Chapter 22 of 28
Skenario Kehancuran: Peta AI
1.3k words
Udara di ruang komando sementara terasa dingin, lembap, dan sedikit apek, menggesek kulit Lin Fan seperti sikat kawat. Dinding batu tanpa ornamen menelan semua suara, menciptakan vakum sunyi yang memperparah ketegangan. Sebuah pilar cahaya biru transparan memancar dari lantai, menembus kegelapan dan menyebar di udara, membentuk layar visual holografik yang berdenyut lembut di retinanya. Ini bukan proyeksi data biasa; ini adalah panggung bagi neraka yang belum terjadi.
Suara A.R.I.A. mengalun datar, tanpa intonasi, langsung di dalam benaknya. *"Simulasi Taktis Kuantum Dimulai. Skenario Probabilitas Terendah: Non-Intervensi Lin Fan dalam Konflik Dinasti Song-Jin."*
Lin Fan tidak bergerak. Matanya terpaku pada proyeksi yang mulai terbentuk. Sebuah peta Dinasti Song Utara terhampar di udara, garis-garis perbatasannya berkedip merah terang. Titik-titik cahaya mewakili kota-kota besar—Bianjing, Kaifeng, Luoyang—mulai berdenyut lambat, ritmis, seperti jantung-jantung yang rapuh.
Dari utara, gelombang merah pekat menyapu perbatasan. Itu adalah pasukan Jin, bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, tanpa hambatan, seolah-olah medan perang itu hanyalah hamparan kosong. Setiap pergerakan pasukan, setiap bentrokan—yang ditandai dengan kilatan merah dan biru yang singkat—disajikan dengan detail yang mencengangkan. Tidak ada suara dentuman pedang, hanya gemuruh visual yang terasa di rongga dadanya. Tidak ada jeritan, hanya siluet-siluet yang tumbang. Simulasi itu adalah tarian kematian yang sunyi, namun vibrasinya terasa sampai ke tulang.
*"Estimasi kerugian struktural: 98%. Estimasi korban sipil: 75% dari populasi urban inti,"* suara A.R.I.A. berlanjut, setiap kata adalah pukulan telak yang dingin. *"Probabilitas kolaps pemerintahan pusat: 100% dalam 72 jam setelah penetrasi perbatasan awal. Probabilitas penaklukan total: 100% dalam 90 hari."*
Lin Fan merasakan denyut nadinya berpacu cepat, kontras dengan ketenangan mekanis dari simulasi di depannya. Sebuah keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, mengalir perlahan melewati cambang dan berhenti di rahangnya yang mengetat. Dia menahan napas, mencoba menangkap setiap detail, setiap prediksi kehancuran yang terhampar. Setiap kilatan merah yang meluas di peta adalah kota yang jatuh, setiap titik cahaya yang padam adalah peradaban yang runtuh. Ini bukan hanya angka-angka; ini adalah kematian.
***
Simulasi tiba-tiba membesar, menarik Lin Fan lebih dalam ke dalam kehancuran. Peta abstrak menghilang, digantikan oleh citra-citra yang lebih mengerikan, lebih pribadi. Dia melihat gerbang kota Bianjing, yang semula kokoh, kini hancur lebur. Batu-batu raksasa berserakan seperti mainan. Asap hitam tebal mengepul dari setiap bangunan, menodai langit yang tadinya biru jernih.
Gelombang pasukan Jin, dengan baju zirah gelap dan tombak berkilauan, menerobos masuk. Mereka seperti banjir, menyapu segala yang ada di jalan mereka. Proyeksi holografik menciptakan ilusi kedalaman yang sempurna. Lin Fan bisa melihat detail pada wajah-wajah prajurit Jin yang penuh amarah, kilatan mata mereka yang tanpa belas kasihan.
Lalu, muncul warga sipil. Mereka bukan lagi titik-titik cahaya, melainkan bayangan-bayangan yang berlarian, panik, mencari perlindungan yang tidak ada. Lin Fan melihat seorang wanita memeluk erat anaknya, tubuhnya gemetar sebelum mereka berdua tumbang, ditusuk tombak tanpa ampun. Dia melihat seorang pria tua dengan rambut putih mencoba melawan dengan tangan kosong, hanya untuk dipenggal dalam sekejap.
Tubuh-tubuh berserakan di jalanan batu yang basah oleh darah, menyebar seperti tinta merah gelap di atas kain putih. Api menjilat menara-menara pengawas, menghanguskan atap-atap pagoda yang dihiasi ornamen, mengubahnya menjadi kerangka hangus yang memilukan. Kuil-kuil suci yang dulu megah kini runtuh, patung-patung Buddha yang dipuja hancur berkeping-keping. Aroma hangus dan besi berkarat seakan menembus indra penciumannya, meskipun ia tahu itu hanya ilusi.
*"Korban jiwa per menit: Meningkat secara eksponensial,"* A.R.I.A. melaporkan, suaranya tetap monoton, membedah kengerian dengan presisi algoritmik. *"Infrastruktur sosial: Runtuh. Logistik pangan: Terputus. Sistem pertahanan: Tidak relevan. Resistensi: Nihil."*
Lin Fan merasakan jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya. Udara dingin di ruangan itu terasa menyesakkan, seolah-olah dia sendiri yang berada di tengah kepungan asap dan jeritan itu. Matanya membelalak, mengikuti setiap detail pembantaian yang tak terhindarkan. Ini adalah akhir dari sebuah peradaban, bukan dalam buku sejarah yang dingin, tapi diproyeksikan langsung ke kesadarannya. Dia bisa merasakan keputusasaan yang memancar dari setiap siluet yang jatuh, kepanikan yang mencengkeram setiap napas yang tersengal. Ini adalah kehancuran total, sebuah genosida yang disimulasikan, dan dia adalah satu-satunya penonton.
***
Sebuah rasa dingin menjalar di punggung Lin Fan, menusuk hingga ke sumsum tulang. Bukan dinginnya udara, melainkan dinginnya realisasi. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa nyeri. Proyeksi kengerian itu, yang awalnya ia cermati dengan ketenangan kalkulatif, kini telah menembus pertahanannya. Otak rasionalnya, yang terbiasa memproses data dan probabilitas, kini dihadapkan pada kekejaman yang tidak bisa direduksi menjadi angka.
Pandangannya menyapu reruntuhan kota yang terbakar, menatap siluet-siluet yang bergelimpangan di tanah. Dia melihat wajah-wajah yang memohon, mata-mata yang kosong, dan tangan-tangan yang mencoba menggapai udara sebelum akhirnya terkulai. Sebuah desakan mual naik ke tenggorokannya, membuat otot rahangnya mengetat, menahan apa pun yang ingin keluar.
*"Analisis emosional Lin Fan: Peningkatan signifikan dalam hormon stres (kortisol), aktivitas amigdala abnormal, respons empati tinggi,"* A.R.I.A. melaporkan, suaranya terdengar seperti diagnosis medis yang tidak relevan di tengah-tengah pemandangan neraka. *"Variabel tidak terklasifikasi: Rasa bersalah kolektif terdeteksi."*
Rasa bersalah. Lin Fan mengeja kata itu dalam benaknya. Itu adalah sensasi asing, berat, dan menghancurkan. Dia bukan bagian dari era ini, bukan dari dinasti ini, namun entah bagaimana, takdir ribuan, jutaan orang, kini bergantung padanya. Dialah satu-satunya yang melihat masa depan ini, satu-satunya yang mungkin bisa mengubahnya. Beban itu menimpanya seperti bongkahan batu.
Otot-otot di lehernya menegang, kepalanya sedikit berdenyut. Dia telah melihat kematian sebelumnya, melalui lensa data yang steril. Tapi ini berbeda. Ini adalah kehancuran yang tak terhindarkan, dipresentasikan dengan kebrutalan visual yang mengerikan. Hawa dingin itu merayap dari punggungnya, melingkari dadanya, mencengkeram jantungnya. Bukan lagi tentang probabilitas kelangsungan hidupnya sendiri; ini tentang kelangsungan hidup seluruh peradaban.
Dia harus menghentikan ini. Tekad itu terbentuk di benaknya, mengeras seperti baja. Tidak ada lagi jalan kembali, tidak ada lagi pilihan untuk lari. Bianjing, Song, dan semua orang di dalamnya akan musnah jika dia tidak campur tangan. Dia melihat kobaran api di cakrawala, mendengar jeritan yang tak terucap, dan merasakan dinginnya kematian yang melanda. Ini adalah tanggung jawabnya, dan dia akan menanggungnya, apa pun risikonya.
***
Simulasi yang mengerikan itu tiba-tiba bergeser. Pemandangan kehancuran luas memudar, asap dan api mengecil, garis-garis mayat menghilang. Seluruh proyeksi mulai menyusut, lalu terfokus pada satu titik, satu individu. Jantung Lin Fan berdetak kencang, merasakan perubahan arah yang mendadak ini.
Citra Mei Lan muncul di tengah layar. Dia berdiri di garis depan pertempuran yang kacau, dikelilingi oleh kobaran api yang menjilat tinggi. Rambut hitamnya sebagian basah oleh keringat, sebagian lagi tertiup angin panas. Wajahnya dihiasi noda jelaga, namun matanya tetap tajam, memancarkan determinasi yang keras. Pedang Song-nya tergenggam erat di tangan kanannya, bilahnya memantulkan cahaya api yang menari-nari.
Di sekelilingnya, tentara-tentara Jin menyerbu tanpa henti, jumlah mereka tak terhitung. Tubuh-tubuh prajurit Song bergelimpangan di tanah yang berdebu. Mei Lan tampak bertarung sendirian, dikepung, dikalahkan oleh jumlah. Dia mengayunkan pedangnya dengan gerakan mematikan, setiap tebasan menebas musuh, tetapi setiap musuh yang jatuh digantikan oleh dua atau tiga lainnya.
Lin Fan merasakan gelombang anomali biologis yang familiar menghantamnya, bahkan lebih kuat dari biasanya. Jantungnya melonjak, napasnya tersengal, dan dingin di punggungnya berubah menjadi panas yang membakar. Matanya memicing, memperhatikan setiap detail perjuangan Mei Lan yang putus asa.
*"Elevasi metrik: Detak jantung mencapai 180 bpm. Dopamin: Melonjak 500%. Kortisol: Kritis. Error Tidak Terklasifikasi: Intensi perlindungan ekstrem terdeteksi,"* A.R.I.A. melaporkan, suaranya menunjukkan sedikit perubahan, seolah-olah sistemnya sendiri sedang berjuang memproses data yang belum pernah ada. *"Fungsi kognitif Lin Fan: Terganggu. Fokus prioritas: Mei Lan."*
Mei Lan terhuyung, bahunya tertusuk anak panah. Dia mengerang, sebuah rintihan yang tidak terdengar namun terasa di dalam benak Lin Fan. Matanya tetap menyala, menolak menyerah, bahkan saat musuh-musuh mendekat, pedang-pedang mereka siap menghujam. Api menjilat lebih dekat, menerangi ekspresi kelelahan dan rasa sakit di wajahnya yang cantik. Itu adalah akhir dari perjuangan yang sia-sia.
Peta kehancuran perlahan memudar, digantikan oleh citra Mei Lan yang berdiri di garis depan, dikelilingi api, dan sebuah pesan berkedip: *'Risiko Kematian Mei Lan: 98% tanpa intervensi Lin Fan.'*