. Ia menatap ke sekeliling, ke arah pertempuran yang masih berkecamuk di dekat mereka, mencari alasan untuk memutus koneksi yang baru saja terbentuk. Nafasnya terembus keluar dengan berat, seolah baru saja menahan napas terlalu lama. Bahunya naik-turun dengan cepat. Lin Fan akhirnya melepaskan sentuhannya. Jemarinya terasa dingin tanpa kontak itu, seolah energi aneh yang tadi mengalir telah lenyap, meninggalkan kekosongan. Namun, getaran itu masih terasa, bergema jauh di dalam dirinya, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh algoritma A.R.I.A. Dia tahu, ini bukan hanya anomali biologis. Ini adalah sesuatu yang lebih dari itu. Koneksi yang melampaui logika mesin. Koneksi yang, entah bagaimana, hanya bisa terpicu oleh Mei Lan. Mei Lan meraih pedangnya yang tadi sempat longgar di tangannya, mengencangkan cengkeraman. Otot-otot di rahangnya mengetat, sebuah usaha keras untuk menekan rasa sakit dan emosi yang baru saja muncul. Dia tidak melihat Lin Fan lagi, fokusnya kini sepenuhnya pada medan perang, pada prajurit Jin yang mulai mundur setelah melihat rekan mereka terluka. _Ancaman: Pasukan Jin mundur. Risiko Kehilangan Nyawa: Menurun. Optimalisasi Pertahanan: Stabil._ A.R.I.A. kembali pada mode efisiensi, seolah tidak pernah ada gangguan kritis barusan. Namun, Lin Fan tahu. Sistem itu berbohong. Atau setidaknya, tidak memahami seluruh kebenaran. Ada sesuatu yang terjadi padanya, sesuatu yang tidak bisa dihitung, tidak bisa diprogram, dan tidak bisa diabaikan. Mei Lan menahan rintihan, matanya menatap Lin Fan, dan dia berbisik, 'Ini... bukan apa-apa. Fokus pada perang.'

End of Chapter 23

Chapter 23: Chapter 23: Sentuhan di Garis Depan - Kode Dinasti: Algoritma Takdir | Novel AI Studio