Udara di atas benteng kecil itu bergetar, pecah oleh raungan pasukan Jin yang menggema di lereng bukit. Suara *gedebuk* batu-batu katapel yang menghantam dinding pertahanan memenuhi gendang telinga Lin Fan, menggetarkan tulang di dadanya. Panah-panah berdesing, melesat bagai kawanan serangga metalik, menancap pada balok kayu dan daging prajurit Song dengan suara *srett* yang mengerikan. Setiap benturan memicu kilatan data di sudut pandarannya: "*Struktur Dinding Timur: Integritas 87%. Kerugian Personel: +3. Probabilitas Pelanggaran Sektor Alpha: 12% dan meningkat.*"
Bau besi, keringat, dan debu bercampur pekat di hidungnya. Di bawah lapis tipis data kuantum, Lin Fan bisa merasakan denyutan adrenalin yang memompa kuat, bukan hanya dari dirinya sendiri, tetapi dari setiap prajurit di sekelilingnya. Mereka menahan serangan, otot-otot menegang, mata membelalak penuh kengerian. Sebuah panah melesat melewati telinganya, begitu dekat hingga Lin Fan bisa merasakan hembusan anginnya yang dingin. Sebuah *error* singkat muncul: "*Anomali Biometrik: Peningkatan Kortisol 180% – Tidak Terklasifikasi.*"
"Tahan garis! Jangan mundur!" suara Jenderal Chang menggelegar, serak karena terus berteriak. Jenderal tua itu berdiri di samping Lin Fan, pedangnya teracung, wajahnya dipenuhi butiran keringat dan lapisan tipis tanah. Di kejauhan, di antara kepungan asap, siluet Mei Lan melintas. Ia bergerak dengan kecepatan mematikan, pedang baja Song-nya berkelebat memantulkan cahaya redup, menebas prajurit Jin yang berhasil memanjat dinding. Setiap gerakannya adalah efisiensi brutal, sebuah tarian kematian yang memukau.
Kilatan data A.R.I.A. melesat: "*Target Mei Lan: Efisiensi Tempur 97%. Ancaman Jarak Dekat: Nol.*" Namun, di bawah statistik dingin itu, Lin Fan merasakan lonjakan lain, sebuah getaran samar yang bukan berasal dari ancaman fisik. Sebuah "*Error Tidak Terklasifikasi: Lonjakan Dopamin 210%. Aktivitas Amigdala Kritis.*" Lin Fan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Bahkan di tengah pembantaian ini, keberadaan Mei Lan masih bisa memicu keriuhan aneh dalam sistemnya.
Seorang prajurit di dekatnya mengerang kesakitan saat sebuah batu besar menghantam benteng, memuntahkan serpihan kayu dan tanah ke arahnya. Prajurit itu terjatuh, memegangi kepalanya. Lin Fan berbalik, mengangkat busur panahnya, dan membidik ke arah prajurit Jin yang sedang menarik tali katapel. *Desing!* Anak panah melesat, menancap tepat di leher prajurit Jin itu. Ia ambruk. "*Pembunuhan Efisien. Sumber Daya Tereliminasi.*" A.R.I.A. melaporkan dengan nada datar.
Namun, tidak ada jeda. Serangan terus datang bergelombang. Para prajurit Song, meskipun termotivasi oleh kehadiran Lin Fan dan Mei Lan, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Mata mereka cekung, gerakan mereka melambat. Lin Fan melihat data biomitrik mereka: "*Stamina Rata-Rata: 42%. Moral: Menurun 15% per jam.*" Pengepungan ini menggerogoti mereka, bukan hanya dengan panah dan batu, tetapi dengan kelelahan yang kejam.
"Ambil panah-panah yang jatuh! Cepat!" teriak Lin Fan, suaranya lebih keras dari yang dia kira. Ia menunjuk ke tumpukan anak panah Jin yang berserakan di tanah. A.R.I.A. segera memproyeksikan: "*Optimalisasi Sumber Daya: Panah Musuh dapat digunakan kembali. Efisiensi Penggunaan Kembali: 78%.*" Beberapa prajurit bergerak lambat, enggan meninggalkan posisi bertahan mereka. Rasa takut akan panah yang berdesing di atas kepala mereka terasa lebih nyata daripada perintah untuk mengumpulkan amunisi.
---
Gelombang serangan Jin memang sempat mereda, namun hanya untuk memberi ruang bagi gelombang berikutnya yang lebih brutal. Lin Fan dan Mei Lan berdiri bersebelahan di puncak benteng, memindai medan perang. Lin Fan merasakan panas tubuh Mei Lan di dekatnya, panas yang anehnya tidak memicu "*error*" kali ini, melainkan sebuah sensasi kehangatan yang asing di tengah dinginnya udara malam. A.R.I.A. tetap diam, mungkin sistemnya terlalu sibuk menghitung variabel medan perang.
"Mereka akan menyerang lagi dari sisi barat," kata Lin Fan, matanya menembus kegelapan, melacak pergerakan massa merah di bawah. Proyeksi holografik A.R.I.A. menunjukkan formasi kavaleri Jin yang bergerak memutar, bersembunyi di balik gundukan bukit. "Mereka mencoba memecah konsentrasi kita."
Mei Lan mengangguk, rahangnya mengetat. Ia membuang napas perlahan, uap putih mengepul dari bibirnya. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya, suaranya rendah dan serak. "Aku melihat pergerakan pasukan cadangan mereka bergerak ke sana. Pola yang sama seperti kemarin."
"*Analisis Taktis A.R.I.A.: Prediksi serangan kavaleri dari barat daya dengan probabilitas 91% dalam 15 menit ke depan.*" Data itu berkedip di hadapan Lin Fan, namun ia memilih jawaban lain. "Intuisi," jawabnya, bibirnya membentuk garis tipis. Mengakui A.R.I.A. terlalu rumit, terlalu berbahaya. Mei Lan memberinya tatapan tajam, seolah mencoba menembus topeng ketenangan Lin Fan.
"Jenderal Chang!" panggil Mei Lan, suaranya tegas. "Fokuskan lima puluh prajurit terbaikmu ke dinding barat. Perkuat dengan pemanah. Jangan biarkan mereka mendekat!" Jenderal Chang yang berdiri di dekat mereka, dengan cepat memberi hormat dan bergegas pergi, meneriakkan perintahnya.
Lin Fan melihat ke bawah, ke arah prajurit Song. Bahu mereka melorot. Beberapa menggaruk-garuk tangan, yang lain hanya menatap kosong ke kegelapan. "*Moral Pasukan: 37%. Kelelahan Ekstrem: 89%. Risiko Pembelotan: Meningkat.*" Angka-angka ini mengerikan, jauh melampaui perhitungan rasional mana pun. A.R.I.A. dapat menghitung kekuatan, tetapi tidak semangat.
"Kita bisa menahan serangan ini," kata Mei Lan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Lin Fan. "Tapi berapa lama? Pasokan kita—"
Lin Fan memotongnya. "Kita harus bertahan sampai bala bantuan tiba. Atau sampai mereka lelah." Kata-kata itu terdengar hampa di telinga Lin Fan sendiri. Ia tahu betapa kecil kemungkinan bala bantuan datang dari Bianjing, yang pasti sudah dikuasai intrik dan kepanikan. Dan pasukan Jin tidak akan lelah. Mereka adalah mesin perang.
Mei Lan menoleh kepadanya, matanya menatap tajam di bawah bulu matanya yang basah oleh keringat. "Kau terdengar seperti kau tahu sesuatu yang tidak kami tahu." Ada nada tuduhan yang halus dalam suaranya. Lin Fan merasakan denyutan di pelipisnya. "*Deteksi Kebohongan: Probabilitas Rendah. Variabel Emosional: Curiga.*" A.R.I.A. kembali memproyeksikan data yang tidak membantu.
"Aku tahu bahwa kita tidak bisa menyerah," balas Lin Fan, suaranya rendah. "Itu satu-satunya yang pasti." Ia mengencangkan cengkeramannya pada gagang pedang di pinggangnya, merasakan dinginnya logam. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena kelelahan yang mulai menjalar dari otot-ototnya, sebuah sensasi yang asing bagi kesadarannya yang terintegrasi dengan A.R.I.A. Tubuh biologis ini menuntut istirahat.
---
Malam ketiga pengepungan terasa lebih dingin, lebih kelam. Udara membawa bau amis darah yang mengering dan asap sisa api dari barak-barak Jin di kejauhan. Lin Fan duduk bersandar pada dinding benteng yang kasar, matanya memindai lingkungan. HUD-nya sekarang hanya menampilkan data esensial: "*Suhu Tubuh Inti: 36.5°C. Detak Jantung: 68 bpm. Tingkat Glukosa Darah: Menurun Drastis.*" A.R.I.A. telah beralih ke mode hemat daya, meninggalkan analisis kompleks demi fungsi dasar. Rasa lapar menggerogoti perut Lin Fan, mengencangkan otot-ototnya hingga terasa kejang.
Di sekelilingnya, prajurit Song meringkuk di balik perlindungan seadanya. Batuk basah terdengar dari satu sudut, rintihan samar dari sudut lain. Bau luka yang terinfeksi mulai menyebar, bercampur dengan aroma anyir darah kering. Lin Fan melihat mereka, mata cekung, bibir pecah-pecah. Beberapa hanya menatap kosong ke atas, seolah mencari jawaban di kegelapan yang pekat.
Seorang prajurit muda dengan perban kotor di kepalanya mendekati pos medis darurat. "Aku... aku haus, tabib," bisiknya, suaranya pecah. "Seteguk saja." Tabib tua itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya dipenuhi keputusasaan yang dalam. Air adalah komoditas yang hampir tidak ada lagi. Setiap tetes yang tersisa dijatah ketat untuk yang terluka parah.
Kepala Lin Fan berdenyut. Bukan dari luka, tapi dari rasa lapar yang begitu mendalam hingga terasa seperti ngilu di tulang. A.R.I.A. memproyeksikan: "*Kebutuhan Kalori: +1200 kkal. Kebutuhan Hidrasi: +1.5L. Penurunan Kognitif: Terdeteksi.*" Bahkan sistemnya sendiri mulai terpengaruh. Bagaimana bisa ia berpikir jernih saat tubuh ini perlahan menyerah?
"Kita tidak bisa terus seperti ini," gumam seorang prajurit di dekatnya, suaranya rendah, hampir tak terdengar. "Jika tidak mati oleh panah Jin, kita akan mati kelaparan dan kehausan di sini." Bisikan itu menyebar, seperti racun, dari satu prajurit ke prajurit lain. Lin Fan melihat nyala harapan di mata mereka meredup, digantikan oleh keputusasaan yang dingin.
Ia mencoba memfokuskan diri, mencari solusi. A.R.I.A. masih bisa melakukan simulasi, tetapi dengan input yang begitu terbatas, hasilnya selalu sama: "*Probabilitas Kelangsungan Hidup Jangka Panjang: Sangat Rendah. Optimalisasi Sumber Daya: Tidak Cukup.*" Tidak ada jalan keluar yang mudah. Tidak ada keajaiban yang bisa ia ciptakan di tengah kelaparan dan kehausan yang melumpuhkan ini. Ia merasa begitu manusiawi, begitu rentan, seolah lapisan digital A.R.I.A. terkikis oleh rasa sakit fisik.
---
Mei Lan mendekat, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas puing-puing. Ia berhenti di samping Lin Fan, bayangannya jatuh di atasnya. Lin Fan bisa merasakan aroma samar tanah dan keringat dari tubuhnya, sebuah aroma alami yang entah mengapa, terasa menenangkan di tengah kekacauan. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya, suaranya pelan, nyaris berbisik. Ada kelelahan yang mendalam dalam nada suaranya.
"Aku baik-baik saja," jawab Lin Fan, suaranya serak. Sebuah kebohongan yang bahkan A.R.I.A. tak perlu memproyeksikan. Setiap sel di tubuhnya terasa berteriak. Ia mencoba menegakkan punggungnya, namun otot-ototnya menolak. Rasa sakit menggerogoti setiap sendi.
Mei Lan duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung ke dinding yang sama. Jarak di antara mereka tipis, hanya beberapa inci. Panas tubuhnya memancar, meskipun suhu di sekitarnya terasa menusuk. Lin Fan merasa anomali biologisnya bergejolak samar, seperti gelombang pasang yang tenang. "*Anomali Biometrik: Peningkatan Oksitosin 110%. Aktivitas Hipotalamus Terdeteksi.*" A.R.I.A. lagi-lagi mencatat data yang tidak masuk akal.
"Aku sudah memeriksa persediaan," kata Mei Lan, suaranya semakin rendah, nyaris tak terdengar melewati desing angin malam. Ia tidak menatap Lin Fan, melainkan ke kegelapan di luar benteng, ke arah api unggun Jin yang berkedip-kedip di kejauhan. Ekspresinya adalah campuran antara tekad baja dan kerentanan yang mengkhawatirkan.
Lin Fan menunggu, menahan napas. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya. Perutnya bergejolak, bukan hanya karena lapar, tetapi karena ketegangan yang tiba-tiba melilit.
"Kita hanya punya cukup makanan untuk satu hari lagi," bisik Mei Lan, suaranya seperti embusan napas dingin yang menusuk. Ia akhirnya menoleh, matanya yang gelap bertemu dengan mata Lin Fan. Ada bayangan kekalahan di sana, sesuatu yang belum pernah dilihat Lin Fan sebelumnya. "Setelah itu, kita harus memilih: menyerah atau mati kelaparan."