Chapter 17 of 28

Chapter 17: Darah dan Pasir

1.5k words

Lin Fan merasakan getaran di dadanya. Bukan lagi rasa sakit, melainkan sebuah resonansi kosong. Gelombang pertama pasukan Jin telah dipukul mundur. Tanah di depan gerbang kota menjadi hamparan lumpur merah, dicampur dengan darah prajurit Song dan Jin yang mati. Aroma tembaga pekat menusuk hidungnya, beradu dengan bau mesiu dan asap yang menyesakkan. *Peluang kelangsungan hidup unit: 47%. Estimasi korban di pihak Anda: 35%.* A.R.I.A. memproyeksikan data itu, transparan di atas pemandangan yang kacau. Puluhan mayat tergeletak tak berdaya. Beberapa prajurit Song yang terluka merintih di antara puing-puing, tangan mereka gemetar menahan usus yang terburai. Lin Fan melihat ke arah Jenderal Chang, yang wajahnya kini dipenuhi jelaga dan keringat, matanya kosong menatap kekacauan. "Kita... kita berhasil, Tuan Lin." Suara Jenderal Chang serak, lebih seperti bisikan putus asa. Bibir Lin Fan menipis. "Berhasil?" Ia menunjuk ke barisan prajurit yang masih berdiri, jumlahnya menyusut drastis. Senjata mereka berlumur kental, sorot mata mereka mengandung trauma yang belum sempat tercerna. "Ini baru gelombang pertama," kata Lin Fan, suaranya datar, tanpa emosi. "Jin akan datang lagi. Lebih banyak. Lebih brutal." Pikirannya kembali pada saat Mei Lan melesatkan panah, melindungi punggungnya. Sebuah gambaran singkat yang kini terasa jauh, terdistorsi oleh kengerian yang baru saja disaksikannya. "Perawatan medis prioritas," A.R.I.A. menyarankan, data statistik luka ditampilkan. "Tingkat infeksi luka terbuka: tinggi. Mortalitas pasca-pertempuran: 15% tanpa penanganan cepat." Lin Fan mengangguk kecil. "Jenderal, kumpulkan tabib. Segera. Mereka yang terluka parah, pisahkan." Jenderal Chang tersentak, seolah baru tersadar dari mimpi buruk. "Baik, Tuan Lin! Prajurit, bantu yang terluka! Tabib ke depan!" Perintahnya lemah, namun cukup untuk menggerakkan beberapa tentara yang masih tersisa. Mereka bergerak lambat, kelelahan membebani setiap langkah. Lin Fan melihat seorang prajurit muda dengan pergelangan tangan terputus, darahnya memancar deras ke tanah. Wajah prajurit itu pucat pasi, matanya memohon. *Intervensi tidak efisien. Probabilitas bertahan hidup: 3%.* Lin Fan tidak mengedipkan mata. Sistemnya tidak mengizinkan pemborosan sumber daya pada sesuatu yang tidak memiliki peluang signifikan. Prajurit itu akan mati. Ia hanya bisa mengamati, tanpa sentuhan emosi atau penyesalan. Ini adalah kalkulasi. Ini adalah perang. Di kejauhan, drum Jin mulai bergemuruh lagi, lebih dalam, lebih berat. Ritmenya seperti detak jantung monster yang lapar. --- Gemuruh drum itu semakin dekat. Langit yang semula biru kini diselimuti debu dan asap, membuat siang hari terasa seperti senja yang kelabu. *Analisis gelombang kedua: Pasukan kavaleri berat. Formasi: tombak baja, perisai kulit bison. Taktik: Serangan frontal terkonsentrasi pada titik terlemah. Probabilitas penembusan gerbang: 82% dalam 15 menit.* A.R.I.A. memproyeksikan skema taktis musuh di depan mata Lin Fan, garis merah dan biru saling bergesekan, menunjukkan titik-titik tabrakan yang tak terhindarkan. Titik terlemah itu jelas: sayap kanan, di mana unit-unit pemanah Song sudah hancur. "Meriam-meriam itu..." Jenderal Chang menunjuk ke beberapa meriam kecil yang baru saja mereka gunakan untuk memukul mundur gelombang pertama. "Bisakah kita mengarahkannya ke sayap kanan?" Lin Fan menggeleng. "Tidak cukup waktu untuk memposisikannya ulang. Dan amunisinya terbatas." A.R.I.A. memutar ulang simulasi pertempuran, mempercepatnya. Setiap skenario berakhir dengan gerbang ambruk, pasukan Jin membanjiri kota, dan probabilitas kelangsungan hidup Lin Fan anjlok ke angka nol. *Optimalisasi sumber daya diperlukan. Pengorbanan unit tidak strategis akan menyebabkan keruntuhan total.* Lin Fan merasakan dingin menjalar di punggungnya, bukan karena angin, melainkan karena kejelasan brutal dari algoritma. Ia harus memilih. Unit mana yang akan ia biarkan hancur demi menyelamatkan yang lain? Matanya menelusuri data di Neural HUD-nya. Unit-unit yang paling tidak terlatih. Unit-unit yang paling rentan. Kebanyakan terdiri dari wajib militer yang baru direkrut dari pedesaan, wajah mereka masih polos dan ketakutan. "Tuan Lin, kita tidak bisa menahan mereka!" Jenderal Chang berseru, wajahnya panik. "Kita butuh strategi!" Strategi. Kata itu bergema di benak Lin Fan. Sebuah kata yang bagi A.R.I.A. adalah tentang efisiensi, tentang angka, tentang menghilangkan variabel yang tidak menguntungkan. "Sayap kiri dan tengah bertahan di posisi. Barikade mereka dengan perisai," perintah Lin Fan, suaranya tenang, tetapi setiap kata terasa seperti es yang menusuk. Jenderal Chang mengangguk. "Dan sayap kanan?" Lin Fan menarik napas tipis. Bau darah dan mesiu semakin menyengat. Ia melihat wajah-wajah muda di sayap kanan. Mereka melihatnya juga, menunggu perintah, mata mereka dipenuhi harapan. "Sayap kanan..." Kata itu terasa berat di lidahnya. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Bukan karena sakit, melainkan karena tekanan internal. A.R.I.A. memproyeksikan sebuah pilihan: pengorbanan 200 prajurit di sayap kanan akan membeli waktu 7 menit untuk memposisikan ulang meriam dan memperkuat gerbang utama. Tujuh menit. Hidup 200 orang untuk tujuh menit. *Keputusan paling efisien.* --- Lin Fan mengangkat tangannya, telapak tangannya sedikit berkeringat. Perintah itu harus diucapkan. Jika tidak, semua akan sia-sia. "Unit pemanah dan unit tombak ringan di sayap kanan," suaranya memecah keheningan yang menegang. "Mundur perlahan ke garis kedua. Tinggalkan barisan terdepan sebagai..." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat di antara kalkulasi A.R.I.A. "...sebagai umpan." Jenderal Chang terkesiap. Matanya membelalak, tidak percaya. "Umpan? Tuan Lin, itu berarti..." "Itu berarti mereka akan menahan serangan Jin," potong Lin Fan, tatapannya tajam. "Mereka akan mati. Tapi mereka akan membeli kita waktu." Dua ratus prajurit yang tersisa di sayap kanan mendengar perintah itu. Wajah-wajah yang tadinya penuh harapan kini dipenuhi kepanikan dan pengkhianatan. Beberapa dari mereka mencoba melangkah maju, ingin membantah, ingin memohon. "Ini perintah!" Lin Fan berseru, suaranya meninggi, menusuk udara. "Siapapun yang membangkang akan dieksekusi di tempat!" Ketegasan brutal itu membekukan mereka. Mata mereka terpaku padanya, seolah melihat monster yang baru terungkap. Ketakutan akan kematian di tangan Jin beradu dengan ketakutan akan eksekusi di tangan komandan mereka sendiri. A.R.I.A. menampilkan data: *Optimalisasi moral unit: 32%. Risiko pembangkangan: 8%. Efisiensi keputusan: 99%.* Lin Fan tidak merasakan apa-apa selain dinginnya keharusan. Ini adalah bagian dari mekanisme kelangsungan hidup. Ia adalah alat, dan prajurit ini adalah variabel dalam perhitungan yang lebih besar. Ia menoleh ke arah unit pemanah dan tombak ringan di sayap kanan. "Mundur sekarang! Bergerak!" Beberapa prajurit mulai mundur, langkah mereka gontai, kepala tertunduk. Yang lain tetap membeku, menatap kosong ke arah kavaleri Jin yang kini berjarak kurang dari seratus meter, deru kuda dan teriakan perang mereka mengguncang tanah. "Yang bertahan akan mati tanpa arti," Lin Fan menambahkan, suaranya lebih rendah, tetapi penuh ancaman. "Yang mundur akan punya kesempatan bertarung lagi." Itu bohong. Ia tahu itu. Unit terdepan tidak akan bertahan sedetik pun. Mereka adalah martir yang dipaksa. Tetapi kebohongan itu perlu untuk menekan pembangkangan. Kavaleri Jin menghantam barisan depan sayap kanan Song dengan kekuatan yang mengerikan. Suara benturan baja, jeritan putus asa, dan deru kuda memenuhi medan perang. Darah muncrat tinggi ke udara, membasahi panji-panji Song. Lin Fan menyaksikan semuanya, tanpa emosi. Sebuah garis data di HUD-nya berkedip: *Waktu dibeli: 6 menit 48 detik.* Hampir sesuai prediksi. Ia merasakan sesuatu, sesuatu yang asing. Bukan penyesalan, bukan kesedihan. Hanya sebuah kekosongan yang membingungkan. Ini adalah dirinya yang baru. Ini adalah perang yang ia ciptakan. --- Meriam-meriam ditarik dan diposisikan ulang dengan tergesa-gesa. Asap hitam mengepul dari larasnya yang masih panas. Setiap prajurit yang selamat dari gelombang pertama bergerak dengan gerakan otomatis, seperti robot yang diprogram. Mereka telah melihat kengerian, dan kini hanya mengikuti perintah. Lin Fan mengamati pertempuran yang sedang berlangsung di sayap kanan. Tubuh-tubuh hancur diinjak kuda-kuda Jin yang bergemuruh. Teriakan terakhir prajurit Song yang terperangkap memudar di tengah hiruk pikuk. Sebuah efisiensi yang mengerikan, pikirnya. Sangat tepat. Dan di tengah kengerian itu, sebuah gambaran melintas di benaknya. Bukan data, bukan angka. Sebuah kilasan singkat: mata Mei Lan. Tajam, waspada, namun entah mengapa, di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak dapat ia definisikan. Sesuatu yang terasa hidup, bersemangat, bahkan di tengah bahaya. Ia ingat bagaimana wanita itu berdiri di atas tembok, menembakkan panahnya dengan presisi mematikan. Melindungi dirinya. Tanpa kata. Sebuah tindakan yang tidak bisa dihitung oleh A.R.I.A. sebagai 'efisien' dalam konteks yang murni transaksional. *Anomali Biologis Terdeteksi.* Peringatan itu muncul lagi di Neural HUD-nya, kali ini lebih intens. Garis-garis merah berkedip di sekitar area jantung dan otaknya. *Detak jantung: 110 bpm. Dopamin: Lonjakan 250%. Kortisol: Lonjakan 180%. Aktivitas prefrontal korteks: Menurun. Aktivitas amigdala: Meningkat.* Lin Fan merasakan dadanya sedikit berdenyut. Bukan sakit fisik, melainkan sebuah tekanan aneh. Seolah ada dua sistem yang bertabrakan di dalam dirinya. Logika dingin A.R.I.A. beradu dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang baru ia kenali di tengah medan perang yang brutal. Aroma mesiu, darah, dan keringat bercampur di udara. Tetapi dalam kilasan singkat itu, ia seolah mencium aroma samar melati dari rambut Mei Lan, seperti saat mereka berhadapan di perpustakaan. Sebuah memori yang tak masuk akal di tengah kekacauan ini. *Sistem error. Data tidak terklasifikasi.* A.R.I.A. bersikeras. Tapi Lin Fan merasakan sesuatu yang lebih. Sebuah gelombang panas kecil di perutnya, mengalir naik ke tenggorokan. Ini bukan 'error'. Ini sesuatu yang mengganggu kalkulasinya, mengganggu keberadaan barunya. "Tembakkan meriam!" teriak Lin Fan, mencoba mengalihkan fokusnya dari sensasi aneh itu. Meriam-meriam itu meledak, memuntahkan peluru api ke arah kavaleri Jin yang sedang memusnahkan barisan umpan mereka. *Tingkat keparahan anomali biologis Lin Fan meningkat secara eksponensial. Sumber: Mei Lan.*

End of Chapter 17