Chapter 15 of 28

Laporan Infiltrasi: Bayangan Utara

2.0k words

Lin Fan berdiri di sudut ruangan, siluetnya berpadu dengan bayangan yang menari dari lentera minyak. Aroma tanah basah dan besi berkarat menusuk hidungnya, sisa-sisa hari panjang di bengkel. Neural HUD-nya masih memproyeksikan data biomitrik tubuhnya, garis-garis hijau stabil melintas di tepi pandangannya, pertanda efisiensi energi yang optimal setelah mengonsumsi jatah makan siangnya. "Probabilitas keberhasilan misi intelijen Mei Lan: 78.3%," A.R.I.A. berbisik di benaknya, suaranya datar, tanpa intonasi. Jenderal Chang mondar-mandir di depan meja kayu berat yang dipenuhi gulungan peta dan cangkir teh kosong. Ekspresi wajahnya mengencang, setiap langkahnya memancarkan kegelisahan yang memakan. Ia menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan punggung tangan, tatapannya sesekali melirik ke arah pintu. Harapan dan ketakutan bergumul di matanya. Pintu kayu tua itu berderit terbuka. Suara gesekan engsel memecah keheningan yang tebal. Lin Fan menoleh. Mei Lan berdiri di ambang pintu, aura kelelahan menyelimutinya seperti jubah kusam. Pakaiannya yang biasanya rapi kini berlumur debu dan noda lumpur kering. Rambut hitamnya yang panjang tergerai tak beraturan, beberapa helai menempel di pipinya yang memerah karena angin dingin. Lingkaran hitam pekat membingkai matanya. Namun, sorotnya tetap tajam, membara dengan intensitas yang tidak bisa dipadamkan oleh lelah. "Mei Lan!" Jenderal Chang berseru, suaranya mengandung campuran lega dan kekhawatiran. Ia melangkah maju, ingin menyambutnya, namun Mei Lan mengangkat tangan. Sebuah gestur singkat, penuh peringatan. Jenderal Chang membeku, tangannya tergantung di udara. Lin Fan mengamati, Neural HUD-nya langsung memproses perubahan bahasa tubuh Mei Lan. `Status: Kelelahan ekstrem. Stres termal: Tinggi. Data vital: Stabil, namun berada di ambang batas fisik.` A.R.I.A. melaporkan. Lin Fan merasakan anomali yang familier. Detak jantungnya melonjak, sebuah lonjakan yang tidak dapat dijelaskan. Sensasi panas merayap di kulitnya, seperti sentuhan tak terlihat. `Error Tidak Terklasifikasi: Lonjakan kardiovaskular abnormal. Korelasi: Kehadiran variabel Mei Lan. Prioritas: Pemantauan berkelanjutan.` A.R.I.A. mencatat, nadanya tetap tanpa emosi. Mei Lan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah masuk, menyeret kakinya yang terasa berat. Setiap langkahnya menimbulkan suara *sret... sret...* dari gesekan sepatunya di lantai batu yang dingin. Ia tidak menoleh ke arah Lin Fan, pandangannya lurus ke Jenderal Chang. Namun, Lin Fan bisa merasakan tatapan sekilasnya, sebuah sinar dingin yang menusuk sebelum ia mengalihkan perhatian. Sebuah tas kulit usang tergantung di bahunya, terlihat penuh dan berat. Aroma samar asap kayu bakar dan kuda yang kuat menempel di pakaiannya. Itu adalah bau yang tidak asing bagi Lin Fan, bau medan perang, bau para prajurit. Ia menyadari betapa jauh Mei Lan telah melakukan perjalanan, menembus garis musuh, mempertaruhkan nyawanya. Jenderal Chang akhirnya berhasil menemukan suaranya. "Bagaimana… bagaimana misi Anda, Nona Mei Lan?" Mei Lan berhenti di depan meja. Ia meletakkan tas kulitnya dengan bunyi *dug* yang berat. Suara itu bergema di ruangan, menarik perhatian Lin Fan sepenuhnya. Tangannya terangkat, perlahan menyentuh pelipisnya, memijat lembut. Gerakannya menunjukkan kelelahan yang nyata, namun ada sesuatu yang lebih dari itu. Sebuah ketegangan yang mendalam, seperti kawat baja yang direntangkan hingga batasnya. Ia akhirnya berbicara. Suaranya serak, seperti kerikil yang bergesekan. "Informasinya... sudah terkumpul." --- Mei Lan menarik napas panjang, paru-parunya seperti menolak untuk bekerja optimal. Ia menatap Jenderal Chang, lalu matanya beralih sejenak pada Lin Fan, sebuah kilatan menantang terlihat. Lin Fan balas menatapnya, membiarkan A.R.I.A. mengobservasi setiap detail mikro pada wajahnya: kerutan halus di sudut mata, bibir yang mengering, urat nadi samar yang berdenyut di lehernya. `Level kelelahan: Kritis. Namun, fokus mental: Optimal.` A.R.I.A. menganalisis. "Pasukan Jin," Mei Lan memulai, suaranya masih serak namun kini mengandung ketegasan yang dingin, "telah mengumpulkan lebih dari dua ratus ribu kavaleri di perbatasan utara." Jenderal Chang terkesiap, tangannya terangkat ke mulutnya. Matanya membelalak, pupilnya melebar seperti ada horor tak terlihat yang baru saja ia saksikan. Ia terhuyung mundur, punggungnya menabrak rak buku tua yang berderit. Gulungan-gulungan tua bergeser, satu bahkan terjatuh ke lantai dengan suara *gedebuk*. Lin Fan tidak bergerak. Angka itu, 200.000, sudah tertera di Neural HUD-nya beberapa minggu lalu, hasil dari kalkulasi probabilitas A.R.I.A. berdasarkan data historis dan intelijen yang dikumpulkan dari rumor pasar. Namun, mendengarnya langsung dari Mei Lan, dari seseorang yang telah melihatnya dengan mata kepala sendiri, memberikan bobot yang berbeda. "Dua ratus ribu kavaleri? Itu... itu tidak mungkin!" Jenderal Chang tergagap, suaranya nyaris seperti jeritan. "Itu mungkin, Jenderal," Mei Lan memotongnya tajam, tidak memberikan ruang untuk penyangkalan. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Seluruh dataran utara dipenuhi kuda dan tenda. Bendera Jin berkibar di setiap bukit." Ia membuka tas kulitnya, tangannya bergerak cepat, cekatan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa gulungan perkamen. Gulungan pertama ia buka dengan gerakan *sreeet* pelan, membentangkannya di atas meja. Itu adalah peta kasar, digambar dengan tangan, menunjukkan topografi wilayah utara. Garis-garis merah tebal menandai rute-rute yang direncanakan. "Divisi pertama, di bawah pimpinan Jenderal Jin Wu, akan bergerak melalui Jalur Gunung Yanmen," Mei Lan menjelaskan, menunjuk dengan ujung jarinya yang kotor. "Mereka memiliki sekitar delapan puluh ribu pasukan, sebagian besar kavaleri berat, dengan tujuan utama merebut Taiyuan." Jari telunjuknya bergeser. "Divisi kedua, seratus ribu pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Ago, akan memotong melalui dataran Hebei, langsung menuju Zhenzhou. Strategi mereka adalah memecah pertahanan kita di timur dan barat, lalu bertemu di titik pusat." Lin Fan menatap peta. Neural HUD-nya langsung memproyeksikan perbandingan dengan data topografi digital yang tersimpan di A.R.I.A. Rute yang ditandai Mei Lan sangat cocok dengan simulasi taktis yang telah dijalankan A.R.I.A. berkali-kali. Ketepatan informasinya membuat Lin Fan merasakan sentakan ketidaknyamanan. Variabel Mei Lan, meskipun 'tidak terklasifikasi' secara emosional, adalah sumber data yang sangat akurat. `Konfirmasi data intelijen: 99.8%. Variabilitas: Minimal.` A.R.I.A. melaporkan. "Seratus ribu... Zhenzhou..." Jenderal Chang berbisik, seolah nama kota itu adalah mantra kematian. Wajahnya semakin pucat, seperti mayat hidup. Ia tidak bisa mencerna skala bencana ini. Mei Lan menatap Jenderal Chang. "Mereka tidak hanya membawa pasukan. Aku melihat senjata pengepungan, ketapel raksasa, dan bahkan unit insinyur untuk membangun jembatan darurat." Ia berhenti, matanya kembali menatap Lin Fan. "Prediksimu... benar, Lin Fan. Semua benar." Ada pengakuan dalam suaranya, sebuah nada yang belum pernah Lin Fan dengar sebelumnya dari Mei Lan. Bukan kekaguman, bukan persetujuan, melainkan sebuah bentuk hormat yang enggan, dipaksa oleh realitas pahit yang baru saja disaksikannya. Namun, dalam pengakuan itu, terselip juga sesuatu yang lain. Sebuah pertanyaan tak terucap. Bagaimana Lin Fan bisa tahu? --- Jenderal Chang terhuyung mundur lagi, kali ini sampai menabrak dinding kayu. Ia bersandar di sana, napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang sebelumnya penuh kegelisahan kini dipenuhi kengerian murni. Ia menatap Mei Lan, lalu pandangannya beralih pada Lin Fan, seolah baru pertama kali melihatnya. "Ini... ini mustahil," bisiknya, suaranya pecah. "Bagaimana mereka bisa mengumpulkan kekuatan sebesar itu tanpa kita ketahui?" Mei Lan tidak menjawab Jenderal Chang. Ia terus menatap Lin Fan, seolah hanya pemuda itu yang bisa memahami apa yang baru saja ia katakan. Ada kelelahan yang mendalam, namun juga sebuah beban yang terasa terbagi di antara mereka berdua. Lin Fan merasakan lagi anomali yang muncul setiap kali Mei Lan memusatkan perhatian padanya. Sensasi panas menjalari lehernya, otot-otot di rahangnya menegang tanpa sadar. `Anomali biometrik: Detak jantung 110 bpm, tekanan darah meningkat 12%, aktivitas prefrontal cortex melonjak, amigdala aktif. Korelasi: Variabel Mei Lan. Penjelasan: Tidak dapat diklasifikasikan. Status: Error.` A.R.I.A. melaporkan, data berkedip-kedip di tepi pandang Lin Fan. Lin Fan memilih untuk mengabaikan 'error' dari A.R.I.A. Sebaliknya, ia menatap mata Mei Lan, mencoba membaca lebih dalam dari kelelahan fisiknya. Ada kegetiran di sana, mungkin juga keputusasaan yang disembunyikan dengan baik. Ia telah melihat kehancuran di perbatasan, dan itu mengubah sesuatu dalam dirinya. Jenderal Chang merosot ke lantai, tangannya mencengkeram kepalanya yang berdenyut. "Seluruh pasukan kita... tidak akan cukup untuk menahan mereka. Kita akan hancur! Bianjing akan jatuh!" Ketakutan Jenderal Chang menular, mengisi ruangan dengan aura keputusasaan yang pekat. Ia adalah seorang jenderal berpengalaman, ia tahu perhitungan militer. Dua ratus ribu kavaleri adalah kekuatan yang tak terbayangkan bagi Dinasti Song yang rapuh. Mereka hanya memiliki sekitar seratus ribu pasukan reguler yang tersebar di seluruh kekaisaran, banyak di antaranya tidak terlatih dan tidak memiliki perlengkapan memadai. Lin Fan melangkah maju, perlahan, mendekati meja. Ia mengambil salah satu gulungan peta yang Mei Lan bawa, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan perkamen yang kasar. Aroma asap dan perjalanan yang jauh menempel di sana. Ia membukanya, membiarkan Neural HUD-nya memindai detail rute invasi yang baru. "Pertahanan di Taiyuan lemah, Jenderal," Lin Fan berkata, suaranya tenang, kontras dengan kepanikan Jenderal Chang. "Zhenzhou juga tidak siap. Mereka akan menembus garis depan dalam hitungan hari." Jenderal Chang mengangkat kepalanya, matanya merah. Ia menatap Lin Fan, bukan lagi dengan rasa hormat seorang jenderal kepada seorang jenius, melainkan dengan tatapan kosong seorang pria yang melihat kematian di depan mata. Ketakutan itu berbalik, menjadi semacam tuduhan. "Bagaimana... bagaimana kau tahu semua ini, Lin Fan?" Jenderal Chang bertanya, suaranya bergetar. "Kau meramalnya dengan akurat. Setiap detailnya." Mei Lan juga menatap Lin Fan, matanya menyipit. Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menuntut. Sebuah jurang yang dalam terbentang antara pengetahuan Lin Fan dan pemahaman mereka. Jenderal Chang dan Mei Lan telah melihat bukti di lapangan, tetapi Lin Fan telah 'melihat'nya lebih dulu, tanpa perlu meninggalkan Bianjing. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika Dinasti Song. Lin Fan menatap peta, lalu mengangkat pandangannya ke Mei Lan. "Algoritma," katanya, suaranya tenang, "hanya memprediksi probabilitas tertinggi. Realitas... kadang lebih brutal." Ia tidak menjelaskan. Tidak perlu. A.R.I.A. telah memperhitungkan variabel ini. Menjelaskan tentang simulasi kuantum atau arsitektur intelijen rekursif hanya akan memicu kecurigaan lebih lanjut. Cukup dengan memberikan fakta yang tidak terbantahkan. Ketidaknyamanan Lin Fan meningkat. Ia tahu skala ancaman ini. Ia telah melihatnya dalam simulasi A.R.I.A., kehancuran Bianjing yang begitu total hingga hanya menyisakan abu dan kenangan. "Ini bukan hanya sekadar invasi, Jenderal," Mei Lan menyela, suaranya kembali tajam, memotong keputusasaan Jenderal Chang. "Ini adalah upaya total untuk menghapus Dinasti Song dari muka bumi." --- Mei Lan menunjuk ke sudut peta, ke arah sebuah sungai kecil yang mengalir di kaki pegunungan utara. Airnya yang keruh, ia tahu, akan membeku padat dalam beberapa minggu ke depan. Atau bahkan lebih cepat. Itu adalah jalur yang akan memudahkan pergerakan kavaleri berat Jin, sebuah jalan tol alami menuju jantung Song. "Suhu di utara sudah turun drastis," Mei Lan menjelaskan, suaranya sekarang terdengar jauh lebih lelah, namun tak kalah mendesak. "Es mulai terbentuk di permukaan sungai. Jalur ini akan menjadi jembatan alami bagi mereka. Aku melihat unit pengintai Jin sudah bergerak di sepanjang tepiannya. Mereka sedang memetakan jalur es yang paling stabil." Jenderal Chang mendongak, matanya yang merah kini sedikit jernih karena informasi baru. Sebuah ketakutan yang lebih spesifik kini menggantikan kepanikan totalnya. Ia bangkit, berdiri dengan lutut yang masih gemetar, dan mendekati meja, membungkuk untuk melihat lebih dekat tanda-tanda di peta. "Pengintai... Mereka sudah sejauh itu?" gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. Lin Fan mengamati detail di peta. Neural HUD-nya memproyeksikan data iklim historis yang disimpan A.R.I.A. Suhu rata-rata di wilayah tersebut memang menunjukkan penurunan yang cepat, lebih awal dari perkiraan awal A.R.I.A. Itu berarti invasi bisa terjadi lebih cepat dari proyeksi optimal. Waktu yang tersisa menyusut. `Perubahan probabilitas invasi: Meningkat 8.7%. Penyesuaian waktu: Dipercepat. Perkiraan waktu kontak: Kurang dari 48 jam.` A.R.I.A. memperbarui datanya, angka-angka merah mulai berkedip di tepi pandang Lin Fan. Sebuah peringatan darurat. "Mereka tidak menunggu musim dingin penuh," Mei Lan melanjutkan, suaranya rendah, penuh implikasi. "Mereka memanfaatkan cuaca yang tak terduga ini untuk keuntungan mereka. Kejutkan kami saat kami lengah." Ia menghentikan ucapannya, matanya menatap tajam ke arah Lin Fan. "Rencana mereka jauh lebih cermat dari yang kita duga. Tidak ada ruang untuk kesalahan." Lin Fan merasakan tekanan yang mematikan. Waktu. Selalu saja waktu. Ia telah bekerja siang dan malam di bengkel, mendorong para pandai besi hingga batas kemampuan mereka untuk memproduksi prototipe meriam. Namun, ia tahu itu tidak akan cukup. Tidak akan pernah cukup. Jumlah yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktu yang tersedia terlalu sempit. "Bagaimana... bagaimana kita bisa mempersiapkan pertahanan secepat ini?" Jenderal Chang bertanya, suaranya kembali penuh keputusasaan. Ia menatap Lin Fan, matanya memohon jawaban yang tidak ia miliki. Mei Lan tidak mengalihkan pandangannya dari Lin Fan. Ada keheningan yang tebal di ruangan itu, hanya suara lentera yang berkedip dan napas berat Jenderal Chang yang terdengar. Udara terasa dingin, meskipun lentera menyala, seolah bayangan invasi telah membekukan segalanya. "Tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi," Mei Lan berkata, suaranya rendah dan tajam, sebuah perintah yang mutlak. Ia menjatuhkan gulungan peta tua lainnya di meja, sebuah bunyi *plak* yang kering. Tangannya menunjuk ke sebuah garis di utara, sebuah garis yang kini terasa seperti celah menganga menuju kehancuran. "Mereka sudah bergerak. Esok pagi, pertempuran dimulai."

End of Chapter 15

Chapter 15: Laporan Infiltrasi: Bayangan Utara - Kode Dinasti: Algoritma Takdir | Novel AI Studio