Chapter 14 of 28
Chapter 14: Meriam Perdana: Darah dan Besi
1.7k words
Udara di bengkel tersembunyi bergetar. Palu-palu berat menghantam besi panas dengan ritme memekakkan telinga, menciptakan simfoni logam dan uap. Kilatan oranye pijar memantul dari dinding batu, menerangi wajah-wajah pandai besi yang basah oleh keringat, otot-otot mereka menegang di bawah lapisan kulit yang kusam.
Lin Fan berdiri di tengah-tengah kekacauan yang teratur itu, sosoknya yang ramping kontras dengan tubuh kekar para pekerja. Tatapannya dingin, terfokus pada cetak biru yang diproyeksikan A.R.I.A. langsung di retinanya. Garis-garis biru neon membentuk siluet meriam, setiap lekukan, setiap tebal-tipis dinding, semua terdefinisi sempurna dalam ruang holografik yang hanya terlihat olehnya.
“Panasnya harus konstan,” suara Lin Fan memotong deru palu, terdengar jelas dan tajam tanpa perlu meninggikan volume. “Dan perhatikan kadar karbonnya. Jangan sampai ada cacat sekecil apa pun di lapisan dalam.”
Seorang pandai besi tua, lengan kekarnya berurat dan berotot bagai akar pohon, mengangkat wajahnya dari tempaan. Matanya yang gelap memancarkan campuran rasa hormat dan ketakutan. Ia telah melihat bubuk mesiu Lin Fan, dan kini, entitas asing ini berbicara tentang meriam raksasa.
“Meriam perunggu atau besi cor, Tuan Lin?” suaranya serak, pertanyaan itu keluar dengan ragu.
Lin Fan mengangguk kecil. “Besi cor. Dengan lapisan penguat. Cetak birunya jelas. Ikuti tiap detail, atau kita akan menanggung konsekuensinya bersama.”
A.R.I.A. memproyeksikan data densitas material di samping kepala pandai besi itu, angka-angka kompleks yang mustahil dipahami manusia abad ke-12. Lin Fan menyentuh bahu pandai besi itu, jemarinya terasa dingin bahkan di tengah hawa panas membakar.
“Ini bukan sekadar besi, Paman Tua,” bisiknya, suaranya rendah. “Ini adalah pertahanan terakhir Bianjing. Sebuah algoritma dari baja dan api.”
Dua pengawal yang ditugaskan Jenderal Chang berdiri di sudut, mata mereka waspada. Mereka adalah bayangan-bayangan diam, otot-otot di balik seragam mereka tegang. Tugas mereka bukan hanya menjaga Lin Fan, melainkan juga memastikan rahasia bengkel ini terkunci rapat.
Asap tebal dan bau belerang bercampur dengan aroma logam terbakar memenuhi udara. Lin Fan mengamati setiap ayunan palu, setiap tetes keringat, setiap percikan api. Ini adalah tarian antara peradaban kuno dan sains masa depan. Senjata yang akan menentukan takdir. Senjata yang belum pernah ada sebelumnya di dunia ini.
“*Sistem mendeteksi deviasi 0.03% pada komposisi paduan bagian laras utama. Perlu koreksi,*” suara A.R.I.A. berbisik di benak Lin Fan.
Lin Fan menunjuk ke arah tempaan di hadapan pandai besi. “Hentikan. Kadar timah hitam terlalu tinggi. Mulai ulang dari awal. Aku tidak mau cacat sekecil apa pun.”
Pandai besi tua itu tersentak, mata tuanya membelalak. “Tapi Tuan Lin, itu akan memakan waktu dua hari lagi!”
“Dua hari menyelamatkan ribuan nyawa,” balas Lin Fan, suaranya datar, tanpa emosi. “Atau dua hari mengubur Bianjing di bawah tumpukan abu. Pilih mana?”
Para pandai besi saling pandang, ekspresi mereka mencampuradukkan kelelahan dan ketakutan yang dalam. Mereka belum pernah menghadapi seseorang yang begitu teliti, begitu tidak kenal kompromi dengan material. Namun, di balik kekejaman kata-katanya, ada kebenaran mutlak yang tak terbantahkan. Mereka mengangguk, kembali bekerja, palu mereka mulai berdentum lagi, kali ini dengan presisi yang lebih hati-hati.
Lin Fan melangkah mundur, matanya menyapu sekeliling. Beberapa bagian meriam sudah mulai terbentuk: alas dudukan yang kokoh, roda-roda kayu berlapis besi, dan bagian laras yang belum sempurna. Setiap komponen adalah kompromi, adaptasi dari cetak biru masa depan ke realitas material abad ke-12. Ia bisa merasakan energi panas yang terpancar dari tempaan, getaran bumi di bawah kakinya akibat benturan palu.
Ini adalah kreasi. Sebuah kelahiran yang kasar, namun penuh kekuatan. Di tengah kekacauan, Lin Fan menemukan ketenangan yang aneh. Ia adalah arsitek kehancuran, dan sekaligus penyelamat. Pikiran itu terasa dingin, logis, seperti perhitungan A.R.I.A. yang terus berputar di otaknya.
***
Meriam itu berdiri tegak di tengah bengkel, sebuah anomali baja dan ancaman di antara perkakas-perkakas tempaan yang usang. Prototipe pertama. Kulit besinya kasar, permukaan hitamnya memantulkan cahaya obor dengan buram. Bentuknya yang silindris, panjang, diapit oleh roda-roda kayu tebal, menciptakan siluet yang aneh sekaligus mengerikan.
Enam orang dewasa nyaris tidak bisa memindahkannya, dan itu pun dengan jeritan engsel kayu serta erangan otot yang tegang. Mulut larasnya menganga, lubang gelap yang menjanjikan kehancuran. Lin Fan mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh permukaan besi yang dingin. Sebuah sensasi kasar di bawah telapak tangannya. Tidak elegan, tidak mulus, jauh dari presisi mesin era masa depan.
Namun, fungsionalitasnya mutlak. A.R.I.A. menampilkan data di retinanya: “*Integritas struktural 98.7%. Desain adaptif. Potensi kerusakan internal minimal pada tekanan optimal. Efisiensi energi proyektil 87.3%.*”
Jenderal Chang berdiri di sampingnya, jubah militernya kusut, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya remang. Ia menatap meriam itu seolah melihat hantu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ketakutan yang terpahat di wajahnya bukan hanya karena invasi Jin, melainkan juga karena kekuatan di hadapannya.
“Ini... ini adalah monster,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Jemarinya gemetar saat menunjuk laras meriam. “Benda apa yang Tuan Lin ciptakan ini?”
“Benda yang akan menyelamatkan Dinasti Song,” jawab Lin Fan, tatapannya tetap terpaku pada meriam. “Atau menguburnya lebih dalam, tergantung siapa yang menguasainya.”
Para pandai besi berdiri di belakang mereka, mata mereka terpaku pada ciptaan mereka sendiri. Ada ketakutan, tapi juga kebanggaan yang tak terbendung. Mereka telah menempa benda yang melampaui pemahaman mereka, sebuah keajaiban yang keluar dari instruksi Lin Fan.
Lin Fan menarik napas. Aroma oli dan besi yang kuat menusuk hidungnya. Ini bukan lagi sekadar perhitungan, bukan lagi sekadar cetak biru. Ini adalah wujud fisik dari sebuah gagasan, sebuah entitas yang memiliki potensi untuk mengubah arah sejarah. Dan ia, Lin Fan, adalah pembawa perubahan itu.
Sebuah pemikiran melintas di benaknya, sebuah refleksi eksistensial yang aneh. Meriam ini, benda mati dari besi, akan menjadi pembawa kehidupan atau kematian. Seperti benang takdir, ia bisa ditenun menjadi permadani indah atau tali gantungan. Ia adalah alat, namun kekuatannya, seolah memiliki kehendak sendiri, memancarkan aura bahaya yang nyata.
Jenderal Chang menelan ludah. “Bagaimana cara kerjanya?” suaranya pecah.
Lin Fan menoleh, tatapannya menyapu wajah Jenderal Chang yang dipenuhi ketakutan. “Dengan bubuk mesiu yang sama persis seperti yang saya tunjukkan. Hanya saja, ini akan menembakkan proyektil berat. Dalam jarak yang jauh. Dengan daya hancur yang tak terbayangkan oleh Anda.”
“Tak terbayangkan…” Jenderal Chang mengulang, seolah kata-kata itu asing di lidahnya. Ia mundur selangkah, menabrak salah satu pengawalnya yang berdiri di belakang. “Kita harus mengujinya. Sekarang. Aku harus melihatnya sendiri.”
Lin Fan mengangguk. “Itu rencananya, Jenderal. Besok pagi. Di area uji yang sudah disiapkan.”
***
Pagi berikutnya, udara dingin dan tajam menusuk kulit. Lokasi uji coba adalah sebuah bukit tandus di luar gerbang kota, jauh dari pemukiman warga. Sebuah bongkahan batu granit setinggi dua kali tubuh manusia didirikan sebagai target, tampak kokoh dan tak tergoyahkan. Di sekelilingnya, Jenderal Chang, para pandai besi, dan beberapa pengawal bersembunyi di balik gundukan tanah, wajah mereka tegang.
Lin Fan berdiri di samping meriam, tangannya menyentuh pelatuk yang dimodifikasi. Di hadapannya, bongkahan batu itu tampak kecil, rapuh. Sebuah target yang menunggu takdirnya. A.R.I.A. memproyeksikan lintasan proyektil, kalkulasi dampak, dan perkiraan gelombang kejut.
“*Parameter pengisian bubuk mesiu: Optimal. Proyektil: Bola besi padat, 15 kilogram. Jarak target: 300 meter. Probabilitas dampak akurat: 99.8%. Potensi kerusakan struktural: Tinggi,*” suara A.R.I.A. berdesir dalam benaknya.
Lin Fan mengangguk pada dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah dan ketegangan di udara. Ini adalah momen kebenaran. Momen di mana teori bertemu dengan realitas, di mana perhitungan berubah menjadi kehancuran.
“Siap!” teriaknya, suaranya lantang memecah keheningan. “Semuanya berlindung!”
Sebuah ledakan memekakkan telinga mengoyak udara. _BOOM!_ Asap putih tebal menyembur dari mulut laras meriam, disusul oleh kilatan api oranye yang membutakan. Gelombang kejut menerjang, mengguncang tanah di bawah kaki. Bau belerang yang tajam langsung menusuk hidung, membuat mata berair.
Bola besi itu melesat bagai kilat, meninggalkan jejak panas di udara. _WUSHHH!_ Dalam sepersekian detik, ia menghantam bongkahan granit. Sebuah _CRACKKK_ yang mengerikan terdengar, diikuti oleh suara _DHUARRR_ yang lebih dahsyat. Granit itu tidak hanya retak; ia hancur berkeping-keping. Pecahan-pecahan batu melesat ke segala arah seperti proyektil kecil, meninggalkan kawah berasap di tempatnya semula.
Debu dan asap mengepul ke langit, menutupi area target. Keheningan yang tiba-tiba menyelimuti bukit itu terasa lebih berat daripada ledakan sebelumnya. Para pandai besi dan pengawal keluar dari persembunyian mereka, mata mereka terbelalak ngeri, rahang mereka terkulai. Jenderal Chang terjatuh ke tanah, lututnya lemas, napasnya tersengal-sengal, seolah baru saja melihat kiamat.
Lin Fan, satu-satunya yang masih berdiri tegak di samping meriam, menatap kehancuran itu. Hatinya tidak berdetak kencang, tidak ada rasa kemenangan yang membuncah. Hanya sebuah pengakuan dingin. Kekuatan ini... nyata. Ia adalah kekuatan untuk menghancurkan, untuk mengakhiri kehidupan. Ia adalah alat, namun ia membawa beban moral yang tak terucapkan. Sebuah beban yang tidak bisa dihitung oleh A.R.I.A.
***
Asap tebal masih menggantung di udara, perlahan menipis, menyingkap kawah yang menganga dan serpihan batu yang berserakan. Lin Fan menatap sisa-sisa bongkahan granit, kini tidak lebih dari pasir dan kerikil. Sebuah perasaan aneh merayapi dadanya. Bukan euforia, bukan kebanggaan, melainkan sebuah kekosongan yang dingin, sebuah pengakuan akan potensi kehancuran yang baru saja ia lepaskan.
“*Target dihancurkan. Efisiensi penghancuran: 99.1%. Variabel lingkungan: Kecepatan angin rendah, kelembaban sedang. Data tercatat.*” suara A.R.I.A. tetap datar, analitis. Tidak ada nada penilaian, tidak ada emosi.
Tapi Lin Fan merasakan sesuatu. Sebuah getaran di dalam dirinya yang tidak bisa diklasifikasikan A.R.I.A. Ini adalah kebanggaan yang kotor, dicampur dengan ketidaknyamanan yang mendalam. Ia telah menciptakan alat yang bisa menyelamatkan Bianjing, namun ia juga telah memperkenalkan neraka baru ke dunia ini. Ia telah membuka kotak Pandora baja dan api.
Jenderal Chang merangkak keluar dari balik gundukan tanah, wajahnya masih pucat pasi, matanya bergetar. “Tuan Lin… Anda… Anda telah menciptakan dewa perang,” bisiknya, suaranya pecah. “Kita… kita akan memenangkan perang ini.”
Pandai besi tua itu, yang selama ini selalu mengagumi Lin Fan, kini menatap meriam itu dengan tatapan yang nyaris seperti ketakutan. “Dewa… atau iblis,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Lin Fan tidak menjawab. Pikirannya berputar, mencoba memproses reaksi-reaksi yang bukan data, bukan angka, melainkan emosi mentah manusia. Ia adalah jembatan antara dua era, dan terkadang, harga jembatan itu adalah darah dan kehancuran.
Ia memutar pandangannya ke horison, mencari sesuatu, apa pun, untuk mengusir perasaan aneh ini. Matanya menyapu puncak bukit-bukit yang jauh, siluetnya memudar dalam kabut pagi. Dan di sana, di salah satu puncak tertinggi, di antara siluet pohon pinus yang ramping, ia melihatnya.
Sebuah titik kecil, hitam, namun tak salah lagi adalah sesosok tubuh ramping. Terlalu jauh untuk melihat detail, tapi bentuknya yang anggun, tegak, memancarkan aura familiar yang dingin. Mei Lan. Ia berdiri di sana, mengawasinya. Seolah-olah asap meriam itu adalah sinyal yang sengaja ia kirimkan padanya. Lin Fan merasakan tatapan yang tak terlihat itu menembus dirinya, menusuk jauh ke dalam jiwanya, seolah wanita itu bisa membaca setiap konflik batin yang baru saja ia rasakan.
***