Chapter 16 of 28

Titik Balik: Pengepungan Perdana

1.6k words

Pagi buta masih memeluk Bianjing dalam selimut remang-remang saat suara pertama merobek keheningan. Bukan kokok ayam atau panggilan pedagang, melainkan *blaaarrrppph* — terompet perang, panjang dan parau, membentang dari arah utara. Suara itu menghantam Lin Fan seperti gelombang kejut, mengguncang dinding-dinding bengkel yang dingin. Sebuah *klak* keras menginterupsi pikirannya. Antarmuka Neural HUD-nya menyala, biru tembus pandang, membanjiri retinanya dengan data. "Peringatan: Serangan militer terdeteksi. Asal: Utara. Probabilitas bentrok langsung: 98.7%." Suara datar A.R.I.A. bergema hanya di dalam kepalanya, kontras dengan jeritan panik yang mulai menyebar di luar. Lin Fan merasakan otot-otot di rahangnya mengencang tanpa perintahnya. Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan kecepatan yang membuat dadanya sesak. "Anomali Biologis Terdeteksi," A.R.I.A. melaporkan lagi, tanpa intonasi. "Detak jantung: 180 bpm. Tekanan darah: 160/100 mmHg. Produksi adrenalin dan kortisol melonjak. Tidak terklasifikasi sebagai error sistem. Aktivasi mode respon darurat." Lin Fan tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bukan rasa lapar yang mematikan, bukan pula dinginnya kalkulasi murni. Ini adalah sesuatu yang mentah, primal, menggetarkan setiap serabut sarafnya. Ia menarik napas dalam, bau besi dan bubuk mesiu yang tertinggal di udara bengkel itu terasa lebih tajam dari biasanya. Jenderal Chang menerobos masuk, wajahnya pucat pasi, jubahnya kusut. Mata pria paruh baya itu membelalak, ketakutan yang menggerogoti jiwanya terpancar jelas. "Mereka datang, Lin Fan! Jin... mereka datang!" Suaranya pecah, sebuah rintihan yang menyedihkan. Jenderal itu mencengkeram kusen pintu, buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Lin Fan menoleh ke arah pintu bengkel yang terbuka, matanya menyapu langit yang mulai memerah. Horizon utara bergaris dengan asap hitam, membumbung tinggi seperti jemari raksasa yang mencakar pagi. Suara terompet Jin kini bersahutan, lebih dekat, lebih mengancam. "Data visual mengkonfirmasi. Formasi kavaleri teridentifikasi. Target: Gerbang Utara. Estimasi waktu kontak: Tiga puluh menit." "Tiga puluh menit?" Jenderal Chang terhuyung mundur, seolah kalimat itu adalah pukulan telak. "Bagaimana... bagaimana mungkin? Kita belum siap!" Wajahnya berkerut, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia adalah jenderal, tetapi di hadapan kenyataan invasi ini, ia hanyalah seorang pria tua yang ketakutan. Lin Fan tidak menjawab. Otaknya bekerja, A.R.I.A. memproyeksikan skema pertahanan, kalkulasi balistik, dan logistik pergerakan pasukan. Rasanya seperti ratusan tangan yang menarik-narik pikirannya, namun ia mempertahankan fokusnya. "Ini bukan saatnya untuk mempertanyakan, Jenderal. Ini saatnya bertindak." Suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. Atau mungkin, ini adalah ketenangan yang hanya bisa dimiliki oleh sebuah algoritma. --- Lin Fan melangkah keluar dari bengkel, udara pagi yang dingin menyengat kulitnya. Di luar, puluhan prajurit Song bergerak gelisah, tatapan mereka terpaku pada asap yang mengepul di cakrawala. Panik mulai merayap di antara barisan mereka. "Tenang!" Suara Lin Fan memecah ketegangan, tajam dan tanpa kompromi. Ia menunjuk ke arah empat meriam besi yang baru selesai dicetak, masih mengilap di bawah sinar matahari pagi. "Pasukan meriam! Posisikan meriam di belakang dinding pertahanan! Sektor tiga, empat, lima, dan enam! Cepat!" Perintah itu memotong bisikan ketakutan. Prajurit yang ditunjuk terkesiap, lalu bergerak. Empat belas pria berbadan kekar, termasuk si pandai besi tua dengan otot-ototnya yang menonjol, segera mendekati meriam. Wajah pandai besi itu masih menunjukkan kekaguman bercampur gentar. Ia telah menyaksikan bagaimana Lin Fan merancang senjata mengerikan ini, bagaimana setiap detail dihitung, setiap kurva diukir dengan presisi yang tidak pernah ia pahami. Kini, ia harus menggerakkannya. "Dorong dari pangkal! Gunakan kayu penyangga!" Lin Fan berteriak, suaranya menggelegar di atas hiruk-pikuk. A.R.I.A. memproyeksikan lintasan optimal untuk setiap unit meriam, mempertimbangkan berat, gesekan tanah, dan potensi sudut tembak. Lingkaran biru terang muncul di retinanya, menandai titik-titik krusial di sepanjang tembok. Lin Fan menunjuk tanpa ragu. "Sektor tiga, di samping menara pengawas! Sektor empat, lima langkah dari gerbang utama!" Besi berat itu berderit di atas tanah berbatu. Keringat mulai membasahi dahi para prajurit saat mereka mendorong meriam-meriam itu. Setiap meriam memiliki berat hampir satu ton, gumpalan besi yang mengerikan. Rantai dan tali ditarik tegang, otot-otot menegang. Pandai besi tua, Zhang, menggeram, memimpin timnya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk usianya. "Angkat! Dorong! Jangan berhenti!" Lin Fan berjalan di samping mereka, matanya terus-menerus memindai data yang melayang di hadapannya. "Kecepatan pergerakan meriam: 1.2 meter/detik. Proyeksi waktu penempatan: Lima belas menit. Optimalisasi alokasi tenaga kerja: Rendah. Peningkatan efisiensi diperlukan." A.R.I.A. terus melaporkan, bahkan saat Lin Fan membantu mendorong salah satu meriam, merasakan dinginnya besi yang menusuk telapak tangannya. Mei Lan muncul di atas tembok, siluetnya ramping di hadapan langit yang mulai terang. Ia mengenakan jubah gelap, rambutnya diikat rapi. Tatapannya tajam, menyapu medan perang yang akan segera terbentuk. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya fokus yang dingin dan mematikan. Ia melihat Lin Fan, matanya bertemu sesaat. Sebuah kedutan kecil di sudut bibir Mei Lan—bukan senyum, lebih seperti pengakuan. Lalu, ia berbalik, menghilang di balik crenellasi, posisinya di atas dinding pertahanan sudah jelas. "Jenderal Chang!" Lin Fan berseru, suaranya memaksa Jenderal itu untuk sadar dari lamunannya. "Atur busur dan panah! Fokus pada kavaleri berat musuh!" Jenderal Chang mengangguk kaku, kemudian berbalik untuk memberi perintah pada prajurit lainnya, suaranya masih bergetar, namun setidaknya ia kini bertindak. Lin Fan kembali menatap meriam yang perlahan bergerak. Sebuah pemandangan yang aneh: gumpalan logam kuno yang diisi dengan teknologi masa depan, siap menelan kehancuran. --- Gelombang pertama pasukan Jin menghantam gerbang utara seperti badai. Ratusan anak panah berhulu besi menghujani benteng, menghasilkan suara *thwack* yang mengerikan saat menancap pada kayu dan batu. Beberapa prajurit Song berteriak kesakitan, jatuh ke tanah. Lin Fan merasakan denyutan di pelipisnya, tapi pandangannya tetap fokus pada layar data. "Sudut elevasi: Empat puluh lima derajat. Target: Formasi kavaleri tengah. Jarak: Tiga ratus meter." Ia berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh derap kaki kuda dan teriakan perang. Pandai besi Zhang, yang kini memegang obor penyulut, mengangguk cepat. Tangan tuanya gemetar, tetapi matanya menunjukkan tekad. "Siap, Tuan Lin!" Ia menarik napas, lalu menyulut sumbu meriam pertama. Sebuah percikan kecil, lalu *whiiiish!* Sumbu terbakar dengan cepat, cahaya hijau kekuningan melesat ke dalam laras. *BOOM!* Suara ledakan itu mengoyak udara, jauh lebih keras dari yang Lin Fan bayangkan. Tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Asap putih tebal menyembur keluar dari laras meriam, bau belerang yang menyengat menusuk hidungnya. Proyektil besi, seukuran buah melon, melesat ke langit dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat. Lin Fan mengamati hasilnya melalui Neural HUD-nya. Lingkaran merah terang muncul di tengah formasi kavaleri Jin, diikuti oleh label "Dampak: Maksimal." Ia melihatnya terjadi, bukan hanya data, tapi dengan mata telanjangnya. Proyektil itu menghantam barisan depan kavaleri, menghancurkan kuda dan penunggangnya menjadi kepingan daging dan besi. Efek domino terjadi, kuda-kuda di belakangnya terhuyung, menabrak satu sama lain, menciptakan kekacauan instan. "Luar biasa!" Jenderal Chang berseru, suaranya tercampur antara syok dan kagum. Ketakutan sesaat lenyap, digantikan oleh secercah harapan. "Isi ulang! Cepat!" Lin Fan berteriak, suaranya serak. Ia merasakan panas di pipinya, bukan karena api, tetapi karena luapan sesuatu di dalam dirinya. Adrenalin membanjiri setiap sel, membuatnya merasa sangat hidup, sebuah sensasi yang asing dan kuat. Ini bukan lagi sekadar misi bertahan hidup yang dingin, melainkan pertarungan eksistensial, sebuah tantangan yang membakar. Meriam kedua ditembakkan, lalu ketiga, kemudian keempat. Setiap ledakan menghantam barisan musuh, menciptakan lubang-lubang berdarah di tengah formasi mereka. Teriakan prajurit Jin yang terluka, ringkikan kuda yang kesakitan, dan kepulan asap tebal memenuhi udara. Panah-panah musuh masih menghujam, beberapa mengenai dinding tepat di dekatnya, namun Lin Fan tidak gentar. Ia bergerak di antara meriam, memberikan instruksi kalibrasi, tangannya gesit memeriksa sudut dan arah. "Tingkatkan sudut elevasi tiga derajat untuk meriam sektor lima! Target: Formasi pemanah musuh di sayap kanan!" Ia menuntut, suaranya menjadi lebih dominan di tengah hiruk-pikuk. A.R.I.A. terus membanjirinya dengan data, titik-titik lemah musuh, jalur lintasan optimal, estimasi korban. Namun, di balik semua angka itu, Lin Fan merasakan denyut kehidupan yang tak terduga, gairah yang membakar, sebuah kekuatan baru. Ini adalah medan perang, tetapi di sinilah ia merasa paling nyata. --- Medan perang di bawah tembok kini berubah menjadi neraka. Api mulai berkobar di beberapa titik, asap tebal menghalangi pandangan, dan jeritan kesakitan bercampur dengan derap kaki kuda yang panik. Lin Fan terus mengawasi, Neural HUD-nya memetakan pergerakan musuh, memprediksi gelombang serangan berikutnya. Kemejanya basah oleh keringat, rambutnya lengket di dahi. Ia menarik napas dalam, merasakan setiap ototnya menegang. Sensasi itu, anomali biologis yang dilaporkan A.R.I.A., kini terasa seperti denyutan listrik di pembuluh darahnya. "Peringatan: Unit musuh dengan busur jarak jauh. Prioritas: Lin Fan." Suara A.R.I.A. tiba-tiba menjadi lebih mendesak. Lin Fan tidak sempat bereaksi. Sebuah *whoosh* tajam membelah udara, begitu dekat hingga ia bisa merasakan anginnya di telinganya. Sesuatu menancap keras di dinding batu tepat di samping kepalanya, dengan bunyi *thwack* yang memekakkan. Panah berbulu hitam, mata panahnya berkilat tajam di antara serpihan batu yang terlempar. Nyaris. Terlalu nyaris. Jantungnya melonjak, kali ini dengan sentakan ketakutan yang dingin. Lin Fan menoleh, tatapannya menyapu benteng di atasnya. Di antara crenellasi yang rusak dan asap yang bergulung, Mei Lan berdiri. Posturnya anggun namun mematikan, busur komposit di tangannya ditarik penuh. Anak panah yang baru saja ia lepaskan masih bergetar di udara sesaat sebelum menghilang ke kejauhan. Matanya yang tajam menatap ke bawah, langsung pada Lin Fan. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tidak ada senyum atau kata-kata. Hanya fokus yang absolut. Ia tidak meminta pujian, tidak mencari perhatian. Sebuah panah lain sudah ia pasang, ditarik ke belakang, dan dalam gerakan cairan yang tak terputus, ia melepaskannya lagi. *Whoosh!* Panah itu melesat, mencari target yang tidak terlihat oleh mata Lin Fan. Ia melindungi punggungnya, tanpa kata, tanpa perlu perintah, hanya insting dan kesetiaan yang terukir dalam tindakannya. Lin Fan merasa jantungnya berdenyut lebih cepat lagi, anomali lain yang tak terklasifikasi.

End of Chapter 16

Chapter 16: Titik Balik: Pengepungan Perdana - Kode Dinasti: Algoritma Takdir | Novel AI Studio