Chapter 18 of 28
Chapter 18: Tarian Pedang dan Algoritma
1.3k words
Udara malam di atas Bianjing membeku, membawa aroma besi dan keputusasaan yang samar. Lin Fan, bertengger di menara pengawas sementara yang dibangun dari balok kayu tua, mengamati medan perang yang gelap gulita melalui Neural HUD-nya. Jaringan garis biru tembus pandang menyelimuti pemandangannya, menampilkan data termal, pola gerakan musuh, dan probabilitas ancaman secara real-time. Fokusnya terpaku pada satu titik, sebuah unit kecil yang bergerak seperti bayangan di balik garis pertahanan Jin.
Mei Lan memimpin. Siluetnya adalah yang paling tajam di antara unitnya, bergerak dengan presisi yang menakutkan, kakinya melangkah tanpa suara di atas kerikil dan lumpur. Jubah hitamnya menyatu sempurna dengan kegelapan malam, menyembunyikan kontur tubuhnya yang gesit. A.R.I.A. memproyeksikan lintasan gerakan mereka sebagai garis hijau yang mulus, menembus labirin tenda-tenda persediaan Jin yang berjejer tak beraturan.
"Probabilitas deteksi: 1.7%," suara A.R.I.A. bergema di benaknya, datar dan tanpa emosi. "Optimalisasi rute infiltrasi: Tercapai. Target: Gudang amunisi dan bahan bakar Jin." Lin Fan mengamati Mei Lan memberi isyarat. Gerakan tangannya ringkas, efisien, setiap jari seolah memiliki kehendaknya sendiri. Unitnya, tiga belas prajurit pilihan Rongzu Si, bergerak serentak, mengikuti setiap perintah tanpa ragu.
Ia melihat Mei Lan berhenti sesaat di balik gundukan tanah yang disamarkan. Matanya menyapu sekeliling, lalu memberi tanda dengan ibu jari yang terangkat. Itu adalah tanda persetujuan, sebuah ritus kecil sebelum memasuki jantung sarang musuh. Jantung Lin Fan merasakan denyutan aneh, bukan denyutan panik, melainkan sesuatu yang lebih dalam, resonansi yang tidak dapat dijelaskan.
Neural HUD berkedip, menampilkan data biometriknya sendiri: 'DETEKSI ANOMALI KARDIOVASKULAR. DENYUT JANTUNG: 88 BPM. DOPAMIN: MENINGKAT 12%. CORTISOL: MENINGKAT 8%.' A.R.I.A. tidak menawarkan penjelasan, hanya label 'ERROR TIDAK TERKLASIFIKASI' yang terpampang di sudut pandang, sebuah pengakuan akan kegagalannya memahami. Rasa aneh itu seperti sengatan listrik, namun juga sebuah kehangatan yang tidak seharusnya ada.
Mei Lan dan pasukannya menghilang di balik deretan gerobak persediaan, menyatu dengan kegelapan. Lin Fan menahan napas, meskipun A.R.I.A. mengatakan itu tidak perlu. Ia tahu risiko yang mereka ambil. Ia telah menghitungnya. Tetapi angka-angka itu terasa dingin dan jauh, tidak seperti sensasi yang bergejolak di dalam dirinya sekarang. Sensasi ini adalah sebuah variabel yang tidak bisa dihitung. Variabel ini adalah Mei Lan.
---
Suara desisan samar terdengar di telinga Lin Fan, sebuah transmisi audio yang nyaris tak terdeteksi oleh telinga manusia, namun diperkuat oleh sistem A.R.I.A. Itu adalah gesekan baja, bisikan cepat dari pertarungan yang baru saja pecah. Neural HUD Lin Fan langsung bergeser, memperbesar area gudang amunisi. Visual termal menunjukkan bayangan-bayangan yang bertabrakan, percikan dingin dari pedang-pedang yang beradu.
Mei Lan adalah inti dari badai itu. Pedangnya menari, sebuah garis perak yang mematikan di antara seragam tebal prajurit Jin. Ia melihatnya menebas ke bawah, membelah helm baja dengan presisi yang mengerikan. Darah menyembur, namun di Neural HUD, itu hanya data: 'KOAGULASI DARAH: NORMAL. KERUSAKAN JARINGAN: EKSTENSIF.' Namun Lin Fan melihat lebih dari itu. Ia melihat keanggunan brutal, kekuatan yang terkandung dalam setiap gerakannya.
Seorang prajurit Jin yang lebih besar menerjang, kapak beratnya berayun dalam busur lebar. Mei Lan mengelak dengan mudah, tubuhnya meliuk seperti pita sutra yang ditiup angin, namun dengan kekuatan baja. Dia memutar, pedangnya menyambar, mengenai titik lemah di leher prajurit itu. *Sreeet!* Suara itu, tajam dan final, memotong udara. Prajurit itu roboh tanpa suara, napasnya terhenti.
'KECEPATAN SERANGAN: 8.9 METER/DETIK. DAYA HENTI: MAKSIMAL. PROBABILITAS CEDERA MEI LAN: 0.1%,' A.R.I.A. melaporkan, namun Lin Fan tidak lagi fokus pada angka. Ia terpaku pada Mei Lan, pada bagaimana setiap otot di lengannya menegang, bagaimana pinggulnya berputar untuk menambah momentum, bagaimana matanya tetap dingin dan fokus di tengah kekacauan.
Dia bukan hanya seorang prajurit. Dia adalah sebuah karya seni yang mematikan, sebuah algoritma yang hidup dan bernapas, jauh lebih rumit daripada kode apa pun yang pernah dilihat A.R.I.A. 'ANOMALI JANTUNG: MENINGKAT. PEMICU: VISUAL MEI LAN.' Lin Fan merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat, sebuah reaksi fisik yang tidak memiliki tujuan fungsional dalam kalkulasi bertahan hidup. Itu adalah gangguan, sebuah kerentanan yang tidak ia pahami.
Mei Lan bergerak maju, tak terbendung, membersihkan jalan bagi unitnya. Setiap kali pedangnya bertemu dengan baja atau daging, Lin Fan merasakan getaran aneh, seolah-olah dampaknya merambat langsung ke sarafnya. Ia melihat dua prajurit Jin mundur, ketakutan terpancar di wajah mereka yang kotor. Mei Lan tidak memberi mereka kesempatan. Pedangnya melesat lagi, dua kilatan perak yang mengakhiri semuanya. Ketakutan itu, ia sadar, bukan hanya milik prajurit Jin. Itu juga miliknya.
---
Neural HUD Lin Fan berkedip merah. Sebuah peringatan darurat memenuhi pandangannya. 'ANCAMAN: PEMANAH JIN TERDETEKSI. POSISI: ATAP UTARA GUDANG BAHAN BAKAR. PROBABILITAS SERANGAN TEPAT: 92%.' Jantung Lin Fan berdetak lebih kencang, sebuah palu yang memukul-mukul di sangkar dadanya, lagi-lagi mengabaikan logika A.R.I.A. yang datar. "Identifikasi target," Lin Fan bergumam, suaranya serak.
Sebuah lingkaran merah muncul di sekitar sosok seorang pemanah Jin yang bersembunyi di balik cerobong asap. Busur panjangnya ditarik penuh, anak panahnya mengarah langsung ke Mei Lan, yang saat itu sedang berlutut, memeriksa kunci gudang. Sebuah posisi yang sangat rentan. 'PROBABILITAS CEDERA VITAL: 88%. PROBABILITAS FATALITAS: 73%.' Angka-angka itu menghantam Lin Fan seperti pukulan fisik.
"Mei Lan, bergerak!" Suara itu keluar dari tenggorokannya, sebuah desisan spontan yang bahkan tidak ia sadari. A.R.I.A. segera mencatat: 'INTERVENSI VERBAL: TIDAK EFEKTIF. JARAK: 500 METER. PENGARUH SUARA: NOL. ERROR: PEMBUANGAN ENERGI YANG TIDAK PERLU.' Lin Fan mengabaikan A.R.I.A. Ia merasakan gelombang dingin dan panas secara bersamaan, sebuah ketakutan murni yang merayapi tulangnya. Ini bukan ketakutan akan kematiannya sendiri, melainkan ketakutan akan… kehilangannya.
Tangannya mengepal di langkan menara. Otot rahangnya mengeras. Ia ingin menjangkau, menarik Mei Lan dari bahaya. Sebuah dorongan primal yang tidak memiliki dasar rasional. Ia telah melihat kematian ratusan kali dalam simulasi A.R.I.A., namun tidak pernah merasakan sensasi sesak napas seperti ini. Ini adalah anomali terbesar dari semuanya, sebuah virus dalam sistemnya yang jauh lebih rumit daripada sekadar lonjakan dopamin atau kortisol.
Mei Lan masih berlutut. Anak panah itu dilepaskan. Sebuah garis merah melintas di Neural HUD, menunjukkan lintasan peluru. Detik-detik itu terasa seperti keabadian. Lin Fan menyaksikan, tak berdaya, saat anak panah melesat menembus kegelapan. Ia berharap, sebuah harapan yang tidak logis dan tidak beralasan, bahwa Mei Lan akan merasakan sesuatu, intuisi, peringatan, apa pun.
---
Dalam sepersekian detik, seolah ada insting yang mendorongnya, Mei Lan menoleh. Bukan ke arah pemanah, melainkan ke arah menara pengawas, ke arah Lin Fan. Matanya melebar sesaat, ekspresi terkejut dan pengakuan melintas di wajahnya, seolah ia merasakan tatapan Lin Fan, desakan tak kasat mata yang terpancar dari dirinya. Itu adalah kilatan yang sangat singkat, sebuah fraksi waktu sebelum tubuhnya bergerak.
Dia melenting ke samping, sebuah gerakan refleks yang nyaris tidak mungkin dilakukan. Anak panah itu mendesing melewatinya, hanya menggores bahu kirinya. Darah merembes melalui kain hitam, namun Neural HUD hanya menampilkan 'CEDERA SUPERFISIAL. PROBABILITAS PEMULIHAN: 99.8%.' Lin Fan menarik napas lega, sebuah desahan panjang yang mengosongkan paru-parunya. Rasa lega itu begitu kuat, hampir menyakitkan.
Mei Lan bangkit, matanya masih menatap ke arah Lin Fan selama sepersekian detik lagi. Ada sesuatu di sana, sebuah koneksi tak terucapkan, sebuah pemahaman yang melampaui kata-kata. Kemudian, tanpa ragu, dia melesat. Kakinya mendorong keras dari tanah, tubuhnya melompat dengan kekuatan luar biasa ke atap gudang bahan bakar yang rendah. Dia mendarat dengan ringan, seperti kucing.
Seorang prajurit Jin yang baru muncul dari balik cerobong asap di atap, pedang pendeknya terhunus. Wajahnya terbelalak melihat Mei Lan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Mei Lan tidak membuang waktu. Dengan kecepatan kilat, pedangnya terangkat. Sebuah tarian maut yang indah, presisi yang dingin dan mematikan. Prajurit Jin itu mengangkat pedangnya untuk bertahan, tetapi sudah terlambat.
Mei Lan melompat dari atap, tubuhnya melayang di udara, pedangnya menebas seorang prajurit Jin yang terpaku di bawahnya, dan sebelum kakinya mendarat di tanah, matanya bertemu Lin Fan dari jauh, sebuah kilatan pengakuan yang singkat namun intens.