Chapter 19 of 28

Chapter 19: Panik di Istana

1.4k words

Udara di Balai Keharmonisan Agung terasa seperti timah beku, menekan setiap napas. Lin Fan berdiri di samping Jenderal Chang, merasakan tatapan ratusan pasang mata tertuju pada mereka, sebagian besar menuduh. Proyeksi biru transparan dari A.R.I.A. berkedip di retinanya, menampilkan data biometrik Kaisar: detak jantung melampaui 120 bpm, tingkat kortisol melonjak, *tremor* halus terlihat pada jari-jari yang memegang jubah naga sutra kuning cerah. Wajah Kaisar Huizong, biasanya dipenuhi ekspresi tenang seorang seniman, kini pucat pasi, seperti kertas beras tua yang hampir robek. Seorang kasim tua, Li Gonggong, gemetaran saat membacakan laporan dari garis depan. Suaranya serak, beberapa kali tersangkut di tenggorokannya. Setiap kata adalah tusukan dingin. "...unit garis depan di Gerbang Barat daya... hancur... lebih dari tiga ribu prajurit gugur... gudang perbekalan utama di luar kota... terbakar habis..." Li Gonggong menunduk, tidak berani menatap wajah Kaisar. Angka-angka melayang di depan mata Lin Fan: *Kerugian Pasukan: 3,124. Kerugian Logistik: 87%. Probabilitas Pertahanan Bianjing: Menurun drastis.* Data itu dingin, tanpa emosi, namun Lin Fan merasakan gelombang mual menjalar di perutnya. Ini adalah kerugian yang dia tahu pasti akan datang, kerugian yang dia sudah peringatkan. A.R.I.A. menampilkan simulasi taktis yang sudah diperbarui, menunjukkan bahwa pertahanan kota kini berada pada titik kritis. Variabel manusia, seperti biasa, adalah faktor paling tidak efisien. Kaisar terhuyung, tangannya mencengkeram sandaran takhta naga emas. Bibirnya bergetar. "Tiga... tiga ribu? Bagaimana bisa?" Suaranya nyaris seperti bisikan, seperti angin melewati celah batu. "Kita punya benteng... kita punya... prajurit!" Jenderal Chang melangkah maju, tubuhnya tegang. "Yang Mulia, musuh datang dengan kekuatan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Kavaleri Jin seperti badai. Mereka... mereka tidak seperti yang kita duga. Serangan mereka brutal, tanpa henti." Jenderal itu berhenti, matanya yang lelah menatap Lin Fan sekilas. Ada bayangan kekalahan di sana, tapi juga keteguhan yang aneh. Lin Fan melihat lebih dari itu. Dia melihat ketakutan yang mengakar di mata Kaisar, ketakutan yang akan meracuni setiap keputusan. Sistem A.R.I.A. telah mengidentifikasi pola ini dalam arsip sejarah: kepanikan penguasa seringkali menjadi katalisator kehancuran yang lebih besar daripada kekuatan musuh itu sendiri. Balai itu, dengan pilar-pilar merah marunnya dan atap melengkung yang dihiasi naga emas, terasa seperti kandang yang tertutup rapat, menghalangi pandangan mereka dari realitas berdarah di luar tembok kota. Para pejabat yang selama ini hanya bisa mengoceh tentang puisi dan filosofi Konfusianis, kini mulai bergerak gelisah. Beberapa di antara mereka menatap Lin Fan dengan kebencian terbuka. Udara mulai menebal dengan bisikan dan tuduhan yang belum terucap. --- Seorang Kanselir Kiri, bermarga Wang, melangkah maju, jubah sutranya berkibar angkuh. Wajahnya kurus, matanya sipit, penuh penghakiman. "Yang Mulia!" Suaranya menggelegar, memotong ketegangan yang menggantung. "Bukan musuh yang tidak bisa kita duga! Ini adalah hasil dari strategi yang melanggar semua tradisi!" Wang menunjuk Lin Fan dengan jari telunjuk yang keriput. "Pemuda ini! Dengan 'senjata-senjata anehnya' dan taktik barunya! Ia telah mengabaikan prinsip-prinsip perang suci yang diajarkan oleh para leluhur kita! Bukankah kita selalu mengandalkan pertahanan pasif, menjaga garis batas, dan menggunakan formasi yang teruji?" Suaranya meninggi, dipenuhi kemarahan yang dipelintir oleh rasa takut. Pejabat lain, Menteri Urusan Personalia, menyahut. "Tepat sekali, Kanselir Wang! Kita seharusnya tidak pernah membiarkan orang asing seperti dia mengacak-acak sistem militer kita! Senjata-senjata api besar itu, yang dia sebut 'meriam', hanya mendatangkan malapetaka! Mereka membakar lebih banyak pasukan kita sendiri daripada musuh!" Lin Fan berdiri diam, rahangnya mengeras. A.R.I.A. memproyeksikan data historis tentang doktrin militer Song. *Doktrin Militer Song: Fokus pada pertahanan pasif, pengepungan, dan kekuatan kavaleri defensif. Kelemahan: Kurangnya inisiatif ofensif, ketergantungan pada jumlah, dan ketidakmampuan beradaptasi dengan taktik agresif.* Semua yang mereka katakan adalah kebenaran, kebenaran yang usang dan mematikan. Mereka seperti pohon tua yang menolak membengkokkan rantingnya di tengah badai, hanya untuk tumbang. Jenderal Chang, yang wajahnya kini memerah, mencoba membela. "Yang Mulia, para menteri! Meriam-meriam itu... mereka memang kuat. Mereka telah menghancurkan sebagian formasi kavaleri Jin. Kerugian yang terjadi... itu karena kurangnya pengalaman dalam menggunakannya. Pasukan kita membutuhkan waktu adaptasi!" Ia menatap para menteri, tatapannya memohon pemahaman. Namun, Kanselir Wang tertawa sinis. "Adaptasi? Berapa banyak lagi nyawa yang harus kita korbankan untuk 'adaptasi' seorang pemuda yang tidak tahu apa-apa tentang perang sebenarnya? Ini adalah penghinaan terhadap nilai-nilai Konfusianis kita! Perang seharusnya dilakukan dengan kehormatan, dengan ritual, bukan dengan ledakan api dan kekacauan!" Lin Fan merasakan gelombang jijik yang dingin. Kehormatan? Ritual? Mereka berbicara tentang tradisi sementara ribuan orang mati di luar. Mereka lebih peduli pada citra daripada kelangsungan hidup. Matanya menyapu deretan pejabat yang mengangguk setuju, wajah mereka mencerminkan kombinasi kepengecutan dan kesombongan. Ini bukan tentang memenangkan perang; ini tentang memenangkan argumen dan menjaga status quo. Kelemahan Dinasti Song bukan hanya pada militernya, tetapi juga pada tulang sumsum kepemimpinannya. --- Kaisar menghela napas panjang, seperti beban dunia berada di pundaknya. Ia mengangkat tangan, meminta keheningan. "Cukup! Cukup!" Suaranya lemah, tapi memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. "Para jenderal... para menteri... pertempuran ini... ini terlalu berat untuk kita. Kerugiannya... tak tertahankan." Matanya yang lelah menatap Kanselir Wang, seolah mencari pembenaran. "Apa gunanya mempertahankan tembok jika kita kehilangan semua putra terbaik kita? Kita adalah kekaisaran yang menjunjung tinggi sastra, seni, dan perdamaian. Kita bukan bangsa barbar yang haus darah." Kanselir Wang mengangguk penuh hormat, senyum tipis merekah di bibirnya yang kering. "Yang Mulia berucap bijak. Kekuatan sejati Song terletak pada budayanya, pada kebajikan para pemimpinnya. Mengapa kita harus menanggapi kekerasan dengan kekerasan yang lebih besar? Itu hanya akan memperpanjang penderitaan." Lin Fan mengepalkan tinjunya, otot-otot di lengannya menegang. A.R.I.A. memproyeksikan data probabilitas: *Negosiasi Damai dengan Jin: Probabilitas Keberhasilan Jangka Panjang: 0.01%. Probabilitas Penyerahan Wilayah: 98%. Probabilitas Penjarahan Total: 75%.* Angka-angka ini adalah hukuman mati yang terselubung. Jin tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk menjarah dan menaklukkan. Ini bukan perdamaian, melainkan pengorbanan yang disamarkan. "Yang Mulia!" Jenderal Chang berseru, suaranya dipenuhi keputusasaan. Ia berlutut, menundukkan kepalanya. "Jangan dengarkan mereka! Ini adalah jebakan! Jin tidak akan pernah menghormati perjanjian damai. Mereka akan mengambil apa yang bisa mereka ambil, lalu kembali lagi dengan kekuatan yang lebih besar! Kita harus terus berjuang! Kita harus menggunakan waktu yang kita miliki untuk mengumpulkan lebih banyak meriam, melatih lebih banyak pasukan!" Kaisar menggelengkan kepalanya perlahan, seperti patung giok yang rapuh. "Tidak, Jenderal. Cukup sudah. Aku tidak bisa membiarkan lebih banyak darah tumpah. Aku akan mengirim utusan ke kamp Jin. Kita akan menawarkan emas, sutra, dan wilayah. Kita akan meminta mereka untuk berbalik." Suara Kaisar bergema dengan keputusasaan yang tragis, sebuah keputusan yang lahir dari ketakutan murni. Lin Fan merasakan sensasi dingin menyelimuti dirinya, lebih tajam daripada udara musim dingin di luar. Ini bukan hanya sebuah keputusan, ini adalah sebuah diagnosis. Dinasti Song sudah sakit parah, digerogoti dari dalam oleh kepengecutan dan ilusi kejayaan masa lalu. Kaisar, yang seharusnya menjadi pemimpin, kini memilih jalan pengecut, menyerahkan nasib jutaan rakyatnya demi ilusi perdamaian yang fana. Bagi A.R.I.A., ini adalah contoh klasik dari 'optimalisasi risiko yang salah', sebuah pilihan yang menjamin kerugian maksimal dalam jangka panjang. Rasa muak Lin Fan meluap, bukan hanya pada Kaisar, tetapi pada seluruh sistem yang begitu rapuh dan buta ini. --- Balai istana mulai riuh dengan bisikan persetujuan dari para pejabat Konfusianis. Senyum puas terlihat di wajah mereka, seolah mereka baru saja memenangkan perdebatan filosofis, bukan mengorbankan masa depan kekaisaran. Jenderal Chang masih berlutut, bahunya terkulai, kepalanya tertunduk dalam kekalahan. Lin Fan melihatnya, merasakan gelombang simpati yang aneh, sebuah 'anomali' yang A.R.I.A. tidak akan pernah bisa kategorikan. Jenderal Chang adalah salah satu dari sedikit yang melihat kebenaran, tetapi suaranya ditenggelamkan oleh gelombang ketakutan dan kebodohan. Lin Fan berdiri tegak, matanya menatap tajam ke sekeliling. Ia melihat kebanggaan palsu, kelegaan yang mengerikan, dan konspirasi yang mulai terbentuk di setiap sudut. Setiap data yang diproyeksikan A.R.I.A. tentang probabilitas bertahan hidup Lin Fan kini berkedip merah terang: *Peningkatan Risiko Penargetan.* *Sistem Kekuasaan: Sangat Tidak Stabil.* *Variabel Individu: Terancam.* Keberadaannya, dengan pengetahuannya yang mengganggu dan metode-metode radikalnya, kini menjadi ancaman bagi tatanan yang nyaman ini. Dia melihat kasim-kasim istana, bayangan-bayangan licik yang selalu berbisik di telinga Kaisar, mulai mendekat. Mereka adalah parasit yang paling berbahaya, yang menggerogoti kekaisaran dari dalam, jauh lebih efektif daripada pedang Jin. Salah satu kasim, seorang pria gemuk dengan wajah licin dan mata yang berbinar tajam, mendekat ke arah takhta. Dia membungkuk rendah, bibirnya bergerak nyaris tak terlihat di dekat telinga Kaisar. Jarak mereka terlalu jauh untuk Lin Fan mendengar apa yang dibisikkan, tetapi A.R.I.A. memiliki kemampuan untuk memproses gelombang suara yang paling samar. Proyeksi di retina Lin Fan tiba-tiba menguat, memfokuskan audionya. Suara bisikan itu, meskipun sangat pelan, terdengar jelas di benak Lin Fan, dingin dan penuh perhitungan. "Yang Mulia," bisik kasim itu, matanya melirik ke arah Lin Fan dengan ekspresi mencurigakan yang samar. "Kita bisa menyalahkan Lin Fan atas semua ini. Dia orang asing, mudah dikorbankan."

End of Chapter 19